Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kugy memang tak pernah berubah. Bahkan sejak pertama kali mereka bertemu, saat ia dijemput di stasiun kereta. Lima tahun silam. Keenan tak pernah lupa saat itu. Setelah sekian lama, ia menyadari bahwa ia sudah menyukai Kugy sejak perjumpaan mereka yang pertama. Kugy yang unik. Ia seolah-olah mencuat dari lautan banyak orang, di mana pun ia berada.

“Aku pesan …” Kugy berpikir keras, lama, “hmm. Gini, deh. Apa pun yang kamu pesan, kalikan dua.”

“Strategi bagus,” Keenan nyengir.

Seusai memesan, Keenan lantas memberikan cangkir berisi ocha panas ke tangan Kugy. “Saya sengaja bawa kamu ke sini, karena rasanya kita layak merayakan sesuatu.”

“Dan … apakah itu?” Kugy menggosokkan kedua tangannya, bersemangat.

“Kita sudah punya penerbit … dan pameran sekaligus.”

Kugy terlonjak dari tempat duduknya. “Kamu … kamu nggak bo’ongin aku, kan?”

Keenan menebarkan pandangannya ke sekeliling restoran, “Saya ngajak ke sini cuma buat ngebo’ongin kamu doang? Come on.”

Kugy menutupkan tangannya ke muka, menjerit dalam bekapan telapaknya. “Gilaaaa … aku nggak percaya! Naaan! This is a dream come true!”

“It is, Gy. Mimpi kita berdua jadi kenyataan.” Keenan tersenyum sambil menghela napasnya. “Orang yang saya temui namanya Pak Ginanjar, dia salah satu pembeli awal lukisan saya. Selain punya penerbitan, dia juga kolektor lukisan, bahkan punya saham di beberapa galeri. Pak Ginanjar tertarik banget waktu tahu saya melukis serial Jenderal Pilik lagi, tapi … yang membuat dia mati-matian tertarik dengan proyek ini adalah ketika tahu bahwa kamu, pencipta dan penulis serial Jenderal Pilik dan Pasukan Alit, akan berkolaborasi langsung dengan saya. Saya sempat kasih lihat juga foto-foto lukisan Jenderal Pilik yang baru dan sebagian naskah kamu. Pak Ginanjar punya ide untuk bikin dua macam buku. Yang satu untuk konsumsi umum, formatnya seperti buku cerita biasa, ilustrasinya akan dibuat lebih ringan—mungkin saya akan coba pakai cat air. Nah, yang satu lagi formatnya buku seni, bentuknya coffee table book, yang isinya adalah cerita kamu plus lukisan saya dari awal sampai yang terbaru. Rangkaian pameran bakal dibuat untuk mempromosikan buku ini. Dan, Gy, ini akan menjadi pameran tunggal saya yang pertama ….”

“Dan peluncuran bukuku yang pertama,” Kugy berkata, tercekat.

“No,” Keenan menggeleng, “dua buku sekaligus, remember? Dua buku kamu akan diluncurkan berbarengan.”

Kugy gantian menghela napas panjang. Semua ini rasanya sukar dipercaya. Terlalu indah untuk dipercaya.

“Minggu depan, Pak Ginanjar ingin ketemu kamu. Kita nanti pergi barengan, ya?” lalu Keenan mengangkat cangkir ocha-nya, “cheers, Gy. Untuk Pilik.”

“Untuk Pilik,” Kugy tersenyum hangat, “dan … untuk kita.”

“Untuk kita.”

 

42.

KASTIL YANG MASIH BERDIRI TEGAK

Remi melirik jam tangannya. Sudah lewat lima menit dari janji pertemuannya. Tak biasanya ia terlambat. Apalagi ini hari Minggu. Ia tidak punya alasan kuat untuk muncul tidak tepat waktu. Namun, perjalanannya menuju hotel ini sempat terhambat karena ada keramaian lalu lintas tak terduga akibat parkiran mobil yang berbondong-bondong ke pameran besar dekat sana.

Ia membuka pesan di ponselnya, memastikan sekali lagi lokasi meeting-nya. “Oke … coffee shop …,” gumamnya sendirian. Dan pintu lift membuka. Remi bergegas melangkah keluar. Bertubrukan dengan seseorang yang mau masuk ke lift.

“Sori …,” katanya cepat, nyaris berbarengan dengan pria yang ditubruknya, yang sama-sama juga mengucap maaf.

“Mas Remi?”

Remi yang sedari tadi menunduk, sontak mendongak mendengar namanya dipanggil. Terkesiap bukan kepalang ketika mengenali pria di hadapannya. “Keenan?” Ia bertanya, ragu.

“Apa kabar, Mas? Saya benar-benar nggak nyangka bisa ketemu di sini …,” Keenan menjabat tangan Remi erat-erat.

Remi masih bengong. Tak lama, ia merangkul Keenan. “Saya yang lebih nggak nyangka lagi … hampir setahun saya cari kamu. Kamu—kok, bisa di sini?”

“Saya sekarang tinggal di Jakarta, Mas. Sejak akhir tahun kemarin.”

“Masih melukis?”

Keenan tertawa lebar. “Baru mulai lagi,” jawabnya sumringah.

Remi langsung menepuk bahunya. “Bagus! Bagus! Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya mau lihat-lihat, dong.”

“Boleh, Mas. Sekarang ini saya malah mau mempersiapkan pameran, dibantu oleh Pak Ginanjar.”

“Wah, curang kamu. Kok, Pak Ginanjar duluan yang dikontak. Lupa ya sama pembeli pertama?” seloroh Remi.

“Nggak mungkin lupalah, Mas,” Keenan terkekeh, “tapi saya harus cari waktu yang tepat untuk ketemu Mas Remi. Sebetulnya, sejak minggu lalu, waktu Pak Wayan kasih tahu kalau Mas Remi datang ke galeri, saya sudah kepingin sekali mengontak. Tapi begitu sampai di Jakarta, masih banyak banget kerjaan, jadi saya tunda.”

“Kamu kerja apa di sini?”

“Saya sedang bantu ayah saya, Mas. Beliau lagi sakit. Dan sekarang saya menjalankan perusahaannya. Trading company.”

Remi melongo untuk yang kedua kali. “Kamu … di perusahaan trading?”

“Nggak ada pantes-pantesnya, ya, Mas?” Keenan nyengir. “Yah, mudah-mudahan cuma sementara. Ayah saya sudah mulai membaik, kok. Tapi masih belum tahu berapa lama lagi saya harus terus kerja di kantor,” jelas Keenan lagi.

“Keenan, kita harus janji ketemuan, nggak bisa nggak,” kata Remi tegas. “Setelah berbulan-bulan nungguin kabar kamu, setidaknya saya berhak untuk satu kali ngopi bareng.”

“Pasti, Mas,” kata Keenan, “tapi kartu nama saya ketinggalan. Bareng dompetnya. Makanya sekarang saya mau ke mobil dulu untuk ngambil. Dicatat di HP aja, ya.” Keenan lantas mengejakan nomor telepon selulernya.

“No problem, kartu nama saya juga habis, ini nomor saya, ya.” Remi gantian menyebutkan nomornya.

“Lagi ada acara di sini, Mas?”

“Saya ada meeting di coffee shop. Kamu?”

“Saya sedang dinner dengan teman saya.”

“Oke. Saya tunggu kabar dari kamu, ya? Minggu ini?”

“Boleh. Dalam minggu ini.” Keenan mengangguk mantap.

Lift itu lalu kembali menutup. Di dalamnya, Keenan geleng-geleng kepala. Takjub sendiri. Sekian lama berusaha menutupi jejak, malam ini ia harus bertemu dengan Remi dengan cara yang sama sekali tidak diduga. Barangkali memang sudah waktunya, pikir Keenan.

Sementara itu, dalam perjalanannya menuju coffee shop, pikiran Remi masih terpaku pada pertemuannya dengan Keenan tadi. Masih sulit memercayai apa yang terjadi. Hidup dengan tak tertebaknya mengantarkan Keenan begitu saja di depan mukanya pada suatu malam, padahal sekian lama sudah ia mencari Keenan dengan segala macam cara. Tidak ada yang kebetulan, pikir Remi, terlepas dari kesanggupan dirinya memahami makna besar di balik pertemuan itu.

Remi tidak main-main dengan niatnya. Ia menelepon Keenan, antusias ingin bertemu.

“Nanti sore kebetulan saya akan pergi ke daerah kantor kamu, kalau kamu ada waktu kosong, saya ingin mampir sekitar sejam, bisa?”

“Oke, Mas. Nanti kalau udah dekat kantor, telepon aja. Saya nggak ke mana-mana, kok,” jawab Keenan.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.