Baca Novel Online

Perahu Kertas

Masih dari bangku kuliah, saat itu hadirlah film yang cukup jadi perbincangan. Di Indonesia, sebetulnya yang lebih terkenal adalah soundtrack-nya, dan di album itulah Lisa Loeb muncul perdana dengan lagunya “Stay”. Sebagai penggemar Winona Ryder, saya merasa cukup terpanggil untuk menonton filmnya. Reality Bites mengisahkan tentang pergelutan sarjana-sarjana kemarin sore yang harus menghadapi realitas hidup antara mencari kerja demi eksistensi dan mempertahankan mimpi demi idealisme. Barangkali timing yang tepat karena pada saat itu pun saya sedang jadi mahasiswa. Saya merasa terketuk dengan isi film itu. Setiap dari kita punya mimpi, punya hobi, dan punya kata hati, tapi tak semua dari kita berkesempatan untuk menjadikannya profesi. Dari Reality Bites, saya bertekad ingin bercerita tentang pergelutan yang serupa.

Tahun 1996. Tanpa tahu ramuan persisnya, tanpa bisa merunut pasti mata rantai kimiawi yang terjadi, berdasarkan bekal inspirasi empat unsur tadi saya mulai menulis sebuah cerita bersambung berjudul “Kugy & Keenan”. Saat itu, tren cerbung sudah memudar dari majalah-majalah remaja. Terpaksa saya mensimulasinya sendiri di dalam benak saya. Seolah-olah saya punya pembaca di luar sana yang menanti kisah demi kisah saya muncul setiap minggunya di sebuah majalah imajiner. Dan, akhirnya saya memang punya pembaca: orang-orang rumah saya sendiri. Menjadi penulis merangkap tukang pos, saya mengetik dengan tekun lalu mengirimkan hasil print out-nya door to door. Dalam arti sebenarnya. Saya mengetuki pintu kamar kakak-kakak saya, anak-anak kos, lalu mencekoki mereka dengan “Kugy & Keenan” secara rutin. Dan benar, racun itu mulai bekerja. Tiba-tiba malah saya yang kemudian ditagih untuk menyetor cerita lanjutan. Dengan bersemangat saya pun menulis dan menulis.

Tepat di bab ke-34 dari 40 bab yang direncanakan, saya berhenti. Bensin saya habis. “Kugy & Keenan” pun memasuki tidur panjang. Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa suatu saat saya pasti akan menyelesaikannya. Tidak tahu kapan.

Tahun 2007, sebuah perusahaan content provider bernama Hypermind menghubungi saya. Mereka ingin mengonversi buku-buku saya ke dalam format digital, diperdagangkan lewat perusahaan telekomunikasi seluler, dan pada akhirnya para pembaca bisa membaca novel saya melalui layar ponsel mereka. Dalam pembicaraan siang itu, saya tiba-tiba teringat “Kugy & Keenan”. Naskah yang terbaring mati suri selama sebelas tahun. Spontan, saya menawarkan pada Hypermind untuk tidak fokus pada buku-buku saya yang sudah ada, melainkan naskah yang sama sekali baru. Yang belum ada di pasaran. Spontan, mereka pun tertarik. Tentu saja hal itu menjadi nilai lebih bagi semua pihak, termasuk saya—yang membutuhkan insentif alias pemicu untuk menyelesaikan utang yang begitu lama tertunda.

Nyaris bersamaan dengan itu, saya dihadiahi sebuah e-book oleh Reza. Panduan menulis buku dalam waktu 14 hari oleh Steve Manning. Terbiasa menulis novel dalam waktu bulanan bahkan tahunan, saya sama sekali skeptis dengan panduan tersebut. Namun, kondisi yang serba kepepet karena deadline yang diminta oleh Hypermind, saya pun memutuskan untuk bereksperimen dengan “Kugy & Keenan” dan metode Steve Manning. Saya lantas meresmikan sebuah proyek “bunuh diri”, yakni menulis novel sepanjang 75.000 kata dalam waktu 55 hari kerja. Tidak, saya tidak meneruskan dari bab 34 sebagaimana yang saya tinggalkan sebelas tahun yang lalu. Saya menuliskannya ulang dari nol. Dan, memublikasikan proses kreatifnya hari per hari lewat blog. A total, wacky experiment.

Saya lalu mencari “markas besar”, atau semacam “kantor” tempat saya bisa menulis tenang tanpa diganggu apa pun. Sebuah kamar kos di daerah Tubagus Ismail berhasil ditemukan. Dikelilingi mahasiswi-mahasiswi betulan sebagai tetangga sangatlah membantu saya untuk menghidupkan suasana kemahasiswaan dalam Perahu Kertas. Alhasil, 60 hari bekerja dan novel ini selesai dengan konten 86.500 sekian kata. Saya pun memutuskan mengubah judulnya, dari Kugy & Keenan menjadi Perahu Kertas—menyoroti objek metaforik yang saya rasa lebih cocok menjadi benang merah untuk menjahit potongan kisah di dalamnya.

Pada April 2008, Perahu Kertas resmi dilansir sebagai novel digital pertama oleh XL, dan masih tercatat sebagai novel digital terlaris hingga kini. Namun, bagi saya pribadi, prestasi yang lebih besar lagi adalah: inilah salah satu tapak langkah saya untuk menjadi penulis lintas usia, lintas segmen. Saya sadar, genre maupun karakteristik novel ini barangkali akan menjadi kejutan bagi banyak pembaca saya, tapi saya memang tidak pernah berminat untuk terperangkap dalam satu lintasan tertentu saja. Di mata saya, setapak ini masih panjang dan berwarna-warni.

Semoga Anda menikmati Perahu Kertas sebagaimana saya menikmati setiap detik proses penulisannya hingga ia akhirnya ‘melaju’ dalam bentuk kertas dan cetakan tinta.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.