Baca Novel Online

Perahu Kertas

Butir kedua. Dan Kugy kembali menggeleng.

“Lalu … kenapa saya yang harus minta supaya kamu mau pakai?”

Kugy hampir tak bisa bernapas. Berusaha menekan isaknya sekuat tenaga. Namun, ia tidak berhasil. Isak pelan kini berhasil menembus kebisuan dan kebekuan.

Masih dengan kehalusan yang sama, kali ini Remi menarik lepas cincin di jari Kugy. Hati-hati. “Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.”

Bahu Kugy berguncang tanpa bisa lagi ia tahan. “Tapi … orang itu kan kamu … aku … aku nggak pernah minta apa-apa … tapi … tapi, kamu kasih semuanya …,” Kugy berkata terengah, di sela isakan dan desakan yang begitu kuat menyesak di dadanya.

“Iya, Gy,” Remi mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Kugy, “kamu mungkin sudah ketemu. Saya yang belum,” suara Remi mulai bergetar. “Saya yang belum …,” ucapnya lagi, separuh berbisik. Seolah ia sedang memberi tahu dirinya sendiri.

Remi lalu bangkit, sejenak mendekap Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi.

Kebekuan dan kebisuan runtuh sudah. Meski segalanya tampak mendung dan murung, sesuatu berhasil mencair di antara mereka. Kejujuran. Dan seolah bergerak bersama-sama, langit pun mulai merintikkan hujan. Apa yang lama tak terungkap akhirnya pecah, meretas, dan Bumi melebur bersamanya.

 

Ubud, Juni 2003 …

Sudah dua malam Keenan tiba di rumah Pak Wayan. Dan baru sore inilah Luhde kembali dari Kintamani. Luhde tampak terkejut melihat kehadiran Keenan yang sudah menunggunya di bale.

Keenan sontak berdiri melihat Luhde. Wajahnya berseri. Tangannya merentang, siap mendekap. Namun, Luhde hanya berdiri di tempatnya. Tersenyum dan mengangguk sopan.

“De, saya akan kembali di sini. Saya akan tinggal lagi di Ubud,” dengan sumringah Keenan berkata. “Saya akan mengurus kepindahan saya pelan-pelan. Malam ini saya akan pulang dulu ke Jakarta dengan pesawat terakhir. Tapi mulai minggu depan, saya akan tinggal lebih lama lagi, sampai akhirnya …,” Keenan menangkupkan kedua tangannya di pipi Luhde, “saya nggak perlu jauh lagi dari kamu.”

Senyum Luhde melebar. “Saya ikut berbahagia,” katanya lugas.

Keenan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Kamu kenapa, De?”

Luhde menunduk sebentar, seperti mengumpulkan kekuatan. Saat ia mendongak, sorot mata itu berubah total. “Saya perlu tahu sesuatu. Kenapa Keenan ingin bersama saya?”

Keenan tergagap mendengar pertanyaan yang sama sekali tak diduganya. Lama akhirnya ia baru bisa menjawab. “Karena … saya sudah memilih kamu.”

Sekujur tubuh Luhde terasa melunglai, dan setengah mati ia berusaha tetap tegak berdiri. Namun, jauh di dalam hatinya, Luhde sudah siap mendengar jawaban itu. “Keenan tunggu di sini sebentar, ya. Ada yang perlu saya ambil di kamar,” ucapnya lirih. Dan ia bergegas pergi.

Tak lama, Luhde kembali.

Dalam kebingungannya, Keenan pun melanjutkan apa yang tak sempat ia ucapkan karena keburu buyar oleh pertanyaan Luhde barusan. “De, saya ingin kamu ikut ke Jakarta. Temani saya dulu di sana. Nanti kita kembali ke sini bareng-bareng. Kamu mau?”

Lagi, Luhde hanya tersenyum. Dan perlahan kepalanya menggeleng. “Saya tidak siap ikut Keenan,” jawabnya lembut, tapi tegas. “Malam ini saya mau kembali ke Kintamani.”

“Oke. Kalau gitu, kapan kamu siap? Saya akan nunggu kamu,” kata Keenan lagi.

Senyum itu tak surut dari wajah Luhde. “Keenan cuma buang-buang waktu,” sahutnya. Dan nada itu menegas.

“De, semua waktu saya sekarang untuk kamu. Mau dibuang ke mana lagi? Konsep ‘buang-buang waktu’ nggak berlaku lagi sekarang. Semuanya buat kamu,” ujar Keenan putus asa.

“Keenan lebih baik pulang ke Jakarta. Itu jauh lebih berguna. Apa yang Keenan cari bukan di sini.”

Keenan menatap Luhde, berusaha mengerti apa yang dipancarkan di sana, karena ia sungguhan tak mengerti. “De … maksud kamu apa? Kamu nggak mau saya di sini?”

Dengan runut dan seperti mengurut, Luhde berkata, “Saya, ingin melepas Keenan pergi. Sebelum kita berdua berontak, dan jadi saling benci. Atau bersama-sama cuma karena menghargai. Keenan mengerti?”

Kali ini Keenan benar-benar terenyak. Belum pernah ia melihat Luhde begitu tegas. Begitu tegar. “De … tolong …,”

“Keenan yang tolong saya, ya,” sela Luhde, “tolong ambil ini lagi.” Sebuah pahatan kayu sebesar genggaman tangan ia selipkan kembali ke genggaman sang pembuatnya. Pahatan berbentuk hati dengan relief gelombang air. Sesuatu yang pernah ia begitu dambakan, sesuatu yang pernah ia minta dan akhirnya diberikan. Namun, Luhde sadar kini, yang bisa ia miliki hanyalah pahatan kayu berbentuk hati. Bukan hati yang sebenarnya. Sementara yang sesungguhnya ia damba bukanlah pahatan itu, melainkan sesuatu yang tidak pernah bisa ia miliki seutuhnya.

Pahit, Keenan menggeleng, menolak. “De, saya sudah kasih ini untuk kamu. Setidaknya kamu sudi untuk sekadar menyimpan barang ini. Tolong.”

Kembali senyuman yang sama menghiasi wajah Luhde. “Bahkan bukan nama saya yang kamu ukir,” desisnya, “tapi … Keenan baik sekali sudah pernah mau meminjamkan. Terima kasih.”

Keenan tak tahu lagi harus berkata apa. Segalanya seperti jalan buntu. “De … kalau memang saya harus pergi, saya rela. Tapi, tolong kasih tahu saya sekali lagi … kenapa?” desaknya, meratap.

“Saya belajar dari kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah memilih saya, selamanya Keenan tidak akan pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh,” Luhde menggenggam tangan Keenan sejenak, “yang Keenan cari bukan di sini.”

Keenan terdiam. Seiring angin yang bertiup serupa tiupan seruling, mendadak benaknya terisap ke masa lalu. Kembali ke malam saat ia mendengar angin berbunyi serupa, menggoyangkan kentungan bambu yang tergantung di tepi atap bale. Malam di mana ia membuat pilihan. Ucapan Luhde menyadarkannya. Ia hanya memilih untuk memberikan seonggok kayu berukir, sementara apa yang mendorongnya untuk mengukir tak pernah bisa ia berikan. Keenan mengatupkan matanya erat-erat. Semua ini terlalu getir untuk ia telan. Namun, inilah kejujuran.

“De … maafkan saya …,” bisik Keenan. Tubuhnya gemetar halus. Bola matanya berkaca-kaca.

Luhde tak menjawab. Hanya seutas senyum hangat yang terus mengembang. Sorot matanya jernih bagai mata air. Tak ada dendam. Tak ada kesedihan. Tak ada yang dimaafkan. Ia lalu berbalik pergi. Hanya geraian rambut hitamnya yang melambaikan perpisahan.

Keenan berdiri termangu menatap itu semua. Sebutir air matanya mengalir. Diusapnya pelan. Dan ia pun beranjak dari sana.

Dari kejauhan, seseorang memandangi mereka berdua. Pak Wayan merasa dirinya terpecah menjadi dua. Sebagian dirinya hancur bersama Luhde. Dan sebagian lagi bahagia tak terhingga untuk Keenan. Akhirnya, Keenan mendapat kesempatan yang tak pernah ia miliki dua puluh tahun yang lalu. Kesempatan untuk dipilih cinta, dan berserah pada aliran yang membawanya. Ke mana pun itu. Hati selalu tahu.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.