Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kugy tiba-tiba merasa dadanya sesak. Suara Keenan terdengar begitu jauh sekarang, seolah terpisahkan banyak sekat. “Oke, minggu depan juga nggak apa-apa. Tapi, kalau boleh tahu, kenapa kamu nggak bisa datang malam ini? Ada urusan?”

“Saya ada tamu dari Bali,” Keenan berkata, canggung, “pacar saya yang dari Ubud.”

“Oooh …,” gumam Kugy panjang. Sama sekali tidak menyangka. Matanya terpejam sebentar, mencari kekuatan. “No problemo!” dalam hati Kugy bangga dengan nada suaranya yang terdengar wajar, “tapi, berarti kita agak mulur, ya. Soalnya, minggu depan malah aku yang pergi.”

“Oh, ya? Ke mana?”

“Ada acara outing bareng kantor, ke Bali.”

Bali? Keenan menelan ludah. “Nggak masalah, Gy,” kata Keenan dengan nada serileks mungkin, “mungkin sesudah kamu pulang, saya bisa kasih kamu kabar baik.”

Otot Kugy menegang. Kabar baik, katanya? Kugy menjerit dalam hati. Jangan-jangan ….

“Saya berhasil menghubungi salah satu kolektor lukisan saya yang punya penerbitan buku. Dia sangat tertarik waktu saya kasih tahu soal proyek kita. Dan dia fans berat Jenderal Pilik sejak lama. Kalau memang ternyata dia tertarik menerbitkan, berarti kita makin dekat lagi dengan impian kita punya karya bareng,” Keenan menerangkan dengan semangat.

Senyum lebar seketika menghiasi wajah Kugy. “Nan, andaikan aku mercon, sekarang aku udah meledak, nih.”

“Untung bukan,” Keenan terkekeh, “kalo kamu hancur berantakan, proyek ini juga bubar jalan.”

Kugy ikut tertawa. “Ya udah, deh. Sampai ketemu dua minggu lagi, berarti. Salam buat …?”

“Luhde.”

“Ya. Salam buat Luhde,” Kugy mengulang.

“Oke. Dah, Kecil.”

“Dah.” Kugy menutup telepon rumahnya pelan-pelan. Ia tahu, ia bahagia bukan main mendengar kabar dari Keenan tentang kemungkinan serialnya diterbitkan menjadi buku. Namun, pada saat yang bersamaan, percakapan tadi juga membuatnya sedih. Lagi-lagi, Kugy merasa tertampar oleh kenyataan. Seakan hidup terus-terusan ingin mengingatkannya bahwa ada sekat antara mereka berdua yang tak ditembus. Dan ia hanya bisa menerima dan mengikhlaskannya. Hati mereka telah memilih.

Di gazebo taman rumah Keenan, mereka duduk berdua. Menikmati tiupan angin malam Jakarta yang hawanya sedang suam-suam.

“Kamu kepanasan, ya,” ujar Keenan sambil menyeka butir keringat di pelipis Luhde. “Angin di sini nggak seperti di Ubud.”

“Memang nggak. Tapi rasanya malah lebih enak,” ucapnya sambil melirik Keenan malu-malu, “soalnya bisa dekat dengan kamu.”

“Saya merasa bersalah sama kamu.”

“Kenapa?” Luhde bertanya heran.

“De, saya di sini ngantor, bahkan sampai hari Sabtu. Nggak seperti di Ubud. Kita bisa bareng terus seharian. Kamu udah hampir tiga hari di Jakarta, belum satu kali pun saya sempat ngajak kamu jalan-jalan. Kamu cuma nungguin saya pulang kantor setiap hari.”

“Sama sekali saya nggak keberatan,” sela Luhde, “saya senang di sini. Bisa bantu meme-nya Keenan. Jeroen juga baik. Saya sering diajak jalan-jalan di sekitar sini. Dan, biar hanya tiga-empat jam sehari saya bisa ketemu Keenan, sudah lebih dari cukup. Keenan jangan merasa bersalah. Saya yang datang mendadak, di hari kerja, jadi memang sudah risiko saya.”

“Luhde, Luhde ….” Keenan geleng-geleng kepala seraya mengelus-elus rambut Luhde yang tergerai. “Saya masih nggak habis pikir, kamu kok bisa nekat ke Jakarta sendirian. Gimana kalau Poyan tahu?”

“Saya akan pulang sebelum Poyan kembali dari Lombok,” sahut Luhde cepat.

“Kapan Poyan pulang?”

“Tiga hari lagi. Lusa saya pulang, pakai bus, jadi sebelum Poyan sampai—”

“Lusa kamu pulang. Tapi tidak boleh lagi pakai bus,” potong Keenan tegas.

Luhde menatap cemas. Bagaimana mungkin, uangnya bahkan tak cukup untuk naik bus yang nyaman.

“Kamu akan saya antar. Kita ke Bali pakai pesawat,” Keenan melanjutkan.

Mata Luhde membundar. “Keenan—akan ikut ke Bali?”

Keenan tertawa kecil sambil mengangkat bahu. “Daripada kita di Jakarta berhari-hari dan cuma punya waktu bareng tiga-empat jam, lebih baik saya yang ke Bali. Biar saya di sana cuma sebentar, tapi kita akan punya waktu seharian. Saya janji, nggak akan membocorkan rahasia ini pada Poyan. Asal kamu mengizinkan saya mengantar ke Lodtunduh.”

“Kalau saya petasan, sekarang ini saya sudah meledak saking bahagianya,” cetus Luhde. Pipinya bersemu merah.

Keenan terkesiap. Baru semalam, ia mendengar kalimat serupa terlontar dari mulut Kugy. Entah apa artinya ini.

 

Sanur, Mei 2003 …

Matahari yang terik membuat pipi Kugy seperti tomat ranum. Sudah seharian ia dijemur, tapi anak itu tidak terganggu. Ia tetap lincah ke sana kemari mencoba segala macam permainan. Sehabis melayang-layang di udara dengan parasailing, ia mencemplung ke laut dengan banana boat yang terguling dua kali, mencoba jet ski, dan apa saja yang tersedia. Kugy dengan semangat mencoba semuanya.

“Perhatian, teman-teman semua,” Dani, panitia rombongan, kembali berbicara melalui pengeras suara, “sehabis dari sini, acara kita adalah shopping di Kuta, dilanjutkan dengan makan malam di Jimbaran.”

Pengumuman itu langsung disambut dengan riuh rendah.

“Males belanja, ah,” Kugy berbisik pada Remi.

“Pinginnya ngapain, dong?”

“Aku pingin motret. Udah berat-berat pinjam kamera dari Karel, tapi dari tadi belum sempat hunting objek foto. Di Kuta sih mau motret apa? Toko?”

Bola mata Remi berkilat, seperti mendapat ide. “Kita kabur aja, yuk,” ia berbisik balik.

“Asyik!” Ide itu langsung disambut gembira oleh Kugy. “Gimana caranya?”

“Gampang. Kita cari transport di pinggir jalan, terus cabut. Nanti malam tinggal nyusul mereka ke Jimbaran. Gimana?”

“Laksanakan!” seru Kugy berapi-api. “Tapi … kita pergi ke mana?”

Remi hanya tersenyum tanpa menjawab.

 

Ubud, Mei 2003 …

Beberapa hari ini tampak perubahan besar pada Pak Wayan. Ia kelihatan bergembira, riang, dan bersemangat. Semua orang tahu penyebabnya: Keenan.

Semenjak Keenan menginjakkan kaki lagi ke Lodtunduh, hari-hari bersantai di bale sambil mengobrol seharian dengan Keenan pun kembali lagi. Tak hanya Luhde yang merasa bahagia dengan kepulangan Keenan, Wayan pun menemukan oasis yang selama ini ia rindukan. Meski ia sadar semua itu hanya akan berlangsung dalam hitungan hari saja.

Siang itu, Keenan dan Banyu sedang pergi ke Denpasar, mengurus tiket pulangnya ke Jakarta yang mengalami penundaan. Sementara Luhde sedang pergi ke pura. Sendirian, Pak Wayan menikmati sore harinya di galeri.

Sebuah mobil Kijang yang tidak ia kenal tahu-tahu menepi di depan galeri. Pak Wayan keluar menghampiri. Dan betapa kagetnya ia ketika mengenali sosok yang keluar dari pintu depan.

“Remi? Apa kabar? Kapan sampai di Bali? Kok nggak kasih kabar sebelumnya?” tanyanya langsung memberondong.

“Memang rencananya mau kasih kejutan untuk Pak Wayan,” Remi tertawa. Kedua pria itu saling berangkulan, akrab.

“Ke mana saja? Lama sekali nggak muncul,” kata Pak Wayan lagi.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.