Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Kamu yakin?” desak Remi lagi.

“Aku yakin, suatu saat, apa yang sekarang kamu bilang hobi, akhirnya bisa jadi profesiku yang baru. Barangkali uangnya nggak banyak, tapi aku nggak peduli,” Kugy menghela napas, “mungkin kamu nggak bakalan pernah ngerti—”

“Saya ngerti,” sergah Remi. “Saya justru sangat mengerti,” ulangnya penuh penekanan. “Kamu mau resign, Gy?”

Tatapan Kugy berubah nanar. Dalam sekejap, semua yang telah ia lewati terkilas balik dalam benaknya. Setahun terakhir kariernya di AdVocaDo, pertemuannya dengan Remi, semua konsep yang berhasil ia cetuskan, semua proyek yang berhasil ia pimpin, begadang bermalam-malam, hari-hari kurang tidur, Arisan Toilet, perahu kertas yang dititipkan Remi padanya, malam bersejarah di pinggir Pantai Ancol, dan kini ia harus kembali berhadapan dengan Remi untuk satu keputusan besar. Meninggalkan AdVocaDo. Tempat ia bersuaka saat ingin meninggalkan kehidupan lamanya di Bandung.

Dengan berat, Kugy mengangguk. “Aku merasa lebih baik tidak bertahan. Rasanya ini lebih baik buat kamu, buat tim yang lain, dan yang pasti … lebih baik juga buatku.”

“Saya nggak akan menghalangi kamu.”

Seketika, ada beban raksasa yang terangkat dari hatinya. Kugy sendiri tidak menyangka sedemikian besar arti keputusannya itu. Senyum cerah terbit alamiah di wajahnya. Ia menggenggam balik tangan Remi, mengecupnya. “Remi … makasih kamu udah mengerti. Aku nggak tahu lagi harus bilang apa.”

“Kamu memang nggak perlu bilang apa-apa. Sebagai atasan, saya sedih karena kehilangan salah satu anak buah terbaik. Tapi sebagai orang yang mencintai kamu, saya bahagia karena kamu berhasil memilih yang terbaik untuk hidup kamu,” Remi tersenyum lembut.

“Aku akan menyelesaikan semua proyek yang udah setengah jalan. Baru sesudah itu aku resmi mengundurkan diri. Kalo gitu gimana, Sayang?” Kugy bertanya dengan ekspresi jenaka.

Remi menggeleng. “Kalo cuma itu patokannya, seminggu lagi juga kamu udah bisa kelarin semuanya. Kamu akan aku tahan sampai … hmm,” Remi senyum-senyum kecil, “sampai outing kantor ke Bali. Bulan Mei ini.”

“Oho-ho, kalo urusan outing sih, udah nggak jadi pegawai pun aku dengan nggak tahu malunya bakal tetap ikutan,” Kugy terbahak.

Sisa malam pun mengalir dengan indah. Remi sendiri tersadar akan sesuatu malam ini. Keputusan Kugy untuk keluar dari AdVocaDo ternyata melegakan hatinya, tanpa ia duga-duga. Untuk pertama kalinya, Remi merasa bebas untuk mencintai Kugy tanpa ada beban apa-apa. Untuk pertama kalinya, ia terbebas dari keterikatan profesional yang selama ini membayangi hubungan mereka. Dan malam itu, tekadnya semakin bulat untuk membahagiakan dan mendukung Kugy, ke mana pun kekasihnya ingin melangkah dan menggapai impiannya. Dari sekian bulan mereka resmi berpacaran, Remi belum pernah sebahagia dan seringan ini melangkah.

 

Ubud, April 2003 …

“Poyan …” Luhde memanggil pamannya hati-hati.

“Ada apa, De?”

Luhde sejenak ragu untuk meneruskan atau tidak. Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat Keenan. Sementara, selama setahun kemarin mereka bertemu setiap hari tanpa kecuali. Hatinya tersiksa bukan main. Rindunya seolah tak terperi. Dan ia menyadari segala keterbatasan kondisi mereka. Namun, rasanya Luhde tak mampu bertahan sebegini lama tanpa bertemu Keenan.

“Jakarta itu seberapa jauh dari sini, Poyan?”

“Kalau naik pesawat hanya satu setengah jam,” kata pamannya sambil terus melukis.

Luhde teringat tabungannya yang tak seberapa. “Kalau dengan bus?”

“Sehari semalam,” kata Wayan lagi. Ia lantas melirik keponakannya. “Kamu mau ke Jakarta? Buat apa? Nggak ada gunanya. Lebih baik di sini, menunggu Keenan yang datang,” katanya langsung.

Dalam hati, Luhde terperanjat mendengar omongan yang tak disangka-sangka itu. Cepat-cepat, ia menyelinap keluar dari studio pamannya.

 

40.

MENEMUKAN OASIS

Selat Sunda, Mei 2003 …

Tekad hatinya bulat sudah. Dengan mengandalkan semua tabungannya, Luhde berangkat naik bus ke Jakarta. Poyan sedang pergi ke Lombok selama seminggu, dan itulah kesempatannya untuk melaksanakan perjalanan nekat ini.

Dini hari, sambil memandangi lautan dari atas feri yang menyeberangkannya ke Pulau Jawa, Luhde meringkuk sendirian di atas kursi kayu di dek kapal. Menutupi kakinya yang kedinginan dengan jaket. Seumur hidupnya, belum pernah ia menginjakkan kaki di luar Pulau Bali. Ia tidak punya secercah bayangan pun tentang kondisi Kota Jakarta selain apa yang dilihatnya di teve. Hanya satu carik kertas bertuliskan alamat rumah Keenanlah yang menjadi patokannya. Luhde hanya bisa berdoa ia terlindungi selama perjalanan ini.

Matanya dipejamkan kuat-kuat. Berusaha tidak memikirkan hal-hal lain kecuali berada di rumah Keenan sore nanti.

 

Jakarta, Mei 2003 …

Uangnya hanya tersisa seratus ribu rupiah. Luhde tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat jika ia sampai tidak menemukan alamat rumah Keenan. Dengan segala keletihan akibat perjalanan panjang dan jantung yang berdebar-debar tegang, Luhde memencet bel rumah serba putih itu.

Seorang perempuan membuka pintu. Luhde kenal betul wajah itu.

“Selamat sore, Ibu Lena,” sapanya sopan. Satu tangannya menenteng tas berisi baju, satu tangannya lagi menenteng kantong plastik berisi oleh-oleh.

Lena menatap gadis di hadapannya. Nyaris tak percaya. “Kamu—keponakannya Wayan, kan? Luhde?”

“Betul, Bu,” Luhde menjawab. Lega bukan main. Nasibnya terselamatkan sudah.

Keenan seperti melihat hantu ketika mendapatkan Luhde berdiri di teras depan rumahnya, berdiri santun menyambut kedatangannya. Sementara Keenan hampir saja menabrak tembok garasi saking kagetnya. Tergopoh-gopoh, ia turun dari mobil.

“Luhde?” desis Keenan.

Melihat Keenan kembali di hadapannya, Luhde bahkan tak mampu bergerak. Hanya bola matanya saja yang kian bersinar mengikuti setiap gerak Keenan yang melangkah mendekatinya.

“Kamu—kenapa bisa ada di sini?” tanya Keenan takjub. Perlahan, mengelus pipi Luhde, seolah-olah ingin meyakinkan sekali lagi bahwa Luhde memang ada.

Gadis itu tersenyum, lalu mengambil tas komputer yang tersampir di bahu Keenan. “Mari, biar saya yang bawakan.”

Detik itu juga Keenan langsung mendekap Luhde.

Minggu malam. Hari ini telah menjadi hari penjemputan naskah. Sebuah ritual yang ditunggu-tunggu Kugy setiap minggunya. Keenan akan muncul di depan pintu, dan Keshia, adiknya, langsung mengeluarkan sejuta gaya demi menarik perhatian Keenan yang ditaksirnya diam-diam, dan Kugy akan punya sejuta bahan ejekan baru yang bisa dipakainya untuk mengerjai Keshia. Kugy sendiri diam-diam punya kesempatan mengisi baterai hati untuk seminggu ke depan. Tak sabar rasanya menunggu Minggu malam tiba.

Namun, Kugy merasa ada yang aneh dengan hari Minggu ini. Sejak pagi hingga petang, ia belum mendapat kabar apa-apa dari Keenan. Akhirnya Kugy memutuskan untuk menelepon duluan.

“Halo, rekan agen. Udah siap bertugas belum?” Kugy menyapa ceria.

“Hai, Gy.” Suara Keenan terdengar kaku.

“Jam berapa mau ke sini, Nan?” tanya Kugy lagi.

“Mmm …,” Keenan mengembuskan napas berat dan panjang. “Malam ini saya nggak bisa, Gy. Mungkin baru minggu depan. Maaf, ya.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.