Baca Novel Online

Perahu Kertas

Dan Remi memang menepati janjinya. Ia tiba tepat waktu. Terlongo-longo, ia memasuki ruangan kerja Keenan. “Ternyata, kamu benar-benar direktur,” celetuknya terkesima.

“Memang Mas sangka apa? Satpam?” Keenan tertawa kecil.

“Saya masih nggak habis pikir. Bukannya dulu kamu pernah bilang, kamu nggak suka dan nggak bakat bisnis?”

“Well, sampai sekarang sebetulnya juga masih gitu, kok,” Keenan tersenyum kecut, “ah, udah deh, ceritanya panjang.”

“Waktu saya juga masih sejam. Ayolah,” bujuk Remi.

Akhirnya Keenan menyerah, menceritakan semua. Dari mulai kisah Galeri Warsita sampai ayahnya yang jatuh sakit. Alhasil, Remi tambah terlongo-longo.

“Itu … cerita yang luar biasa. Saya sama sekali nggak nyangka,” Remi geleng-geleng, “selama di Bali, kamu kelihatannya nggak punya masalah apa-apa. Tapi sejujurnya, saya selalu merasa ada sesuatu yang istimewa dalam proses hidup kamu. Termasuk waktu kamu tahu-tahu lenyap dari peredaran. Saya yakin, sesuatu yang besar pasti terjadi.”

Lagi-lagi, Keenan tersenyum kecut. “Udah, deh. Ngomongin yang lain aja,” katanya sambil mengibaskan tangan, “lebih baik sekarang dengar cerita Mas Remi.”

Remi mengangkat bahu. “Hmm … nggak banyak yang bisa saya ceritakan, plus, sebentar lagi saya juga udah harus jalan.”

“Tentang pekerjaan, mungkin? Love life?” Keenan nyengir.

Mendadak, air muka Remi berubah. Berseri-seri. “Hmm, untuk yang terakhir kamu sebut barusan, sebetulnya saya punya cerita. Tepatnya, sebuah rencana. Dan saya belum pernah kasih tahu siapa-siapa soal ini. Termasuk yang bersangkutannya sendiri.”

“Wah, seru, nih,” Keenan terkekeh.

“Saya … lagi terpikir untuk tunangan. Atau, yah, melamar dulu.”

Alis Keenan mengangkat. “Wow! Selamat ya, Mas. Biarpun saya belum kenal orangnya. Yang pasti, dia cewek yang sangat beruntung. Kapan-kapan, kenalin, ya.”

“Sebetulnya, waktu saya ke Bali menemui Pak Wayan kemarin, dia ikut dengan saya ke Ubud. Tapi sayangnya nggak ikut mampir ke galeri gara-gara dia mau memotret di pura. Kamu … wah … kamu juga pasti cocok sama dia. Dia sangat menyenangkan, cerdas, pokoknya …,” Remi sampai harus mengatur napasnya, “dia sangat istimewa buat saya.”

Keenan tersenyum lebar. “Saya percaya, Mas. You must be so in love.”

“I am,” Remi tersenyum lebar, “belum pernah merasa seperti ini. Seumur hidup saya.”

“Dan, sepanjang hidup saya, nggak akan saya lupakan bantuan Mas Remi dulu. Kalau bukan karena Mas Remi tertarik sama lukisan Jenderal Pilik saya yang pertama, mungkin saya sudah berhenti melukis. Jadi, kalau Mas Remi butuh bantuan apa pun, soal rencana besar itu, atau apa pun, kasih tahu, ya. Siapa tahu saya bisa bantu,” ucap Keenan sungguh-sungguh.

“Keenan, kamu nggak berutang apa pun. Justru satu kehormatan bisa punya karya pertama kamu,” ujar Remi seraya merangkul hangat bahu Keenan. Tak lama kemudian, dua orang itu berpisah. Tanpa tahu betapa besar persamaan di antara mereka berdua.

 

Ubud, Mei 2003 …

Luhde menyandarkan kepalanya di dinding, memandangi pamannya yang duduk memunggunginya. Sudah beberapa hari ini pamannya giat melukis. Mungkin karena baterainya sempat terisi dengan kedatangan Keenan beberapa waktu lalu. Sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur. Hatinya resah. Nyaris tidak pernah tenang. Dan, sama seperti pamannya, itu pun disebabkan kedatangan Keenan.

“Poyan ….”

“Ada apa, De?”

“Bagaimana kita bisa tahu kapan waktunya untuk menyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?”

Mendengar pertanyaan Luhde, Pak Wayan berbalik. “Poyan juga tidak pernah tahu,” jawabnya lugas.

“Dulu, Poyan memutuskan untuk menyerah. Membiarkan meme-nya Keenan memilih orang lain. Kapan Poyan merasa bahwa itulah keputusan yang tepat?”

“De, sejujurnya, apakah itu menyerah, atau justru bertahan … Poyan tidak pernah tahu. Bahkan sampai hari ini. Apakah ini menyerah namanya? Barangkali betul begitu. Tapi dalam apa yang disebut menyerah, Poyan terus bertahan. Poyan tidak tahu. Tapi hidup yang tahu.”

Luhde menggigit bibirnya. Ia ingin mengucapkan sesuatu, sekaligus gentar dengan reaksi pamannya nanti. Namun, desakan itu sangat kuat. “Poyan … jangan marah kalau saya ngomong begini, tapi … saya nggak mau jadi seperti Poyan. Atau seperti meme-nya Keenan. Sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, saya masih terus-terusan memikirkan orang yang sama. Bingung di antara penyesalan dan penerimaan.”

Wayan terdiam mendengar luncuran kalimat dari mulut keponakannya. Ia seperti dicekoki segenggam pil pahit sekaligus. Getir, pedih, tapi ia merasakan kebenaran dalam kata-kata Luhde. “Kamu benar. Jangan jadi seperti Poyan,” ujarnya lirih.

“Tapi, bagaimana saya bisa memutuskan itu?” ratap Luhde.

“De, Poyan percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. Kamu tinggal merasakan saja,” Wayan berkata lembut, “rasakan saja, De. Kamu pasti tahu jawabannya. Begitu juga dengan dia. Tidak ada yang bisa memaksakan, apakah Keenan memang untuk kamu atau … untuk orang lain.”

Jantung Luhde serasa berhenti berdegup. Poyan sudah tahu.

“Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji, atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apa pun, oleh siapa pun.”

Luhde menunduk. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Ia memahami apa yang diucapkan pamannya. Yang belum ia pahami adalah, mengapa harus sesakit ini rasanya?

 

Jakarta, Mei 2003 …

Seperti biasanya, hampir setiap malam Minggu, ia menginjakkan kaki di teras rumah ini. Namun, malam ini terasa lain. Remi menyempatkan diri untuk sejenak menatap langit-langit, kursi, meja, ubin, semua yang ada di teras itu. Karena malam ini mungkin akan menjadi malam yang bersejarah, dan teras ini menjadi saksinya. Badannya tiba-tiba menggigil sejenak. Dan saat Kugy keluar dengan tawa cerianya, mendadak perut Remi terasa mulas.

“Hai, Sayang,” sapa Kugy, tangannya menggenggam setumpuk foto, “kita mau jalan-jalan ke mana malam ini?”

“Belum tahu,” kata Remi, setelah menelan ludah berkali-kali, “rasanya sih, saya lagi agak malas ke mana-mana. Tapi, kita lihat nanti ya. Kalau cuma di sini, nggak pa-pa juga, kan?”

“Nggak masalah,” sahut Kugy ringan. “Aku mau kasih lihat foto-fotoku di Bali. Lumayan lho hasilnya,” lanjutnya sambil cengengesan.

Dengan semangat, Kugy memperlihatkan hasil karyanya satu per satu. Remi mengamati sambil mengomentari, “Oh, iya … bagus, hmm, yang ini juga bagus ….” Namun, pikirannya tidak melekat pada foto Kugy barang satu pun. Remi sibuk bertanya-tanya dalam hati. Apakah sekarang saat yang tepat? Ya. Harus sekarang. Atau minggu depan? Jangan. Tapi, siapa tahu lebih baik. Mungkin bukan di rumahnya. Di tempat lain. Di mana? Kapan? Malam ini?

“Nah! Yang ini masterpiece-nya!” Tiba-tiba Kugy menahan sejumlah foto.

Remi terkagetkan dari lamunannya.

“Eng-ing-eng ….” Kugy menjajarkan foto-foto itu.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.