Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Tahun ini pekerjaan di kantor banyak sekali, Pak. Kebetulan aja kantor saya lagi outing ke Bali, jadi saya bisa kabur sebentar mampir ke Ubud, sekalian lihat-lihat.”

“Mari, mari. Masuk dulu,” ajak Pak Wayan segera. “Eh, kamu sendirian kemari?”

“Berdua, Pak. Tapi teman saya mau jalan-jalan sendiri sambil foto-foto. Kalau rombongan yang lain sekarang sedang di Kuta,” jelas Remi seraya melangkah masuk ke dalam galeri.

Mereka lalu berjalan bersama mengitari galeri itu, sembari Pak Wayan menerangkan satu demi satu lukisan yang terpampang. Usai melihat semua, Remi pun bertanya, “Lukisan Keenan belum ada lagi, Pak?”

Pak Wayan menghela napas. Remi belum menyerah juga, pikirnya. “Belum ada,” jawabnya singkat.

“Sebenarnya dia menghilang ke mana sih, Pak?”

“Keenan … hmmm … dia …,” Pak Wayan tampak ragu-ragu, “dia ada urusan keluarga yang sangat mendesak akhir tahun kemarin, dan harus kembali ke rumahnya. Dulu dia pernah berpesan agar saya tidak memberi tahu siapa pun tentang kepergiannya. Jadi, saya minta maaf, Remi. Ini masalah janji.”

Remi menatap lelaki itu lekat. “Pak, saya menghargai janji Bapak. Tapi, bagi saya, Keenan bukan sekadar pelukis yang lukisannya saya beli, dia sudah saya anggap adik saya sendiri. Saya heran, kok dia menghilang begitu saja, dan berhenti berkarya. Sudah lama sekali sejak terakhir karya dia dijual di sini. Hampir setahun dia berhenti melukis.”

“Ya, sudah. Begini saja. Saya akan minta izin dulu untuk memberi tahu nomor kontaknya ke kamu. Kalau dia setuju, saya akan menghubungi kamu secepatnya,” akhirnya Pak Wayan berkata. Tergugah melihat kesungguhan Remi.

“Terima kasih, Pak. Saya sangat menunggu kabar tentang Keenan,” kata Remi lagi.

Sudah berbulan-bulan Wayan menutupi kabar tentang Keenan dari semua kolektor yang menghubunginya. Namun, Remigius memang berbeda. Dalam hatinya, Wayan tidak nyaman dengan semua ini, ditambah dengan kenyataan bahwa sekarang Keenan juga ada di Bali. Ia berharap Remi dan Keenan dapat bertemu kembali, entah bagaimana caranya.

 

41.

BUKU DAN PAMERAN

Ubud, Mei 2003 …

Entah mengapa, intuisinya terusik ketika melihat pura ini di perjalanan tadi. Sebuah pura yang kecil dan sepi, terletak persis di tepi jalan. Tidak ada yang istimewa jika diamati sekilas pintas. Namun, Kugy merasa harus berhenti di sana, membiarkan Remi pergi ke galeri langganannya sendirian. Dengan kamera pinjaman yang bergantung di leher, Kugy mulai mencari-cari sudut-sudut menarik yang bisa menjadi objeknya. Gayanya sudah seperti fotografer profesional. Menyadari kemampuannya yang minus dalam menggambar, belakangan ini Kugy mulai terpikir untuk mengompensasinya dengan bentuk lain, yakni fotografi.

Tiba-tiba lensanya berhenti pada satu objek. Saking indahnya, sejenak Kugy tak bisa bereaksi apa-apa selain melongo. Seorang gadis Bali tengah bersimpuh sambil menata sesajen yang dibawanya. Gadis itu lalu menyalakan dupa, mengambil sepucuk bunga, dan mengayunkannya pelan di udara dengan penuh perasaan. Seperti seorang penari. Matanya terkatup, mulutnya merapalkan sesuatu. Ia tengah berdoa. Ada perasaan haru yang menyerbunya ketika melihat pemandangan itu. Wajah ayu gadis itu tampak begitu tulus. Bagaikan sebuah simbol hidup pengorbanan dan pengabdian. Kugy belum pernah melihat sesuatu yang sebegitu menggugah.

Ia baru tersadar ketika gadis itu mulai membuka mata. Cepat-cepat Kugy membidik kameranya, memotretnya, berkali-kali, tak mau kehilangan satu momen pun.

Seperti tahu sedang diamati, gadis itu menoleh. Mendapatkan Kugy yang sedang berlutut tak jauh dari situ. Buru-buru ia berdiri, bergegas pergi.

“Hei, Mbak! Jangan pergi dulu!” Kugy segera mengejarnya. Langkah gadis itu menyurut. “Maaf ya, saya nggak permisi dulu. Cuma iseng, kok. Saya lagi belajar motret. Maaf sekali lagi, ya,” ucap Kugy sungguh-sungguh. Ia lantas mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah. “Kenalkan, saya Kugy, dari Jakarta.”

Gadis itu ikut tersenyum seraya menyambut uluran tangan Kugy. Malu-malu. “Nama saya Luhde,” ucapnya pelan.

Hati Kugy terlonjak mendengar nama itu. “Luhde? Kebetulan, saya punya teman yang nama pacarnya Luhde lho,” kelakarnya.

“Orang Bali yang namanya Luhde kan banyak. Bukan saya saja,” sahut Luhde sambil tertawa kecil.

“Oh, gitu, ya,” timpal Kugy polos, “kamu tinggal di desa ini?”

Luhde mengangguk. “Saya tinggal dengan keluarga paman saya. Aslinya saya dari Kintamani. Kalau Mbaknya menginap di Ubud, atau singgah saja?”

“Saya menginap di Sanur. Ramai-ramai dengan satu kantor. Sekarang sih hanya singgah sebentar saja. Nanti malam ada acara lagi di Jimbaran,” jelas Kugy, “tapi, jangan panggil ‘Mbak’, dong. Kugy aja.”

“Kugy?” Dengan canggung, Luhde mencoba.

“Nah, gitu,” Kugy tergelak, “kamu lucu banget, sih.”

Luhde ikut tertawa. Tak lama, kedua perempuan itu duduk bersama di pelataran pura. Mengobrol ini-itu dengan luwesnya, seperti dua teman lama. Luhde terkesan dengan Kugy yang begitu ceria, menyenangkan, pintar, dan mandiri. Semua kualitas yang ia dambakan. Sebaliknya, Kugy tersentuh dengan kehalusan, kecerdasan, dan kedewasaan Luhde. Ia tak menyangka gadis yang terlihat lugu itu mempunyai pemikiran yang bijak dan mendalam, perasaannya halus sekaligus tajam, dan Luhde punya banyak keinginan untuk maju.

Keduanya makin antusias ketika tahu bahwa mereka berbagi hobi yang sama, yakni menulis.

“Kugy sedang membuat buku cerita? Wah, hebat sekali,” mata Luhde berbinar-binar, “kapan diterbitkan?”

“Masih belum tahu kapan. Tapi mudah-mudahan sudah ada kabar minggu depan. Yah, semoga aja gol. Ini cita-cita saya dari kecil,” jawab Kugy bersemangat.

“Saya juga punya cita-cita sama dari kecil. Tapi saya tidak tahu karya saya mau diapakan, mau dikemanakan, mungkin hanya akan saya simpan sendiri,” sahut Luhde lirih.

“Kamu menulis apa? Fiksi juga?”

“Saya juga lagi senang bikin cerita anak-anak. Saya ingin mengangkat hikayat kuno Bali, tapi dikemas lagi dalam kisah kanak-kanak. Banyak hal baik dari kebudayaan Bali yang bisa diangkat. Bukan cuma melayani turis. Tapi sepertinya orang-orang tidak tertarik untuk tahu,” Luhde menjelaskan.

Kugy menggeleng. “Kita nggak pernah tahu kalau nggak dicoba. Kamu jangan berhenti nulis,” lalu Kugy merogoh ranselnya, mengeluarkan pulpen dan secarik kertas. Kugy lantas menuliskan alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail. “Luhde, kalau ada sesuatu yang ingin kamu kirimkan, cerita-cerita kamu atau apa saja, tolong jangan segan-segan untuk mengirimkannya ke saya. Atau kalau kamu suatu hari berencana ke Jakarta, jangan lupa mampir. Ini, supaya kamu nggak nyasar, saya juga tuliskan patokan jalannya sekalian, ya,” dengan serius Kugy menuliskan semuanya dengan lengkap.

Luhde terpana melihat tangan Kugy yang menari-nari di atas kertas. Ia menahan napas melihat tulisan itu. “Lengkap sekali. Kugy sangat baik. Terima kasih banyak,” katanya dengan suara bergetar.

“Nanti, kalau buku saya benar-benar jadi terbit, kamu akan saya kirimkan satu kopi. Mau?”

“Mau! Betul, ya. Jangan sampai lupa,” pinta Luhde penuh harap. Ia lalu gantian menuliskan alamatnya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.