Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Tepat.”

Aku menoleh kepada Grover, yang menelan kartu as hati.

“Aku sudah bilang belum, Maine sangat enak cuacanya musim begini?” tanyanya lemah.

“Kau tak harus ikut,” kataku kepadanya. “Aku tak bisa memintamu ikut.”

“Oh …” Dia menggerak-gerakkan kaki. “Nggak … cuma saja satir dan tempat-tempat bawah tanah … yah ….”

Dia menarik napas panjang, lalu berdiri sambil menepiskan kartu koyak dan serpih aluminium dari kausnya. “Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Percy. Kalau … kalau kau serius soal ingin aku ikut, aku tak akan mengecewakanmu.”

Aku merasa begitu lega sampai ingin menangis, tetapi rasanya itu tidak mencerminkan perilaku pahlawan. Grover adalah satu-satunya teman yang kumiliki lebih dari beberapa bulan. Aku tak yakin apa gunanya satir melawan kekuatan maut, tetapi aku merasa lebih tenang mengetahui bahwa dia akan menemaniku.

“Sampai titik penghabisan, G-man.” Aku menoleh kepada Chiron. “Jadi, ke mana kami harus pergi? Kata Oracle, ke Barat.”

“Pintu masuk Dunia Bawah selalu terletak di Barat. Tempatnya berubah dari abad ke abad, sama seperti Olympus. Sekarang ini, tentu saja letaknya di Amerika.”

“Di mana?”

Chiron tampak heran. “Kusangka itu sudah cukup jelas. Pintu masuk Dunia Bawah berada di Los Angeles.”

“Oh,” kataku. “Tentu saja. Jadi, kita tinggal naik pesawat—”

“Jangan!” pekik Grover. “Percy, jangan ngaco! Apa kau pernah naik pesawat seumur hidup?”

Aku menggeleng dengan malu. Ibuku belum pernah mengajakku naik pesawat. Dia selalu bilang kami tak punya uang untuk itu. Lagi pula, orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat.

“Percy, pikirkan saja,” kata Chiron. “Kau anak Dewa Laut. Saingan terbesar ayahmu itu Zeus, Penguasa Langit. Ibumu tahu bahwa sebaiknya kau tidak naik pesawat. Kau akan masuk ke wilayah Zeus. Kau tak akan pernah turun lagi hidup-hidup.”

Di langit, petir berderak. Guntur menggelegar.

“Oke,” kataku, bertekad tak akan menoleh ke badai itu lagi. “Jadi, aku akan lewat darat.”

“Benar,” kata Chiron. “Kau boleh ditemani dua sahabat. Grover salah satunya. Satu lagi sudah mengajukan diri secara sukarela, kalau kau mau menerima bantuannya.”

“Wah,” kataku pura-pura kaget. “Mana ada orang lain yang cukup bodoh untuk sukarela mengikuti misi seperti ini?”

Udara bergetar di belakang Chiron.

Annabeth mewujud, sambil menjejalkan topi Yankee ke dalam saku belakang.

“Aku sudah lama sekali menunggu misi ini, dasar otak ganggang,” katanya. “Athena tidak menyukai Poseidon, tapi kalau kau mau menyelamatkan dunia, aku orang terbaik yang bisa menjaga agar kau tidak gagal.”

“Terserah kau bilang apa,” kataku. “Kau pasti punya rencana ya, Nona Genius?”

Pipinya merona. “Kau mau bantuanku atau nggak sih?”

Sejujurnya, aku mau. Aku perlu semua bantuan yang bisa kudapatkan.

“Trio,” kataku. “Bolehlah.”

“Bagus,” kata Chiron. “Sore ini kami bisa mengantarmu sampai terminal bus di Manhattan. Setelah itu, kalian harus usaha sendiri.”

Petir menyambar. Hujan turun di padang rumput yang semestinya tak pernah mengalami cuaca buruk.

“Waktunya tinggal sedikit,” kata Chiron. “Kurasa, kalian semua harus segera berkemas.”

10. Aku Menghancurkan Bus yang Masih Sangat Bagus

Tak perlu waktu lama untuk berkemas. Aku memutuskan untuk meninggalkan tanduk si Minotaurus di pondok. Tinggal setelan baju ganti dan sikat gigi yang harus dimasukkan ke ransel yang dicarikan Grover untukku.

Toko perkemahan meminjamiku seratus dolar uang manusia dan dua puluh drachma emas. Koin ini sebesar kue Oreo dan dicap dengan gambar berbagai dewa Yunani pada satu sisi dan gedung Empire State Building di sisi lain. Kata Chiron, Drachma manusia kuno terbuat dari perak, tetapi Dodekateon tidak pernah menggunakan emas yang tidak murni. Kata Chiron, koin itu mungkin bermanfaat untuk transaksi nonmanusia—entah apa maksudnya. Dia memberiku dan Annabeth masing-masing satu termos nektar dan kantong plastik penuh petak ambrosia, yang hanya boleh digunakan pada masa darurat, jika kami benar-benar cedera. Itu makanan dewa, Chiron mengingatkan kami. Jika terlalu banyak dimakan, anak blasteran bisa sangat-sangat demam. Overdosis akan membakar kami, secara harfiah.

Annabeth membawa topi Yankee ajaibnya, yang katanya hadiah ulang tahun kedua belas dari ibunya. Dia membawa buku tentang arsitektur klasik modern, yang ditulis dalam bahasa Yunani Kuno, untuk dibaca saat dia bosan, serta sebilah pisau perunggu, yang tersembunyi di lengan kemeja. Aku yakin pisau itu akan menyebabkan kami ditangkap pertama kali kami melewati detektor logam.

Grover mengenakan kaki palsu dan celana agar dianggap manusia. Dia mengenakan topi hijau gaya rasta, karena saat hujan, rambut ikalnya menjadi lepek dan ujung tanduknya terlihat. Ranselnya yang berwarna jingga cerah diisi penuh serpih logam dan apel untuk camilan. Sakunya berisi seruling yang dibuat oleh ayah kambingnya, meskipun dia hanya tahu dua lagu: Piano Concerto no. 12

karya Mozart dan “So Yesterday” lantunan Hilary Duff, yang keduanya terdengar jelek dimainkan di seruling bambu.

Kami melambaikan tangan kepada para pekemah lain, memandangi lagi ladang stroberi, samudra, dan Rumah Besar untuk terakhir kali, lalu mendaki Bukit Blasteran ke pohon pinus tinggi yang dulunya adalah Thalia, putri Zeus.

Chiron menanti kami di kursi roda. Di sebelahnya berdiri si cowok peselancar yang pernah kulihat saat aku memulihkan diri di ruang perawatan. Menurut Grover, orang itu adalah kepala keamanan perkemahan. Katanya sih, di seluruh tubuhnya ada mata, sehingga dia tak bisa disergap. Tapi, hari ini dia mengenakan seragam sopir, jadi mata ekstra itu hanya terlihat di tangan, muka, dan lehernya.

“Ini Argus,” Chiron memberitahuku. “Dia akan mengantarmu ke kota dan, eh, yah, pasang mata dengan keadaan sekitar.”

Terdengar langkah kaki di belakang kami.

Luke datang berlari menaiki bukit sambil membawa sepasang sepatu basket.

“Hei!” katanya sambil terengah-engah. “Untung masih sempat ketemu.”

Annabeth merona, seperti yang selalu terjadi saat Luke berada di dekatnya.

“Cuma ingin bilang semoga sukses,” kata Luke kepadaku. “Dan kupikir … eh, barangkali ini bisa bermanfaat.”

Dia menyerahkan sepatu itu kepadaku, yang kelihatannya cukup normal. Baunya pun cukup normal.

Kata Luke, “Maia!”

Sayap burung putih menyembul dari tumit sepatu itu. Saking kagetnya, sepatu itu terlepas dari tanganku. Sepatu itu mengepak-ngepak di atas tanah sampai sayap itu dilipat dan menghilang.

“Hebat!” kata Grover.

Luke tersenyum. “Sepatu itu sangat bermanfaat buatku semasa aku melaksanakan misi dulu. Hadiah dari Ayah. Tentu saja, aku jarang memakainya belakangan ini ….” Raut wajahnya menjadi sedih.

Aku tak tahu harus berkata apa. Sudah cukup menyenangkan bahwa Luke datang untuk mengucapkan selamat jalan. Aku sempat cemas bahwa dia sebal padaku karena aku mendapat begitu banyak perhatian beberapa hari terakhir ini. Tetapi, tahunya dia malah memberiku hadiah ajaib ini …. Aku jadi merona, hampir semerah Annabeth.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.