Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Semangatku bangkit. “Nah, lumayan juga, kan?”

“Mbeeek! Itu sih sama saja dengan menugasiku membersihkan istal. Kemungkinan kau mendapat misi … dan kalaupun kau mendapatkannya, memangnya kau mau aku ikut?”

“Pasti dong, aku mau kau ikut!”

Grover menatap murung ke dalam air. “Menganyam keranjang … Pasti menyenangkan, punya keterampilan yang bermanfaat.”

Aku berusaha menghiburnya, bahwa dia punya banyak bakat, tetapi itu malah membuatnya semakin merana. Kami mengobrol tentang berkano dan permainan pedang beberapa lama, lalu memperdebatkan plus-minus berbagai dewa. Akhirnya, aku menanyakan keempat pondok kosong itu.

“Pondok delapan, yang perak itu, kepunyaan Dewi Artemis,” katanya. “Dia bersumpah akan menjadi perawan selamanya. Jadi, tentu saja anaknya nggak ada. Pondok itu semacam penghormatan, begitu. Kalau dia nggak diberi pondok, dia pasti marah.”

“Oh, oke. Tapi tiga yang lain, yang di ujung itu. Apa itu Tiga Besar?”

Grover menegang. Kami mendekati topik yang peka. “Bukan. Salah satunya, pondok dua, kepunyaan Hera,” katanya. “Itu juga penghormatan. Dia Dewi Pernikahan, jadi tentu saja dia nggak akan berselingkuh dengan manusia. Itu tugas suaminya. Yang kami sebut Tiga Besar itu adalah ketiga kakak-beradik yang berkuasa, anak-anak Kronos.”

“Zeus, Poseidon, Hades.”

“Benar. Kau tahu, setelah pertempuran besar melawan bangsa Titan, mereka mengambil alih dunia dari ayah mereka, dan mengundi untuk memutuskan siapa mendapat apa.”

“Zeus mendapat langit,” aku ingat. “Poseidon laut, Hades Dunia Bawah.”

“Iya.”

“Tapi Hades nggak punya pondok di sini.”

“Nggak. Dia juga nggak punya singgasana di Olympus. Dia bertindak sesuka hatinya sendiri di Dunia Bawah. Kalaupun dia punya pondok di sini ….” Grover menggigil. “Yah, pasti nggak bakal menyenangkan. Cukup sampai di situ saja.”

“Tapi Zeus dan Poseidon—mereka berdua punya jutaan anak dalam mitos-mitos. Kenapa pondok mereka kosong?”

Grover memindahkan kaki dengan rikuh. “Sekitar enam puluh tahun yang lalu, setelah Perang Dunia II, Tiga Besar bersepakat bahwa mereka nggak akan lagi punya keturunan pahlawan. Anak-anak mereka terlalu kuat. Mereka terlalu memengaruhi arah peristiwa manusia, terlalu banyak menyebabkan pertumpahan darah. Seperti yang kita ketahui, perang Dunia II pada dasarnya adalah pertempuran antara anak-anak Zeus dan Poseidon di satu pihak, dan anak-anak Hades di pihak lain. Pihak yang menang, Zeus dan Poseidon, memaksa Hades bersumpah bersama mereka: nggak boleh lagi menjalin hubungan dengan wanita manusia. Mereka semua bersumpah demi Sungai Styx.”

Guntur menggelegar.

Kataku, “Itu jenis sumpah paling serius yang bisa dibuat.”

Grover mengangguk.

“Apakah ketiga bersaudara itu menepati janji—nggak punya anak?”

Wajah Grover menjadi suram. “Tujuh belas tahun yang lalu, Zeus tergelincir. Dulu ada bintang TV kecil, dengan rambut gembung gaya tahun delapan puluhan—Zeus nggak bisa menahan diri. Ketika anak mereka lahir, bayi perempuan bernama Thalia … yah, Sungai Styx itu serius soal janji. Zeus dihukum ringan karena dia dewa, tetapi putrinya tertimpa nasib buruk.”

“Tapi itu nggak adil! Anak itu kan nggak bersalah apa-apa.”

Grover ragu. “Percy, anak-anak Tiga Besar punya kekuatan yang lebih besar daripada blasteran lain. Mereka punya aura yang kuat, aroma yang menarik perhatian monster. Ketika Hades tahu soal anak itu, dia nggak terlalu senang bahwa Zeus melanggar sumpah. Hades mengeluarkan monster-monster terburuk dari Tartarus untuk mengganggu Thalita. Seorang satir ditugasi menjadi penjaganya sewaktu anak itu berumur dua belas, tapi dia nggak bisa berbuat apa-apa. Dia berusaha mengawal Thalia ke sini dengan dua blasteran lain teman Thalia. Mereka hampir berhasil. Mereka sudah sampai ke puncak bukit itu.”

Dia menunjuk ke seberang lembah, ke pohon pinus tempat aku melawan si minotaurus. “Ketiga Makhluk Baik mengejar mereka, dengan sekawanan anjing neraka. Mereka sudah hampir terkejar, saat Thalia menyuruh satirnya membawa kedua anak blasteran lain itu ke tempat yang aman, sementara dia menahan monster. Dia sudah terluka dan lelah. Dia nggak mau hidup seperti hewan

buruan. Si satir nggak mau meninggalkan Thalia, tetapi nggak berhasil mengubah keputusan anak itu, dan dia harus melindungi yang lain. Jadi, Thalia bertahan sendirian, di puncak bukit itu. Ketika dia gugur, Zeus merasa iba. Dia mengubah anaknya menjadi pohon pinus itu. Arwah Thalia masih membantu melindungi perbatasan lembah ini. Itu sebabnya bukit itu disebut Bukit Blasteran.”

Aku menatap pohon pinus di kejauhan itu.

Kisah itu membuatku merasa hampa, dan juga bersalah. Seorang gadis seusiaku mengorbankan diri untuk menyelamatkan teman-temannya. Dia menghadapi seluruh pasukan monster itu. Dibandingkan dengan itu, kemenanganku atas Minotaurus terasa tidak terlalu besar. Aku bertanya-tanya, andai aku berbuat lain, mungkinkah aku bisa menyelamatkan ibuku?

“Grover,” kataku, “apakah para pahlawan benar-benar pernah mengemban misi ke Dunia Bawah?”

“Kadang-kadang,” katanya. “Orpheus, Hercules, Houdini.”

“Dan apa mereka pernah mengembalikan orang dari alam kematian?”

“Nggak. Nggak pernah. Orpheus nyaris berhasil … Percy, kau tak serius memikirkan—”

“Nggak,” aku berbohong. “Cuma ingin tahu saja. Jadi … satir selalu ditugasi menjaga demigod?”

Grover mengamatiku dengan curiga. Dia belum yakin bahwa aku sudah membuang pikiranku tentang Dunia Bawah. “Nggak selalu. Kami menyamar di banyak sekolah. Kami berusaha mengendus anak-anak blasteran yang berpotensi menjadi pahlawan hebat. Kalau kami menemukan seorang yang beraura sangat kuat, seperti anak dari Tiga Besar, kami memberi tahu Chiron. Dia berusaha mengawasi anak itu, karena anak seperti itu bisa menimbulkan masalah sangat besar.”

“Dan kau menemukan aku. Kata Chiron, kau menganggap bahwa aku mungkin istimewa.”

Grover tampak seolah-olah aku baru saja menuntunnya ke perangkap. “Aku nggak … Eh, jangan berpikir seperti itu. Kalau kau memang—itu—kau nggak akan pernah diberi misi, dan aku nggak akan pernah mendapatkan izin itu. Kau mungkin anak Hermes. Atau mungkin bahkan salah seorang dewa kecil, seperti Nemesis, Dewa Balas Dendam. Jangan khawatir, oke?”

Aku merasa sepertinya hiburan itu lebih untuk dirinya daripada diriku.

* * *

Malam itu, setelah makan malam, suasana lebih bersemangat daripada biasanya.

Akhirnya, tiba waktunya untuk permainan tangkap bendera.

Ketika piring makan sudah diangkat, trompet kerang dibunyikan dan kami semua berdiri di samping meja masing-masing.

Para pekemah bersorak-sorai saat Annabeth dan kedua saudaranya berlari memasuki paviliun, membawa sehelai bendera sutra. Bendera itu panjangnya tiga meter, berwarna abu-abu berkilap, dilukis gambar burung hantu di atas pohon zaitun. Dari seberang paviliun, Clarisse dan sobat-sobatnya berlari masuk membawa bendera lain, berukuran sama, tetapi berwarna merah norak, dilukis gambar tombak berdarah dan kepala celeng.

Aku menoleh kepada Luke dan berteriak mengatasi keributan: “Itu benderanya?”

“Ya.”

“Ares dan Athena selalu memimpin regu?”

“Nggak selalu,” katanya. “Tapi sering.”

“Jadi, kalau pondok lain menangkap salah satu bendera, kemudian apa—gambar benderanya ditimpa dengan lukisan lain?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.