Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

“Maaf,” gumamku, “aku nggak ….”

Pintu diketuk, dan gadis itu cepat-cepat mengisi mulutku dengan pudding.

Ketika aku terbangun lagi, gadis itu sudah tak ada.

Seorang pemuda kekar berambut pirang, seperti peselancar, berdiri di sudut kamar, menjagaku. Dia punya mata biru—paling sedikit selusin—di pipinya, keningnya, punggung tangannya.

* * *

Ketika akhirnya aku benar-benar siuman, tak ada yang aneh soal rumah yang kutempati, selain bahwa tempat itu lebih bagus daripada tempat yang biasa kudiami. Aku duduk di kursi santai di beranda yang besar, memandang kea rah padang rumput di perbukitan hijau di kejauhan. Anginnya beraroma stroberi. Ada selimut yang menutupi kakiku, dan bantal mengganjal kepala. Semua itu nyaman, tetapi mulutku seolah-olah telah dibuat sarang oleh seekor kalajengking. Lidahku kering dan tak enak dan setiap gigiku terasa sakit.

Di meja di sebelahku ada minuman dalam gelas tinggi. Minuman itu seperti es sari apel, ditambah sedotan hijau dan payung kertas yang ditusukkan pada manisan ceri maraschino.

Tanganku begitu lemah sehingga gelas itu hampir saja terjatuh saat kupegang.

“Hati-hati,” terdengar suara yang akrab.

Grover sedang bersandar di langkan beranda, penampilannya seperti dia sudah seminggu tidak tidur. Dia mengepit sebuah kotak sepatu. Dia mengenakan celana jins biru, sepatu Converse, dan kaus jingga cerah yang bertuliskan PERKEMAHAN BLASTERAN. Hanya Grover yang biasa. Bukan bocah-kambing itu.

Jadi, mungkin aku cuma mimpi buruk. Mungkin ibuku baik-baik saja. Kami masih berlibur, dan kami singgah di rumah besar ini entah kenapa. Dan …

“Kau menyelamatkan nyawaku,” kata Grover. “Aku … yah, paling sedikit aku semestinya …. Aku kembali ke bukit. Barangkali kau mau ini.”

Dengan penuh hormat, dia meletakkan kotak sepatu itu di pangkuanku.

Di dalamnya ada sebuah tanduk banteng berwarna hitam-putih, pangkalnya bergerigi karena patah, ujungnya terciprat darah kering. Ternyata bukan mimpi buruk.

“Minotaurus,” kataku.

“Em, Percy, sebaiknya—”

“Itu sebutan buat makhluk itu dalam mitos Yunani kan?” tanyaku. “Minotau-rus. Setengah manusia, setengah banteng.”

Grover beringsut kikuk. “Kau pingsan dua hari. Seberapa banyak yang kau ingat?”

“Ibuku. Apakah dia benar-benar ….”

Grover menunduk.

Aku menatap padang rumput. Ada beberapa kumpulan pohon, sungai berkelok, beberapa hektare stroberi yang terhampar di bawah langit biru. Lembah itu dikelilingi bukit beralun, dan bukit yang tertinggi, tepat di hadapan kami, adalah bukit yang puncaknya ditumbuhi pohon pinus raksasa itu. Bahkan itu pun tampak indah disinari mentari.

Ibuku sudah tiada. Semestinya seluruh dunia ini hitam dan dingin. semestinya tak ada yang tampak indah.

“Maaf,” isak Grover. “Aku gagal. Aku—aku satir terburuk di dunia.”

Dia mengerang, membanting kakinya begitu keras sampai-sampai terlepas. Maksudku, sepatu Conversenya terlepas. Bagian dalamnya dipenuhi gabus, kecuali sebuah lubang berbentuk kuku hewan.

“Oh, Styx!” gerutunya.

Guntur menggelegar di langit cerah.

Sementara Grover bergulat memasukkan kaki kambingnya kembali ke dalam kaki palsu itu, kupikir, Nah, sudah ada buktinya.

Grover seorang satir. Aku berani bertaruh bahwa jika rambutnya yang hitam ikal itu kucukur, aku akan menemukan tanduk kecil di kepalanya. Tapi, aku terlalu merana untuk peduli bahwa satir ternyata benar-benar ada, atau bahkan minotaurus. Itu semua berarti bahwa ibuku benar-benar telah diremas hingga tiada, larut dalam cahaya kuning.

Aku sendirian. Yatim-piatu. Aku harus tinggal bersama … Gabe si Bau? Tidak. Itu tak akan pernah terjadi. Mendingan aku tinggal di jalanan. Aku akan berpura-pura sudah berusia tujuh belas tahun dan masuk tentara. Aku akan melakukan sesuatu.

Grover masih terisak-isak. Anak malang itu—kambing malang, satir, apalah—bertingkah seolah-olah dia menyangka akan dipukul.

Kataku, “Itu bukan salahmu.”

“Itu salahku. Semestinya aku melindungimu.”

“Apakah ibuku yang memintamu melindungiku?”

“Bukan. Tapi itu tugasku. Aku ini penjaga. Setidaknya … dulu aku penjaga.”

“Tapi kenapa …” Tiba-tiba aku merasa pusing, penglihatanku bergoyang.

“Jangan memaksakan diri,” kata Grover. “Ini.”

Dia membantuku memegang gelas dan meletakkan sedotan di bibirku.

Aku berjengit akibat rasa minuman itu, karena aku menyangka akan mencicipi sari apel. Minuman itu sama sekali bukan sari apel. Minuman itu kue serpih cokelat. Kue cair. Dan bukan cuma kue—kue serpih cokelat warna biru buatan ibuku, bermentega dan panas, serpih cokelatnya masih meleleh. Saat meminumnya, seluruh tubuhku terasa hangat dan baik, penuh energy. Dukaku tidak sirna, tetapi aku merasa seolah-olah ibuku baru saja membelai pipiku, memberiku kue seperti yang selalu dilakukannya sewaktu aku masih kecil, dan memberitahuku bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Tahu-tahu saja aku sudah menghabiskan seluruh gelas itu. Aku menatapnya, yakin bahwa aku baru saja minum minuman panas, tetapi es batu di dalam gelas itu bahkan belum meleleh.

“Enak?” tanya Grover.

Aku mengangguk.

“Rasanya seperti apa?” Dia terdengar begitu penuh damba, aku jadi merasa bersalah.

“Maaf,” kataku. “Semestinya aku menawarimu mencicipi.”

Matanya melebar. “Bukan! Bukan itu maksudku. Aku cuma … ingin tahu.”

“Kue serpih cokelat,” kataku. “Buatan ibuku. Buatan sendiri.”

Dia menghela napas. “Dan bagaimana perasaanmu?”

“Cukup kuat untuk melempar Nancy Bobofit sejauh seratus meter.”

“Itu bagus,” katanya. “Bagus. Kurasa kau aman-aman saja kalau minum itu lagi.”

“Apa maksudmu?”

Dia mengambil gelas kosong itu dariku dengan hati-hati, seolah itu dinamit, dan meletakkannya lagi di atas meja. “Ayo. Chiron dan Pak D menunggu.”

* * *

Seluruh rumah peternakan itu dikelilingi beranda.

Kakiku terasa goyah, berusaha berjalan sejauh itu. Grover menawarkan membawa tanduk Minotaurus itu, tetapi aku tetap memegangnya. Aku membayar cendera mata itu dengan sangat mahal. Aku tak mau melepaskannya.

Saat kami memutar ke seberang rumah, napasku tersendak.

Agaknya kami berada di pantai utara Long Island, karena pada sisi rumah ini, lembahnya membentang hingga ke air, yang tampak berkilauan sekitar satu setengah kilometer di kejauhan. Antara tempat ini dan tempat itu, aku tak mampu memproses segala sesuatu yang kulihat. Berbagai gedung yang mirip dengan arsitektur Yunani kuno—paviliun terbuka, amfiteater, arena bundar—bertebaran di bentangan tanah itu, tetapi semuanya tampak baru, tiang-tiang marmer putihnya berkilauan di dalam sinar matahari. Di lapangan pasir di dekat sini, selusin satir dan anak usia SMA sedang bermain voli. Kano meluncur di atas sebuah danau kecil. Anak-anak berkaus jingga cerah seperti kaus Grover sedang berkejaran di sekitar sekumpulan pondok yang tersembunyi di hutan. Beberapa anak menembak target di arena panah. Beberapa anak menunggang kuda menuruni jalan berhutan, dan, kecuali aku sedang berhalusinasi, beberapa kuda itu memiliki sayap.

Di ujung beranda, dua orang lelaki duduk berhadapan di meja kartu. Si gadis pirang yang waktu itu menyuapiku puding rasa berondong jagung sedang bersandar pada langkan beranda di sebelah mereka.

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.