Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Hey, Kay ….”

“Hey … another Kay.” Keenan tertawa lebar sambil sekilas mengacak rambut Kugy. “Baru mandi, ya?”

Kugy langsung manyun. “Segitu kelihatannyakah?”

“Oh, jelas sekali. Rambut kamu masih basah, dan kamu kelihatan agak cemerlang dari biasa.”

Kugy manyun lagi. “Tumben aku ketemu kamu di kampus. Kalau bukan kita berempat punya ritual nonton midnight setiap Sabtu, kayaknya aku nggak akan ketemu kamu di mana-mana lagi. Sibuk, ya?”

Keenan menebarkan pandangannya ke sekitar, mengangkat bahu sekilas. “Saya di kampus hanya seperlunya aja. Nggak terlalu suka nongkrong-nongkrong.”

Kugy ingin berceletuk: pantas saja. Hampir setiap hari ia melewati Fakultas Ekonomi, tempat Keenan berkuliah. Dan hampir setiap hari ia melongok untuk melihat keberadaan ransel merah marun bertuliskan huruf “K” itu. Kugy bahkan sempat curiga jangan-jangan Keenan sebetulnya kuliah lewat jalur Universitas Terbuka.

“Kalau makan siang di kampus—masih berminat?” tanya Kugy.

“Tergantung siapa yang ngajak.”

Kugy menggelengkan kepala, “Jawaban yang salah. Harusnya: tergantung siapa yang bayar.”

“Jadi, saya bakal ditraktir, nih?”

“Ada satu tempat makan yang wajib dijajal. Jangan ngaku anak kampus deh kalau belum pernah ke sana ….”

“Enak banget, ya?”

“Bukan. Murah banget.”

“Oh. Pantesan nraktir …,” gumam Keenan sambil mengekeh pelan.

Warung nasi dengan dinding bambu itu tampak padat. Orang-orang berderet memilih makanan yang disajikan prasmanan. Keenan berhenti sejenak untuk membaca plang yang tergantung di pintu: “Warteg Pemadam Kelaparan”.

Mereka lalu duduk di pojok dekat jendela, bersebelahan dengan pisang susu yang digantung bertumpuk.

Keenan sungguhan terpana melihat nasi yang menggunung sampai nyaris tumpah dari pinggiran piring Kugy. “Kecil-kecil makannya banyak juga, ya,” komentarnya.

“Menurut survei: selain narik becak dan gali kubur, pekerjaan mengkhayal dan menulis ternyata juga butuh asupan kalori tinggi,” sahut Kugy, lalu mencabut dua pisang susu yang bergantung di sebelah kepalanya.

Keenan menatap adegan itu dengan decak kagum. “Kamu memang makhluk penuh kejutan.”

“Oh! Aku masih punya kejutan lain. Sebentar …,” Kugy merogoh kantong depan ranselnya, ” … ta-daaa!”

“Handphone?” Keenan memicingkan mata.

“Baru!” Kugy tertawa lebar, “Hasil keringat sendiri! Cerpenku dimuat. Honornya cukup buat beli HP baru dan traktir kamu makan siang sekarang.”

“Wah, kejutan baru lagi. Selamat, ya,” Keenan menyalami Kugy, “mau baca cerpennya, dong.”

Kugy tampak gelagapan. Mendadak ia merasa gugup. Sesungguhnya, salah satu alasan ia sering lewat-lewat fakultas Keenan adalah untuk memberikan majalah yang memuat cerpennya, yang sudah ia siapkan di dalam ranselnya dan ia bawa setiap hari. Kugy lalu membongkar tasnya dan menyerahkan majalah yang sudah agak ringsek itu. “Ini, aku sudah siapkan satu untuk kamu.”

Keenan menerimanya dengan mata berbinar. “Kugy Karmachameleon … jadi penulis betulan. Hebat.”

Kugy tergelak, “Aku memang sudah mengusulkan ke mamaku untuk ganti nama jadi Karma. Tapi belum ada tanggapan.”

“Saya boleh kasih tahu kamu sesuatu? Menurut saya, kamu penulis yang sangat bagus.”

Muka Kugy memerah. “Baca aja belum, kok bisa bilang bagus ….”

“Saya bukan ngomongin cerpen kamu, tapi dongeng-dongeng kamu.”

Mendadak Kugy merasa mati gaya. Mati langkah. Ia tersadar, satu hal langka telah terjadi: dirinya salah tingkah. Benar-benar tidak tahu harus merespons apa. Akhirnya Kugy mencomot satu lagi pisang susu. Mengunyahnya lahap.

“Kamu terakhir makan kapan, sih? Lapar berat, ya?”

“Aku suka lukisan-lukisan kamu.”

“Memangnya kamu udah lihat?”

“Belum. Justru itu. Belum lihat aja suka, apalagi kalau udah lihat,” Kugy terkekeh sendiri. Ia merasa wajahnya semakin panas, dan omongannya semakin ngaco.

“Kalau gitu, habis makan siang, kita ke tempat saya, yuk. Saya mau kasih lihat lukisan-lukisan saya.”

Kugy mengangguk. Ada senyum spontan yang tak bisa ia tahan. Mendadak ia mensyukuri celetukan asalnya tadi. Mendadak ia ingin cepat-cepat menuntaskan makan siang ini.

Tempat kos Keenan terletak agak jauh dari kampus mereka. Sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang dikelilingi pepohonan rindang. Berbeda dengan tempat kos Kugy dan Noni yang padat, tempat kos Keenan hanya diisi oleh beberapa orang saja. Kamar-kamarnya berukuran luas dengan langit-langit yang tinggi.

Napas Kugy seketika tertahan ketika pintu besar itu terbuka dan Keenan menyalakan sakelar lampu. Rel-rel kawat bersaling silang di bawah plafon dengan lampu-lampu halogen kecil yang bergantungan menerangi beberapa spot tempat lukisan-lukisan Keenan yang terpaku di dinding atau didirikan begitu saja di atas lantai. Kamar dengan ubin abu-abu itu tampak lengang karena tidak banyak perabot. Hanya satu tempat tidur, lemari pakaian kecil yang di atasnya diletakkan sebuah mini compo, dan meja belajar besar tempat alat-alat gambar Keenan berjajar rapi.

“Nan …, harusnya kamu bukan kuliah Manajemen, tapi Seni Rupa …,” gumam Kugy sambil pelan-pelan melangkah masuk, “dan ini lebih pantas disebut galeri ketimbang kamar kos ….”

Keenan membawa Kugy berkeliling melihat lukisan-lukisannya, seperti orang pameran. “Ini judulnya: Sunset from the Rooftop … ini judulnya: Heart of Bliss … yang ini: The Shady Morning … yang ini: Silent Confession … dan ini ….”

“Yang ini yang paling aneh,” potong Kugy, menunjuk lukisan yang hanya seperti gradasi warna dan garis-garis halus seperti larik-larik kapas. “Yang lain ada gambar orangnya semua. Cuma ini yang nggak ada.”

“Tebak judulnya apa.”

“Gila, itu sih mission impossible, namanya. Mana mungkin ketebak.”

“Lukisan yang satu ini jangan dipikir, tapi harus dirasa. Apa perasaan yang muncul ketika kamu lihat lukisan ini? Itulah judulnya.”

Kugy menatap lukisan itu lekat-lekat. Lalu ia memejamkan mata. Lama. Lantas terdengar napasnya mengembus, dan setengah berbisik ia mengucap, “Bebas.”

Giliran Keenan yang terpaku. Perlahan, ia membalik lukisan yang berdiri di lantai itu, dan menunjuk judul yang tertera di baliknya.

Kugy melongo. “Freedom?”

“Sumpah … saya sama sekali nggak sangka kamu bisa menebak setepat itu,” Keenan garuk-garuk kepala, “ini kebetulan yang aneh.”

Kugy menggeleng, “Aku nggak percaya kebetulan. Ini pasti karena kita dulunya sama-sama utusan Neptunus. Waktu itu, kita dibekali telepati. Cuma, sebelum dikirim ke Bumi, kita dibikin amnesia. Supaya seru,” katanya mantap.

Keenan manggut-manggut. “Bisa jadi. Boleh juga teorinya.”

“Ehm, tapi untuk pertanyaan yang satu ini aku nggak mau menggunakan kemampuan telepati,” Kugy nyengir, “sebetulnya ini gambar apa, ya?”

“Lukisan ini menggambarkan sudut pandang seekor burung di angkasa saat terbang. Dia tidak melihat batas apa-apa, tidak melihat perintang apa-apa, tidak terikat oleh Bumi. Bebas. Total.”

Pandangan Kugy yang tadi melekat pada lukisan perlahan beralih pada Keenan, ia seperti tergerak untuk menanyakan sesuatu. “Boleh tahu kapan kamu melukisnya?”

“Waktu tahu saya lolos UMPTN.”

“Kamu … sebetulnya … terpaksa kuliah di sini, ya?” ucap Kugy hati-hati. Tidak yakin apakah pertanyaan itu pantas diajukan, tapi mulutnya seperti tak bisa ditahan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.