Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Clarisse dan teman-teman pondoknya masuk ke dalam kali untuk mendekati-ku, tetapi aku berdiri untuk menyambut mereka. Aku tahu apa yang harus dilakukan. Kuayunkan sisi pedang ke kepala pemuda pertama dan kupukul helmnya hingga terlepas. Pukulanku begitu keras, sampai-sampai matanya terlihat bergetar saat dia ambruk ke air.

Si Jelek Nomor dua dan si Jelek Nomor Tiga menyerangku. Aku menghantam muka yang satu dengan perisai, dan menggunakan pedang untuk membabat hiasan bulu kuda yang satunya. Keduanya buru-buru mundur. Si Jelek Nomor Empat kelihatannya enggan menyerang, tetapi Clarisse terus merangsek, ujung tombaknya berderak-derak dengan energi. Begitu dia menusuk, kutangkap batangnya dengan sisi perisai dan pedangku, lalu kupatahkan bagai ranting.

“Ah!” jeritnya. “Dasar tolol! Dasar cacing bau bangkai!”

Dia mungkin mau mengumpat lebih kasar lagi, tetapi kutonjok dia dengan gagang pedang, di tengah mata, dan membuatnya terhuyung keluar dari kali.

Kemudian terdengar teriakan, jeritan gembira, dan kulihat Luke berlari ke arah garis perbatasan, mengangkat bendera regu merah tinggi-tinggi. Dia diapit oleh dua pemuda Hermes yang melindungi gerakan mundurnya ke wilayah kami. Beberapa anak Apollo di belakangnya sedang menghalau anak-anak Hephaestus. Anak-anak Ares bangkit, dan Clarisse menggumamkan umpatan dengan kepala pening.

“Tipuan!” teriaknya. “Ini tipuan.”

Mereka terhuyung-huyung mengejar Luke, tetapi terlambat. Semua orang berdatangan ke sungai sementara Luke berlari menyeberanginya, ke wilayah kawan. Pihak kami bersorak-sorai. Bendera merah bergetar dan berubah menjadi perak. Celeng dan tombak digantikan dengan caduceus besar, lambang pondok sebelas. Semua orang dalam regu biru mengangkat Luke dan mulai membopongnya berkeliling. Chiron mencongklang dari hutan dan meniup trompet kerang.

Permainan berakhir. Kami menang.

Aku baru saja akan bergabung dengan perayaan itu ketika suara Annabeth, tepat di sebelahku di dalam kali, berkata, “Lumayan juga, Pahlawan.”

Aku menoleh, tetapi dia tidak ada.

“Dari mana sih kau belajar bertempur seperti itu?” tanyanya. Udara bergetar, dan dia mewujud, sambil memegang topi bisbol Yankee seolah-olah dia baru saja mencopotnya dari kepala.

Aku merasa diriku mulai marah. Aku bahkan tidak merasa takjub bahwa barusan dia tak kasat mata. “Kau menjebakku,” kataku. “Kau menempatkan aku di sini karena kautahu Clarisse akan mengejarku, sementara kau mengirim Luke memutar. Kau sudah merencanakan ini.”

Annabeth mengangkat bahu. “Sudah kubilang. Athena selalu, selalu punya rencana.”

“Rencana yang membuatku dihajar.”

“Aku datang secepatnya. Aku baru saja mau turun tangan tapi ….” Dia mengangkat bahu. “Kau tak butuh bantuan.”

Lalu, dia melihat lenganku yang terluka. “Kok kau bisa seperti itu, sih?”

“Luka pedang,” kataku. “Maunya seperti apa?”

“Tidak. Itu tadinya luka pedang. Coba lihat.”

Darahnya sudah hilang. Di tempat yang tadinya terdapat luka besar itu, ada goresan putih yang panjang, dan itu pun memudar. Sementara aku memerhatikan, goresan itu berubah menjadi bekas luka kecil, lalu menghilang.

“Lho—kok ‘gini,” kataku.

Annabeth berpikir keras. Aku hampir bisa melihat otaknya berputar. Dia melihat ke arah kakiku, lalu ke arah tombak patah milik Clarisse, dan berkata, “Keluar dari air, Percy.”

“Apa—”

“Lakukan saja.”

Aku keluar dari kali dan langsung merasa lelah. Lenganku mulai terasa kebas lagi. Gelora adrenalin meninggalkanku. Aku nyaris terjengkang, tetapi Annabeth memegangiku.

“Oh, demi Styx,” umpatnya. “Ini gawat. Tadinya aku nggak ingin … Aku tadinya berasumsi Zeus …”

Sebelum aku sempat menanyakan maksud perkataannya, terdengar geraman anjing itu lagi, tetapi jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Lolongan mengoyak ke seluruh hutan.

Sorak-sorai pekemah padam seketika. Chiron menyerukan sesuatu dalam bahasa Yunani Kuno, yang, baru kusadari kemudian, kupahami dengan sempurna: “Bersiap! Busurku!”

Annabeth menghunus pedang.

Di atas bebatuan persis di atas kami, terdapat seekor anjing hitam seukuran badak, bermata merah lahar dan bertaring bagai belati.

Anjing itu menatap lurus kepadaku.

Tak ada yang bergerak kecuali Annabeth, yang berteriak, “Percy, lari!”

Dia berusaha melangkah ke depanku, tetapi anjing itu terlalu cepat. Hewan itu melompati Annabeth—bayang raksasa bergigi—dan persis saat menimpaku, saat aku terhuyung ke belakang dan merasakan cakarnya yang setajam pisau merobek baju zirahku, terdengar serentetan bunyi benturan, seperti empat puluh carik kertas dirobek berturut-turut. Dari leher anjing itu, mencuat serumpun anak panah. Monster itu ambruk tak bernyawa di kakiku.

Berkat suatu mukjizat, aku masih hidup. Aku tak mau melihat ke balik sisa-sisa baju zirahku yang koyak. Dadaku terasa hangat dan basah, dan aku tahu lukaku cukup parah. Andai terlambat sedetik saja, monster itu tentu sudah mengubahku menjadi daging cincang seberat lima puluh kilo.

Chiron berderap ke samping kami, membawa busur, wajahnya suram.

“Di immortales!” kata Annabeth. “Itu anjing neraka dari Padang Hukuman. Mereka nggak … mereka semestinya nggak …”

“Ada yang memanggilnya,” kata Chiron. “Orang di dalam perkemahan.”

Luke datang menghampiri, bendera di tangannya terlupakan, momen kejayaannya sudah berlalu.

Clarisse berteriak, “Itu semua salah Percy! Percy yang memanggilnya!”

“Diamlah, Nak,” kata Chiron kepadanya.

Kami menyaksikan bangkai anjing neraka itu meleleh ke dalam bayangan, meresap ke dalam tanah sampai menghilang.

“Kau terluka,” kata Annabeth memberitahuku. “Cepat, Percy, masuk ke air.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kau apa-apa,” kata Annabeth. “Chiron, lihat ini.”

Aku terlalu lelah untuk membantah. Aku melangkah kembali ke dalam kali, sementara semua anak perkemahan mengerumuniku.

Langsung saja aku merasa lebih enak. Dapat kurasakan luka-luka di dadaku menutup. Beberapa orang pekemah berdengap.

“Eh, aku—aku nggak tahu kenapa bisa begini,” kataku, berusaha meminta maaf. “Maaf ….”

Tapi, mereka bukan menyaksikan lukaku sembuh. Mereka menatap sesuatu di atas kepalaku.

“Percy,” kata Annabeth sambil menunjuk. “Eh …”

Pada saat aku melihat ke atas, tanda itu sudah memudar, tapi aku masih dapat melihat hologram bercahaya hijau, berputar dan berkilau. Sebuah tombak bercula tiga: sebuah trisula.

“Ayahmu,” gumam Annabeth. “Ini benar-benar gawat.”

“Sudah ditentukan,” Chiron mengumumkan.

Di sekelilingku, para pekemah mulai berlutut, bahkan anak-anak pondok Ares, meskipun mereka tidak kelihatan senang, harus melakukan itu.

“Ayahku?” tanyaku, sama sekali bingung.

“Poseidon,” kata Chiron. “Sang Pengguncang Bumi, sang Pembawa Badai, sang Bapak Bangsa Kuda. Salam, Perseus Jackson, Putra sang Dewa Laut.”

9. Aku Ditawari Misi

Esok paginya Chiron memindahkanku ke pondok tiga.

Aku tak perlu berbagi dengan siapa-siapa. Aku punya banyak tempat untuk menyimpan semua barangku: tanduk Minotaurus, satu setel pakaian ganti, dan kantong peralatan mandi. Aku berhak duduk di meja makan sendiri, memilih semua kegiatanku sendiri, menentukan “saatnya mematikan lampu” kapan pun kusuka, dan tak perlu mematuhi siapa pun.

Dan aku merasa benar-benar merasa sengsara.

Justru ketika aku merasa diterima, merasa punya rumah di pondok sebelas dan bisa menjadi anak normal—atau senormal yang memungkinkan sebagai anak blasteran—aku dipisahkan seolah-olah mengidap penyakit langka.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.