Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Luhde Laksmi,” gumam Kugy membaca kertas yang diberikan Luhde. “Nama kamu cantik sekali. Pas dengan orangnya.”

“Kugy perempuan tercantik yang pernah saya lihat,” balas Luhde, tulus.

“Makasiiih …,” Kugy tertawa lepas, “ngomong-ngomong, mata kamu normal, kan?”

Luhde hanya tersenyum dan mengangguk, perlahan mendekapkan carikan kertas dari Kugy ke dadanya.

Tiba-tiba tampak sebuah mobil berhenti di seberang jalan. Suara klakson berbunyi pendek satu kali. Kugy segera bangkit berdiri, mengemasi ransel dan kameranya. “Saya udah dijemput. Kamu di sini aja. Biar saya nyeberang ke depan. Sampai ketemu lagi, ya. Jangan lupa hubungi saya kalau ada apa-apa. Saya senang sekali kenalan dengan kamu hari ini,” Kugy lalu merangkul Luhde.

“Saya juga sangat senang. Sampai ketemu lagi,” ucap Luhde. Tubuhnya kaku. “Terima kasih, ya, Kugy.”

Kugy tertawa kecil. “Terima kasih apa? Saya belum kasih apa-apa sama kamu. Justru saya yang harus terima kasih sama kamu. Udah mau saya foto.”

Luhde tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya tangannya kian erat menggenggam carikan kertas itu. Tanpa berkedip, dipandanginya dari jauh Kugy yang melambaikan tangan, menyeberangi jalan, lalu masuk ke dalam mobil yang langsung melaju itu.

Luhde lalu berjalan ke depan. Memandangi punggung mobil itu hingga menghilang. Dan tetap ia berdiri di tempatnya, menatap ke arah yang sama, walau yang dilihatnya kini tinggal debu jalanan saja. Luhde ingin berlari rasanya, entah ke mana.

Begitu melihat tulisan tangan tadi, Luhde langsung tahu siapa yang ia hadapi. Tak mungkin salah lagi. Bagaimana bisa ia tidak hafal tulisan tangan itu, bertahun-tahun ia membacanya, meresapi berlembar-lembar cerita yang dituliskan oleh tangan yang sama dalam sebuah buku tulis usang. Bagaimana bisa ia tidak hafal. Keenan selalu membawa buku itu ke mana-mana, menjadikannya bintang inspirasi selama karier melukisnya yang cemerlang di Ubud. Keenan melukis dengan penuh cinta, dengan hati dan nyawa.

Kugy tidak akan menyangka betapa dalam rasa terima kasihnya tadi. Luhde berterima kasih atas pertemuan mereka, berterima kasih atas kesempatan melihat sosok itu secara langsung. Luhde bersyukur karena kini ia tahu apa yang menjadi alasan Keenan bisa menjangkarkan hatinya begitu dalam. Dan, meski dengan susah payah, Luhde berusaha mensyukuri kepedihan yang menyayat hatinya sekarang. Detik ini.

Luhde berbalik. Kembali ke pura. Kembali bersembahyang. Dan kali ini ia tak menahan apa-apa. Kekuatannya lenyap. Tak sebutir air mata pun sanggup ia bendung. Dan Luhde memutuskan untuk membiarkan segalanya mengalir. Apa adanya.

Hari terakhirnya di Ubud. Sore nanti, Keenan sudah harus terbang kembali ke Jakarta. Begitu selesai berkemas, ia keliling-keliling mencari Luhde. Di mana-mana Luhde tidak kelihatan.

Keenan bisa merasakan, Luhde menghindarinya sejak kemarin. Ia kelihatan lebih pendiam, seperti memendam sesuatu. Setelah mencari ke sana kemari, Keenan menemukannya mengurung diri di kamar. Lama Keenan mengetuk-ngetuk pintu, hingga akhirnya pintu itu dibukakan.

“De, kamu kenapa? Sakit?”

Luhde menggeleng.

“Jadi?”

Luhde cuma diam.

“Beberapa jam lagi saya udah harus ke airport. Kalau kamu punya unek-unek, sampaikan sekarang. Jangan malah aksi bisu gitu. Saya nggak tenang pergi dari sini. Nanti … kamu ikut ke airport, kan?”

Luhde menggeleng lagi. “Lebih baik saya nggak ikut mengantar,” gumamnya.

“Kamu kenapa, sih? Kamu marah? Kesal sama saya? Bilang, dong,” bujuk Keenan. Namun, Luhde malah tersenyum padanya. Senyuman yang asing. Keenan belum pernah melihat ekspresi semacam itu di wajah Luhde. Begitu berjarak.

“Saya nggak mungkin begini terus,” ucap Luhde separuh berbisik, “melepas kepergian kamu, tanpa tahu kapan kamu akan kembali, dan apakah kamu mau kembali ….,”

“Luhde, ngomong apa sih kamu?” protes Keenan.

“Keenan tidak harus kembali lagi kalau memang tidak mau. Jangan terbeban oleh janji Keenan pada saya.”

“De, selama ini kita bertahan karena kita saling percaya. Apa jadinya kalau kamu sendiri mulai ragu-ragu seperti ini. Kamu nggak percaya lagi sama saya?” tanya Keenan, mulai gusar.

Luhde tergagap. “Saya percaya kamu akan selalu berusaha menepati janji kamu … tapi, sampai kapan Keenan bisa bertahan begitu terus?”

“Kamu kayak nggak kenal saya,” Keenan berkata putus asa, “kalau kamu percaya sama saya, berarti kamu juga harus percaya bahwa janji itu bisa bertahan. Tolong, bantu saya. Saya nggak akan kuat kalau hanya berusaha sendirian,” pinta Keenan lagi.

Luhde tampak tercekat. Badannya gemetar halus, menahan sesuatu. Justru aku ingin membantumu.

“De, jangan nangis,” bisik Keenan lembut.

Tiba-tiba gadis itu menghambur, memeluk Keenan erat. “Saya memang egois, saya tidak mau kehilangan kamu. Tidak mau …,” tangisnya pilu.

Keenan tetap tidak mengerti apa yang membuat Luhde begitu galau. Namun, ia tak ingin mempersoalkannya lagi. Ia hanya ingin menghibur dan menenangkan Luhde. Sementara kata-kata yang sama terus berulang dari mulut Luhde, mengisi segala ruang yang ada di antara mereka, di kamar itu: “Saya tidak mau kehilangan kamu ….”

 

Jakarta, Mei 2003 …

Minggu Malam. Saatnya Keenan menjemput naskah Jenderal Pilik yang sempat tertunda. Namun, malam ini, ia sekaligus menjemput Kugy untuk pergi makan malam.

“Dari baju kamu, kok, mencurigakan, sih? Memangnya kita mau makan di mana?” tanya Kugy melihat Keenan yang muncul dengan sweater turtle neck hitam. Rambut Keenan yang sudah agak panjang masih terlihat basah. Ia tampak begitu segar dan … tampan. Terdengar sayup-sayup Keshia yang menjerit histeris. Sedari tadi anak satu itu sudah nongkrong untuk mengintip kedatangan Keenan.

“Yang jelas bukan di warung Indomie,” kata Keenan kalem.

“Ganti baju bentar, ya. Jangan sampai salah kostum, nih,” Kugy menatap dirinya sendiri yang hanya memakai kaus oblong dan jins.

“Hidup Darwin! Sekali lagi, ternyata evolusi itu memang ada! Tumben-tumben seorang Kugy Karmachameleon mengenal konsep ‘salah kostum’,” komentar Keenan geli.

Kugy langsung manyun. “Sayang Karel udah tinggal di rumahnya sendiri sekarang. Jadi jaketnya nggak ada yang bisa dibajak,” ujarnya sambil ngeloyor pergi, “kasih tahu tuh sama Darwin, sementok itulah evolusiku, tauk.”

Keenan memilih sebuah restoran Jepang terkenal di Hotel Mulia. Kugy langsung pucat. “Nan, kamu yang bener aja! Ini sih langit sama sumur bedanya dengan warung Indomie!” omelnya.

“Kamu, tuh. Udah pernah mengunjungi hotel bintang sejuta, tapi masih minder ngelihat tempat beginian doang,” sahut Keenan ringan.

“Awas kalo nggak bawa duit cukupan, ya,” kata Kugy was-was.

“Dasar mental Pemadam Kelaparan.”

Mereka berdua mendapat tempat duduk di dekat jendela. Dari balik buku menu Keenan melirik dan bertanya, “Gy, ngerti nggak mau pesan apa? Atau mau saya yang—” Mulutnya tiba-tiba terkunci. Apa yang ia lihat membekukan segalanya. Kugy, tengah asyik membaca menu, setengah menunduk, dan bagaimana penerangan di restoran itu menyentuh wajahnya membuat ia kelihatan amat cantik. Bibirnya merah tanpa pulasan lipstik, alisnya hitam seperti arang, matanya berkilau, dan semuanya itu seperti dilukis di atas kulit pucatnya yang jernih dalam remang sinar lampu. Sementara jemarinya yang mungil asyik bermain-main dengan ujung rambutnya yang sehalus rambut bayi itu.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.