Baca Novel Online

Perahu Kertas

Dengan lembut, Remi membelai-belai rambut Kugy, “Apa pun alasannya, saya di sini untuk kamu. Makasih untuk buku ini. Makasih kamu sudah membagi milik kamu yang paling berharga. Makasih sudah meyakinkan saya.”

Saat itu Kugy memang bukan menangis karena sedih, tapi bukan juga karena bahagia. Sejujurnya, Kugy sendiri tidak tahu kenapa.

Enam bulan sudah semenjak kedatangannya kembali ke Jakarta. Ayahnya telah berubah drastis. Manusia itu telah menjadi bukti hidup bahwa mukjizat itu ada. Seseorang yang terkapar lumpuh sama sekali, dengan prediksi kerusakan fatal di sana sini, berhasil sembuh dan berfungsi seperti sedia kala. Ia telah lama meninggalkan kursi roda dan alat bantu apa pun. Setiap pagi, ia bahkan sudah melakukan aktivitas senam ringan, sesuatu yang dilakukannya setiap hari saat ia masih sehat dulu. Segala sesuatunya memang sudah hampir seperti dulu, kecuali satu. Kembali ke kantor. Itulah satu-satunya hal yang masih belum disarankan dokter.

Semua orang tahu, Keenanlah penyebab sekaligus penawar yang kemudian mendatangkan keajaiban tersebut. Tak hanya mendampingi ayahnya kapan pun ia bisa, Keenan bahkan menggantikan fungsi operasional ayahnya setiap hari di kantor. Memastikan perekonomian keluarga mereka masih bisa berjalan seperti biasa.

Namun, Keenan pun tahu, saat ini pasti tiba. Keajaiban yang satu hari harus berhadapan dengan kejujuran. Dan tak ada yang tahu pasti, mana yang akan keluar sebagai pemenang.

Hati-hati, Keenan membuka pintu kamar orangtuanya. Tampak ayahnya sedang duduk sendirian di tempat tidur, membaca buku.

“Pa …,” panggilnya pelan.

“Masuk, Nan. Ada apa?” Adri meletakkan buku yang ia pegang, sekaligus menanggalkan kacamata bacanya.

Keenan lantas duduk di samping ayahnya. “Pa, saya harus bicara tentang sesuatu. Tentang pekerjaan.”

“Ada masalah apa di kantor?” tanya Adri langsung.

Keenan menelan ludah, lalu menggeleng. “Nggak ada masalah, Pa.”

“Jadi?”

“Saya yang punya masalah,” Keenan berkata lirih, “saya nggak tahu sampai kapan bisa bertahan—” Keenan berhenti sejenak. Dan akhirnya, ia mengatakan sesuatu yang selama ini sudah mengganjal lama di tenggorokannya, yang setiap harinya ia tahan, yang setiap harinya ia tunda, dan sekarang tak bisa ia membendungnya lagi: “Pa, saya ingin kembali melukis.”

Adri berusaha mencerna kalimat anaknya. Berusaha membaca ekspresi di wajahnya. Berusaha mengerti konsekuensi apa yang mengikuti pernyataan Keenan. “Kamu ingin berhenti dari kantor?” tanya Adri dengan nada ragu.

Berat, Keenan mengangguk.

“Tapi … kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa menjalankan—”

“Saya akan tetap menjalankan tugas saya sampai Papa benar-benar pulih. Atau sampai ada orang lain yang bisa menggantikan saya. Tapi, intinya …,” Keenan menelan ludah untuk yang kesekian kali, “saya nggak mungkin selamanya bertahan di kantor. Saya mau melukis lagi.”

“Kenapa? Apa masalahnya?” desak Adri lagi.

Keenan menatap ayahnya, tak berkedip. “Papa masih perlu tahu alasannya?”

Perlahan, Adri menggeleng. “Papa tahu. Kamu memang selalu ingin melukis. Cuma Papa yang selalu susah menerima.”

Keenan gantian bertanya, pertanyaan yang tahunan ia tunda, ia tahan, dan sekarang tak bisa ia membendungnya lagi. “Kenapa, Pa? Apa masalahnya? Sejak kecil saya selalu berusaha membuktikan sama Papa, bahwa melukis adalah dunia saya. Tapi Papa selalu menanggapi seperti tembok. Papa menutup mata, menutup telinga, dan benar-benar nggak mau tahu. Saya nggak pernah mengerti kenapa. Kenapa?”

Adri tak tahu dari mana harus menjelaskan. Cerita yang sudah berkarat tapi menghantuinya selama puluhan tahun. Dunia lukisan adalah penghubung Lena dengan cinta lama yang seperti tak mengenal kata mati. Dunia lukisan kembali menjadi penghubung anaknya dengan seseorang yang selalu ingin ia hindari entah karena perasaan bersalah, atau justru karena perasaan tersaingi. Dan semua itu pernah begitu membutakannya hingga ia ingin membunuh potensi Keenan dengan cara apa pun. Namun, Adri tidak punya kesanggupan untuk menceritakannya.

“Semua salah Papa, Nan,” Adri mengucap lirih, “Papa yang nggak berusaha memahami kamu, berusaha mengurung kamu, dan nggak pernah memberi kamu kebebasan menjadi diri kamu sendiri. Sementara kamu … kamu sudah berani mengorbankan impian kamu, demi bisa kembali ke sini, mengurus keluarga ini.”

“Selamanya, saya akan tetap melakukan hal yang sama. Dengan situasi Papa waktu itu, pulang ke sini bukanlah pilihan bagi saya, bukan juga pengorbanan,” sergah Keenan, “tapi sekarang, saya ingin kembali memilih.”

Adri tersenyum. “Di mata Papa, semua itu terbalik, Nan. Kamu nggak perlu memilih untuk melukis. Itulah diri kamu. Selamanya.”

Mata Keenan mengerjap. Napasnya tercekat. “Jadi … saya boleh—?”

“Kapan pun kamu siap, kamu bisa berhenti,” Adri berkata lembut, “jangan khawatir tentang apa-apa. Papa pasti bisa cari jalan lain. Papa yakin,” napas Adri mengembus panjang, tak pernah terbayangkan ia akan mengucapkan hal yang satu ini, “kamu bahkan bisa kembali ke Bali, kalau itu yang kamu mau.”

Darah Keenan berdesir mendengarnya. Hatinya berguncang hebat. Bahkan dalam mimpi sekalipun, ia tak pernah berani membayangkan ayahnya akan sampai pada kerelaan seperti itu. Tubuh Keenan pun bergerak maju, lengannya membuka, merengkuh ayahnya. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, ia merasa dipahami. Dan memahami. Bahwa apa yang tak terucap terkadang tak lagi penting. Keenan tidak ingin menuntut penjelasan lebih lanjut. Semuanya sudah cukup. Akhirnya Keenan bisa merasakan cinta itu, kasih sayang itu, dan kebebasan yang akhirnya lahir dalam hubungan mereka berdua.

Sehari sebelum akhir pekan. Keenan sudah tuntas mengepak barang-barangnya. Memastikan kembali tiket pesawat yang tersimpan di kantong depan ranselnya.

Tekadnya bulat sudah. Ia akan ke Bali, ke Ubud, kembali ke Lodtunduh. Entah untuk berapa lama. Yang jelas, sesuatu yang baru akan berawal di sana. Tak ada lagi yang bisa mengikatnya kembali ke sini.

Keenan menoleh ke belakang sebelum memasuki taksi. Ayahnya, ibunya, dan Jeroen, berdiri melepas kepergiannya. Dan kali ini, mereka semua tersenyum. Mereka semua mengikhlaskan. Tanpa kecuali.

Sayap-sayapnya membentang tanpa penghalang. Ia bebas sudah.

Malam ini, Remi menyusun tempat-tempat yang ingin ia kunjungi dengan Kugy esok hari. Ada pameran wedding, dan beberapa venue yang kata orang-orang bagus dan unik. Entah kapan rencana besar itu terwujud, ia masih belum berani mendesak Kugy, tapi tak ada salahnya melihat-lihat dan mempelajari. Dari SMS terakhir yang ia terima, Kugy bahkan sudah setuju dengan rencananya besok. Remi tersenyum puas.

Menjelang tengah malam, masuk lagi sebuah pesan dari Kugy: Kata Rhoma Irama, begadang jangan begadang. Apalagi kalo cuma gara-gara keasyikan browsing. Kata Kugy Nugroho, tidur yuk cepat tidur. Jangan lupa baca buku dongeng dulu. Dikasih buat dibaca, tauk! Met bobo, Sayang. See you tomorrow.

Remi tertawa kecil membacanya. Mematikan laptop yang sedari tadi memang dipakainya untuk browsing. Iseng, ia mengambil buku dongeng buatan Kugy. Satu-satunya buku dongeng yang ia punya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.