Baca Novel Online

Perahu Kertas

Halaman demi halaman, Remi pun berdecak kagum. Trenyuh. Ilustrasi yang indah. Cerita yang hidup. Dan betapa Kugy membuat setiap jengkal dari buku itu dengan cinta. Remi bisa merasakannya.

Tibalah ia pada halaman terakhir. Sampul tebal yang tampak polos. Namun, ada sesuatu yang kelihatan menyembul keluar. Selapis kertas putih yang hanya terlihat ujungnya saja. Tanpa beban, Remi menarik kertas itu keluar. Sebuah amplop. Mendadak, ada keraguan yang muncul dalam hatinya. Entah kenapa. Remi merasa tidak yakin benda itu sengaja diletakkan di sana untuk ia temukan.

Namun, pada saat yang sama, ia juga merasa tergerak untuk membuka amplop itu, mengambil kartu di dalamnya. Keningnya seketika mengerut. Happy Birthday? batinnya. Sekali lagi, Remi membalik amplop itu, mencari sebuah nama. Tidak ada. Perasaan Remi semakin tidak enak. Ia tidak bisa lupa, Kugy pernah berkata, benda itu belum berpindah tangan sebelumnya. Tapi mengapa ia menemukan sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun?

Remi lalu membaca, baris demi baris tulisan Kugy yang berjejer rapi seperti pasukan semut. Pikirannya tersangkut dan terantuk pada beberapa kata … ilustrasi … berbagi … hanya bersama kamu … dan terakhir, ia tertumbuk pada satu tanggal. 31 Januari 2000. Tanggal itu. Tahun itu. Pembicaraan terakhirnya dengan Noni dari satu nomor telepon seolah mengonfirmasi kecurigaannya sejak tadi. Dan ia yakin kini.

Semuanya mendadak jelas. Reaksi dramatis Kugy ketika melihat foto Luhde. Kebimbangannya selama ini. Kepala Remi jatuh menunduk. Semua ini terlalu pahit dan sakit. Namun, ia akhirnya bisa memahami sesuatu yang membayangi hubungan mereka tanpa pernah bisa ia sentuh. Tanpa pernah ia bisa beri nama.

Sekarang, semuanya jelas. Bayangan itu sudah punya nama. Keenan.

 

46.

HATI TAK PERLU MEMILIH

Semua anggota keluarganya berkelakuan aneh sejak tadi pagi. Ada yang mesem-mesem, ada yang cekikik-cekikik, ada yang bersiul-siul tanpa sebab. Kugy menyadari itu semua tanpa tahu harus merespons apa.

Sejam sebelum ia dijemput, barulah Karin bersuara. “Denger-denger, ada yang mau ke wedding exhibition, ya?” Kakak perempuannya itu berceletuk.

“Jangan yang mewah-mewah, ya, Nak. Sederhana saja, yang penting bermakna.” Tahu-tahu ayahnya ikut berkomentar sambil berjalan lalu.

“Papa apaan, sih?” protes Kugy segera.

“Gy, EO-nya in-house aja,” tiba-tiba Kevin menyambar, “gue sanggup, kok. Gue udah punya tim sendiri, nih. Oke? Oke? Oke?”

Mata Kugy langsung mencari Keshia. Tinggal si bungsu satu itu yang belum ikut berkomentar. Kalau sampai dia ikutan juga … Keshia duduk di ujung sofa, menatapnya dengan nakal. “Kalo gitu Keenan boleh buatku, dong,” cetus anak itu ringan.

Muka Kugy langsung merah padam. “Ma!” ia memanggil ibunya, siap memuntahkan protes, “Lagi pada kenapa sih orang-orang di rumah ini? Norak!”

“Gy, kamu mau pakai kebaya atau gaun? Kalau kebaya, ke temannya Mama aja, Bu Sugianto. Bagus deh buatannya, murah lagi ….”

Mulut Kugy menganga. “Mama kok ikut terlibat juga, sih?” tukasnya.

“Lho … kita semua kan ingin mendukung!” sahut ibunya.

“Mendukung apa?” tanya Kugy lagi.

“Booo … please, deh!” sambar Karin, “Lu sangka siapa yang paling panik di rumah ini begitu tahu adik gue berencana untuk melangkahi gue!”

“Jelas paniklah! Dia yang ngeluarin modal paling besar buat kecantikan di rumah ini, tapi justru yang paling berantakan yang dapat jodoh duluan,” ledek Kevin, lalu dia terpingkal-pingkal sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Remi. Kugy mengembuskan napas lega. Tepat pada saat bola panas sedang berpindah ke Karin. Cepat-cepat ia angkat kaki dari ruang keluarga, pindah ke ruang tamu.

“Hai. Udah dekat rumah, ya?” tanya Kugy.

“Belum. Gy, sori, saya nggak bisa jemput. Kalau kita janjian langsung ketemu aja gimana?” Remi menyahut di ujung sana.

“Nggak pa-pa. Aku bisa bawa mobil. Kita ketemu di pameran?”

“Kalau hari ini nggak jadi ke pameran, nggak pa-pa?” Remi balas bertanya.

Kugy tertegun. “Jadi … ketemu di mana?”

Ia tak akan lupa tempat itu. Ayunan itu. Malam pergantian tahun. Di sanalah segalanya bermula. Kugy menanggalkan kedua sandalnya, membiarkan telapak kakinya menyentuh pasir. Angin pantai yang hangat berembus meniup kulit, mengibarkan rok panjang yang ia kenakan. Langit tampak digantungi tumpukan awan mendung, sore ini sepertinya akan ditutup oleh hujan.

“Gy ….”

Kugy berbalik badan. Remi berjalan ke arahnya dengan senyum samar, tangan kanannya menjinjing satu kantong kertas. Ada sesuatu yang ganjil dengan ini semua. Namun, ia tidak tahu apa.

“Kenapa harus ketemu di sini?” tembak Kugy langsung.

Remi tak menjawab. Ia menggandeng tangan Kugy, perlahan mendudukkannya di atas ayunan. Dengan lembut, tangannya mulai mendorong. Mengayun Kugy ke depan dan ke belakang tanpa suara. Hanya bunyi derit engsel besi ayunan dan bunyi ombak-ombak kecil yang beradu dengan benteng tembok dekat kaki mereka.

“Hampir setahun saya kenal kamu, ya, Gy.” Remi akhirnya bicara.

Kaki Kugy yang tadinya menggantung tahu-tahu menancap kukuh di pasir. Ayunan itu berhenti mengayun. Kembali, Kugy membalik badan. “Remi … please, tell me. Kok, kamu tiba-tiba aja pingin ke sini?”

Remi melepaskan pegangannya pada tali ayunan, berlutut di depan Kugy. Wajahnya setengah menunduk. Dan ia membisu. Cukup lama untuk membuat Kugy tambah curiga dengan semua ini.

“Remi … ada apa?” tanya Kugy sekali lagi.

“Saya …,” Remi susah payah berbicara, “saya … mau mengembalikan sesuatu.” Tangannya lalu meraih kantong kertas yang disandarkan di tiang ayunan.

Kugy menerimanya dengan ragu. Sekilas, ia mengintip isinya. Tercenganglah Kugy saat mengenali buku dongeng pemberiannya. “Kenapa dikembalikan?” tanyanya bingung.

“Karena … ini.” Remi menyerahkan selembar amplop putih berisi kartu.

Segala sesuatu terasa berhenti bagi Kugy. Detik, detak, gerik dan gerak. Ia hanya bisa menatap benda satu itu. Sesuatu yang hampir ia lupa, tapi ternyata tidak. Cukup sedetik yang ia butuhkan untuk kembali mengenalinya. Mengingat apa yang ia tulis, dan kepada siapa tulisan itu ditujukan.

“Buku ini harusnya untuk Keenan, kan?” tanya Remi lembut. “Kugy … Kugy … kenapa harus sampai kabur segala?”

Segala sesuatu terasa berhenti bersuara bagi Kugy. Kecuali suara Remi yang berbicara padanya sehalus angin.

“Saya ingin tanya sama kamu, Gy,” ucap Remi. “Apakah Keenan pernah meminta buku ini dari kamu?”

Kugy bahkan tak bisa menemukan suaranya sendiri. Ia hanya bisa menggeleng.

“Lalu … kenapa saya harus meminta untuk bisa kamu kasih?”

Sesuatu berhasil bergerak. Menembus kebisuan dan kebekuan yang mengunci Kugy. Sebutir air mata.

Seolah menyentuh boneka porselen, dengan teramat halus Remi menggenggam telapak kiri Kugy, tempat cincin pemberiannya melingkar. “Apakah kamu pernah minta cincin ini dari saya?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.