Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Akhirnya, Eddie, pengawas gedung kami, menyampaikan baris yang terburuk di antara semau: Dan pada akhirnya kau akan gagal menyelamatkan yang terpenting.

Sosok-sosok itu mulai buyar. Mula-mula aku terlalu tercengang sehingga tak mampu berkata apa-apa, tetapi saat kabut itu mundur, melingkar menjadi seekor ular hijau besar dan melata kembali ke dalam mulut mumi, aku berseru, “Tunggu! Apa maksudmu? Teman yang mana? Apa yang akan gagal kuselamatkan?”

Ekor si ular kabut itu menghilang ke dalam mulut mumi. Si mumi bersandar pada dinding. Mulutnya tertutup rapat, seolah-olah belum pernah terbuka selama seratus tahun. Loteng itu sunyi lagi, terbengkalai, hanya sekadar ruangan penuh kenang-kenangan.

Aku mendapat firasat bahwa, andaipun aku berdiri di sini sampai tubuhku pun diliputi sarang laba-laba, tetap saja aku tak akan bisa mengorek informasi lain.

Pertemuanku dengan sang Oracle telah usai.

* * *

“Bagaimana?” tanya Chiron.

Aku melorot ke kursi di meja kartu. “Katanya, saya akan mengambil apa yang dicuri.”

Grover memajukan tubuh, sambil mengunyah sisa kaleng Diet Coke dengan penuh semangat. “Itu bagus!”

“Apa persisnya yang dikatakan sang Oracle?” desak Chiron. “Ini penting.”

Telingaku masih kesemutan gara-gara suara reptil itu. “Dia … dia bilang saya akan pergi ke Barat dan menghadapi dewa yang berkhianat. Saya akan mengambil apa yang dicuri dan mengembalikannya dengan selamat.”

“Sudah kuduga,” kata Grover.

Chiron tampak tidak puas. “Ada yang lain?”

Aku tak ingin memberitahunya.

Teman mana yang akan mengkhianatiku? Temanku tak sebanyak itu.

Dan baris terakhir—aku akan gagal menyelamatkan yang terpenting. Oracle macam apa yang mengutusku melaksanakan misi dan memberitahuku, Eh, omong-omong kau bakal gagal lho.

Bagaimana aku bisa menceritakan itu?

“Nggak,” kataku. “Cuma itu.”

Dia mengamati mukaku. “Baiklah, Percy. Tapi, ketahui ini: kata-kata Oracle sering memiliki makna ganda. Jangan terlalu dipikirkan. Kebenarannya tidak selalu jelas sampai peristiwanya sudah terjadi.”

Aku merasa bahwa dia tahu aku menyembunyikan sesuatu yang buruk, dan dia berusaha menghiburku.

“Oke,” kataku, ingin mengubah topik. “Jadi, saya harus ke mana? Siapa dewa di Barat ini?”

“Ah, coba pikirkan, Percy,” kata Chiron. “Kalau Zeus dan Poseidon membuat lawannya menjadi lemah akibat perang, siapa yang mengeruk untung?”

“Orang lain yang ingin mengambil alih?” tebakku.

“Ya, benar. Orang yang menyimpan ganjalan, yang tidak puas dengan jatahnya sejak dunia ini dibagi tiga berabad-abad lalu, yang kerajaannya akan semakin kuat dengan kematian jutaan orang. Seseorang yang membenci adik dan kakaknya karena memaksanya bersumpah tak akan punya anak lagi, sumpah yang kini sudah dilanggar oleh keduanya.”

Aku mengingat mimpi-mimpiku, suara jahat yang berbicara dari bawah tanah. “Hades.”

Chiron mengangguk. “Sang Raja Orang Mati adalah satu-satunya kemungkinan.”

Secarik aluminium keluar dari mulut Grover. “Eh, tunggu. A-apa?”

“Percy pernah diserang Erinyes,” Chiron mengingatkan. “Erinyes itu meng-amati anak muda ini sampai yakin akan identitasnya, lalu mencoba membunuhnya. Erinyes hanya mematuhi satu majikan: Hades.”

“Ya, tapi—tapi Hades membenci semua pahlawan,” Grover memprotes. “Terutama jika dia mengetahui Percy anak Poseidon ….”

“Anjing neraka berhasil masuk ke hutan,” lanjut Chiron. “Monster itu hanya bisa dipanggil dari Padang Hukuman, dan harus dipanggil oleh orang dari dalam perkemahan. Hades pasti punya mata-mata di sini. Dia pasti menduga bahwa Poseidon akan mencoba menggunakan Percy untuk membersihkan mata. Hades sangat ingin membunuh blasteran muda ini sebelum dia sempat menerima misinya.”

“Bagus,” gerutuku. “Jadi, ada dua dewa besar yang ingin membunuhku.”

“Tapi misi untuk ….” Grover menelan ludah. “Maksudku, mungkin nggak petir asali itu berada di tempat seperti Maine? Cuaca di Maine sangat nyaman di musim begini.”

“Hades mengirim seorang anak buahnya untuk mencuri petir asali,” Chiron bersikeras. “Dia menyembunyikannya di Dunia Bawah. Dia tahu persis bahwa Zeus akan menyalahkan Poseidon. Aku tidak mengakui bahwa aku mampu memahami motif sang Penguasa Orang Mati secara sempurna, atau mengapa dia memilih saat ini untuk memulai perang, tapi satu hal yang pasti. Percy harus pergi ke Dunia Bawah, menemukan petir asali, dan mengungkapkan kebenaran.”

Api aneh berkobar di perutku. Dan yang paling aneh: itu bukan rasa takut. Itu rasa tak sabar. Hasrat membalas dendam. Hades sudah mencoba membunuhku tiga kali sejauh ini, dengan Erinyes, Minotaurus, dan anjing neraka. Dia yang bersalah atas lenyapnya ibuku dalam denyar cahaya. Sekarang dia berusaha memfitnahku dan ayahku untuk pencurian yang tak kami lakukan.

Aku siap menantangnya.

Lagi pula, kalau ibuku berada di Dunia Bawah ….

Tunggu, Nak, kata bagian kecil otakku yang masih waras. Kau itu masih anak-anak. Hades itu dewa.

Grover gemetar. Dia mulai mengunyah kartu pinochle seperti keripik kentang.

Anak malang itu perlu menuntaskan misi bersamaku supaya dia dapat memperoleh izin pencarinya, apa pun itu. Tetapi, bagaimana aku bisa meminta-nya melakukan misi ini, terutama setelah Oracle berkata bahwa aku ditakdirkan gagal? Ini bunuh diri.

“Eh, kalau kita tahu Hades pelakunya,” kataku kepada Chiron, “kenapa nggak kita beri tahu saja dewa-dewa yang lain? Zeus atau Poseidon bisa turun ke Dunia Bawah dan menghajar mereka.”

“Curiga dan tahu itu tidak sama,” kata Chiron. “Lagi pula, sekalipun dewa lain mencurigai Hades—dan aku yakin Poseidon curiga—mereka tak bisa mengambil petir itu sendiri. Dewa tak bisa masuk ke wilayah dewa lain kecuali jika diundang. Itu peraturan kuno lain. Sebaliknya, pahlawan punya beberapa hak istimewa. Mereka bisa pergi ke mana saja, menantang siapa saja, asalkan cukup berani dan kuat untuk melakukannya. Dewa tak bisa dituntut bertanggung jawab atas tindakan seorang pahlawan. Memangnya, pikirmu, kenapa para dewa selalu bertindak melalui manusia?”

“Maksud Bapak, saya dimanfaatkan.”

“Maksudku, bukan kebetulan Poseidon mengakuimu sebagai anaknya sekarang. Ini pertaruhan yang sangat berisiko, tetapi dia berada dalam situasi yang sulit. Dia memerlukanmu.”

Ayahku memerlukanku.

Emosi bercampur aduk dalam diriku seperti keping-keping kaca dalam kaleidoskop. Aku tak tahu apakah aku harus merasa kesal atau berterima kasih atau bahagia atau marah. Poseidon sudah dua belas tahun mengabaikanku. Sekarang tahu-tahu saja dia perlu aku.

Aku menatap Chiron. “Selama ini Bapak sudah tahu ya, saya anak Poseidon?”

“Aku menduga begitu. Seperti yang kubilang … aku juga pernah berbicara dengan sang Oracle.”

Aku mendapat perasaan bahwa ada banyak hal yang tidak diceritakannya tentang ramalannya, tetapi kuputuskan bahwa aku tak bisa mencemaskan itu sekarang. Toh aku juga merahasiakan informasi.

“Jadi, coba saya tegaskan lagi,” katanya. “Saya harus pergi ke Dunia Bawah dan menghadapi Penguasa Orang Mati.

“Betul,” kata Chiron.

“Mencari senjata paling perkasa di alam semesta.”

“Betul.”

“Dan mengembalikannya ke Olympus sebelum titik balik matahari di musim panas, sekitar sepuluh hari lagi.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.