Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan mengangkat bahu. “Nggak tahu. Tapi gua merasa akan sangat terbantu kalau lu bisa cerita soal itu. Nggak tahu kenapa.”

Lama Noni terdiam. Akhirnya, ia memutuskan. “Cerita gua dan Kugy bisa menyusul belakangan. Tapi, ada satu hal yang berhubungan dengan itu, dan … udah saatnya gua harus jujur,” Noni berhenti sebentar, “Nan, ini nggak gampang gua omongin, jadi, mendingan gua tembak langsung aja: Kugy cinta sama lu.” Tampak ia tertegun sendiri sesudahnya, lantas menggelengkan kepala, “Eh, salah, salah,” Noni meralat, “Kugy cinta mati sama lu.”

Napas Keenan langsung tersendat.

“Dari waktu dia masih pacaran sama Ojos. Dari sebelum lu ketemu Wanda. Dan gua yakin, perasaan dia masih nggak berubah, sampai hari ini.”

Gantian, Keenan membisu. Lama.

“Gua nggak tahu persis apa yang terjadi sampai dia ngilang. Tapi lu bener. Kemungkinan besar ada hubungannya dengan itu semua,” lanjut Noni lagi.

“Hubungan dia dengan cowoknya gimana?” tanya Keenan.

Noni kembali menggeleng. “Nggak tahu persis, Nan. Waktu gua datang ke rumahnya lagi sejak kita diem-dieman, she seemed to be so in love. But who knows? Segala sesuatunya bisa berubah,” Noni terdiam sebentar, “dan mungkin justru karena ada beberapa hal langka di dunia ini yang susah berubah,” sambungnya pelan.

“Dia di mana, ya, Non?” tanya Keenan. Pandangannya kembali menerawang ke jendela.

Noni ikut terdiam. Tampak berpikir keras. Mendadak, alisnya terangkat. “Nan … kita kok bego banget. Tanya cowoknya aja!”

“Lu kenal?”

“Kenal. Gua ada nomor teleponnya.”

“Ya udah! Telepon, gih!”

“Nah, masalahnya …,” Noni berdehem, “pulsa gua yang nggak ada.”

Keenan menghela napas. “Ini berarti bukan soal bego atau nggak bego. Ini masalah kesejahteraan sosial. Pantesan dari tadi lu cuma missed call doang bisanya.”

“Pakai HP lu aja. Tapi, nanti gua yang ngomong, oke?” Noni lalu membuka buku alamat di ponselnya, “Nih, gua dikte, ya. Kosong … delapan … satu ….”

Keenan memencet nomor yang Noni sebutkan. Jempolnya lalu menekan tombol “call”. Tiba-tiba, muncullah sebaris nama di layarnya: Remigius Aditya.

“Remi?” gumamnya tak percaya.

“Lho. Lu kenal?” Noni ikut bertanya.

Nada itu tersambung. Tak lama, terdengar ucapan ‘halo’ di ujung sana. Refleks, Keenan menyerahkan ponselnya pada Noni.

“Halooo? Mas Remi? Hai, ini Noni, Mas. Temannya Kugy. Iya … ini memang pakai HP-nya Keenan. Aku juga baru tahu kalau Mas Remi ternyata kenal sama Keenan. Lha, kita semua memang teman-teman kuliahnya Kugy, Mas. Ih, baru pada tahu, ya! Ampuuun …” Noni tertawa-tawa. “Naaah, itu dia. Kita juga lagi nyariin Kugy, Mas. Kirain Mas Remi tahu dia di mana …”

Keenan termenung. Celotehan bernada tinggi khas Noni seolah memantul ke ruang hampa. Ia tak lagi peduli apa yang dibicarakan Noni di telepon. Hanya ia sendirian di dalam ruang hampa itu, berpusar dalam kenangan dan potongan ingatan. Rekaman kalimat-kalimat Remi saat mampir ke kantornya kembali menggaung di benak Keenan … kamu juga pasti cocok sama dia … dia sangat istimewa buat saya … belum pernah merasa seperti ini, seumur hidup saya … Keenan menunduk, memejamkan matanya. Remi, orang yang sangat ia hormati, ternyata adalah kekasih Kugy.

Keenan lalu teringat rencana besar yang dibicarakan Remi. Ludah di mulutnya terasa getir. Pembicaraan mereka kembali berulang, termasuk kalimat yang ia lontarkan pada Remi … kalau Mas Remi butuh bantuan apa pun, kasih tahu, ya. Siapa tahu saya bisa bantu.

Noni tahu-tahu mengembalikan ponselnya. Menyadarkan Keenan dari lamunan dalam ruang hampanya. “Mas Remi juga kelimpungan nyariin dia. Nggak tahu dia ada di mana. Gawat nih, Kugy.” Noni berdecak. “By the way, gimana caranya kok lu bisa kenal sama Mas Remi?”

Keenan tersentak. Teringat sesuatu. “Non … gua harus cabut. Nanti gua telepon dan ceritain semua. Oke?”

“Lu mau ke mana?”

“Kalo orang rumahnya nggak mau bilang Kugy ada di mana, nggak jadi masalah. Yang perlu gua cari tahu sebetulnya adalah alamat rumah barunya Karel. Dan itu pasti nggak akan terlalu susah. Dah!” Secepat kilat, Keenan melesat pergi dari sana.

“Kumpeni gila.” Noni menyadari sepiring besar es krim akan menuju meja itu, dan harus ia habiskan sendirian.

Sudah hampir gelap ketika Keenan sampai di rumah itu. Karel sendiri yang membukakan pintu. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Keenan.

“Mas Karel, Kugy-nya ada?” tanya Keenan sopan. Pasti ada.

Karel tak langsung menjawab. Ia kelihatan sedang berpikir. “Kamu aja yang nyusulin dia, ya,” akhirnya ia berkata sambil membalik badan, menunjuk satu pintu, “dia lagi di tempat jemuran belakang. Kamu ke pintu itu. Ada tangga besi di dekat sana. Kamu naik aja. Kugy ada di atas.”

Keenan mengangguk. Langsung menuju tangga yang dimaksud Karel, menaikinya hati-hati.

Balkon belakang itu hanya berbentuk dak beton. Sebuah kursi dan meja plastik terparkir di sana. Tampak siluet Kugy duduk memunggunginya. Kepalanya menengadah, menatap langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi, berkibar halus ditiup angin.

Keenan menahan napas. “Kecil ….”

Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, mendapatkan Keenan sudah berdiri di hadapannya. “Kamu … kok … bisa ada di sini?” ia bertanya, terbata.

“Radar Neptunus,” jawab Keenan ringkas seraya tersenyum sekilas. Ia lalu berjalan mendekati Kugy. Berjongkok di depannya. “Kenapa harus ngilang, Gy?” tanyanya halus.

“Aku juga nggak tahu kenapa,” Kugy menggelengkan kepala, “tiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tahu jawabannya.”

“Saya mau bantu kamu. Boleh?” Keenan lantas meraih tangan Kugy. “Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya.”

Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi masih ia tahan.

“Itu satu hal. Masih ada lagi yang harus saya bilang,” Keenan mengatur napasnya, “saya sudah tahu soal Remi, Gy. Kalau saya harus merelakan kamu untuk seseorang, cuma dialah orangnya. Nggak ada lagi. Dia orang yang sangat, sangat baik. Kamu beruntung.”

“Kamu juga,” desis Kugy, “aku nggak sengaja ketemu Luhde di Ubud. Kami sempat mengobrol di pura. Dia … dia seperti malaikat turun dari langit. Kamu beruntung, Nan. Jangan pernah melepaskan dia.”

Keenan terkesiap mendengar Kugy menyebut nama Luhde. Namun, pembicaraan Remi di kantornya kembali berulang … waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud, tapi sayangnya nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kali ini, Keenan akhirnya mengerti. Sikap Luhde yang berubah drastis setelah pulang dari pura. Sikap Kugy yang juga berubah setelah kembali dari Bali. Akhirnya ia memahami.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.