Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Dia menyeringai. “Lihat saja nanti. Pertama-tama kita harus menangkap satu.”

“Kita di pihak mana?”

Dia memberiku tatapan jail, seolah-olah dia tahu sesuatu yang tak kuketahui. Codet di wajahnya membuatnya hampir tampak jahat dalam cahaya obor. “Kita sudah membuat persekutuan sementara dengan Athena. Malam ini kita merebut bendera dari Ares. Dan kau akan membantu.”

Regu-regu diumumkan. Athena telah bersekutu dengan Apollo dan Hermes, dua pondok terbesar. Rupanya, hak pekemah diperdagangkan—waktu mandi, jadwal tugas, jadwal terbaik untuk berbagai kegiatan—untuk mendapatkan dukungan.

Ares bersekutu dengan semua pondok lain: Dionysus, Demeter, Aphrodite, dan Hephaestus. Dari yang kulihat, anak-anak Dionysus sebenarnya atlet yang baik, tetapi hanya ada dua. Anak-anak Demeter unggul dalam keterampilan alam dan luar ruangan, tetapi tak terlalu agresif. Anak laki dan perempuan Aphrodite, aku tak terlalu khawatir. Mereka biasanya tidak berpatisipasi dalam kegiatan apa pun dan mengamati bayangan mereka di danau dan menata rambut dan bergunjing. Anak-anak Hephaestus bertampang pas-pasan, dan hanya ada empat orang, tetapi tubuh mereka besar dan berotot karena bekerja di bengkel logam sepanjang hari. Mereka mungkin bisa jadi masalah. Selain mereka semua, tentu saja ada pondok Ares: selusin anak terbesar, terjelek, terjahat di Long Island, atau di mana pun di planet ini.

Chiron mengetukkan kaki kudanya keras-keras pada marmer.

“Para pahlawan!” dia mengumumkan. “Kalian sudah tahu peraturannya. Garis perbatasannya sungai. Seluruh hutan boleh dimanfaatkan. Semua benda ajaib diperbolehkan. Bendera harus dipasang dengan mencolok, dan hanya boleh dijaga paling banyak dua orang. Tahanan boleh dilucuti senjatanya, tetapi tak boleh diikat atau ditutup mulutnya. Membunuh dan merusak badan tidak diperbolehkan. Aku akan menjadi wasit dan dokter medan perang. Persenjatai diri kalian!”

Dia melebarkan tangan, dan meja-meja tiba-tiba dipenuhi dengan perlengkapan: helm, pedang perunggu, tombak, perisai kulit sapi yang berlapis logam.

“Wah,” kataku. “Kita benar-benar harus menggunakan ini?”

Luke menatapku seolah-olah aku gila. “Kecuali kalau kau mau disatai oleh teman-temanmu dari pondok lima. Nih—Chiron menduga ini akan pas. Kau mendapat tugas patroli perbatasan.”

Perisaiku berukuran sebesar papan pantul basket NBA, bergambar caduceus besar di tengah-tengah. Beratnya sejuta kilo. Benda itu bisa saja kupakai berselancar di laut, tapi kuharap tak ada yang benar-benar ingin aku berlari cepat. Helmku, seperti semua helm di pihak Athena, dihiasi bulu kuda biru di atasnya. Ares dan sekutunya berbulu merah.

Annabeth berteriak, “Regu biru, maju!”

Kami bersorak dan mengayun-ayunkan pedang dan mengikutinya menyusuri jalan ke hutan selatan. Regu merah menyerukan ejekan kepada kami sambil menuju ke Utara.

Aku berhasil menyusul Annabeth tanpa tersandung perlengkapanku sendiri. “Hei.”

Dia terus berbaris.

“Jadi, bagaimana rencananya?” tanyaku. “Kau punya benda ajaib yang bisa kupinjam?”

Tangannya bergerak ke saku, seolah-olah dia takut aku baru mencuri sesuatu.

“Pokoknya, waspadai tombak Clarisse,” katanya. “Jangan sampai tersentuh benda itu. Selain itu, jangan khawatir. Kita pasti bisa merebut bendera itu dari Ares. Luke sudah memberimu tugas?”

“Patroli perbatasan, entah apa artinya.”

“Itu gampang. Berdirilah di dekat kali, jaga agar regu merah tidak masuk. Serahkan sisanya kepadaku. Athena selalu punya rencana.”

Dia terus maju, meninggalkanku di belakang.

“Baik,” gumamku. “Aku senang kau menginginkanku ikut regumu.”

Malam itu panas dan lengket. Hutan gelap. Kunang-kunang muncul dan hilang dari pandangan. Annabeth menempatkanku di samping kali kecil yang menggerocok di atas beberapa batu, lalu dia dan sisa regunya berpencar ke dalam pepohonan.

Berdiri di sana sendirian, dengan helm berbulu biru yang besar dan perisai yang besar, aku merasa seperti orang tolol. Pedang perunggu itu, seperti semua pedang yang kucoba sejauh itu, terasa salah keseimbangannya. Gagang kulitnya menarik tanganku seperti bola boling.

Aku nggak mungkin benar-benar diserang, kan? Maksudku, para Dewa Olympus pasti menuntut kalau ada anaknya yang terluka, kan?

Di kejauhan, trompet kerang itu berbunyi. Terdengar teriakan dan lolongan di hutan, dentang logam, anak-anak bertempur. Seorang sekutu berbulu biru dari Apollo melesat di depanku seperti kijang, melompat menyeberangi kali, dan menghilang ke wilayah musuh.

Bagus, pikirku. Aku ketinggalan bagian yang asyik, seperti biasa.

Lalu, terdengar bunyi yang membuatku merinding, geraman anjing yang bernada berat, di suatu tempat di dekatku.

Secara naluriah kuangkat perisaiku; aku merasa ada yang mengintaiku.

Lalu, geraman itu berhenti. Aku merasakan sosok itu mundur.

Di seberang kali, semak meledak. Lima pendekar Ares muncul dari gelap sambil berteriak dan menjerit.

“Hajar si anak ingusan!” teriak Clarisse.

Mata babinya yang jelek melotot melalui celah helm. Dia mengayunkan tombak yang panjangnya 1,5 meter, ujung logamnya yang berduri berkilap-kilap dalam cahaya merah. Saudara-saudaranya hanya bersenjata pedang perunggu keluaran standar—meskipun itu tak terlalu melegakan hatiku.

Mereka melompati kali. Bala bantuan tak kelihatan dari mana pun. Aku bisa lari. Atau aku bisa membela diri melawan setengah anak pondok Ares.

Aku berhasil mengelakkan ayunan si anak pertama, tetapi orang-orang ini tidak sebodoh si Minotaurus. Mereka mengepungku, dan Clarisse menusukku dengan tombak. Perisaiku menangkis ujungnya, tetapi seluruh tubuhku terasa kesemutan yang menyakitkan. Bulu tubuhku berdiri semua. Lengan perisaiku mati rasa, dan udara terbakar.

Listrik. Tombak sialannya itu mengandung listrik. Aku mundur.

Anak Ares lain menghantam dadaku dengan gagang pedangnya dan aku terjengkang.

Mereka sebenarnya bisa saja menendangiku hingga menjadi agar-agar, tetapi mereka terlalu sibuk tertawa.

“Potong rambutnya,” kata Clarisse. “Pegang rambutnya.”

Aku berhasil berdiri. Aku mengangkat pedang, tetapi Clarisse memukulnya ke samping dengan tombaknya dan bunga api beterbangan. Sekarang kedua lenganku mati rasa.

“Hii,” kata Clarisse. “Aku takut sama dia. Takut banget.”

“Benderanya ke sebelah sana,” kataku kepadanya. Aku ingin terdengar marah, tetapi ternyata yang terucap tidak begitu.

“Ya,” kata salah satu saudaranya. “Tapi masalahnya, kami nggak peduli sama bendera. Kami peduli sama anak yang membuat pondok kami tampak bodoh.”

“Tanpa bantuanku pun, kalian sudah tampak bodoh kok,” kataku. Mengatakan hal itu mungkin bukan tindakan yang pintar.

Dua anak menerjang ke arahku. Aku mundur ke arah kali, berusaha menaikkan perisai, tetapi Clarisse terlalu cepat. Tombaknya menusuk tulang igaku dengan tepat. Andai aku tak mengenakan lempeng dada besi, aku pasti sudah jadi satai. Sekarang ini, ujung listrik itu hampir mengguncangkan gigi keluar dari mulutku. Salah satu teman sepondok Clarisse mengayunkan pedang pada lenganku, meninggalkan luka berukuran lumayan.

Melihat darahku sendiri membuatku pusing—panas sekaligus dingin.

“Nggak boleh mencederai,” aku berhasil berkata.

“Ups,” kata pemuda itu. “Aku bakal dihukum nggak mendapat makanan penutup ya?”

Dia mendorongku ke dalam kali dan aku tercebur dengan terjengkang. Mereka semua tertawa. Pikirku, begitu mereka puas tertawa, aku pasti mati. Tapi, kemudian sesuatu terjadi. Air kali tampaknya membangunkan indraku, seolah-olah aku baru saja makan sekantong permen kopi ibuku.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.