Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Aman,” jawab Keenan mantap, “panitia penculikan juga sudah mengantisipasi soal keamanan.”

“Oh, ya? Gimana caranya?”

“Berdoa.”

Noni mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal menghubungi ponselnya. Namun, ia memutuskan untuk mengangkatnya. “Halo?”

“Hai. Ini dengan Noni?”

Suara cowok yang tidak ia kenal. “Iya, betul,” kata Noni, “ini dengan siapa?”

“Ini Remi ….” Remi berpikir sejenak, “mmm … pacarnya Kugy.”

“Oh!” Noni kaget sendiri. Nama itu tidak asing. Kugy sudah menyebutkannya berkali-kali. Yang ia tidak sangka-sangka adalah Remi meneleponnya tanpa hujan tanpa angin. Pukul sebelas malam.

“Maaf, ya, ganggu malam-malam, saya tadi dapat nomor telepon kamu dari adiknya Kugy. Mau tanya, kira-kira kamu tahu nggak Kugy di mana? Seharian ini HP-nya nggak aktif, dan orang rumahnya nggak ada yang tahu dia pergi ke mana.”

“Wah, saya juga nggak tahu,” kata Noni jujur.

“Kata adiknya, Kugy lagi sering ngumpul sama teman-teman kampusnya. Barangkali Noni tahu sesuatu?”

“Sebetulnya yang dimaksud Keshia dengan ‘teman kampus’ itu ya termasuk saya juga, sih,” sahut Noni sambil nyengir, “kita dulu punya geng berempat gitu, Mas Remi. Belakangan memang lumayan sering main bareng lagi. Tapi hari ini setahu saya nggak ada jadwal ngumpul, tuh.”

“Ke mana ya dia? Kok sampai ngilang tanpa kabar?” tanya Remi cemas.

“Mas Remi, kalo kata aku, Kugy pasti baik-baik aja. Dia kan memang suka aneh. Besok paling juga udah muncul lagi,” Noni terkekeh.

Entah mengapa, omongan Noni tidak membuat Remi bertambah tenang. Sebaliknya, kepalanya justru makin pusing.

Tak ada yang membangunkannya. Kugy membuka mata dan menemukan langit yang sudah semu kemerahan. Cepat-cepat ia mengeluarkan diri dari sleeping bag. Saat ia menoleh ke samping, sleeping bag Keenan sudah tergulung rapi, dan penghuninya entah ada di mana. Tinggal ia sendirian di saung itu.

Kugy pun berjalan mendekati pantai. Angkasa seperti terbelah dua. Semu kemerahan di ufuk timur, dan sebagian lagi masih biru tua, menyisakan jejak malam dan kawanan bintang. Sementara bulan masih menyala perak, bundar bagaikan sebutir mutiara yang bertengger di tepi langit, siap jatuh ditelan mulut fajar. Tak jauh darinya, tampak siluet Keenan tengah berdiri menghadap pantai.

Menyadari Kugy yang ada di dekatnya, Keenan pun menoleh. Mendapatkan Kugy yang samar diterangi cahaya langit, tersenyum padanya. Rambutnya yang halus berkibar ditiup angin. Di matanya, keindahan pagi yang sejak tadi ia nikmati tiba-tiba memperoleh saingan.

“Selamat pagi, Nona Kecil.”

“Pagi, Meneer Penculik,” Kugy menyapa balik seraya berjalan ke sisi Keenan.

“Sini, deh,” Keenan menarik tangan Kugy lembut, “aturan terakhir yang nggak boleh kamu protes. Izinkan saya seperti ini sebentar aja,” bisiknya, lalu perlahan Keenan bergerak ke belakang punggung Kugy, merangkulkan kedua tangannya, memeluk Kugy dari belakang. Di kupingnya, Keenan berkata, “Ke mana pun hidup membawa kita berdua, saya harus jujur, karya kamu menjadi inspirasi terbesar saya. Kalau boleh, saya ingin terus berbagi karya dengan kamu. Kugy, Kecil, mau nggak kamu nulis dongeng lagi?”

Kugy menelan ludah. “Aku mau, asal kamu mau melukis lagi.”

“Aku mau. Demi Pilik,” bisik Keenan. Demi kamu.

“Demi Pilik,” Kugy balas berbisik. Dan demi kamu.

Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati.

Tanpa disadari, Keenan mempererat pelukannya. Menikmati denyutan hening. Karena hanya saat mereka bersama, ia bisa mencicipi keabadian. Meski hanya sesaat.

 

39.

KARYA BERSAMA

Sesampainya di rumah, yang pertama kali Kugy lakukan adalah menelepon Remi. Dan reaksi pertama yang ia terima adalah dimarahi.

“Kamu sadar apa yang kamu perbuat pada saya?” tanya Remi dengan suara tertahan. Jelas ia berusaha meredam emosinya, yang andai saja bisa dilepas, barangkali ia sudah berkata-kata dengan nada tinggi. “Kamu udah nyiksa saya, bikin saya stres, nggak bisa ngapa-ngapain selain nyariin kamu ke siapa pun yang saya bisa, selain nunggu kabar dari kamu yang saya tungguin sampai subuh dan nggak ada juga.”

Kugy terkesiap. “Remi … sori ….”

“Kamu sadar, nggak? Satu menit telepon dari kamu, bahkan tiga puluh detik aja, akan membuat keadaan ini jauh berbeda.”

“Iya … aku tahu … tapi ….”

“Kamu keterlaluan, Gy.” Remi berkata dingin, tapi menusuk.

“Semuanya mendadak, Remi. Aku ke Bandung … dan tahu-tahu bekas muridku meninggal … jadi aku ….”

“Oke, Gy, apa pun alasan kamu, saya terima. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Apa yang bikin kamu sampai nggak kasih kabar sama sekali? Apa yang terjadi sampai HP kamu nggak aktif sehari semalam?”

“Soalnya …,” Kugy memejamkan mata kuat-kuat. Aku nggak mungkin bilang. “Soalnya HP-ku ketinggalan di kamar,” kata-kata itu akhirnya meluncur, “dalam keadaan mati. Sori. Aku memang teledor.”

Terdengar sunyi dari ujung sana, lalu helaan napas panjang. “Sekali lagi kamu ngilang begitu, Gy, dan ada apa-apa dengan kamu, saya nggak yakin bisa memaafkan diri saya sendiri.”

“Remi … aku nggak kenapa-napa kok ….”

“Dan gimana caranya saya tahu itu kalau kamu nggak bisa dihubungi? Percuma, Gy.”

Kugy tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Gy, satu hari kamu akan sadar kalau saya nggak bisa kehilangan kamu. Kamu … terlalu berharga buat saya. Kamu nggak bisa membayangkan betapa kesiksanya saya kemarin. Tolong, jangan pernah lagi kamu ngilang kayak gitu.”

Tanpa bisa Kugy kendalikan, air mata tahu-tahu saja merembesi pipinya. Ucapan Remi menyadarkannya akan sesuatu.

“Ya, udah. Yang penting kamu udah pulang. Nggak ada yang lebih penting dari itu,” Remi berkata, seolah menasihati dirinya sendiri, “kamu sehat, Sayang? Capek? Masih sedih?”

“Aku baik-baik,” Kugy berkata dengan nada tertekan, berusaha meredam jejak tangisnya.

“Nanti malam saya ke rumah, ya.”

“Iya. Aku tunggu, ya,” Kugy menyahut. Dan begitu telepon dari Remi berakhir, ia terduduk lama, mengusapi air matanya yang turun satu-satu dan seperti tak mau berhenti. Ia menyadari, semalam ia telah berkesempatan untuk pulang ke negeri dongengnya. Sebuah dunia yang sempurna dan perasaan cinta yang rasanya abadi. Namun, inilah kenyataan yang sesungguhnya. Inilah hidup yang ia jalani. Meski tak seindah negeri dongeng, tapi dirinya sudah memilih.

Pahit, Kugy kembali menyadari bahwa Keenan hanyalah pangeran negeri dongengnya. Kisah mereka berdua hidup dalam khayalan indah yang tak mungkin terwujud. Remi adalah kenyataannya. Dekat, terjangkau, dan jelas-jelas mencintainya. Kugy pun tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri jika ia harus menyakiti Remi. Ketidakjujurannya kali ini sudah lebih dari cukup.

Hari Senin. Menjelang pulang kantor, Keenan tidak tahan lagi. Setelah menahan berjam-jam tidak menghubungi anak satu itu, sistem tubuhnya seolah mengisyaratkan kehausan yang amat sangat. Sekadar untuk mendengar suaranya, tawanya, cekikiknya. Ia lantas menghubungi ponselnya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.