Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

Dan bergulat? Lupakan saja. Setiap kali aku masuk ke matras, Clarisse membantaiku.

“Itu belum seberapa, Anak Ingusan,” bisiknya di telingaku.

Satu-satunya hal yang aku benar-benar mahir adalah berkano, dan itu bukan jenis keahlian kepahlawanan yang diharapkan orang dari si anak yang mengalahkan Minotaurus.

Aku tahu para pekemah senior dan konselor mengamatiku, berusaha menentukan siapa ayahku, tetapi itu tidak mudah. Aku tidak sekuat anak-anak Ares, ataupun memanah semahir anak-anak Apollo. Aku tidak terampil dalam kerajinan logam seperti Hephaestus atau—amit-amit—kepiawaian Dionysus dengan tanaman anggur. Luke memberitahuku bahwa aku mungkin anak Hermes, semacam orang yang bisa segala macam, tetapi tidak ahli dalam satu pun. Tapi aku mendapat perasaan bahwa dia hanya berusaha menghiburku. Dia juga tak tahu harus menyimpulkan apa soal aku.

Meskipun demikian, aku suka perkemahan. Aku terbiasa dengan kabut pagi di atas pantai, semerbak ladang stroberi panas pada sore hari, bahkan suara aneh monster-monster di hutan pada malam hari. Aku makan malam bersama pondok sebelas, mencomot sebagian makananku ke dalam api, dan berusaha merasakan sedikit pertalian dengan ayah sejatiku. Tapi tak terjadi apa-apa. Hanya perasaan hangat yang sejak dulu kumiliki, seperti kenangan senyumnya. Aku berusaha tak terlalu memikirkan ibuku, tetapi aku terus bertanya-tanya: jika dewa dan monster itu nyata, jika semua keajaiban ini mungkin, tentunya ada suatu cara untuk menyelamatkannya, membawanya kembali ….

Aku mulai memahami kegetiran Luke dan betapa dia tampaknya membenci ayahnya, Hermes. Memang sih, mungkin para dewa punya pekerjaan lain yang lebih penting. Tapi, apa mereka nggak bisa menelepon sekali-sekali, atau membunyikan guntur, atau apa, kek? Dionysus bisa membuat Diet Coke muncul begitu saja. Kenapa ayahku, siapa pun dia, nggak bisa membuat telepon muncul?

* * *

Pada Kamis sore, tiga hari setelah aku tiba di Perkemahan Blasteran, aku kali pertama mendapat pelajaran pertarungan pedang. Semua orang dari pondok sebelas berkumpul di arena bundar besar. Luke yang mengajar kami.

Kami memulai dengan gerakan dasar menusuk dan membacok, menggunakan beberapa boneka isi jerami yang dipasangi baju zirah Yunani. Rasanya aku lumayan. Setidaknya, aku mengerti apa yang harus kulakukan dan refleksku bagus.

Masalahnya, aku tak bisa menemukan pedang yang terasa pas di tangan. Yang ada terasa terlalu berat, atau terlalu ringan, atau terlalu panjang. Luke berusaha sebaik-baiknya untuk mencocokkanku dengan pedang, tetapi dia sepakat bahwa tak satu pun pedang latihan itu tampaknya cocok untukku.

Kami beralih ke duel berpasangan. Luke menyatakan bahwa dia akan menjadi lawanku, karena ini pelajaranku yang pertama.

“Semoga sukses,” kata salah seorang pekemah kepadaku. “Luke adalah pemain pedang terbaik dalam tiga ratus tahun terakhir.”

“Mungkin dia nggak akan terlalu keras kepadaku,” kataku.

Si pekemah itu mendengus.

Luke menunjukkan cara menikam dan menangkis dengan pedang dan perisai, dengan cara yang keras. Dengan setiap ayunan, aku bertambah babak-belur. “Mana pertahananmu, Percy!” katanya, lalu memukul tulang igaku dengan sisi pedangnya. “Bukan, jangan setinggi itu!” Plak! “Masuk!” Plak! “Sekarang mundur!” Plak!

Pada saat dia menyatakan waktu istirahat, aku sudah bermandi keringat. Semua orang mengerubungi pendingin minuman. Luke menuangkan air es di atas kepalanya, yang kelihatannya gagasan yang bagus, jadi aku menirunya.

Langsung saja aku merasa lebih baik. Kekuatan menjalar kembali ke lenganku. Pedang itu tidak lagi terasa terlalu canggung.

“Oke, semuanya bentuk lingkaran!” perintah Luke. “Jika Percy tak keberatan, aku ingin membuat peragaan sedikit.”

Bagus, pikirku. Mari menonton Percy dipukuli.

Anak-anak Hermes berkumpul. Mereka menahan senyum. Kusimpulkan mereka juga pernah mengalami hal ini dan tak sabar melihat bagaimana Luke memanfaatkanku sebagai samsak. Dia mengumumkan dia akan memeragakan jurus melepas senjata lawan: cara memuntir pedang musuh dengan sisi pedang kita, sehingga dia tak punya pilihan selain menjatuhkan senjatanya.

“Ini jurus yang sulit,” dia menekankan. “Aku pernah terkena jurus yang sama. Nah, jangan menertawakan Percy. Sebagian besar ahli pedang harus berlatih bertahun-tahun untuk menguasai jurus ini.”

Dia memeragakan jurus ini terhadapku dengan gerak lambat. Benar saja, pedang itu terjatuh dari tanganku.

“Sekarang dengan kecepatan normal,” katanya, setelah aku mengambil senjataku. “Kami akan terus bertanding sampai salah satu berhasil melakukannya. Siap, Percy?”

Aku mengangguk, dan Luke menyerangku. Entah bagaimana, aku berhasil menjaga agar dia tidak mengenai gagang pedangku. Indraku terbuka. Aku melihat serangan-serangannya datang. Aku membalas. Aku melangkah maju dan mencoba menikam juga. Luke menangkisnya dengan mudah, tetapi kulihat perubahan di wajahnya. Matanya menyipit, dan dia mulai menekanku dengan lebih bertenaga.

Pedang itu bertambah berat di tanganku. Keseimbangannya tidak tepat. Aku tahu tinggal waktu beberapa detik lagi sampai Luke merubuhkanku, jadi pikirku, Apa ruginya?

Aku mencoba jurus melepas senjata lawan itu.

Pedangku mengenai pangkal pedang Luke, dan aku memuntir, menggunakan seluruh beratku untuk menekan ke bawah.

Trang.

Pedang Luke berdencang pada bebatuan. Ujung pedangku berjarak dua sentimeter dari dadanya yang tak terlindung.

Para pekemah lain sunyi senyap.

Aku menurunkan pedang. “Eh, maaf.”

Sesaat Luke terlalu tercengang, tak bisa berbicara.

“Maaf?” Wajahnya yang bercodet itu menyeringai. “Demi dewa-dewa, Percy, kenapa kau minta maaf? Tunjukkan lagi itu kepadaku!”

Aku tidak ingin. Ledakan energi gila yang pendek itu telah hilang sepenuh-nya. Tetapi Luke mendesak.

Kali ini, tak ada perlawanan. Begitu pedang kami beradu, Luke mengenai gagangku dan mengirim pedangku meluncur di atas lantai.

Setelah hening lama, seseorang di antara penonton berkata, “Kemujuran pemula?”

Luke menyeka keringat dari kening. Dia memandangku dengan minat yang sama sekali baru. “Mungkin,” katanya. “Tapi aku jadi ingin tahu, apa yang bisa dilakukan Percy dengan pedang yang seimbang ….”

* * *

Pada Jumat sore, aku duduk bersama Grover di danau, beristirahat setelah hampir mati di tembok panjat. Grover memanjat tembok seperti kambing gunung, tetapi aku hampir terkena lava. Kemejaku berlubang-lubang berasap. Bulu lenganku terbakar.

Kami duduk di dermaga, mengamati para naiad menganyam keranjang di dalam air, sampai aku berhasil memberanikan diri menanyakan percakapannya dengan Pak D waktu itu.

Wajahnya menjadi kuning pucat seperti penyakitan.

“Baik,” katanya. “Baik-baik saja.”

“Jadi, kariermu masih sesuai rencana?”

Dia melirikku dengan gugup. “Chiron c-cerita bahwa aku ingin mendapatkan izin pencari?”

“Eh … nggak juga.” Aku tak tahu sama sekali izin pencari itu apa, tapi rasanya tidak tepat kalau kutanyakan saat itu juga. “Dia cuma bilang, kau punya rencana besar, begitu … dan bahwa kau perlu mengumpulkan nilai untuk menyelesaikan tugas penjaga. Jadi, kau dapat nilai itu, tidak?”

Grover menatap para naiad di dalam danau. “Pak D menangguhkan penilaian. Katanya, aku belum gagal atau berhasil menanganimu, jadi nasib kita masih saling terpaut. Kalau kau mendapat tugas, dan aku ikut untuk melindungimu, lalu kita berdua pulang hidup-hidup, mungkin saat itu dia baru menganggap tugas ini selesai.”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.