Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Iya deh,” gerutuku. “Sebulan menghapus buku latihan.”

Mestinya aku tak bilang begitu.

“Ikut aku,” kata Bu Dodds.

“Tunggu!” pekik Grover. “Aku yang salah. Aku yang mendorong Nancy.”

Aku terkesima menatapnya. Tak percaya rasanya, bahwa dia berusaha menutupi kesalahanku. Dia kan takut setengah mati oleh Bu Dodds.

Bu Dodds melotot kepadanya lebar-lebar, sampai-sampai dagu Grover yang berbulu itu gemetar.

“Aku tahu kejadiannya bukan begitu, Underwood,” katanya.

“Tapi—”

“Kau—diam—di sini.”

Grover menatapku putus asa.

“Nggak apa-apa kok,” kataku kepadanya. “Makasih sudah berusaha.”

“Anak Manis,” Bu Dodds menyalak kepadaku. “Sekarang.”

Nancy Bobofit menyeringai.

Aku melemparkan tatapan akan-kubunuh-kau-nanti yang istimewa buatnya. Lalu aku berbalik menghadap Bu Dodds, tetapi dia tidak ada di situ. Dia berdiri di pintu masuk museum, jauh di puncak tangga, dengan tidak sabar berisyarat kepadaku agar ikut.

Bagaimana dia sampai di sana secepat itu?

Aku sering sekali mengalami hal-hal seperti itu. Otakku sepertinya tertidur atau apa, lalu tahu-tahu saja aku terlewat sesuatu. Seolah-olah ada sepotong gambar teka-teki yang terjatuh dari alam semesta, lalu aku pun menatap tempat hampa di belakangnya. Guru pembimbing sekolah memberitahuku bahwa ini bagian dari penyakin GPPH. Otakku salah menafsirkan situasi.

Aku tak terlalu percaya.

Aku mengikuti Bu Dodds.

Setelah naik setengah tangga, aku menoleh kembali ke Grover. Dia tampak pucat, bolak-balik memandang antara aku dan Pak Brunner, seolah-olah dia ingin Pak Brunner memerhatikan apa yang terjadi, tetapi Pak Brunner tenggelam dalam novelnya.

Aku kembali melihat ke atas. Bu Dodds sudah menghilang lagi. Sekarang dia berada di dalam gedung, di ujung aula masuk.

Oke, pikirku. Dia akan menyuruhku membelikan kemeja baru buat Nancy dari toko cendera mata.

Tapi, rupanya bukan itu rencananya.

Aku mengikutinya memasuki museum lebih jauh. Ketika akhirnya aku berhasil menyusulnya, kami kembali berada di bagian Yunani dan Romawi.

Selain kami, galeri itu sepi.

Bu Dodds berdiri sambil bersidekap di depan dekorasi marmer besar yang menggambarkan dewa-dewi Yunani. Dari lehernya terdengar bunyi aneh, seperti geraman.

Padahal, tanpa suara itu pun, aku sudah gugup. Aneh rasanya hanya berduaan dengan guru, apalagi dengan Bu Dodds. Cara dia memandang frieze itu aneh sekali, seolah-olah dia ingin melumatkannya…

“Kau banyak menimbulkan masalah bagi kami, Anak Manis,” katanya.

Aku ambil aman. Kataku, “Iya, Bu.”

Dia menyentakkan lipatan jaket kulitnya. “Pikirmu kau bisa lolos dari perbuatanmu?”

Tatapan di matanya sudah lebih dari gila. Tatapannya jahat.

Dia ini guru, pikirku dengan gugup. Dia tak akan menyakitiku, kan?

Kataku, “Saya—saya akan berusaha lebih keras, Bu.”

Guntur mengguncang gedung.

“Kami bukan orang tolol, Percy Jackson,” kata Bu Dodds. “Cuma masalah waktu saja sampai kami membongkar jati dirimu. Mengaku saja, supaya kau tak perlu menderita terlalu berat.”

Aku tak mengerti dia bicara apa.

Aku cuma bisa menebak bahwa para guru menemukan simpanan permen ilegal yang selama ini kujual di kamar asramaku. Atau mungkin mereka menyadari bahwa aku menyalin esai tentang buku Tom Sawyer itu dari Internet, dan tak pernah membaca bukunya sendiri, dan sekarang mereka akan mencabut nilaiku. Atau lebih buruk lagi, mereka akan memaksaku membaca buku itu.

“Bagaimana?” tanyanya.

“Bu, saya tidak ….”

“Waktumu habis,” desisnya.

Lalu, terjadi hal yang sangat aneh. Mata Bu Dodds mulai menyala seperti arang panggangan. Jari-jarinya memanjang, menjadi cakar. Jaketnya meleleh menjadi sayap kulit yang besar. Dia bukan manusia. Dia nenek jahat yang bersayap kelelawar dan bercakar dan bermulut penuh taring kuning, dan dia akan mencabik-cabikku.

Lalu, keadaan semakin aneh.

Pak Brunner, yang semenit lalu masih di depan museum, meluncurkan kursi melewati pintu galeri, sambil memegang sebatang pena.

“Awas, Percy!” serunya, dan melemparkan pena itu ke udara.

Bu Dodds menerkamku.

Sambil memekik, aku mengelak. Cakarnya terasa menyambar udara di sebelah telingaku. Aku menyambar pena itu dari udara, tetapi ketika mengenai tanganku, benda itu bukan pena lagi. Benda itu menjadi pedang—pedang perunggu milik Pak Brunner, yang selalu digunakannya pada hari turnamen.

Bu Dodds berputar ke arahku dengan tatapan membunuh.

Lututku lemas. Tanganku gemetar begitu hebat, pedang itu hampir terjatuh.

Dia menggeram, “Matilah, Anak Manis!”

Dan dia terbang tepat ke arahku.

Ngeri menjalari tubuhku. Kulakukan satu-satunya hal yang timbul sewajarnya: pedang itu kuayunkan.

Mata logam itu mengenai bahunya dan membelah tubuhnya dengan mulus, seolah-olah ia terbuat dari air. Sssss!

Bu Dodds bagaikan istana pasir yang tertiup kipas angin kuat. Dia meledak menjadi serbuk kuning, musnah saat itu juga, hanya meninggalkan bau belerang dan jerit sekarang dan dinginnya kejahatan di udara, seolah-olah kedua mata yang menyala merah itu masih mengamatiku.

Aku sendirian.

Di tanganku ada pena.

Tidak ada Pak Brunner. Tak ada siapa-siapa di situ, selain aku.

Tanganku masih gemetar. Makanan bekalku pasti tercemar jamur ajaib atau sejenisnya.

Apakah semua itu cuma khayalanku saja?

Aku kembali ke luar gedung.

Hujan telah mulai turun.

Grover duduk di sebelah air mancur, kepalanya ditutupi peta museum yang dibentuk seperti tenda. Nancy Bobofit masih berdiri di tempat tadi, basah kuyup akibat acara berenangnya di air mancur, menggerutu kepada teman-temannya yang jelek. Ketika melihatku, dia berkata, “Mudah-mudahan Bu Kerr menghajarmu tadi.”

Kataku, “Siapa?”

“Guru kita. Bego!”

Aku berkedip-kedip. Kami tak punya guru bernama Bu Kerr. Aku bertanya kepada Nancy apa yang dia bicarakan.

Dia cuma memutar mata dan pergi.

Aku menanyakan di mana Bu Dodds kepada Grover.

Katanya, “Siapa?”

Tapi, dia sempat terdiam, dan tak mau memandangku, jadi kupikir dia sedang bercanda denganku.

“Nggak lucu ah,” kataku. “Ini serius.”

Guntur menggemuruh di atas kepala.

Kulihat Pak Brunner sedang duduk membaca buku di bawah payung merahnya, seolah-olah tak pernah bergerak.

Aku menghampirinya.

Dia mengangkat kepala, perhatiannya sedikit terpecah. “Ah, itu pena Bapak ya. Besok-besok bawa alat tulis sendiri ya, Jackson.”

Aku menyerahkan pena itu kepada Pak Brunner. Aku bahkan tak menyadari bahwa aku masih memegangnya.

“Pak,” kataku, “di mana Bu Dodds?”

Dia menatapku kosong. “Siapa?”

“Guru pembimbing kami satu lagi. Bu Dodds. Guru pra-aljabar.”

Dia mengerutkan kening dan memajukan tubuhnya, tampak sedikit cemas. “Percy, dalam karyawisata ini tidak ada Bu Dodds. Sepanjang pengetahuan Bapak, di Akademi Yancy belum pernah ada guru bernama Bu Dodds. Kau baik-baik saja?”

2. Tiga Nenek Merajut Kaus Kaki Kematian

Aku sudah terbiasa dengan pengalaman aneh-aneh yang kadang terjadi, tetapi biasanya pengalaman itu cepat berlalu. Tetapi, halusinasi 24 jam sehari dan 7 hari seminggu ini, tak sanggup kuhadapi. Sepanjang sisa tahun ajaran itu, seluruh kampus sepertinya mempermainkan aku. Murid-murid bertingkal seolah-olah mereka benar-benar yakin sepenuhnya bahwa Bu Kerr—seorang wanita pirang yang ceria, yang belum pernah kulihat seumur hidup sampai dia naik ke bus kami pada akhir acara karyawisata—adalah guru pra-aljabar kami sejak Natal.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.