Baca Novel Online

Perahu Kertas

 

Jakarta, Juli 2003 …

Keenan menyiapkan ranselnya. Ransel marun berinisial “K” yang ia pakai sejak kuliah. Mendudukkannya di jok depan. Sementara ia duduk di belakang kemudi. Sejenak Keenan menengadah melihat langit pagi yang cerah.

Tak ada lagi yang mengikatnya di mana pun. Tidak di sini. Tidak di Bali. Untuk pertama kalinya, Keenan mencicipi penuh arti kebebasan. Dan hari ini, ia memutuskan untuk pergi bersama angin. Bebas, seolah tanpa tujuan. Namun, angin selalu bergerak ke satu tempat.

 

Jawa Barat, Juli 2003 …

Hari sudah sore saat ia tiba ke tempat ini. Kembali untuk yang ketiga kalinya. Tak ada lagi tempat yang lebih tepat untuk ia kunjungi. Keenan langsung memarkirkan mobilnya di tebing, bersiap menyambut gua kelelawar di bawah sana memuntahkan isi perutnya sejenak lagi.

Deburan ombak yang berderu dan bertempur di bawah sana menggetarkan sekaligus mendamaikan. Keenan telentang menghadap angkasa hingga warnanya mulai berubah jingga. Rasanya, ia bisa di sana selamanya. Tempat ini begitu sepi. Hanya alam dan dirinya yang berbaring hingga entah kapan. Keenan tak lagi berencana.

Tiba-tiba saja, pandangannya menggelap. Sebuah ransel jatuh tepat di samping kepalanya. Mata Keenan memicing. Mencoba mengenali sosok yang berdiri di atasnya.

“Kata sandi?” Orang itu bertanya pelan.

Keenan tersenyum. “Klapertaart.”

“Hah? Keparat?”

“Pisang susu.”

“Oke. Lolos.”

“Kok, kamu bisa sampai di sini?” tanya Keenan.

“Aku juga mau tanya hal yang sama. Tapi kayaknya kita berdua sudah tahu jawabannya.”

“Radar Neptunus,” Keenan tersenyum lebar. Secerah hatinya yang mendadak merekah, dan terus-menerus mengembang seolah tiada tepi.

Pandangannya kembali tak terhalang. Orang itu kini ikut berbaring di sebelahnya. Kugy. Dan sepanjang ingatan Keenan, langit tak pernah seindah itu.

 

EPILOG

Hari ini …

Di tengah laut biru yang beriak tenang, segugus tangan mungil meluncur keluar dari bibir kapal nelayan. Ia sengaja ikut menumpang demi menghanyutkan perahu kertasnya. Tidak dari empang. Tidak dari kali. Tidak dari sungai kecil. Kali ini ia ingin melepaskannya di tengah laut. Suratnya terakhir untuk Neptunus.

Neptunus,

Tahunan nggak nulis surat ke markas. Jangan marah, ya.

Tapi kami memang mau berhenti jadi agen.

Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi mimpi.

Karena mimpi itu sudah kami jalani. Sekarang.

Selama-lamanya.

K&K.

(dan satu lagi K kecil … masih di perut)

Perahu kertas bergoyang sendirian. Perlahan ditinggalkan perahu kayu yang bertolak kembali ke bibir pantai, mengantarkan Kugy yang segera berlari turun memecah air. Seseorang sudah berdiri menunggunya dengan tangan terentang, siap merengkuh lalu mengangkat tubuh mungilnya ke udara. Keenan.

… Perahu kertas bergoyang sendirian.

“Melajulah Perahu Kertasku …”

Apakah kira-kira hubungan antara Katyusha, Popcorn, Indigo Girls, dan Reality Bites? Dalam pengertian umum mungkin tak ada. Tapi dalam hidup saya, keempatnya bermakna luar biasa.

Yang pertama adalah penulis tahun ’80-an yang pernah terkenal dengan karya-karyanya di majalah remaja, salah satunya majalah HAI. Yang kedua adalah judul komik Jepang sepanjang 26 seri yang ditulis oleh Yoko Shoji. Yang ketiga adalah duo penyanyi/gitaris perempuan asal Amerika, terdiri dari Emily Saliers dan Amy Ray, yang dikenal luas dengan lagu-lagu berlirik cerdas sekaligus puitis. Yang keempat adalah judul film produksi tahun 1994, dibintangi oleh Winona Ryder dan Ethan Hawke.

Keempat-empatnya jelas berbeda satu sama lain dan tersebar dalam rentang waktu yang cukup panjang. Namun, keempat-empatnya sama-sama “bertanggung jawab” dalam menghadirkan novel ini ke tangan Anda.

Saya masih SD saat membaca cerbung “Ke Gunung Lagi” karya Katyusha di majalah HAI. Saya, yang saat itu sudah hobi menulis, sebetulnya masih terlalu kecil untuk bisa mengapresiasi isi ceritanya. Namun, ada magnet yang menarik saya untuk membacanya, mengikuti dengan setia setiap minggu, dan ikut jingkrak kegirangan ketika kakak saya berhasil mengoleksi lengkap cerbung tersebut dan membundelnya jadi satu. Kelincahan dan keluwesan Katyusha menjadi daya tarik utama dari cerbung “Ke Gunung Lagi”. Namun, ada satu faktor lagi yang menjadi candu terkuat bagi saya: formatnya. Cerita bersambung, ataupun serial, jika memang isinya mengikat dan menarik, akan menjerat pembacanya dalam sebuah pengalaman adiksi yang menyenangkan; bagaimana kita secara bertahap ikut tumbuh bersama para tokoh dan berempati pada kisah mereka, sensasi yang ditimbulkan oleh rasa penasaran dan menunggu, plus rasa puas saat penantian panjang kita berakhir, ditutup dengan helaan napas panjang saat baris terakhir usai kita baca. Dari pengalaman membaca “Ke Gunung Lagi”, saya bertekad dalam hati: satu saat, saya akan menulis kisah dengan format cerbung.

Waktu SMA, teman sebangku saya, Yasep (a.k.a Joshep), meyakinkan saya berulang-ulang bahwa komik Popcorn sangat seru dan wajib dibaca. Termakan bujuk rayunya, saya lalu mulai mengikuti satu demi satu dari ke-26 buku karya Yoko Shoji itu. Dan hasilnya? Sebuah adiksi baru. Sebagaimana yang ditimbulkan oleh komik-komik Jepang berkualitas dan bergenre sejenis, bersama Popcorn saya hanyut dalam perjalanan bak rollercoaster di mana saya tertawa, menangis, bahagia, haru, jatuh cinta, patah hati, seiring dengan perjalanan para tokohnya. Belum lagi debat dan diskusi berjam-jam yang saya habiskan bersama Joshep demi mendiskusikan dan bertukar pengalaman masing-masing saat membaca Popcorn. Gaya penuturan, penyusunan plot, serta pengembangan drama dalam komik tersebut sangat memukau saya. Dan, lagi-lagi, sebuah kisah berseri. Dari Popcorn, saya bertekad lagi: suatu saat, saya ingin menulis kisah dengan spirit yang serupa, yang bersamanya saya bisa ikut tumbuh bersama tokoh-tokoh saya, menyaksikan mereka bertransformasi dari remaja ingusan sampai menjadi manusia-manusia dewasa.

Saya baru memulai kuliah di Unpar saat saya mendengarkan kaset Indigo Girls untuk pertama kali. Album yang saya beli berjudul Swamp Ophelia. Kedahsyatan lirik lagu Indigo Girls—khususnya lagu-lagu yang diciptakan Emily Saliers—berefek kuat bagi saya, yang waktu itu baru mulai serius mencipta lagu sembari berkarier musik bersama trio Rida, Sita, Dewi. Lirik Indigo Girls adalah jenis lirik yang setiap kali kita simak ulang selalu memunculkan lapisan dan makna baru. Tipe lirik yang memang saya gemari. Ada banyak lagu mereka yang saya kagumi, tapi entah mengapa, ada satu lagu berjudul “Mystery” yang dengan misteriusnya mampu menginspirasi saya untuk menulis. Tepatnya, dua baris kalimat. Lebih spesifik lagi, 23 potong kata. Dan dari sana, saya menulis kisah panjang berjudul Perahu Kertas yang terdiri dari sekurang-kurangnya 86.500 kata. Berikut potongan liriknya:

“Maybe that’s all that we need is to meet

in the middle of impossibilities.

Standing at opposite poles,

equal partners in a mystery.”

Melalui baris-baris itu, saya pun menciptakan kedua tokoh utama saya, Kugy dan Keenan, yang berdiri di dua kutub berlawanan dan pada akhirnya harus bertemu di tengah segala kemustahilan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.