Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Benar,” kata Chiron. “Dan sejak saat itu, Zeus tak pernah memercayai Poseidon lagi. Tentu saja Poseidon menyangkal mencuri petir asali itu. Dia sangat tersinggung dituduh seperti itu. Mereka berdua sudah berbulan-bulan bertengkar bolak-balik, mengancam akan mencanangkan perang. Dan sekarang, kau tahu-tahu muncul—penentu terakhir.”

“Tapi aku kan cuma anak-anak!”

“Percy,” Grover menyela, “andai kau jadi Zeus, dan kau sudah yakin bahwa kakakmu bermuslihat untuk menggulingkanmu, lalu kakakmu itu tiba-tiba mengaku dia pernah melanggar sumpah suci yang diucapkannya setelah Perang Dunia II, bahwa dia punya anak seorang pahlawan manusia baru yang dapat digunakan sebagai senjata melawanmu … Kau pasti sebal kan?”

“Tapi kan aku nggak berbuat apa-apa. Poseidon—ayahku—dia nggak benar-benar menyuruh orang mencuri petir asali itu kan?”

Chiron menghela napas. “Sebagian besar pengamat yang mau berpikir pasti setuju bahwa mencuri tidak cocok dengan gaya Poseidon. Tapi sang Dewa Laut terlalu gengsi, tidak sudi berusaha meyakinkan Zeus soal itu. Zeus menuntut Poseidon mengembalikan petir itu sebelum titik balik matahari di musim panas. Itu tanggal dua puluh satu Juni, sepuluh hari lagi dari sekarang. Poseidon ingin permintaan maaf atas tuduhan pencuri sebelum tanggal yang sama. Aku sempat berharap bahwa diplomasi bisa berhasil, bahwa Hera atau Demeter atau Hestia bisa menyadarkan kedua kakak-beradik itu. Tapi kedatanganmu mengipasi kemarahan Zeus. Sekarang, baik Zeus maupun Poseidon tak mau mundur. Kecuali ada yang turun tangan, kecuali petir asali itu ditemukan dan dikembalikan kepada Zeu sebelum titik balik musim panas, perang akan terjadi. Dan kau tahu seperti apa perang habis-habisan itu, Percy?”

“Gawat?” tebakku.

“Bayangkan dunia kacau-balau. Alam berperang dengan dirinya sendiri. Bangsa Olympian terpaksa memihak antara Zeus dan Poseidon. Kehancuran. Pembantaian. Berjuta-juta orang mati. Peradaban Barat berubah menjadi ajang pertempuran yang begitu besar, perang ini akan membuat Perang Troya seperti adu balon air.”

“Gawat,” ulangku.

“Dan kau, Percy Jackson, akan menjadi orang pertama yang merasakan kemurkaan Zeus.”

Hujan mulai turun. Para pemain voli berhenti bermain dan menatap langit dengan terpana.

Akulah yang membawa badai ini ke Bukit Blasteran. Zeus menghukum seluruh perkemahan gara-gara aku. Aku berang.

“Jadi, aku harus menemukan petir sialan itu,” kataku. “Dan mengembalikan-nya kepada Zeus.”

“Tawaran perdamaian apa yang lebih baik,” kata Chiron, “selain putra Poseidon mengembalikan benda milik Zeus?”

“Kalau bukan Poseidon yang memegangnya, di mana benda itu?”

“Rasanya aku tahu.” Raut Chiron suram. “Bagian sebuah nujum yang kudapatkan bertahun-tahun yang lalu … nah, beberapa barisnya mulai kupahami. Tapi sebelum aku bicara lebih jauh, kau harus secara resmi menerima misi ini. Kau harus meminta nasihat sang Oracle.”

“Kenapa Bapak nggak bisa memberi tahu saya letak petir itu sebelum saya menerima misi ini?”

“Karena kalau kuberi tahu, kau pasti terlalu takut untuk menerima tantangan ini.”

Aku menelan ludah. “Alasan bagus.”

“Kau setuju, kalau begitu?”

Aku menoleh kepada Grover, yang mengangguk-angguk membesarkan hatiku.

Buat dia sih mudah. Kan aku yang Zeus ingin bunuh.

“Baiklah,” kataku. “Lebih baik daripada diubah menjadi lumba-lumba.”

“Kalau begitu, inilah saatnya kau berkonsultasi dengan sang Oracle,” kata Chiron. “Naiklah ke lantai atas, Percy Jackson, ke loteng. Setelah kau turun lagi, dengan asumsi kau masih waras, kita akan bicara lebih jauh lagi.”

* * *

Empat lantai kemudian, tangga itu berujung ke tingkap hijau.

Aku menarik talinya. Pintu tingkap itu berayun turun, dan tangga kayu berderak ke tempatnya.

Udara hangat dari lantai atas berbau seperti lumut dan kayu busuk dan satu hal lagi … bau yang kuingat dari kelas biologi. Reptil. Bau ular.

Aku menahan napas dan menaiki tangga.

Loteng itu penuh dengan rongsokan pahlawan Yunani: dudukan baju zirah yang diliputi sarang laba-laba; perisai yang dulunya berkilau sekarang bopeng karena karat; peti-peti kapal uap tua yang terbuat dari kulit, ditempeli gambar tempel yang berbunyi ITHAKA, PULAU CIRCE, dan NEGERI KAUM AMAZON. Di atas sebuah meja panjang bertumpuk botol-botol kaca yang berisi awetan aneh-aneh—cakar berbulu yang buntung, mata kuning raksasa, berbagai bagian monster lain. Pajangan berdebu yang tergantung di dinding mirip kepala ular raksasa, tetapi bertanduk dan bergigi lengkap seperti ikan hiu. Plakatnya bertuliskan, KEPALA HYDRA PERTAMA, WOODSTOCK, N.Y., 1969.

Di sebelah jendela, di kursi berkaki tiga dari kayu, duduklah kenang-kenangan yang paling menjijikkan di antara semuanya: sebuah mumi. Bukan jenis mumi yang terbalut kain, tetapi tubuh perempuan manusia yang menyusut hingga kering kerontang. Dia mengenakan gaun tenun ikat, banyak kalung manik-manik, dan ikat kepala pada rambut yang hitam panjang. Kulit wajah yang membalut tengkoraknya tampak tipis dan mirip kulit samak. Matanya berupa celah putih bening, seolah-olah mata yang sungguhan telah diganti oleh kelereng. Dia pasti sudah lama sekali mati.

Melihat mumi itu, aku bergidik. Dan itu sebelum dia menegakkan tubuh di kursinya dan membuka mulut. Kabut hijau mengalir dari mulut mumi itu, membentuk sulur-sulur tebal yang berputar-putar di lantai, berdesis seperti dua laksa ular. Aku tersandung-sandung berusaha berlari ke tingkap, tetapi tingkap itu terbanting tertutup. Di dalam kepalaku terdengar suatu suara, melata masuk ke telinga dan melingkari otakku: Akulah arwah Delphi, penutur nujum Phoebus Apollo, pembantai Python yang perkasa. Mendekatlah, wahai pencari, dan bertanyalah.

Aku ingin berkata. Tidak terima kasih, salah pintu, cuma cari kamar mandi. Tetapi, aku memaksa diri untuk menghela napas panjang.

Mumi itu tidak hidup. Dia semacam wadah angker untuk hal lain, kekuatan yang kini berputar-putar di sekelilingku dalam bentuk kabut hijau. Tetapi kehadirannya tak terasa jahat, seperti guru matematikaku yang iblis, Bu Dodds, atau si Minotaurus. Ini lebih terasa seperti Ketiga Moirae yang kulihat merajut benang di luar kios buah jalan raya; kuno, berkuasa, dan jelas bukan manusia. Tapi juga tak berminat membunuhku.

Aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya, “Apa takdirku?”

Kabut itu berpusar-pusar lebih tebal, berkumpul tepat di depanku dan di sekeliling meja yang ditempati botol-botol berisi bagian monster yang diawetkan. Tiba-tiba ada empat lelaki yang duduk di sekeliling meja, bermain kartu. Wajah mereka semakin jelas Itu Gabe si Bau dan sobat-sobatnya.

Tanganku mengepal, meskipun aku tahu pesta poker ini tak mungkin nyata. Ini cuma ilusi, dibuat dari kabut.

Gabe menoleh kepadaku dan berbicara dengan suara parau sang Oracle: Kau akan pergi ke barat, dan menghadapi sang dewa yang berkhianat.

Sobatnya yang di sebelah kanan mengangkat kepala dan berkata dalam suara yang sama: Kau akan menemukan yang dicuri, dan mengembalikannya dengan selamat.

Orang yang di sebelah kiri melemparkan dua keping chip poker, lalu berkata: Kau akan dikhianati oleh orang yang menyebutmu teman.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.