Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Tulisan apa sih itu?” tanyaku.

“Nggak tahu,” kata Annabeth.

Dia begitu senang membaca, aku lupa bahwa dia juga disleksia.

Grover menerjemahkan: “Pusat Belanja Taman Patung Bibi Em.”

Di kedua sisi pintu masuk, seperti yang diiklankan, ada dua patu jembalang dari semen, berbentuk orang cebol berjenggot yang jelek, tersenyum dan melambai-lambai, seolah-olah mereka akan difoto.

Aku menyeberangi jalan, mengikuti bau hamburger.

“Hei …” Grover memperingatkan.

“Lampu di dalamnya menyala,” kata Annabeth. “Mungkin toko itu buka.”

“Toko camilan,” kataku penuh harap.

“Toko camilan,” dia setuju.

“Kalian berdua sudah gila?” kata Grover. “Tempat ini aneh.”

Kami tak menghiraukannya.

Halaman depannya seperti hutan patung: hewan semen, anak semen, bahkan satir semen bermain suling, yang membuat Grover bergidik.

“Mbeek!” embiknya. “Mirip Paman Ferdinand!”

Kami berhenti di pintu gudang.

“Jangan diketuk,” mohon Grover. “Aku mencium bau monster.”

“Hidungmu tersumbat gara-gara Erinyes,” kata Annabeth. “Aku cuma mencium burger. Kau nggak lapar?”

“Daging!” katanya sebal. “Aku vegetarian, tahu.”

“Kau ‘kan makan enchilada keju dan kaleng aluminium juga,” aku mengingatkan.

“Itu juga sayuran. Ayo. Kita pergi. Patung-patung ini … menatapku.”

Lalu pintu itu berderit terbuka, dan di depan kami berdiri seorang perempuan Timur Tengah yang bertubuh jangkung—setidaknya, aku menduga dia orang Timur Tengah, karena dia mengenakan gaun hitam panjang yang menutupi seluruh tubuh kecuali tangan, dan kepalanya tertutup sama sekali. Matanya berkilat-kilat di balik cadar kain kasa hitam, tetapi cuma itu yang bisa kulihat. Tangannya yang sewarna kopi itu tampak tua, tetapi terawat baik dan anggun, jadi kubayangkan dia seorang nenek yang dulunya wanita cantik.

Aksennya juga terdengar samar-samar Timur Tengah. Katanya, “Anak-anak, sudah terlalu larut untuk sendirian keluar. Di mana orangtuamu?”

“Mereka … eh …” Annabeth mulai berkata.

“Kami yatim-piatu,” kataku.

“Yatim piatu?” kata perempuan itu. Kata itu terdengar asing di mulutnya. “Ah, anak-anakku! Benarkah?”

“Kami terpisah dari karavan kami,” kataku. “Karavan sirkus. Pemimpin sirkus menyuruh kami menemuinya di pom bensin kalau kami tersesat, tapi mungkin dia lupa, atau mungkin yang dia maksud itu pom bensin yang lain. Yang pasti, kami tersesat. Apa yang tercium itu bau makanan?”

“Oh, anak-anakku,” kata perempuan itu. “Kalian harus masuk, anak-anak malang. Aku Bibi Em. Langsung saja masuk terus ke bagian belakang gudang, silakan. Ada tempat makan.”

Kami mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam.

Annabeth bergumam kepadaku, “Karavan sirkus?”

“Harus selalu punya strategi, kan?”

“Kepalamu penuh ganggang.”

Gudang itu juga dipenuhi patung—orang dalam berbagai pose, mengenakan pakaian berbeda-beda dan raut wajah yang berbeda-beda. Aku berpikir, kalau ingin dihiasi dengan salah satu patung ini, tamannya tentu harus berukuran besar karena semua patung ini berukuran seperti orang atau hewan sungguhan. Tapi, terutama aku berpikir tentang makanan.

Ya, silakan, sebut saja aku tolol, sembarangan memasuki toko seorang perempuan aneh seperti itu hanya karena aku lapar, tapi kadang-kadang aku impulsif. Lagi pula, kau belum pernah mencium bau burger Bibi em. Aromanya seperti gas tertawa di kursi dokter gigi—mengusir segala hal lain. Aku hampir tak memerhatikan rengekan gugup Grover, atau bahwa mata patung-patung itu tampaknya mengikutiku, atau kenyataan bahwa Bibi Em mengunci pintu di belakang kami.

Aku cuma peduli soal mencari daerah makan. Dan benar saja, daerah itu ada di bagian belakang gudang, gerai cepat saji yang dilengkapi panggangan, air mancur soda, penghangat kue, dan wadah keju nacho. Segala sesuatu yang kau idamkan, plus beberapa meja piknik besi di depan.

“Silakan duduk,” kata Bibi Em.

“Asyik,” kataku.

“Eh,” kata Grover enggan, “kami nggak punya uang, Bu.”

Sebelum aku sempat menyikut tulang iganya, kata Bibi Em, “Tidak, tidak, anak-anak. Tak perlu uang. Ini kasus khusus, ya? Kutraktir, untuk anak-anak yatim piatu yang baik.”

“Terima kasih, Bu,” kata Annabeth.

Tubuh Bibi Em menjadi kaku, seolah-olah Annabeth berbuat salah, tetapi tubuhnya santai lagi sama cepatnya, jadi kusimpulkan itu hanya khayalanku saja.

“Tak apa-apa, Annabeth,” katanya. “Mata abu-abumu indah sekali, Nak.” Baru belakangan aku bertanya-tanya bagaimana dia tahu nama Annabeth, padahal kami belum memperkenalkan diri.

Sang nyonya rumah menghilang di balik meja camilan, dan mulai memasak. Tahu-tahu saja dia membawakan kami nampan plastik yang berisi burger keju dua daging, milkshake vanili, dan porsi kentang goreng ukuran XXL.

Burgerku sudah habis setengah saat aku ingat bahwa aku harus bernapas.

Annabeth menyeruput milkshake.

Grover memain-mainkan kentang goreng, dan melirik kertas nampan berlilin seolah-olah dia ingin makan itu, tetapi dia tampak terlalu gugup untuk makan.

“Bunyi desis apa itu?” tanyanya.

Aku memasang telinga, tetapi tak mendengar apa-apa. Annabeth menggeleng.

“Desis?” tanya Bibi Em. “Mungkin minyak goreng. Telingamu tajam, Grover.”

“Aku makan vitamin. Supaya telinga sehat.”

“Bagus sekali,” katanya. “Tapi, santailah.”

Bibi Em tidak makan apa-apa. Dia tidak mencopot tutup kepalanya, bahkan saat memasak. Sekarang dia memajukan tubuh dan menjalin jemarinya dan mengamati kami makan. Rasanya rikuh juga, ditatap orang yang wajahnya tak bisa kulihat. Tetapi, aku kenyang setelah makan burger, dan agak mengantuk. Pikirku, sepatutnya paling sedikit aku harus berusaha berbasa-basi dengan sang nyonya rumah.

“Jadi, Ibu menjual patung jembalang,” kataku, berusaha terdengar berminat.

“Benar,” kata Bibi Em. “Dan hewan. Dan orang. Apa pun untuk taman. Pesanan khusus. Perpatungan sangat populer lho.”

“Banyak pembeli di jalan ini?”

“Tidak terlalu banyak. Sejak jalan raya dibangun … sebagian besar mobil jadi jarang lewat sini lagi. Aku harus menghargai setiap pelanggan yang datang.”

Leherku kesemutan, seolah-olah ada orang lain yang menatapku. Aku berbalik, tetapi hanya ada patung anak perempuan yang membawa keranjang Paskah. Detailnya luar biasa, jauh lebih baik daripada patung taman pada umumnya. Tapi, ada yang aneh pada wajahnya. Kelihatannya dia terkejut, atau bahkan takut.

“Ah,” kata Bibi Em sedih. “Kau memerhatikan bahwa sebagian patung buatanku tidak bagus. Ada cacatnya. Tak ada yang mau membeli patung seperti itu. Wajah yang paling sulit dibuat bagus. Selalu wajahnya.”

“Bibi membuat patung sendiri?” tanyaku.

“Tentu. Dulu aku punya dua saudari yang membantu dalam usaha ini, tetapi mereka sudah meninggal, dan Bibi Em sendirian saja. Aku hanya punya patung. Itu sebabnya aku membuatnya. Mereka menemaniku.” Kesedihan dalam suaranya terdengar begitu dalam dan nyata, sehingga mau tak mau aku merasa kasihan padanya.

Annabeth berhenti makan. Dia memajukan tubuh dan berkata, “Dua saudari?”

“Kisah yang menyedihkan,” kata Bibi Em. “Sebenarnya tidak cocok untuk anak-anak. Begini, Annabeth, ada perempuan jahat yang cemburu padaku, dulu sekali, sewaktu aku masih muda. Aku punya … pacar, begitu, dan perempuan jahat itu bertekad memisahkan kami. Dia menyebabkan terjadinya kecelakaan parah. Saudari-saudariku terus menemaniku. Mereka berbagi nasib buruk denganku selama mungkin, tetapi pada akhirnya mereka pergi. Mereka memudar.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.