Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Boleh tahu apa yang harus kamu bereskan?” tanya Keenan lembut.

Kugy menggeleng. “Nggak sekarang. Sekarang … aku cuma mau pulang.”

Keenan menatap sepiring penuh es krim di hadapannya, mengingat janji dengan Pak Ginanjar dalam dua jam lagi, ia lalu mengembuskan napas berat. “Oke. Saya antar kamu pulang.”

Kugy menggeleng lagi. “Nggak usah, Nan. Aku mau pulang sendiri pakai taksi. Maaf ya aku udah bikin kamu repot. Aku juga nggak bermaksud bikin kamu bingung. Tapi ….”

“Kugy, saya antar kamu pulang. Sekarang,” Keenan menyela dengan nada yang mulai mengeras.

Gelengan kepala Kugy tambah kuat. Ia bahkan bangkit berdiri. “Nggak. Aku mau pulang sendiri, Nan. Kamu boleh marah sama aku. Tapi aku benar-benar harus pergi. Maaf ya ….” Kugy langsung balik badan, setengah berlari menuju pintu restoran, melesat pergi ke tepi jalan, mencegat taksi, sebelum Keenan sempat mengejarnya.

Begitu duduk di dalam taksi, impitan di dadanya seketika melonggar. Kugy kembali bisa bernapas. Sigap, disambarnya HP dari dalam tas, langsung mematikannya. Ia hanya ingin sendiri. Ia hanya ingin sepi.

Ternyata aku tidak kuat … aku tidak kuat … berulang-ulang, Kugy meratap dalam hati.

Langit sudah menggelap ketika taksi itu memasuki perumahan tempat Kugy tinggal. “Mbak … Mbak … ini udah sampai di kompleksnya, rumahnya sebelah mana, Mbak?” Sopir taksi itu memanggil-manggil Kugy yang tertidur di jok belakang.

Kugy terbangun dengan kaget. “Oh, sori … sori … belokan pertama langsung kanan, Pak. Rumah kedua sebelah kiri.”

Sopir itu menurut. “Yang ada sedan hitam itu, Mbak?” tanyanya seraya menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir di depan rumah Kugy.

Sedan hitam? Tubuh Kugy sontak lemas lunglai. Remi?

“Ya. Di sini aja, Pak.” Kugy keluar dari taksi dengan enggan. Rasanya ingin meloncat masuk lagi dan pergi entah ke mana. Tidak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Tapi sudah terlambat. Remi, yang menunggu di teras depan, sudah melihat kedatangan Kugy.

“Sayang, kok HP kamu mati?” tanyanya langsung. “Tadi, akhirnya saya mengandalkan feeling aja. Langsung mampir ke sini. Untung kamu cepat pulang.” Remi memeluk Kugy. Tubuh itu kaku. “Kamu—nggak pa-pa?” tanyanya.

Kugy rasanya ingin meledak mendengar pertanyaan itu lagi. “Nggak apa-apa,” jawabnya singkat.

“Kamu mau ganti baju dulu?” Remi bertanya lagi.

“Nggak usah,” Kugy tersenyum, lalu duduk di kursi. “Ada apa, Remi?”

Remi agak terkejut dengan reaksi yang tidak biasanya itu. Ia mengamati ekspresi Kugy, berusaha mencari perbedaan, tapi tidak menemukan apa-apa. Sejenak Remi mengatur napas. Ini saatnya. Kalau ingin jadi kejutan, ini saatnya.

“Sebetulnya ada yang ingin saya sampaikan ke kamu malam ini,” dengan hati-hati sekali Remi berkata. “Saya nggak tahu apakah malam ini saat yang tepat atau bukan. Dan kapan pun saat yang disebut ‘tepat’ itu, pada akhirnya saya pasti harus bicara sama kamu. Cepat atau lambat. Hari ini atau minggu depan, atau bulan depan, atau tahun depan. Sama aja, Gy. Jadi, tolong dengar kata-kata saya …,” Remi tahu-tahu berlutut di hadapan Kugy.

Kerongkongan Kugy tercekat. Rasa keselak itu datang lagi. Gempa itu terulang kembali. Tanpa disadari, punggungnya mundur, menempel pada sandaran kursi.

Dari kantong celananya, Remi mengeluarkan sebuah kotak berwarna perak. “Kugy Alisa Nugroho, saya nggak tahu apakah cincin ini pas dengan jari kamu atau nggak, saya nggak sempat ngukur, cuma ngira-ngira. Tapi yang saya tahu, cinta kitalah yang paling pas untuk hidup saya. Cincin ini saya tawarkan untuk kamu terima, untuk kamu pakai. Tapi sebetulnya, yang saya tawarkan adalah hati saya, hidup saya. Kalau kamu mau berbagi itu semua, tolong terima cincin ini.”

Cincin itu telah Remi sodorkan, begitu dekat dengan jemari Kugy. Namun, Kugy tak bereaksi. Remi mendongak, mendapatkan Kugy yang tampak terkesiap. Dia sungguhan kaget. Hati-hati, Remi mengambil tangan kiri Kugy. Meraih jari manisnya, lalu memasukkan cincin itu perlahan-lahan.

“Gy … cincinnya pas,” bisik Remi tertahan. Lembut, ia mengecup jari Kugy yang kini dilingkari sebuah cincin bermatakan berlian rose cut.

Dada Kugy menyesak. Napasnya mulai satu-satu. Setiap kata yang diucapkan Remi seperti balok beton yang mengimpit dadanya. Dan cincin berkilau yang tersemat di jarinya itu bagaikan hantaman godam yang menjadi gong dari rangkaian balok beton yang menghunjaminya. Kugy memejamkan mata. Semua yang ia alami dan ia dengar hari ini berada di luar kesiapannya, kekuatannya. Bibirnya mengunci. Punggungnya terus menjauh hingga melekat erat pada sandaran kursi.

Remi mulai membaca gelagat aneh itu. Mulai merasa panik. Gelagapan. “Gy … sori, saya nggak bermaksud bikin kamu shock,” ujarnya gugup. “Look, kamu nggak perlu jawab apa-apa sekarang. Saya ngerti. Kamu mungkin butuh waktu. Apa pun yang kamu butuhkan, please let me know. Oke?”

Kugy masih tidak bereaksi. Masih menatap Remi dengan nanar dan tubuh kaku.

“Kamu butuh waktu sendiri dulu? Saya bisa pergi sebentar. Kalau nanti kamu sudah siap, kasih tahu aja. Nanti saya akan ke sini lagi,” tanya Remi sehalus mungkin.

Kugy mengangguk pelan. Masih tanpa suara.

“Oke. Saya tinggal dulu, ya? Please call me.” Remi lalu berdiri, mengecup kening Kugy, dan beranjak dari sana.

Begitu mobil Remi menghilang dari depan rumahnya. Kugy langsung menghambur masuk ke rumah, mengunci diri di kamar. Tidak keluar lagi.

Pukul sebelas malam. Tahu-tahu bel rumahnya berbunyi. Karel bergegas keluar kamar. Baru tiga bulan ia pindah ke rumah barunya itu. Belum banyak yang tahu alamat tempat tinggalnya yang sekarang. Tamu yang berkunjung selarut ini, tanpa pemberitahuan, patut diwaspadai.

Karel mengintip sekilas dari tirai. Tidak ada mobil. Kepalanya melongok untuk mengintip lebih jauh. Matanya memicing, berusaha mengenali sosok yang tengah berdiri di depan pintu, membawa satu tas.

“Kugy?” Karel terperanjat. Cepat-cepat ia membuka pintu. “Kugy … ngapain? Kamu sama siapa?”

Kugy, dengan muka kusut, menghadap abangnya dengan mengiba. “Karel … aku mau jadi parasit dulu di sini. Boleh, ya?”

Sudah tiga hari sejak kejadian di restoran es krim itu. Kugy masih belum bisa dihubungi. Keenan tidak tahu lagi siapa yang bisa ia mintai keterangan. Noni adalah upaya terakhirnya.

“Non … kapan ke Jakarta?” Pertanyaan pertama Keenan begitu telepon itu diangkat.

“Mmm … lusa. Kenapa, Nan? Kok, suara lu tegang banget?” tanya Noni curiga.

“Gua mau ketemuan sama lu, ya. Ada yang pingin gua tanya.”

“Soal?”

“Kugy.”

“Kenapa Kugy?”

“Dia ngilang. Lu tahu dia di mana?”

“Nggak. Kenapa sih tuh anak? Kayaknya lagi hobi ngilang, ya?” Noni tertawa kecil, teringat kejadian Remi yang juga pernah meneleponnya, melaporkan hal serupa. “Lu udah tanya orang rumahnya?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.