Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Tak ada yang menyebut-nyebut anjing neraka itu, tetapi aku merasa di belakangku mereka semua membicarakannya. Serangan itu membuat takut semua orang. Peristiwa itu mengirim dua pesan: satu, bahwa aku putra sang Dewa Laut; dan dua, monster tak akan berhenti berusaha membunuhku. Mereka bahkan dapat menyerang perkemahan yang selama ini dianggap aman.

Para pekemah lain menjauhiku sebisa mungkin. Pondok sebelas terlalu gugup untuk belajar pedang bersamaku setelah perbuatanku pada anak-anak Ares di hutan, jadi pelajaranku bersama Luke menjadi satu-lawan-satu. Dia menyerangku lebih keras daripada sebelumnya, dan tidak takut membuatku memar-memar selama latihan.

“Kau bakal memerlukan semua latihan yang bisa kau dapatkan,” janjinya, sementara kami berlatih pedang dan obor berkobar. “Ayo kita coba lagi jurus memenggal kepala ular lagi. Lima puluh kali lagi.”

Annabeth masih mengajariku bahasa Yunani setiap pagi, tetapi pikirannya tampak terpecah. Setiap kali aku berkata sesuatu, dia merengut kepadaku, seolah-olah aku baru saja mencolok matanya.

Setelah pelajaran, dia selalu berjalan menjauh sambil menggerutu sendiri: “Misi … Poseidon? … Sialan … Harus membuat rencana ….”

Bahkan Clarisse menjaga jarak, meskipun tatapan beracunnya jelas menandakan bahwa dia ingin membunuhku karena telah mematahkan tombak ajaibnya. Aku ingin sekali dia langsung saja membentak atau menonjokku atau apa kek. Aku lebih suka berkelahi setiap hari daripada tak digubris.

* * *

Aku tahu ada orang di perkemahan yang membenciku, karena pada suatu malam aku masuk ke pondokku dan menemukan Koran manusia fana yang dijatuhkan ke dalam pintu, satu eksemplar New York Daily News, terbuka di halaman Metro. Aku perlu waktu hampir sejam untuk membaca artikel itu, karena semakin aku marah, semakin kata itu kabur-kabur di sekeliling halaman.

IBU DAN ANAK MASIH RAIB

SETELAH KECELAKAAN MOBIL YANG GANJIL

OLEH EILEEN SMYTHE

Sally Jackson dan putranya, Percy, masih raib seminggu setelah mereka menghilang secara misterius. Mobil Camaro ’78 yang terbakar parah milik keluarga itu ditemukan Sabtu lalu di sebuah jalan Long Island Utara, dengan atap robek dan as depan patah. Mobil itu terbalik dan selip sejauh beberapa ratus meter sebelum meledak.

Ibu dan anak tersebut berangkat untuk berlibur akhir pekan di Montauk, tetapi pergi dengan tergesa-gesa, dalam situasi misterius. Sedikit jejak darah ditemukan di dalam mobil dan di dekat tempat puing-puing mobil, tetapi tak ada tanda-tanda lain dari ibu-anak Jackson yang hilang itu. Warga di daerah pedesaan dilaporkan tidak melihat apa-apa yang tidak biasa di sekitar waktu kecelakaan.

Suami Bu Jackson, Gabe Ugliano, mengklaim bahwa anak tirinya, Percy Jackson, adalah anak bermasalah yang telah dikeluarkan dari berbagai sekolah asrama dan telah menunjukkan kecenderungan kekerasan di masa lalu.

Polisi tak mau mengungkapkan apakah Percy adalah tersangka dalam kehilangan ibunya, tetapi mereka belum menolak kemungkinan ada kejahatan. Di bawah ini adalah foto terbaru Sally Jackson dan Percy. Polisi mengimbau siapa saja yang memiliki informasi agar menghubungi nomor telepon pemberantasan kejahatan bebas pulsa berikut ini.

Nomor telepon itu dilingkari dengan spidol hitam.

Aku meremas Koran itu dan mencampakkannya, lalu mengempaskan diri di tempat tidur tingkatku di tengah-tengah pondokku yang kosong.

“Matikan lampu,” kataku pada diri sendiri dengan merana.

* * *

Malam itu aku mendapat mimpi yang paling buruk sejauh ini.

Aku berlari di pantai dalam badai. Kali ini ada kota di belakangku. Bukan New York. Hamparannya berbeda: gedung-gedungnya lebih jarang-jarang, ada pepohonan palem dan perbukitan rendah di kejauhan.

Sekitar seratus meter jauhnya di pesisir, dua lelaki sedang berkelahi. Mereka mirip pegulat televise, berotot, berjenggot, dan berambut panjang. Keduanya mengenakan tunik Yunani yang berkibaran, yang satu dikelim warna biru, satu lagi hijau. Mereka saling bergumul, bergulat, menendang, dan menyundul, dan setiap kali mereka bersentuhan, kilat menyambar, langit menggelap, dan angin bertiup.

Aku harus menghentikan mereka. Aku tak tahu mengapa. Tetapi semakin cepat aku berlari, angin pun semakin bertiup mendorongku ke belakang, sampai akhirnya aku berlari di tempat, tumitku menolak pasir dengan sia-sia.

Di atas gemuruh badai, terdengar lelaki berjubah biru berseru kepada yang berjubah hijau, Kembalikan! Kembalikan! Seperti anak TK yang berebut mainan.

Ombak semakin tinggi, berdebur ke pantai, mencipratiku dengan garam.

Seruku, Hentikan! Berhenti berkelahi!

Bumi berguncang. Tawa datang dari suatu tempat di bawah bumi, dan suara yang begitu berat dan jahat, darahku berubah menjadi es.

Turunlah, pahlawan kecil, senandung suara itu. Turunlah!

Pasir membelah di bawahku, membuka celah yang langsung menuju ke pusat bumi. Kakiku tergelincir, dan kegelapan menelanku.

Aku terbangun, yakin aku sedang jatuh.

Aku masih di tempat tidur di pondok tiga. Tubuhku member tahu bahwa hari sudah pagi, tapi di luar gelap, dan guntur menggelegar di atas perbukitan. Badai akan segera tiba. Aku tidak memimpikan itu.

Aku mendengar suara ketiplak-ketipluk di pintu, kaki hewan mengetuk ambang.

“Masuk?”

Grover berderap masuk, tampak cemas. “Pak D ingin bertemu denganmu.”

“Kenapa?”

“Dia ingin membunuh … maksudku, sebaiknya biar dia saja yang cerita.”

Dengan gugup aku berpakaian dan mengikuti Grover, yakin bahwa aku akan dimarahi habis-habisan.

Selama berhari-hari aku setengah menunggu dipanggil ke Rumah Besar. Setelah aku dinyatakan sebagai anak Poseidon, salah seorang dewa Tiga Besar yang semestinya tak boleh punya anak, kupikir bahwa aku hidup saja sudah merupakan kejahatan. Mungkin selama ini dewa-dewa lain memperdebatkan cara terbaik untuk menghukumku atas keberadaanku, dan sekarang Pak D siap menyampaikan vonis mereka.

Di atas Selat Long Island, langit seumpama sup tinta yang akan mendidih. Tirai hujan yang berkabut bergerak ke arah kami. Aku bertanya kepada Grover, apakah kami perlu payung.

“Nggak usah,” katanya. “Di sini nggak pernah hujan, kecuali kalau kita ingin.”

Aku menunjuk badai itu. “Jadi, itu apaan?”

Dia melirik tak nyaman ke langit. “Itu akan lewat mengelilingi kita. Cuaca buruk selalu begitu.”

Kusadari bahwa dia benar. Selama seminggu aku berada di sini, langit tak pernah mendung. Beberapa awan mendung yang sempat kulihat memang berarak mengelilingi tepi lembah.

Tapi badai yang ini … sepertinya besar.

Di lapangan voli, anak-anak pondok Apollo sedang mengadakan pertandingan pagi melawan satir. Si kembar Dionysus berjalan-jalan di lading stroberi, membuat tanaman tumbuh. Semua orang sedang melakukan kegiatan normal, tetapi mereka tampak tegang. Mereka terus melirik badai.

Aku dan Grover berjalan ke beranda depan Rumah Besar. Dionysus duduk di meja pinochle, berkemeja Hawaii loreng harimau, berteman Diet Coke, persis seperti pada hari pertamaku. Chiron duduk di seberang meja, di kursi roda palsu. Mereka sedang bermain dengan lawan-lawan tak kasat mata—dua tumpuk kartu melayang di udara.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.