Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Luhde nggak layak disakiti,” desis Kugy lagi.

“Remi juga,” timpal Keenan lirih.

Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur. Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin perih.

“Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy,” bisik Keenan.

Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. “Bisa. Pasti bisa. Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa jadi sahabatmu.” Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.

“Iya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik,” Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah diucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya.

“Nan …,” Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suaranya makin lirih, “banyak yang aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita. Kamu turun, ya, Nan. Pulang.”

Keenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. “Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy. Udah malam.” Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan pergi.

Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, meski langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh. “Nan …,” panggilnya.

“Ya?” Keenan berbalik.

“Aku nggak kepingin, sepuluh … dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu.” Kugy merapatkan tangannya di dada.

Keenan tercekat mendengarnya. “Nggak, Gy. Nggak akan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa.”

“Dan kamu yakin bisa?” tangis Kugy.

“Pasti ….” Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan, dan kegentaran. Namun, ia tak mungkin lagi mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari pandangan Kugy. Harus ada yang bisa, batinnya, kalau tidak …. Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia tak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini.

Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama.

 

45.

BAYANGAN ITU PUNYA NAMA

Keesokan harinya, Kugy memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya. Berhenti menjadi parasit di rumah Karel. Kembali pulang ke rumah. Dan orang paling pertama yang ia hubungi adalah Remi.

Hanya dibutuhkan satu telepon untuk mendaratkan Remi ke rumahnya. Pria itu tak menunggu lebih lama lagi. Begitu Kugy menghubunginya, Remi langsung berangkat malam itu juga menemui Kugy.

Remi datang membawa seberondong pertanyaan yang sudah siap ia gencarkan. Namun, semuanya buyar pada detik pertama ia melihat Kugy. Sebagai ganti, ia hanya mendekap Kugy. Lama. Ribuan pertanyaannya mengkristal menjadi satu tanya, “Kamu kenapa, Gy?”

Segala sesuatu yang dipersiapkan Kugy ikut buyar. Meleleh dan meluruh dalam dekapan Remi. Segalanya mengkristal menjadi satu pernyataan, “Maafkan aku, ya.”

Remi melonggarkan dekapannya, meraih tangan kiri Kugy. Cincin itu masih di sana. Ia mengembuskan napas lega.

“Remi, sekarang aku siap,” kata Kugy, tegas. “Waktu itu, aku memang kaget. Nggak siap. Tapi sekarang, aku siap buat ngejalanin apa saja sama kamu. Buatku, ini adalah babak baru.”

Remi menatap Kugy lurus-lurus. Mengadu bola matanya. Mencari keyakinan di sana. “Kamu yakin, Gy?” tanyanya memastikan.

Kugy menghela napasnya. “Yakin,” jawabnya mantap.

Remi terus mengejar sesuatu dalam kedua bola mata Kugy. “Gy, saya menghargai konfirmasi kamu. Tapi … saya nggak mungkin bohong sama kamu. Saya masih perlu kamu yakinkan. Saya juga nggak tahu gimana caranya,” dengan berat Remi berkata, “keputusan kamu untuk tahu-tahu lenyap bikin saya kaget banget. Dan, jujur, saya masih bingung sampai sekarang. Tapi saya juga janji sama diri saya sendiri untuk menghargai proses kamu. Saya nggak akan maksa kamu untuk bicara atau cerita. Hanya kalau kamu siap. Tapi, sekali lagi, saya butuh diyakinkan. Saya nggak yakin sanggup menghadapi situasi seperti kemarin lagi. Tidak untuk kedua kalinya, Gy.”

Kugy menelan ludah. Ia paham pembuktian apa yang dimaksud Remi. Namun, ia juga tidak tahu harus memulai dari mana. “Kalau gitu, apa yang bisa aku lakukan? Apa yang perlu kamu dengar supaya kali ini kamu bisa yakin?” tanya Kugy setengah memohon.

Remi menggeleng. “Saya juga nggak tahu, Gy,” sahutnya pelan. “Mungkin cuma kamu yang bisa tahu.”

Mendengar kalimat Remi, seketika sesuatu berkecamuk dalam hati dan benak Kugy. Namun, Kugy sadar, pada babak baru ini, ia tak punya banyak pilihan. Ia tahu apa yang akan ia putuskan pada akhirnya. Sejernih berlian yang berkilau di jarinya. Dan Kugy tak mau buang waktu lagi.

“Aku ingin kasih kamu sesuatu,” ucap Kugy. Jantungnya terasa berdegup lebih kuat.

Remi mengernyitkan kening. “Sesuatu—?”

“Tunggu sebentar, ya.” Kugy pergi beranjak dari sana. Masuk ke kamar tidurnya. Di sebelah tempat tidurnya, ada sebuah meja kecil. Kugy membuka laci paling atas. Sesuatu yang belum lama kembali padanya, setelah bertahun-tahun menghilang, dan kini akan meninggalkannya lagi. Dan semoga ia berada di tangan yang tepat, Kugy berdoa dalam hati.

Kugy lalu kembali menemui Remi. Menyerahkan benda itu ke tangannya. Sejenak Kugy memejamkan mata. Inilah saatnya. “Remi, dongeng adalah segalanya buat aku. Impianku yang paling tinggi. Dan … ini adalah sesuatu yang paling mendekati impian itu. Sekarang, aku masih membuatnya pakai tangan. Entah kapan, tapi mudah-mudahan, satu saat nanti aku bisa berbagi sebuah buku dongeng betulan dengan kamu. Tapi, sebelum buku itu ada, inilah benda paling berharga buatku. Belum pernah berpindah tangan satu kali pun.” Kugy menelan ludah lagi. “Hari ini, aku ingin membaginya dengan kamu. Karena, aku juga berharap bisa berbagi hidupku dengan—” Kugy rasanya tak bisa melanjutkan. Dadanya makin sesak. “Hanya dengan kamu,” akhirnya Kugy berkata.

Remi terkesiap. Lama. Sepanjang ingatannya, tak pernah ada yang mengatakan hal seindah itu padanya. Ia baru tersadar ketika melihat Kugy menangis. Remi langsung merengkuh tubuh mungil itu lagi, “Kenapa nangis, Gy? Saya paling nggak bisa lihat kamu nangis ….”

Dalam isakannya, Kugy membisik, “Aku nangis bukan karena sedih ….”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.