Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Chiron memberiku senyum pilu. “Tak ada yang tahu berapa lama Zaman Barat akan berlangsung, Percy. Para dewa hidup abadi, betul. Tapi bangsa Titan juga begitu. Mereka masih ada, dikurung dalam berbagai penjara, dipaksa mengalami nyeri dan hukuman tanpa akhir, kekuatannya berkurang, tetapi jelas masih hidup. Mudah-mudahan para dewa tidak mengalami nasib buruk seperti itu, atau bahwa kita tidak kembali ke kegelapan dan kekacauan masa silam. Yang dapat kita lakukan, Nak, adalah mengikuti takdir kita.”

“Takdir kita … itu kalau kita tahu apa takdirnya.”

“Santai saja,” kata Chiron. “Tetap berkepala dingin. Dan ingat, kau mungkin bisa mencegah perang terbesar dalam sejarah manusia.”

“Santai,” kataku. “Aku sangat santai kok.”

Saat sampai ke kaki bukit, aku menoleh ke belakang. Di bawah pohon pinus yang dulunya adalah Thalia, putri Zeus, Chiron kini berdiri dalam bentuk penuh manusia-kuda, memegang busur tinggi-tinggi sebagai tanda hormat. Hanya salam perpisahan perkemahan musim panas yang biasa dari centaurus biasa.

* * *

Argus mengantar kami dari daerah pedesaan ke Long Island barat. Aneh rasanya berada di jalan raya lagi, sementara Annabeth dan Grover duduk di sebelahku seolah-olah kami penumpang mobil biasa. Setelah dua minggu di Bukit Blasteran, dunia nyata terasa seperti khayalan. Aku mendapati diriku menatap setiap McDonald’s, setiap anak di belakang mobil orangtuanya, setiap papan iklan dan mal belanja.

“Sejauh ini lancar,” kataku kepada Annabeth. “Lima belas kilometer, nggak ada monster satu pun.”

Dia menatapku dengan kesal. “Omongan seperti itu membawa nasib buruk, tahu. Dasar otak ganggang.”

“Coba ingatkan aku lagi—kenapa sih kau membenciku begitu?”

“Aku nggak benci kok.”

“Masa?”

Dia melipat topi tak kasat matanya. “Dengar … pokoknya kita sudah semestinya nggak rukun, oke? Orangtua kita kan bersaing.”

“Kenapa?”

Dia menghela napas. “Berapa alasan yang kau mau? Ibuku pernah memergoki Poseidon bersama pacarnya di kuil Athena. Tindakan Poseidon itu sangat melecehkan. Di lain waktu Athena dan Poseidon bersaing untuk menjadi dewa pelindung bagi kota Athena. Ayahmu menciptakan mata air asin konyol sebagai anugerahnya. Ibuku menciptakan pohon zaitun. Warga kota merasa bahwa hadiah ibuku lebih baik, jadi mereka menamakan kota itu menurut namanya.”

“Wah, mereka doyan zaitun ya.”

“Ah, lupakan saja!”

“Nah, kalau ibumu menciptakan pizza—itu aku bisa mengerti.”

“Kataku, lupakan!”

Di kursi depan, Argus tersenyum. Dia tak berkata apa-apa, tetapi satu mata biru di tengkuknya berkedip kepadaku.

Lalu lintas memperlambat mobil kami di Queens. Saat kami masuk ke Manhattan, matahari sedang terbenam dan hujan mulai turun.

Argus mengantar kami di Stasiun Bus Greyhound di Upper East Side, tak jauh dari apartemen ibuku dan Gabe. Pada sebuah kotak pos tertempel selebaran basah yang menampilkan fotoku: PERNAHKAN ANDA MELIHAT ANAK INI?

Kurobek selebaran sebelum Annabeth dan Grover sempat memerhatikan.

Argus menurunkan ransel-ransel kami, memastikan kami mendapat karcis, lalu melaju pergi. Mata di belakang tangannya terbuka untuk mengamati kami sementara dia keluar dari tempat parkir.

Aku memikirkan betapa dekatnya aku dengan apartemen lamaku. Pada hari biasa, ibuku tentu sudah pulang dari toko permen sekarang. Gabe si Bau mungkin sedang berada di sana sekarang, bermain poker, bahkan tak merindukan ibuku.

Grover menyandang ranselnya. Dia memandang ke arah jalan yang kulihat. “Kau ingin tahu kenapa ibumu menikahinya, Percy?”

Aku menatapnya. “Kau bisa membaca pikiranku, atau apa?”

“Cuma emosimu.” Dia mengangkat bahu. “Kayaknya aku lupa menceritakan bahwa satir bisa melakukan itu. Kau memikirkan ibumu dan ayah tirimu, kan?”

Aku mengangguk, sambil bertanya-tanya hal apa lagi yang Grover lupa menceritakan kepadaku.

“Ibumu menikahi Gabe demi kau,” Grover memberi tahu. “Kau menjulukinya si ‘Bau,’ tapi kau tak menyadari betapa baunya dia sebenarnya. Dia punya semacam aura … Ih. Baunya bisa kuendus dari sini. Aku bisa mencium sisa baunya pada tubuhmu, padahal kau belum pernah dekat-dekat dia lagi seminggu ini.”

“Trims,” kataku. “Di mana kamar mandi terdekat?”

“Kau semestinya berterima kasih, Percy. Ayah tirimu memiliki bau yang begitu manusia dan menjijikkan, sehingga dia bisa menutupi kehadiran setengah-dewa mana pun. Begitu aku mencium bau bagian dalam Camaronya, aku langsung sadar: Gabe sudah bertahun-tahun menutupi baumu. Andai kau tak tinggal bersamanya pada musim panas, kau mungkin sudah lama ditemukan oleh monster. Ibumu bertahan dalam pernikahannya dengan Gabe untuk melindungi-mu. Dia perempuan yang cerdas. Dia pasti sangat mencintaimu, sampai rela bertahan dengan lelaki itu—barangkali itu bisa menghiburmu.”

Sebenarnya tidak menghibur, tetapi aku memaksa diri agar tidak menunjukkannya. Aku aan bertemu dengan ibuku lagi, pikirku. Dia belum tiada.

Aku bertanya-tanya apakah Grover masih bisa membaca emosiku, yang begitu campur-aduk. Aku senang dia dan Annabeth menemaniku, tetapi aku merasa bersalah karena tidak jujur kepada mereka. Aku belum memberi tahu mereka alasan sebenarnya aku menerima misi gila ini.

Sejujurnya, aku tidak peduli soal mengambil petir Zeus, atau menyelamatkan dunia, atau bahkan membantu ayahku dalam masalah ini. Semakin kupikirkan, aku makin membenci Poseidon karena tak pernah mengunjungiku, tak pernah membantu ibuku, bahkan tak pernah mengirim cek tunjangan anak sekalipun. Dia cuma mengakuiku karena dia perlu tugas ini diselesaikan.

Yang kupedulikan hanya ibuku. Hades telah merenggutnya secara tidak adil, dan Hades akan mengembalikannya.

Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman, bisik Oracle dalam benakku. Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting.

Diam, kataku.

* * *

Hujan terus turun.

Kami menunggu bus datang dengan gelisah. Akhirnya, kami memutuskan bermain sepak takraw dengan salah satu apel Grover. Annabeth hebat. Dia dapat memantulkan apel itu di lututnya, sikunya, bahunya, apa pun. Aku juga tak terlalu jelek.

Permainan itu berakhir ketika aku melontarkan apel itu ke Grover dan buah itu melintas terlalu dekat dengan mulutnya. Dalam satu gigitan raksasa ala kambing, takraw kami pun habis—biji, tangkai, semuanya.

Grover memerah. Dia berusaha meminta maaf, tetapi aku dan Annabeth terlalu sibuk terpingkal-pingkal.

Akhirnya bus itu datang. Sementara kami mengantre untuk naik, Grover mulai memandang ke sekeliling, mengendus-endus udara seperti dia mencium makanan kantin sekolah kesukaannya—enchilada.

“Ada apa?” tanyaku.

“Nggak tahu,” katanya tegang. “Mungkin bukan apa-apa.”

Tapi aku bisa lihat, ada sesuatu. Aku juga mulai menoleh ke sana kemari.

Aku merasa lega ketika kami akhirnya naik dan menemukan tempat duduk berdampingan di bagian belakang bus. Kami menyimpan ransel. Annabeth terus menepuk-nepukkan topi Yankees-nya pada paha dengan gugup.

Saat penumpang terakhir naik, Annabeth mencengkeram lututku. “Percy.”

Seorang nenek tua baru saja naik bus. Dia mengenakan gaun beledu kusut, sarung tangan renda, dan topi rajut jingga tak berbentuk yang menutupi wajahnya, dan dia menenteng tas wol besar. Saat dia mengangkat kepala, mata hitamnya berbinar-binar, dan jantungku melompat.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.