Baca Novel Online

Percy Jackson And The Olympians – The Lightning Thief

1. Aku Tak Sengaja Memusnahkan Guru Pra-Aljabarku

Aku tak pernah ingin jadi anak blasteran.

Kalau kau membaca cerita ini karena menduga kau anak blasteran juga, kunasihati nih: tutup buku ini sekarang juga. Pokoknya percayai saja apa pun kebohongan yang diceritakan ayah-ibumu tentang kelahiranmu, dan cobalah menjalani hidup normal.

Menjadi blasteran itu berbahaya. Menyeramkan. Sering bikin orang terbunuh secara menyakitkan dan mengerikan.

Kalau kau anak normal, yang membaca ini karena menganggap ini fiksi, bagus. Silakan baca terus. Aku iri denganmu, bisa percaya bahwa semua peristiwa ini tak pernah terjadi.

Tapi, kalau kau mengenali dirimu di halaman-halaman ini—kalau kau merasa sesuatu menggeliat dalam dirimu—cepat hentikan bacaanmu. Mungkin saja kau sama seperti kami. Dan begitu kau menyadari itu, cuma soal waktu saja sampai mereka juga merasakannya, dan mereka akan memburumu.

Jangan bilang aku tak pernah memperingatkanmu.

* * *

Namaku Percy Jackson.

Umurku dua belas tahun. Hingga beberapa bulan yang lalu, aku siswa asrama di Akademi Yancy, sekolah swasta untuk anak bermasalah di New York Utara.

Apa aku anak bermasalah?

Yah. Bisa dibilang begitu.

Kalau mau bukti, aku bisa mulai bercerita dari titik mana pun dalam hidup pendekku yang mengenaskan ini, tetapi keadaan mulai benar-benar memburuk pada bulan Mei lalu, sewaktu murid kelas enam kami berkaryawisata ke Manhattan—dua puluh delapan anak sakit jiwa dan dua orang guru naik bus sekolah kuning, menuju Museum Seni Metropolitan untuk melihat barang-barang Yunani dan Romawi Kuno.

Iya, aku juga tahu—kedengarannya seperti penyiksaan. Sebagian besar karyawisata Yancy memang begitu.

Tapi karyawisata kali ini dibimbing Pak Brunner, guru bahasa Latin kami, jadi aku sempat berharap.

Pak Brunner ini pria setengah baya yang pakai kursi roda. Rambutnya sudah jarang, jenggotnya kusut, dan jas wolnya sudah berumbai-rumbai, yang selalu berbau seperti kopi. Orang pasti tak menganggap dia keren, tetapi dia suka bercerita dan bercanda dan membolehkan kami bermain di kelas. Dia juga punya koleksi senjata dan baju zirah Romawi yang hebat, jadi dia satu-satunya guru yang jam pelajarannya tak bikin aku mengantuk.

Aku sempat berharap karyawisata itu akan berjalan lancar. Setidaknya, aku berharap bahwa sekali ini aku tak akan terlibat masalah.

Ternyata, aku keliru besar.

Begini, pada setiap karyawisata aku pasti akan tertimpa hal buruk. Seperti misalnya di sekolahku sewaktu kelas lima, ketika kami mengunjungi medan perang Saratoga, aku mendapat sedikit kecelakaan dengan meriam Perang Revolusi. Padahal aku tak berniat membidik bus sekolah, tetapi tentu saja aku tetap dikeluarkan dari sekolah. Dan sebelum itu, di sekolahku sewaktu kelas empat, ketika kami ikut tur privat ke kolam hiu Dunia Samudra, aku agak-agak menyenggol tuas yang salah di titian, dan anak-anak kelas kami mengadakan acara renang bersama yang tidak direncanakan. Dan sebelum itu …. Yah, sudah terbayang, kan?

Untuk wisata kali ini, aku bertekad menjadi anak baik-baik.

Sepanjang perjalanan masuk ke kota, aku berdiam diri menghadapi ulah Nancy Bobofit, anak panjang tangan berambut merah dan bermuka bintik-bintik, yang melempari kepala sahabatku Grover dari belakang dengan gumpalan roti selai kacang dan saus tomat.

Grover memang sasaran empuk. Dia kerempeng. Dia menangis kalau sedang frustrasi. Kayaknya dia pernah tinggal kelas beberapa kali, soalnya dia satu-satunya anak kelas enam yang berjerawat dan mulai berjenggot tipis di dagu. Selain itu, dia cacat. dia punya surat dokter yang membebaskannya dari pelajaran olahraga seumur hidup karena kakinya terkena semacam penyakit otot. Jalannya aneh, seolah-olah setiap langkah membuatnya sakit, tetapi jangan terkecoh. Coba saja lihat dia lari pada hari enchilada di kantin sekolah.

Jadi, Nancy Bobofit melempari Grover dengan gumpalan roti lapis, yang kemudian menempel ke rambutnya yang cokelat ikal. Nancy tahu aku tak bisa membalas karena aku sedang dalam masa percobaan. Kepala sekolah mengancam akan menghukum mati dengan cara menskorsku jika terjadi apa-apa dalam karyawisata ini, baik itu kejadian buruk, memalukan, atau bahkan sedikit menghibur.

“Akan kubunuh dia,” geramku.

Grover berusaha menenangkanku. “Nggak apa-apa. Aku suka kok selai kacang.”

Dia mengelak dari segumpal lagi makan siang Nancy.

“Cukup.” Aku mulai bangkit, tetapi Grover menarikku kembali duduk.

“Kau sudah kena masa percobaan,” dia mengingatkanku. “Kau tahu siapa yang akan disalahkan kalau terjadi apa-apa.”

Kalau ingat lagi kejadian itu sekarang, aku menyesal tak langsung menonjok Nancy Bobofit saat itu juga. Setrap di sekolah tak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan masalah yang akan melibatkanku sesaat lagi.

* * *

Pak Brunner memimpin tur museum.

Dia meluncur di atas kursi roda di depan, memandu kami melintasi galeri-galeri besar yang menggema, melewati patung-patung marmer dan lemari-lemari kaca yang dipenuhi tembikar hitam-jingga yang tua sekali.

Aku terkagum-kagum bahwa barang-barang ini telah bertahan selama dua-tiga ribu tahun.

Dia mengumpulkan kami di sekeliling sebuah tiang batu setinggi empat meter, yang di puncaknya terdapat sebuah sfinks besar, lalu mulai menceritakan bahwa benda itu adalah penanda makam, alias stele, untuk seorang gadis seumur kami. Dia bercerita tentang ukiran di sisi-sisi tiang. Aku berusaha menyimak, karena uraiannya cukup menarik, tetapi semua anak di sekitarku malah mengobrol, dan setiap kali aku menyuruh mereka tutup mulut, guru pembimbing kami satu lagi, Bu Dodds, mendelik kepadaku.

Bu Dodds ini guru matematika asal negara bagian Georgia yang bertubuh mungil, yang selalu memakai jaket kulit hitam, meskipun umurnya sudah lima puluh tahun. Dia tampak cukup garang untuk mengendarai Harley ke dalam loker. Dia datang ke Yancy pada pertengahan tahun, ketika guru matematika kami yang sebelumnya mengalami gangguan kejiwaan.

Sejak hari pertama Bu Dodds menyukai Nancy Bobofit dan menganggapku anak setan. Dia sering menudingku dengan jari bengkok dan berkata, “Nah, Anak Manis,” dengan manis sekali, dan aku langsung tahu aku akan diskors seusai sekolah selama sebulan.

Suatu kali, setelah dia menyuruhku menghapus jawaban dari buku-buku latihan matematika tua sampai tengah malam, aku bilang pada Grover, kayaknya Bu Dodds itu bukan manusia. Grover memandangku, serius sekali, dan berkata, “Kau benar sekali.”

Pak Brunner terus berbicara tentang seni pemakaman Yunani.

Akhirnya, Nancy Bobofit terkekeh sambil mengatakan sesuatu tentang cowok bugil pada stele itu, dan aku berbalik dan berkata, “Tutup mulut, bisa nggak sih?”

Ucapan itu keluar lebih nyaring daripada yang kuniatkan.

Semua anak tertawa. Pak Brunner berhenti bercerita.

“Jackson,” katanya, “tadi kau berkomentar?”

Mukaku merah padam. Kataku, “Nggak, Pak.”

Pak Brunner menunjuk salah satu gambar pada stele. “Coba kau ceritakan apa yang dilukiskan dalam gambar ini.”

Aku memandang ukiran itu, dan merasa lega karena aku ternyata mengenalinya. “Itu Kronos lagi makan anak-anaknya, iya kan?”

Categories:   Fiksi

Comments

  • Posted: May 17, 2016 17:02

    penggemar

    Wow. Setelah di cari-cari akhirnya aku menemukan yg lengkap.. Terimakasi karena masi menyimpan novel ini dan tetap utuh.. Sehingga saya bisa membacanya kembali.. Aku berharap kelanjutanya masi ada..
  • Posted: October 24, 2016 16:36

    laudya

    bagus banget
  • Posted: January 2, 2017 10:42

    lala

    aku sudah pernah lihat film nya jadi aku bisa lebih ngerti apa yang aku baca