Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Hai, Nona Kecil. Lagi ngapain?”

“Meneer Penculik!” Suara itu terdengar begitu riang. “Aku masih di kantor. Dan baru mikirin kamu. Tadinya aku mau SMS.”

“Oh, ya?” Gantian suara Keenan yang menjadi riang. “Ada apa, Gy?”

“Siap-siap, ya,” Kugy berdehem, “hari ini … aku nulis lagi! Serial Jenderal Pilik is baaack!” teriaknya.

Bola mata Keenan seketika berbinar-binar. Sesuatu tersulut dalam hatinya begitu mendengar teriakan Kugy. “Gy, saya punya ide, dengar baik-baik ya, nanti kasih tahu pendapat kamu, sejujur-jujurnya …,” kata Keenan serius. “Setiap kamu selesai menulis satu kisah, saya akan membuatkan ilustrasinya dalam bentuk lukisan. Saya nggak tahu persis gimana bentuk akhirnya, entah jadi buku atau pameran, atau keduanya, yang jelas kita kerja bareng. Selama ini Jenderal Pilik cuma dikenal lewat lukisan saya aja, tapi orang-orang nggak tahu ide pelopornya apa. Menurut saya, sudah saatnya kamu juga tampil keluar, sebagai pencipta serial cerita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit.”

Kugy terenyak. “Jadi—kita—punya karya bersama?” ucapnya tak percaya.

“Kecil, sebelum kamu tahu pun, bagi saya, kita sudah berkarya bersama. Bedanya, kali ini kita melangkah bareng-bareng. Itu pun kalau kamu memang bersedia, Gy. Akan jadi satu kehormatan besar buat saya.” Dengan penuh kesungguhan, Keenan berkata.

Lama Kugy tidak menyahut. Ia butuh waktu untuk mencerna semua itu. Mendadak, impiannya terasa mendekat, terasa mungkin. Sesuatu yang tadinya ia pikir terlalu tinggi dan muluk, tiba-tiba membumi. Berada tepat di hadapan. Dan yang ia butuhkan hanya keberanian untuk melangkah.

“Oke. Kapan kita mulai?” Mantap, Kugy akhirnya bersuara.

 

Jakarta, April 2003 …

Dibutuhkan seminggu untuk Kugy menyelesaikan setiap seri Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dan itu mengharuskan Keenan untuk menjemput naskah baru setiap minggunya. Khusus untuk serial satu ini, Kugy menulis dengan tangan dalam buku tulis, sebagaimana yang dilakukannya di Sakola Alit dulu. Baru setelah itu, Keenan menyuruh sekretarisnya untuk mentranskrip naskah Kugy ke dalam dokumen komputer.

Banyak jam kantor yang Kugy bajak untuk berkhayal dan menulis serialnya. Omongan-omongan sumbang mulai muncul dari sana sini. Sindiran-sindiran halus menjadi rutinitas baru yang ia terima setiap hari.

“Yah, gitu deh, fenomena anak bau kencur, semangatnya juga tai-tai ayam.”

“Otak brilian tapi nggak didukung profesionalisme sama aja bo’ong.”

“Prodigy ternyata punya jadwal kedaluwarsa juga, ya.”

Dan kuping Remilah yang paling panas mendengar semua itu. Ia tahu persis kemampuan Kugy. Kalau saja anak itu sedikit berusaha, semua pekerjaannya akan kelar dalam sekejap mata. Masalahnya, fokus Kugy tersedot tanpa sisa untuk sesuatu yang ia tidak tahu. Jika di kantor, Kugy selalu kedapatan bekerja di mejanya dengan sungguh-sungguh, tapi tugasnya tidak ada yang selesai.

Hari ini Remi terpaksa menegur Kugy.

“Gy, saya udah nggak bisa minta waktu tambahan lagi ke klien. Mereka udah harus syuting seminggu lagi. Nggak bisa nggak. Tapi sampai sekarang, storyboard belum ada, konsepnya juga masih gonta-ganti melulu. Kamu kan project leader. Keputusan harus datang dari kamu. Kalo kamu nggak bisa fokus, satu tim kamu berantakan.”

Kugy bergeming menatap Remi. Entah bagaimana harus mengatakannya, bahwa ia memang belum mengerjakan apa pun sampai detik ini. Entah bagaimana bisa mengungkapkan bahwa Remi sudah saatnya untuk tidak terlalu bergantung padanya, tidak terus-terusan menjadikannya project leader, karena Kugy sendiri tidak bisa mengendalikan energi dan perhatiannya yang terisap ke dalam pusaran kuat dimensi Jenderal Pilik. Rasanya ia seperti zombie di kantor. Tubuhnya ada di sana tapi hanya cangkang kosong belaka. Sementara isinya berada di tempat lain, mengerjakan hal lain.

“Kamu ada masalah apa, sih?” tanya Remi lagi.

Mata Kugy mulai berkedip-kedip, tanda ia berpikir keras. “Aku sedang ada proyek baru …,” katanya pelan.

“Proyek?” Remi mengerutkan alis.

“Aku sedang bikin serial dongeng.”

Remi seketika mengembuskan napas panjang, mengusap-usap wajahnya. “Gy, kayaknya saya nggak perlu mengingatkan kamu soal prioritas. Kamu udah cukup gede untuk bisa menyusun skala prioritas kamu sendiri. Yang saya khawatirkan, kamu nggak bisa memilah antara profesi dan … hobi,” ujarnya tajam, “saya nggak kepingin ngomong begini. Tapi kamu digaji di sini untuk menciptakan konsep iklan, bukan jadi penulis dongeng. Terserah kalau di rumah kamu mau menghabiskan semalam suntuk untuk bikin dongeng. Tapi bukan di sini. Tugas kamu di sini adalah memenuhi target dan deadline kamu … tepat waktu.”

Kugy hanya bisa diam. Ia sadar diri, posisinya sangat lemah. Tidak ada gunanya membela diri. Dari kacamata apa pun, ia jelas bersalah karena mengesampingkan pekerjaannya.

“Jadi kapan storyboard bisa beres?”

“Secepatnya.”

“Sore ini. Sebelum jam enam.” Tegas, Remi menutup pembicaraan mereka.

Pukul setengah enam sore, Kugy menyerahkan hasil pekerjaannya. Remi membolak-balik sketsa-sketsa itu.

“Ternyata … kalau memang kamu mau, kamu bisa, kan?” katanya sambil tersenyum kecil.

Kugy balas tersenyum. Tawar.

“Malam ini kita dinner, yuk? Seafood?”

Kugy mengangguk. Samar.

Malam itu, di restoran seafood langganan mereka, Remi memutuskan untuk mendesak Kugy agar bicara sejujur-jujurnya. Digenggamnya kedua tangan Kugy erat-erat, “Kali ini, kamu harus terbuka, ya,” ucapnya sungguh-sungguh, “sebetulnya kamu punya masalah apa?”

Kugy menatap Remi, kembali dengan tatapan yang sama. Begitu banyak yang ingin terucap, tapi tidak bisa diungkap. Ia tidak yakin Remi akan mengerti.

“Nggak ada masalah. Aku cuma keasyikan nulis dongeng. Kamu benar, kok. Masalahku barangkali hanya nggak bisa memilah mana hobi dan mana profesi.”

“Gy, sebenarnya kamu masalah nggak dengan kondisi kita yang sekantor?”

Kugy menggeleng perlahan. “Sekantor dengan kamu memang mengundang banyak tantangan, tapi nggak pernah jadi masalah buatku,” gumamnya.

“Kamu nggak ada masalah dengan siapa pun di kantor?”

“Nggak, sama sekali,” jawab Kugy lagi.

“Kamu udah nggak betah kerja?”

Kali ini Kugy tertohok. Ia merasakan kebenaran dalam kalimat Remi. “Dari kecil, satu-satunya yang aku kepingin hanyalah jadi penulis dongeng,” akhirnya Kugy berusaha menguraikan kejujuran yang selama ini begitu sukar ia bagi, “aku tahu, kedengarannya pasti konyol, bego, infantil. Mana ada orang sampai umur segini masih punya cita-cita kayak gitu. Mungkin aku juga kedengaran nggak tahu diri. Aku punya kerjaan sebagus ini, tapi malah disia-siakan. Masalahnya … belakangan ini, aku menyadari sesuatu. Aku nggak bisa maksain diri menyukai apa yang sebetulnya bukan minatku, walaupun aku mampu. Aku juga nggak bisa pura-pura lupa dengan cita-citaku, impianku. Biarpun satu dunia ngegoblok-goblokin aku, tapi memang ini yang aku mau. Aku pingin jadi penulis dongeng. Dari dulu sampai sekarang … nggak berubah.”

“Jadi, demi cita-cita itu, kamu mau mengorbankan karier kamu?” Remi bertanya hati-hati.

“Kalau memang perlu, iya, aku mau,” Kugy mengangguk pasti. “Kalau ada satu celah kecil untuk aku bisa mewujudkan impianku, pasti aku akan kejar. Dan aku rela ninggalin pekerjaanku sekarang …,” sejenak Kugy berhenti, “Remi, celah itu akhirnya ada …,” ia berkata nyaris berbisik. “Aku memang belum bisa cerita banyak. Tapi, yang jelas, aku nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.