Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Eh, Luke,” kataku. “Makasih.”

“Dengar, Percy ….” Luke tampak rikuh. “Banyak harapan bertumpu di bahumu. Jadi … bunuh beberapa monster untukku, oke?”

Kami berjabatan tangan. Luke menepuk kepala Grover di antara tanduknya, lalu memberi pelukan perpisahan kepada Annabeth, yang kelihatan seperti mau pingsan.

Setelah Luke pergi, kataku kepada Annabeth, “Kau terengah-engah.”

“Siapa bilang?”

“Kau sengaja membiarkan bendera itu ditangkap olehnya, bukan olehmu, ya?”

“Ih … kok aku mau-maunya pergi denganmu, Percy?”

Dia menuruni sisi bukit seberang dengan membanting kaki, menuju mobil SUV putih yang menunggu di bahu jalan. Argus mengikuti, sambil menggemerin-cingkan kunci mobil.

Aku memungut sepatu terbang itu dan tiba-tiba mendapat firasat buruk. Aku menoleh kepada Chiron. “Saya tak akan bisa menggunakan ini, ya?”

Dia menggeleng. “Luke berniat baik, Percy. Tetapi terbang ke udara … itu tidak bijak untukmu.”

Aku mengangguk, kecewa, tetapi lalu aku mendapat ide. “Hei, Grover. Kau mau benda ajaib?”

Matanya berbinar. “Aku?”

Tak lama kemudian, kami sudah mengikat tali sepatu di kaki palsu Grover, dan anak kambing terbang pertama di dunia siap diluncurkan.

“Maia!” teriaknya.

Dia lepas landas dengan baik, tetapi kemudian jatuh ke samping, sehingga ranselnya terseret di atas rumput. Sepatu bersayap itu terus melompat-lompat seperti kuda liar mungil.

“Berlatihlah,” seru Chiron kepadanya. “Kau cuma perlu berlatih.”

“Aaaaa!” Grover terbang miring menuruni bukit menuju van, seperti mesin pemotong rumput yang dirasuki setan.

Sebelum aku sempat mengikuti, Chiron menangkap lenganku. “Semestinya aku melatihmu lebih baik, Percy,” katanya. “Andai saja aku punya lebih banyak waktu. Hercules, Jason—mereka semua sempat berlatih lebih banyak.”

“Nggak apa-apa. Saya cuma ingin—”

Aku menghentikan diri karena aku akan terdengar seperti anak manja. Aku ingin ayahku memberiku benda ajaib yang keren untuk membantu melaksanakan misi ini, sesuatu yang sebaik sepatu terbang Luke, atau topi tak kasat mata Annabeth.

“Aku ini payah,” seru Chiron. “Aku tak mungkin membiarkanmu pergi tanpa ini.”

Dia mengeluarkan sebuah pena dari saku jas, dan menyerahkannya kepadaku. Pena itu berupa bolpoin sekali-pakai biasa, bertinta hitam, yang tutupnya bisa dilepas. Mungkin harganya tiga puluh sen.

“Wah,” kataku. “Makasih.”

“Percy, itu hadiah dari ayahmu. Aku sudah bertahun-tahun menyimpannya, tanpa tahu kaulah yang kutunggu-tunggu. Tetapi ramalan itu sudah jelas bagiku sekarang. Kaulah orangnya.”

Aku teringat pada karyawisata ke Museum Seni Metropolitan, saat aku memusnahkan Bu Dodds. Waktu itu Chiron melemparkan pena kepadaku, yang berubah menjadi pedang. Mungkinkah ini …?

Aku mencopot tutupnya, dan pena itu semakin panjang dan berat di tanganku. Dalam setengah detik, aku memegang pedang perunggu bermata dua yang berkilauan, gagangnya berbalut kulit, dan gagang datarnya yang dihiasi jendul-jendul emas. Itulah senjata pertama yang benar-benar terasa seimbang di tanganku.

“Pedang ini memiliki sejarah panjang dan tragis yang tak perlu kita bahas,” kata Chiron. “Namanya Anaklusmos.”

“’Riptide—Air Surut’,” aku menerjemahkan, kaget sendiri bahwa bahasa Yunani Kuno itu begitu mudah terpikir.

“Hanya gunakan untuk situasi darurat,” kata Chiron, “dan hanya untuk melawan monster. Pahlawan tak boleh menyakiti manusia, kecuali benar-benar perlu tentu saja, tetapi pedang ini memang tak akan menyakiti mereka.”

Aku menatap pedang yang sangat tajam itu. “Apa maksud Bapak, pedan gini tak bisa menyakiti manusia? Kenapa tak bisa?”

“Pedang ini terbuat dari perunggu surgawi. Ditempa oleh Cyclops, diperkeras di jantung Gunung Etna, didinginkan di Sungai Lethe. Pedang ini maut bagi monster, bagi makhluk apa pun dari Dunia Bawah, asalkan kau tidak terbunuh duluan. Tapi pedang itu melewati manusia seperti sebuah ilusi. Mereka memang tak cukup penting untuk dibunuh pedang itu. Dan harus kuperingatkan: sebagai setengah dewa, kau bisa dibunuh oleh senjata langit ataupun senjata biasa. Kau dua kali lebih terancam.”

“Pengetahuan yang bermanfaat.”

“Sekarang tutup lagi pena itu.”

Aku menyentuhkan tutup pena itu pada ujung pedang dan Riptide langsung menyusut menjadi pena lagi. Kuselipkan ke saku dengan sedikit gugup, karena aku terkenal sering kehilangan pena di sekolah.

“Nggak mungkin,” kata Chiron.

“Nggak mungkin apa?”

“Kau kehilangan pena,” katanya. “Pena itu sudah disihir. Akan selalu muncul lagi di sakumu. Coba saja.”

Aku tak percaya, tetapi kulempar pena itu sejauh-jauhnya ke kaki bukit dan kulihat lenyap di antara rumput.

“Perlu waktu sebentar,” kata Chiron. “Sekarang periksa sakumu.”

Benar saja, pena itu ada di sana.

“Oke, yang ini keren banget,” aku mengakui. “Tapi bagaimana kalau ada manusia yang melihatku menghunus pedang?”

Chiron tersenyum. “Kabut itu hal yang ampuh, Percy.”

“Kabut?”

“Ya. Bacalah Iliad. Buku itu sering menyebut Kabut. Setiap kali unsur-unsur dewa atau monster bercampur dengan dunia manusia, Kabut pun timbul, menghalangi pandangan manusia. Kau melihat segala sesuatu sebagaimana aslinya, karena kau blasteran, tetapi manusia menafsirkan situasi tersebut secara sangat berbeda. Sungguh, luar biasa upaya mereka untuk menyesuaikan segala sesuatu ke dalam versi realitas mereka.”

Aku memasukkan Riptide kembali ke saku.

Untuk pertama kalinya, misi ini terasa nyata. Aku benar-benar akan meninggalkan Bukit Blasteran. Aku berangkat ke barat tanpa pengawasan orang dewasa, tanpa rencana cadangan, bahkan tanpa ponsel. Kata Chiron, ponsel dapat dilacak oleh monster; kalau kami memakai ponsel, itu lebih buruk daripada menembakkan peluru suar ke udara. Pedanglah senjata yang tersakti bagiku, untuk melawan monster maupun mencapai Negeri Orang Mati.

“Chiron …” kataku. “Saat kau bilang dewa itu hidup abadi … maksudku, ada masa sebelum mereka, bukan?”

“Sebenarnya ada empat zaman sebelum mereka. Zaman Titan adalah Zaman Keempat, kadang disebut Zaman Keemasan. Nama itu jelas tidak cocok dengan keadaan sebenarnya. Sekarang ini, zaman peradaban Barat dan kekuasaan Zeus, adalah Zaman Kelima.”

“Jadi, seperti apa keadaannya dulu … sebelum ada dewa?”

Chiron meruncingkan bibir. “Aku saja tidak cukup tua untuk mengingat itu, Nak, tapi aku tahu bahwa masa itu masa kegelapan dan kebiadaban bagi manusia. Kronos, sang penguasa bangsa Titan, menyebut masa kekuasaannya Zaman Keemasan karena manusia hidup tanpa dosa dan bebas dari semua pengetahuan. Tapi, itu hanya propaganda. Sang Raja Titan tak peduli sama sekali tentang bangsamu, kecuali sebagai makanan pembuka atau sumber hiburan murah.

Barulah pada masa kekuasaan Raja Zeus, ketika Prometheus, si Titan yang baik, membawa api bagi umat manusia, spesiesmu mulai mengalami kemajuan. Pada masa itu pun Prometheus masih dicap sebagai pemikir radikal. Zeus menghukumnya dengan keras, barangkali kau masih ingat. Tentu saja, pada akhirnya para dewa menyayangi manusia, dan peradaban Barat pun terlahir.”

“Tapi sekarang dewa tak bisa mati, kan? Maksudku, sepanjang peradaban Barat masih hidup, mereka juga hidup. Jadi … sekalipun aku gagal, aku tak bakal menimbulkan peristiwa yang begitu buruk, sehingga mengacaukan semuanya kan?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.