Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Wow … ya, ya, yang ini memang … sebentar,” kening Remi berkerut, diamatinya lagi objek foto-foto itu lebih saksama, “saya kenal sama perempuan ini,” gumamnya.

“Luhde?” sebut Kugy ragu-ragu. “Kamu kenal Luhde?”

“Ya! Luhde! Dia itu keponakannya Pak Wayan yang galerinya saya datangi waktu di Ubud,” Remi tertawa sendiri, “jadi, saya ketemu pamannya, kamu malah ketemu keponakannya. Lucu.”

“Jadi … kamu kenal Luhde ini?” Kugy masih tak percaya.

“Saya udah kenal keluarga itu lumayan lama. Waktu itu saya malah sempat tahun baruan dengan Luhde dan keluarganya, tahun ….” Remi mengingat-ingat, “tahun 2000. Waktu itu dia masih ABG,” Remi terkekeh, “dia pacaran sama pelukis favoritku, itu lho, yang lukisannya saya pajang di foyer kantor.”

Tiba-tiba sesuatu menusuk hati Kugy. Lukisan itu. “Remi, kalau boleh tahu, siapa sih pelukisnya?” tanya Kugy tegang, “seingatku, cuma ada inisial KK di lukisan itu.”

“Namanya Keenan. Lukisannya semua tentang anak-anak. Bakatnya luar biasa. Saya penggemar fanatiknya,” Remi menjelaskan, lancar, tanpa beban. “Lukisan dia sempat menghilang dari peredaran hampir setahun. Orangnya juga nggak tahu di mana. Padahal dulu kami cukup sering ketemu. Tiba-tiba, minggu lalu saya ketemu dia, benar-benar nggak sengaja! Ternyata dia sudah pindah ke Jakarta. Saya sempat main ke kantornya sebentar. Dia bilang, baru-baru ini dia melukis lagi. Bahkan katanya mau pameran.”

Ada gempa yang mengguncang hatinya seketika. Pandangan Kugy berubah nanar. Rasanya dia hafal kisah itu. Lebih dari sekadar hafal … aku mengenalnya. Keenan. Luhde. Keenan dan Luhde. Selama ini ….

Remi mengamati perubahan air muka Kugy dan bingung sendiri. Kugy kelihatan tegang.

“Gy, sebetulnya, malam ini ada yang ingin saya sampaikan ke kamu.” Dengan hati-hati sekali, Remi berkata. Otot-otot muka Kugy masih tampak kaku, memelototinya tanpa suara. “Gy?” panggil Remi lembut, “kamu nggak pa-pa?”

Kugy menatap Remi, miris. Ia ingin berusaha mengatakan “tidak apa-apa” dengan nada sewajar mungkin. Ia ingin berusaha agar apa yang baru saja didengarnya dapat lewat tanpa bekas bagai semilir angin. Ia ingin berusaha malam ini kembali normal. Ia ingin itu semua. Namun, ia tidak sanggup.

Kugy ingat perasaan ini. Sama seperti ketika ia tahu soal Wanda dulu. Bedanya, kali ini ia begitu menyukai Luhde. Bahkan, jatuh sayang. Dan meski selama ini ia yakin bahwa hatinya sudah berubah, lagi-lagi ia harus menyadari dengan cara yang getir, bahwa hatinya belum berubah. Di hatinya, ternyata Keenan masih menjadi Pangeran, bertakhta dalam sebuah kastil impian yang masih berdiri tegak hingga detik ini.

Namun, kehadiran Luhde meruntuhkan segalanya bagi Kugy. Kastilnya hancur rata dengan bumi. Dan Kugy tak punya pilihan lagi. Mereka pasti sangat mencintai. Mereka pasti akan sangat bahagia berdua. Luhde seperti seorang malaikat.

“Sayang, kamu kenapa?” Suara Remi menggugahnya.

Dengan berat, Kugy terpaksa berkata, “Remi … maaf ya, aku ingin sendirian dulu malam ini. Aku nggak marah sama kamu, atau apa pun. Tapi, aku benar-benar butuh waktu sendiri dulu. Maaf sekali lagi, ya.”

Remi lama menatap Kugy. “Oke, kalau memang itu yang kamu butuhkan,” sahutnya lirih.

Tak lama kemudian, Remi pulang, berusaha berbesar hati. Pasti akan ada saatnya, ia membatin. Mungkin minggu besok … mungkin minggu depan … pasti ada saatnya.

 

43.

CINCIN DALAM KOTAK PERAK

Jakarta, Juni 2003 …

Keenan muncul di ruang tamu rumah Kugy lebih awal. Seperti biasa, Keshia yang mengkhususkan diri untuk membuka pintu. Sore itu, Keenan memakai kemeja linen putih lengan pendek dan jins biru. Cukupan untuk membuat Keshia kabur ke kamarnya dengan muka merah padam, dan di dalam sana ia jingkrak-jingkrak kegirangan sendirian.

Keenan tampak rileks sekaligus bersemangat. Hari ini ia janji membawa Kugy untuk menemui Pak Ginanjar, yang juga sama-sama sudah tidak sabar ingin bertemu Kugy. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, dalam minggu ini mereka bahkan sudah bisa menandatangani kontrak kerja sama untuk penerbitan dongeng serial Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.

Tak lama, Kugy keluar menemui Keenan. Wajahnya agak lebih pucat dari biasa.

“Hai, Nan,” sapanya, “kok, cepat amat datangnya? Bukannya baru jam tujuh kita janji sama Pak Ginanjar?”

“Saya pingin ngajak kamu makan es krim dulu,” cetus Keenan berseri-seri.

Kugy tersenyum samar, lalu mengangguk.

“Kamu baik-baik aja?”

Kugy kembali mengangguk, kembali melempar senyum. Segalanya harus terkendali, ia mencamkan dalam hati.

Sepanjang jalan, Kugy lebih banyak diam. Hanya Keenan yang aktif melempar berbagai topik obrolan, dan ia hanya menanggapi sekenanya. Sesampainya di parkiran restoran es krim favorit mereka di Kemang, beban di hatinya terasa kian menyesak. Ketika mereka melangkah keluar mobil, Kugy juga merasa langkah kakinya bertambah berat.

Mereka berdua lantas memasuki restoran, duduk di tepi jendela. Gerimis kecil turun di luar sana. Kugy membuang pandangannya ke jendela, mengamati hujan.

Keenan mengamati Kugy diam-diam. Sinar mata itu tampak sedang berlari dari sesuatu. Keenan menyadari sepenuhnya keganjilan yang berlangsung sejak tadi. “Kugy, kamu beneran nggak pa-pa?” tanyanya, memastikan sekali lagi.

“Beneran,” Kugy tersenyum cepat. Untungnya, ia terselamatkan oleh buku menu yang datang ke meja mereka.

“Pesanan seperti biasa?” tanya Keenan, yang dibalas anggukan bisu dari Kugy. Ia lalu memesan menu reguler mereka berdua. Sepiring besar waffle dengan empat macam es krim dan saus cokelat. Sepuluh menit kemudian, piring itu datang bersama dua sendok kecil dan dua gelas air putih.

Kugy mengambil sendok kecilnya dengan sedikit enggan. Perutnya mendadak kehilangan sensor lapar.

“Gy, ada apa, sih?” Keenan bertanya setelah hening meliputi mereka sekian lama.

“Kamu yang kenapa. Kok, nanya itu melulu dari tadi,” Kugy berusaha santai.

Keenan menatap kedua mata Kugy. “Kecil, kamu nggak pernah pintar bersandiwara.”

Kugy tersentak mendengar ucapan Keenan. Perlahan, ia meletakkan sendoknya. Lama Kugy menunduk. Berusaha menerjemahkan badai di batinnya ke dalam kata-kata. “Nan … boleh nggak aku minta istirahat menulis dulu?” akhirnya Kugy berkata.

“Menulis Jenderal Pilik maksud kamu?” sahut Keenan, “Boleh aja, Gy. Ini kan proyek kamu juga. Kamu sesuaikan saja dengan kenyamanan kamu. Saya bisa minta waktu yang lebih mundur ke Pak Ginanjar. Nggak masalah,” lanjut Keenan, “kamu butuh waktu berapa lama kira-kira? Seminggu?”

Kugy menatap Keenan, gelisah. “Sebulan?” pintanya.

Kening Keenan kontan berkerut. “Sebulan? Kamu yakin?”

Kugy menggeleng. “Mungkin lebih,” sahutnya lirih, “aku nggak tahu pasti.”

Keenan ikut meletakkan sendoknya. “Kugy Karmachameleon, kali ini kamu harus jujur. Ada masalah apa sebenarnya?”

Kerongkongan Kugy tercekat, seperti ada sebongkah durian menyumbat lehernya. “Aku …,” susah payah Kugy berkata, “aku … nggak mau ketemu kamu dulu untuk beberapa waktu. Ada beberapa hal yang harus aku bereskan …,” napasnya tertahan, “dengan diriku sendiri. Nanti kalau udah waktunya, kita pasti ketemu lagi.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.