Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Udah. Kayaknya mereka kompakan untuk nggak kasih tahu. Mungkin Kugy yang sengaja nggak kepingin dicari.”

“Yah, kalo gitu, biarin ajalah. Lagi nyepi kali. Entar juga pulang lagi,” timpal Noni santai.

“Kalo cuma soal pulang lagi sih, gua juga yakin dia bakal pulang sendiri. Tapi bukan cuma itu masalahnya. Gua tetap pingin ketemu lu. Kayaknya ada sesuatu yang perlu kita obrolin soal Kugy. Oke? Lusa, ya?” desak Keenan lagi.

Noni menelan ludah. Belum pernah ia mendengar Keenan begitu bersikukuh.

Rumah dengan model townhouse itu hanya punya dua kamar, luas bangunannya pun tidak terlalu besar, tapi lebih dari cukup untuk Karel huni sendirian. Kehadiran satu orang tambahan saja seharusnya menjadikan rumah itu semarak, apalagi kalau manusianya adalah Kugy. Namun, kehadiran adiknya selama tiga hari di sana malah membuat suasana jadi mendung. Kugy benar-benar berbeda dari biasanya. Anak itu jadi pendiam, murung, dan lebih banyak mengurung diri. Tempat kesukaannya adalah balkon kecil di bagian belakang rumah, tempat menjemur pakaian. Kugy bisa berjam-jam nongkrong di sana. Entah melamunkan apa.

Terdengar suara langkah kaki beradu dengan anak tangga besi. Adiknya baru turun dari balkon belakang.

“Gy, makan malam dulu, yuk. Aku bawain nasi goreng, nih,” ajak Karel.

“Belum lapar,” kata Kugy pendek.

“Nggak mungkin banget kamu belum lapar. Ayo, makan,” Karel menaruh bungkusan itu langsung ke atas piring Kugy, kemudian mengambilkan piring dan sendok. Setelah itu, Karel mulai makan duluan. “Makan, Gy,” ajaknya lagi.

Dengan lunglai, Kugy membuka bungkusannya, menyuap beberapa sendok. Ogah-ogahan. Kugy hanya menghabiskan setengah, lalu berhenti, membungkus kembali sisa nasi gorengnya. Kembali diam.

Karel mengamatinya tanpa berkomentar. Setelah menghabiskan nasinya, barulah Karel angkat bicara. “Kamu mau sampai berapa lama di sini?” tanyanya kalem.

Kugy mengangkat bahu. “Belum tahu. Kenapa? Kamu mulai sebel ya lihat aku di sini?”

Karel tertawa kecil, “Nggak. Bukan itu masalahnya. Tapi aku mulai sebel karena kamu nggak ngomong-ngomong.” Ia lantas melipat tangannya di dada, “Aku nggak akan sebel lagi kalau kamu mau cerita. Jadi, cepetan cerita. Sekarang.”

Kugy menatap abangnya. Tatapan orang meratap minta tolong. Begitu banyak yang ingin ia muntahkan keluar. Kugy pun sudah lelah menyimpan semuanya sendirian. “Kamu harus tanya aku sesuatu dulu …,” kata Kugy setengah berbisik.

Dalam kepala Karel, berseliweran begitu banyak pertanyaan. Tahu-tahu, matanya menangkap kilauan cincin yang terterpa sinar lampu. Benda mungil yang melingkar di jari manis kiri adiknya itu serta-merta mencuri perhatian Karel. “Cincin itu dari Remi?” ia pun bertanya spontan.

Kugy memang hanya butuh satu pertanyaan. Pertanyaan apa saja. Tidak jadi masalah. Ia hanya ingin dibantu untuk membuka pintu bendungan yang sudah ingin jebol. Dari mulutnya, mengalirlah lancar semua cerita. Kisah yang sudah berusia empat tahun lamanya, dari mulai Keenan, Ojos, Remi, Luhde, hingga cincin di jarinya.

“Karel … aku bingung. Aku bingung sama diriku sendiri. Aku nggak ngerti kenapa aku bereaksi begini ketika Remi kasih cincin ini. Apa yang salah dengan dia?” kata Kugy putus asa, “aku juga nggak ngerti kenapa aku sampai kayak begini waktu tahu soal Luhde. Padahal kan, harusnya … harusnya ….”

“Menurut kamu, yang harusnya terjadi gimana?” tanya Karel lembut.

“Harusnya … aku senang. Harusnya aku bahagia untuk Keenan karena dia punya seseorang kayak Luhde. Harusnya aku juga bahagia karena punya seseorang kayak Remi. Harusnya … aku senang dapat cincin ini. Tapi ….”

“Tapi?”

“Tapi … kok, aku malah di sini?” ratap Kugy, “Kok, aku malah kabur?”

“Kugy, kepala kamu akan selalu berpikir menggunakan pola ‘harusnya’, tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri,” kata Karel sambil tersenyum. “Ini urusan hati, Gy. Berhenti berpikir pakai kepala. Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu.”

Tertegun Kugy mendengar kalimat Karel. Perlahan, kepalanya menggeleng. “Karel, aku bingung banget. Aku nggak tahu lagi hatiku bilang apa,” ucapnya tertahan, “pokoknya … pokoknya ….”

“Pokoknya apa?”

“Pokoknya … nggak mungkin aku nyakitin Remi. Dan aku nggak akan pernah rela kalau Keenan sampai nyakitin Luhde.”

Karel mengangguk. “Oke. Kalau itu memang betul kata hati kamu, ikuti saja. Nggak akan pernah mungkin salah.” Ia lalu berdiri, menepuk pipi adiknya.

Kugy memandangi abangnya yang mengambili piring-piring kotor dari meja. “Karel …,” panggilnya.

“Kenapa, Gy?”

Kugy tak tahu harus bilang apa. Kembali hanya memandangi abangnya dengan sorot meratap yang penuh makna dan tanya.

Karel menghampiri adiknya. “Di belakang kompleks ini ada sungai kecil. Kamu bikin perahu kertas, gih. Curhat ke Neptunus. Siapa tahu ada jawaban.” Ia tersenyum kecil, lalu beranjak masuk ke kamarnya. Meninggalkan Kugy sendirian di meja makan.

Sebaris kalimat Karel terus mengiang. Kalau memang betul itu kata hati kamu, ikuti saja.

 

44.

CINTA TAK BERUJUNG

Noni sudah sampai duluan di restoran es krim di bilangan Kemang, tempat ia janjian dengan Keenan. Tak sampai lima menit menunggu, mobil SUV Keenan memasuki parkiran. Tampak Keenan keluar dari mobil, masih memakai setelan kantor.

“Hai, Pak Direktur Muda. Ganteng amat,” sapa Noni.

“Nggak sempet ganti baju, Non. Tadi ada meeting, terus langsung ke sini,” kata Keenan seraya mengempaskan tubuhnya ke sofa.

Noni geleng-geleng kepala. “Gua masih harus menyesuaikan diri dengan Keenan yang Direktur. Aneh banget rasanya denger lu baru meeting, nggak Keenan banget,” ia tergelak.

“Yang gua banget apa, dong?” tanya Keenan sambil nyengir.

“Misalnya, Non, sori, gua baru begadang semaleman gara-gara ngelukis’ atau ‘Non, sori, gua baru selesai pameran di galeri anu’ atau kalaupun harus pakai istilah ‘meeting’: ‘Non, sori, gua baru selesai meeting sama Kugy untuk pengembangan alien nation cabang Jakarta Timur.” Lantas, Noni terkikik-kikik sendiri.

Ekspresi Keenan langsung berubah begitu nama satu itu disebut. “Non, ada apa dengan Kugy sebenarnya? Lu tahu sesuatu?”

“Seminggu ini gua belum teleponan lagi sama dia,” sahut Noni.

“Bukan cuma soal seminggu ini, Non. Feeling gua, kayaknya ada sesuatu yang lebih lama dari itu,” Keenan membuang pandangannya ke jendela, ingatannya kembali ke sore itu, di tempat dan meja yang sama, saat Kugy tahu-tahu meninggalkannya, berlari mencegat taksi, dan tak pernah ada kabar lagi sesudah itu. “Eko pernah cerita, lu dan Kugy sempat nggak saling ngomong selama hampir tiga tahun. Boleh tahu ada apa antara kalian waktu itu?”

Noni terkesiap mendengar permintaan Keenan. Teringat kado bersampul biru yang tertinggal di kamar kos Kugy. Kartu ucapan itu. “Memangnya … lu ngerasa ada hubungannya dengan Kugy ngilang?” tanya Noni, sedikit enggan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.