Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Betul,” kata Pak Brunner, jelas belum puas. “Dan dia memakan anak-anaknya karena ….”

“Karena ….” Aku memutar otak, berusaha mengingat. “Kronos itu raja dewa, dan—”

“Dewa?” tanya Pak Brunner.

“Titan,” aku membetulkan. “Dan …. dia nggak percaya pada anak-anaknya, yang dewa-dewi itu. Jadi, eh, Kronos memakan mereka, iya kan? Tapi istrinya menyembunyikan si bayi Zeus, dan menggantinya dengan batu untuk dimakan Kronos. Lalu belakangan, waktu Zeus sudah dewasa, dia menipu ayahnya, Kronos, supaya memuntahkan kakak-kakaknya—”

“Iiiih!” kata seorang gadis di belakangku.

“—terus ada perang besar antara bangsa dewa dan bangsa Titan,” lanjutku, “dan kaum dewa menang.”

Terdengar cekikikan dari anak-anak.

Di belakangku Nancy Bobofit berbisik kepada temannya, “Memangnya pelajaran ini bakal kita pakai di kehidupan nyata? Pada formulir lamaran kerja kan nggak bakal ada pertanyaan, ‘Jelaskan mengapa Kronos melahap anak-anaknya’?”

“Dan Jackson,” kata Brunner, “mengutip pertanyaan bagus dari Bobofit, mengapa pengetahuan ini penting dalam kehidupan nyata?”

“Nah lho, ketahuan,” gumam Grover.

“Cerewet,” desis Nancy, mukanya memerah, bahkan lebih cerah daripada rambutnya.

Setidaknya dia kena disindir juga. Cuma Pak Brunner yang pernah menangkap Nancy berkata jelek. Telinga Pak Brunner seperti radar.

Aku memikirkan pertanyaan ini, lalu mengangkat bahu. “Nggak tahu, Pak.”

“Baiklah.” Pak Brunner tampak kecewa. “Oke, kau mendapat setengah nilai, Jackson. Zeus memang memberi Kronos makan campuran mostar dan anggur. Makanan itu membuat Kronos memuntahkan kelima anaknya yang lain. Tentu saja, karena mereka dewa yang hidup abadi, selama itu mereka hidup dan tumbuh dewasa tanpa dicerna dalam perut si Titan. Keenam dewa-dewi itu mengalahkan ayah mereka, mencincangnya dengan sabit miliknya sendiri, dan menyebarkan jasadnya di Tartarus, bagian tergelap di Dunia Bawah. Dengan akhir cerita yang bahagia itu, sekarang waktu makan siang. Bu Dodds, tolong pandu mereka keluar museum.”

Anak-anak berjalan pergi, anak-anak perempuan memegangi perut, anak-anak lelaki saling mendorong dan bertingkah seperti anak bego.

Aku dan Grover baru mau mengikuti, ketika Pak Brunner berkata, “Jackson.”

Sudah kuduga ini akan terjadi.

Aku menyuruh Grover jalan lebih dulu. Lalu, aku menoleh kepada Pak Brunner. “Pak?”

Pak Brunner punya tatapan yang menjerat—mata cokelat ganas yang terasa seperti berusia seribu tahun dan sudah pernah melihat segalanya.

“Kau harus mengetahui jawaban pertanyaanku,” kata Pak Brunner kepadaku.

“Tentang bangsa Titan?”

“Tentang kehidupan nyata. Dan bagaimana manfaat pelajaranmu dalam kehidupan nyata.”

“Oh.”

“Yang kau pelajari dariku,” katanya, “sangat penting. Kau harus sungguh-sungguh mempelajarinya. Aku hanya menerima yang terbaik darimu, Percy Jackson.”

Aku ingin marah, kenapa dia terus menekanku terlalu keras?

Memang sih turnamen yang diadakannya cukup keren juga. Pada hari-hari itu, dia berbaju zirah Romawi dan berseru: “Ayo!”, sambil mengacungkan pedang ke arah kami yang bersenjata kapur. Dia menantang kami berlari ke papan tulis dan menyebutkan setiap orang Yunani dan Romawi yang pernah hidup, dan ibu mereka, dan dewa apa yang mereka sembah. Tapi, Pak Brunner mengharapkan aku sepintar anak lain, meskipun aku mengidap penyakit disleksia dan gangguan

pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH), dan aku belum pernah mendapat nilai lebih dari C- seumur hidup. Eh, bukan—dia bukan mengharapkan aku sama pintarnya dengan anak lain; dia mengharapkan aku lebih pintar. Padahal aku susah menghafal semua nama dan fakta itu, apalagi mengejanya dengan benar.

Kugumamkan sesuatu tentang berusaha lebih keras, sementara Pak Brunner lama menatap stele itu dengan sedih, seolah-olah dia pernah menghadiri pemakaman gadis itu.

Lalu dia menyuruhku keluar dan makan siang.

* * *

Teman-teman sekelas berkumpul di tangga depan museum, biar bisa menonton pejalan kaki lalu-lalang di sepanjang Fifth Avenue.

Di langit terlihat badai besar mulai terbentuk, awannya lebih hitam daripada yang pernah kulihat ada di atas kota ini. Kupikir barangkali gara-gara pemanasan global atau apa, karena cuaca di seluruh negara bagian New York sudah aneh sejak Natal. Kami dilanda badai salju hebat, banjir, kebakaran hutan akibat sambaran pentir. Aku tak akan heran kalau ini nanti menjadi topan.

Kayaknya tak ada orang lain yang memerhatikan. Beberapa anak lelaki melempari burung dara dengan biskuit bekal. Nancy Bobofit berusaha mencopet sesuatu dari tas seorang wanita, dan tentu saja Bu Dodds menutup mata.

Aku dan Grover duduk di tepi air mancur, menjauhi anak-anak lain. Kami pikir, kalau kami menjauh, mungkin orang lain tak akan tahu bahwa kami berasal dari sekolah itu—sekolah untuk anak-anak aneh dan pecundang, yang tak punya tempat di sekolah lain.

“Skors?” tanya Grover.

“Nggak,” kataku. “Brunner nggak pernah menskors. Tapi kenapa dia selalu menggangguku? Aku kan bukan anak genius.”

Grover tak berkata apa-apa beberapa lama. Lalu, sewaktu kusangka dia akan berkomentar penuh filosofi untuk menghiburku, dia berkata, “Apelmu buatku ya?”

Aku tak terlalu berselera makan, jadi kubiarkan dia mengambilnya.

Aku menonton arus taksi yang melaju di Fifth Avenue, dan memikirkan apartemen ibuku di sebelah utara, tidak jauh dari tempat kami duduk. Aku belum pernah bertemu lagi dengannya sejak Natal. Rasanya ingin sekali aku melompat naik taksi dan pulang. Dia pasti memelukku dan senang bertemu denganku, tetapi dia juga pasti kecewa. Dia akan langsung menyuruhku kembali ke Yancy, meng-ingatkanku bahwa aku harus berusaha lebih keras, meskipun ini sekolahku yang

keenam dalam enam tahun dan mungkin aku akan dikeluarkan lagi. Aku tak akan tahan melihat tatapan sedih darinya.

Pak Brunner memarkir kursi roda di dasar tanjakan untuk kaum cacat. Dia makan seledri sambil membaca novel. Di punggung kursinya terpasang payung merah, sehingga kursi itu mirip meja kafe bermotor.

Aku baru mau membuka bungkus roti lapis ketika Nancy Bobofit muncul di depanku bersama teman-temannya yang jelek—barangkali dia bosan mencuri dari wisatawan—dan menumpahkan bekalnya yang baru dimakan setengah ke pangkuan Grover.

“Ups.” Dia menyeringai kepadaku dengan giginya yang gingsul. Bintik-bintik di mukanya berwarna jingga, seolah-olah disemprot cat yang terbuat dari Cheetos cair.

Aku berusaha kalem. Guru pembimbing sekolah sudah sejuta kali bilang, “Hitung sampai sepuluh, kendalikan amarahmu.” Tetapi saking marahnya, pikiranku kosong. Ombak bergemuruh di telingaku.

Aku tak ingat pernah menyentuh Nancy. Tahu-tahu saja dia sudah terjengkang di dalam air mancur, sambil menjerit, “Aku didorong Percy!”

Bu Dodds muncul di sebelah kami.

Beberapa anak berbisik: “Tadi lihat nggak—”

“—airnya—”

“—seolah-olah menyambar Nancy—”

Aku tak tahu mereka bicara soal apa. Aku cuma tahu, aku kena masalah lagi.

Setelah Bu Dodds yakin bahwa Nancy cilik yang malang itu baik-baik saja, dan berjanji akan membelikannya kemeja baru dari toko cendera mata museum, dll., dll., Bu Dodds menoleh kepadaku. Ada api kemenangan di matanya, seolah-olah aku baru melakukan sesuatu yang telah dia tunggu-tunggu sepanjang semester. “Nah, Anak Manis—”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.