Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Itu Bu Dodds. Lebih tua, lebih keriput, tetapi jelas wajah jahat yang sama.

Aku merengket di kursi.

Di belakangnya menyusul dua lagi nenek tua: seorang bertopi hijau, seorang bertopi ungu. Selain itu, mereka persis seperti Bu Dodds—tangan keriput, tas wol, dan gaun beledu kusut yang sama. Nenek setan kembar tiga.

Mereka duduk di baris depan, tepat di belakang sopir. Kedua nenek di dekat lorong menyilangkan kaki mereka di atas lantai, membentuk huruf X. Gerakan itu dilakukan cukup santai, tetapi mengirim pesan yang jelas: tak ada yang boleh turun dari bus.

Bus keluar dari stasiun, dan kami melaju di jalan-jalan licin Manhattan. “Dia mati nggak terlalu lama,” kataku, berusaha mencegah suaraku gemetar. “Bukannya kau bilang, mereka terusir seumur hidupku?”

“Kataku, kalau kau beruntung,” kata Annabeth. “Jelas kau lagi sial.”

“Ketiga-tiganya,” rengek Grover. “Di immortales!”

“Nggak apa-apa,” kata Annabeth, jelas sedang berpikir keras. “Erinyes. Ketiga monster terburuk dari Dunia Bawah. Bukan masalah. Bukan masalah. Kita menyelinap keluar dari jendela saja.”

“Tapi ini jenis jendela yang nggak bisa dibuka,” erang Grover.

“Pintu belakang?” usul Annabeth.

Tak ada pintu belakang. Andaipun ada, pasti tak bisa membantu. Saat itu kami sudah berada di Ninth Avenue, menuju Terowongan Lincoln.

“Mereka nggak akan menyerang kita kalau ada saksi,” kataku. “Iya kan?”

“Mata manusia nggak bagus,” Annabeth mengingatkan. “Otak mereka hanya bisa memproses yang mereka lihat melalui Kabut.”

“Mereka akan melihat tiga orang nenek membunuh kita, kan?”

Dia memikirkannya. “Nggak tahu juga. Tapi, kita nggak bisa mengandalkan bantuan manusia. Mungkin pintu darurat di atap …?”

Kami memasuki Terowongan Lincoln, dan bus itu menjadi gelap, kecuali deretan lampu di lantai lorong. Suasana sunyi menyeramkan, tanpa bunyi hujan.

Bu Dodds bangkit. Dengan suara datar, seolah sudah dilatih, dia menyatakan kepada seluruh bus. “Aku perlu ke kamar kecil.”

“Aku juga,” kata si saudari kedua.

“Aku juga,” kata si saudari ketiga.

Mereka semua mulai menyusuri lorong.

“Aku punya rencana,” kata Annabeth. “Percy, ambil topiku.”

“Apa?”

“Kaulah yang mereka inginkan. Jadilah kasat mata dan jalan ke depan. Biarkan mereka melewatimu. Mungkin kau bisa sampai ke depan dan kabur.”

“Tapi kalian—”

“Kecil kemungkinan mereka memerhatikan kami,” kata Annabeth. “Kau anak salah satu Tiga Besar. Baumu mungkin terlalu kuat.”

“Masa kalian kutinggalkan begitu?”

“Jangan khawatir soal kami,” kata Grover. “Ayo!”

Tangaku gemetar. Aku merasa seperti pengecut, tetapi kuambil topi Yankees itu dan kukenakan.

Ketika aku melihat ke bawah, tubuhku sudah tidak kelihatan.

Aku mulai mengendap-endap di lorong. Aku berhasil maju sepuluh baris, lalu masuk ke kursi kosong saat ketiga Erinyes lewat.

Bu Dodds berhenti, mengendus-endus, dan menatap lurus-lurus kepadaku. Jantungku berdebar-debar.

Rupanya dia tidak melihat apa-apa. Dia dan saudari-saudarinya terus berjalan.

Aku bebas. Aku berhasil sampai ke bagian depan bus. Sekarang kami sudah hampir keluar dari Terowongan Lincoln. Aku baru saja hendak menekan tombol rem darurat, ketika terdengar lolongan mengerikan dari baris belakang.

Ketiga nenek itu bukan nenek-nenek lagi. Wajah mereka masih sama—rupanya tak bisa lebih buruk dari itu—tetapi tubuh mereka telah menciut menjadi tubuh cokelat berkulit yang bersayap kelelawar dan bertangan-kaki seperti cakar gargoyle. Tas mereka berubah menjadi cambuk berapi.

Ketiga Erinyes mengepung Grover dan Annabeth, melecut-lecutkan cambuk, mendesis: “Di mana itu? Di mana?”

Orang-orang lain di bus menjeri-jerit, merengket di kursi masing-masing. Mereka jelas melihat sesuatu.

“Dia nggak di sini!” teriak Annabeth. “Dia pergi!”

Ketiga Erinyes mengangkat cambuk.

Annabeth menghunus pisau perunggunya. Grover menyambar kaleng timah dari tas kudapannya dan bersiap-siap melemparkannya.

Yang kulakukan berikutnya begitu impulsif dan berbahaya, aku semestinya dinamai duta GPPH terbaik tahun itu.

Perhatian si sopir bus terpecah, berusaha melihat apa yang terjadi di kaca spion.

Masih dalam keadaan tak terlihat, aku menyambar kemudi darinya dan menyentakkannya ke kiri. Semua orang melolong saat terlontar ke kanan, dan terdengar suatu bunyi, yan gkuharap adalah bunyi ketiga Erinyes terbanting ke jendela.

“Hei!” seru si sopir. “Hei—wah!”

Kami bergulat memperebutkan kemudi. Bus itu menghantam sisi terowongan, logam bergesekan, menyemburkan bunga api sejauh satu kilometer di belakang kami.

Kami keluar dari Terowongan Lincoln dengan oleng dan kembali memasuki badai hujan. Baik orang maupun monster terlontar-lontar di dalam bus. Mobil-mobil lain tergilas ke samping seperti pin boling.

Entah bagaimana, si sopir menemukan jalan keluar. Kami keluar dari jalan bebas hambatan, melewati setengah lusin lampu merah, dan akhirnya meluncur di salah satu jalan pedesaan New Jersey. Daerahnya begitu kosong, kau tentu heran bagaimana bisa ada kehampaan begitu luas di seberang sungai dari New York. Di sebelah kiri ada hutan, di sebelah kanan ada Sungai Hudson, dan si sopir tampaknya membelok ke arah sungai.

Gagasan hebat berikutnya: Aku menginjak rem darurat.

Bus itu melolong, berputar satu lingkaran penuh pada aspal basah, dan menabrak pepohonan. Lampu darurat menyala. Pintu itu terbanting terbuka. Si sopir bus adalah orang pertama yang keluar, penumpang menghambur mengikutinya sambil menjerit-jerit. Aku menyamping ke kursi sopir dan membiarkan mereka lewat.

Ketiga Erinyes berhasil berdiri tegak kembali. Mereka melecutkan cambuk pada Annabeth. Anak itu mengayunkan pisau dan berteriak dalam bahasa Yunani Kuno, menyuruh mereka mundur. Grover melemparkan kaleng-kaleng timah.

Aku melihat ke pintu terbuka. Aku bisa kabur, tetapi aku tak bisa meninggalkan teman-temanku. Aku mencopot topi halimunan. “Hei!”

Ketiga Erinyes menoleh, memperlihatkan taring kuning, dan tiba-tiba aku merasa kayaknya kabur itu ide yang bagus juga. Bu Dodds merangsek menyusuri lorong, seperti yang dulu sering dilakukannya di kelas, untuk menyerahkan hasi lujian matematikaku yang bernilai F-. Setiap kali dia melecutkan cambuk, lidah api merah menari-nari di sepanjang kulit berduri itu.

Kedua saudarinya yang jelek itu melompat ke atas kursi di samping kiri-kanan dan merayap ke arahku seperti dua kadal raksasa yang jelek.

“Perseus Jackson,” kata Bu Dodds, dengan aksen yang jelas berasal dari suatu tempat yang jauh lebih selatan daripada negara bagian Georgia. “Kau telah menyinggung perasaan para dewa. Kau akan mati.”

“Aku lebih suka waktu kau menjadi guru matematika,” kataku.

Dia menggeram.

Annabeth dan Grover bergerak di belakang ketiga Erinyes dengan hati-hati, mencari peluang menyerang.

Aku mengambil pena dari saku dan membuka tutupnya. Riptide memanjang menjadi pedang bermata dua yang berkilap-kilap.

Ketiga Erinyes ragu.

Bu Dodds sudah pernah merasakan pedang Riptide. Dia jelas tidak senang melihatnya lagi.

“Menyerahlah sekarang,” desisnya. “Supaya kau tak akan menderita siksa abadi.”

“Enak saja,” kataku.

“Percy, awas!” seru Annabeth.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.