Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Wah, wah,” kata Pak D tanpa mengangkat kepala. “Pesohor cilik kita.”

Aku menunggu.

“Kemarilah,” kata Pak D. “Dan jangan harap aku membungkuk kepadamu, Manusia, hanya karena si Jenggot Teritip itu ayahmu.”

Petir sambar-menyambar di antara awan, bagaikan jala. Guntur mengguncang jendela rumah.

“Dasar cerewet,” kata Dionysus.

Chiron berpura-pura merenungi kartu pinochle-nya. Grover merengket di samping pagar beranda, kakinya berketak-ketuk maju mundur.

“Kau boleh menuruti mauku,” kata Dionysus, “aku ingin molekul-molekul tubuhmu terbakar. Kami tinggal menyabu abunya dan tak direpotkan dengan banyak masalah lagi. Tapi, Chiron tampaknya merasa itu bertentangan dengan misiku di perkemahan terkutuk ini: menjaga kalian anak-anak manja dari bahaya.”

“Terbakar spontan itu salah satu bentuk bahaya, Pak D,” sela Chiron.

“Omong kosong,” kata Dionysus. “Bocah itu tak akan kesakitan kok. Yang pasti, aku sudah setuju untuk menahan diri. Aku mempertimbangkan mengubahmu menjadi lumba-lumba saja, lalu mengirimmu kembali ke ayahmu.”

“Pak D—” Chiron memperingatkan.

“Iya deh,” Dionysus mengalah. “Ada satu pilihan lagi. Tapi ini kebodohan yang membawa maut.” Dionysus bangkit, dan kartu para pemain tak kasat mata terjatuh ke meja. “Aku mau berangkat ke Olympus untuk rapat darurat. Jika bocah ini masih di sini saat aku kembali, akan kuubah dia menjadi lumba-lumba hidung botol Atlantik. Kau mengerti? Dan Perseus Jackson, kalau kau masih punya otak, kau akan memahami bahwa pilihan itu jauh lebih masuk akal daripada hal yang Chiron rasa harus kaulakukan.”

Dionysus meraih selembar kartu remi, memuntirnya, dan kartu itu menjadi segi empat plastic. Kartu kredit? Bukan. Kartu pas.

Dia menjentikkan jari.

Udara tampak melipat dan membengkok di sekelilingnya. Dia menjadi hologram, lalu angin, lalu dia lenyap, hanya menyisakan aroma anggur yang baru diperas.

Chiron tersenyum kepadaku, tetapi dia tampak lelah dan capek. “Duduk, Percy, silakan. Dan Grover.”

Kami duduk.

Chiron meletakkan kartu di atas meja, tak sempat digunakannya untuk memenangkan permainan.

“Beri tahu aku, Percy,” katanya. “Apa pendapatmu tentang anjing neraka itu?”

Mendengar namanya saja sudah membuatku menggigil.

Chiron mungkin ingin aku berkata, Ah, itu sih enteng. Aku sudah biasa sarapan anjing neraka. Tapi aku sedang tak selera berbohong.

“Anjing itu bikin saya takut,” kataku. “Andai Bapak tidak memanahnya, saya pasti sudah mati.”

“Kau akan bertemu dengan yang lebih buruk, Percy. Jauh lebih buruk, sebelum kau selesai.”

“Selesai … apa?”

“Melaksanakan tugasmu, tentu saja. Kau mau menerimanya?”

Aku melirik Grover, yang menyilangkan jari penuh harap.

“Eh, Pak,” kataku, “Bapak belum memberi tahu saya, apa tugasnya.”

Chiron meringis. “Nah, itulah yang sulit, perinciannya.”

Guntur menggemuruh di seluruh lembah. Awan badai kini telah mencapai tepi pantai. Sejauh yang kulihat, langit dan laut mendidih bersama-sama.

“Poseidon dan Zeus,” kataku. “Mereka memperebutkan sesuatu yang berharga … sesuatu yang dicuri, bukan?”

Chiron dan Grover bertukar pandang.

Chiron memajukan tubuh dalam kursi rodanya. “Dari mana kautahu itu?”

Mukaku terasa panas. Aku menyesal membuka mulutku. “Cuacanya sudah aneh sejak Natal, seolah-olah laut dan langit berkelahi. Lalu, aku mengobrol dengan Annabeth, dan dia tak sengaja mendengar sesuatu tentang pencurian. Dan … aku juga sering bermimpi aneh.”

“Sudah kuduga,” kata Grover.

“Ssst, satir,” perintah Chiron.

“Tapi ini misinya!” Mata Grover cerah bersemangat. “Pasti!”

“Hanya sang Oracle yang bisa menentukan.” Chiron membelai janggutnya yang kusut. “Tetapi, Percy, kau memang benar. Ayahmu dan Zeus sedang bertengkar, pertengkaran paling parah selama berabad-abad. Mereka bertengkar karena sesuatu yang berharga, yang dicuri. Persisnya: sebuah sambaran petir.”

Aku tertawa gugup. “Sebuah apa?”

“Jangan memandang enteng hal ini,” Chiron memperingatkan. “Yang kubicarakan ini bukan semacam benda berbentuk zigzag dilapis kertas aluminium yang biasa tampil dalam sandiwara kelas dua SD. Aku bicara soal silinder 60 cm yang terbuat dari perunggu-bintang berkelas tinggi, yang kedua ujungnya ditutupi bahan peledak tingkat-dewa.”

“Oh.”

“Petir asali Zeus,” kata Chiron, kini mulai bersemangat. “Lambang kekuasaannya, yang menjadi pola bagi semua sambaran petir lain. Senjata pertama yang dibuat oleh bangsa Cyclops untuk perang melawan bangsa Titan, petir yang membabat puncak Gunung Etna dan melontarkan Kronos dari singgasananya; petir asali, yang mengandung cukup daya untuk membuat bom hidrogen manusia kelihatan seperti petasan.”

“Dan petir itu hilang?”

“Dicuri,” kata Chiron.

“Sama siapa?”

“Oleh siapa,” Chiron mengoreksi. Sekali jadi guru, tetap jadi guru. “Olehmu.”

Mulutku menganga.

“Setidaknya”—Chiron mengangkat tangan—”itu anggapan Zeus. Pada titik balik matahari musim dingin, di musyawarah dewa terakhir, Zeus dan Poseidon bertengkar. Omong kosong yang biasa: ‘Bunda Rhea selalu pilih kasih padamu,’ ‘Bencana udara selalu lebih spektakuler daripada bencana laut,’ dan seterusnya. Setelah itu, Zeus menyadari bahwa petir asalinya hilang, diambil dari ruang singgasana di depan hidungnya sendiri. Dia langsung menyalahkan Poseidon. Nah, seorang dewa tak bisa merebut lambang kekuasaan dewa lain secara langsung—itu dilarang oleh hukum dewa yang paling kuno. Tapi Zeus yakin ayahmu membujuk seorang pahlawan manusia untuk mengambilnya.”

“Tapi saya tidak—”

“Bersabarlah dan dengarlah, Nak,” kata Chiron. “Zeus punya alasan yang bagus untuk curiga. Bengkel pandai besi Cyclops terletak di bawah laut. Ini menjadikan Poseidon memiliki sedikit pengaruh atas para pembuat petir milik adiknya. Zeus yakin Poseidon telah mengambil petir asalinya, dan sekarang diam-diam menyuruh bangsa Cyclops membangun segudang salinan illegal, yang dapat digunakan untuk menggulingkan Zeus dari singgasananya. Zeus hanya belum tahu pasti, pahlawan mana yang digunakan Poseidon untuk mencuri petir itu. Sekarang Poseidon telah secara terbuka mengakuimu sebagai anaknya. Kau berada di New York pada masa liburan musim dingin. Kau bisa dengan mudah menyelinap ke dalam Olympus. Zeus yakin dia telah menemukan pencurinya.”

“Tapi aku belum pernah ke Olympus! Zeus pasti sudah gila!”

Chiron dan Grover melirik gugup ke langit. Awan tampaknya tidak membelah di sekeliling wilayah kami, seperti yang dijanjikan Grover. Mereka berarak tepat di atas lembah kami, menyekap kami seperti tutup peti mati.

“Eh, Percy …?” kata Grover. “Kata g nggak boleh digunakan untuk memanggil Penguasa Langit.”

“Mungkin paranoid lebih tepat,” usul Chiron. “Tapi, Poseidon memang pernah berusaha menggulingkan Zeus sebelum ini. Kalau tak salah, itu pertanyaan tiga puluh delapan di ujian akhirmu ….” Dia menatapku seolah-olah dia benar-benar mengharapkan aku masih ingat pertanyaan nomor tiga puluh delapan.

Bagaimana orang bisa sampai menuduhku mencuri senjata seorang dewa? Aku bahkan tak bisa mencuri seiris pizza dari pesta poker Gabe tanpa tepergok. Chiron menunggu jawabanku.

“Jawabannya berkaitan dengan jala emas ya?” tebakku. “Poseidon dan Hera dan beberapa dewa lain … mereka menjerat Zeus dan baru mau melepaskannya setelah dia berjanji menjadi pemimpin yang lebih baik, benar?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.