Baca Novel Online

Perahu Kertas

 

4.

LINGKARAN SUCI

Di ruangan tamu yang digunakan bersama itu, tampak karton pipih lebar bekas pizza menganga terbuka. Sebuah teve yang tak ditonton menyala dengan suara sayup. Empat orang duduk di lantai, berbincang asyik sambil tertawa-tawa, dengan dus pizza kosong sebagai pusat bagaikan kawanan Indian yang mengelilingi api unggun.

“Kugy … giliran lu kasih ide.”

“Oke,” Kugy berdehem, “di lingkaran suci ini, sebutkan hal paling aneh yang pernah kita lakukan. Ayo, yang jujur, ya!”

“Maaf, sebetulnya gua kurang setuju,” Noni angkat tangan, “karena bagi Kugy semua hal nggak ada yang aneh, termasuk yang paling aneh sekalipun untuk ukuran orang normal.”

Mereka tergelak-gelak, termasuk Kugy. “Itu memang apesnya lu aja, Non. Dan untung di gua,” celetuk Kugy.

Noni berpikir sejenak. “Waktu SD gua pernah ikut drama sekolah, dan dapat peran jadi …. Pak Raden. Lengkap dengan kumis palsu.”

Semua terkikik-kikik.

“Secara fisik lu memang kurang cocok, Non.”

“Tapi karakter pas banget.”

Giliran Keenan. “Hmm. Lipsync lagu Meggy Z. Lengkap dengan joget.”

Pengakuan Keenan disambut sunyi. Semua terlongo, takjub.

Melihat reaksi itu, Keenan merasa perlu memberikan penjelasan. “Jadi, waktu itu ada malam kesenian di sekolah gua di Amsterdam, dan karena mereka tahu gua dari Indonesia, gua diminta menyumbangkan satu kesenian yang khas Indonesia. Yah, cuma itu yang gua bisa. Tapi mereka suka banget. Satu sekolah ikut joget.”

“Lagu yang mana?”

“Sakit Gigi.”

Sunyi lagi. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang diprakarsai oleh Eko. Tak lama, yang lain mengikuti.

“Terima kasih, terima kasih,” Keenan membungkuk hormat.

Giliran Kugy. Anak itu berpikir keras. Betul kata Noni, pikirnya, berhubung hampir semua yang ia lakukan cenderung aneh, susah sekali memilih satu.

“Ayo, dong. Lama banget, sih,” desak Eko tak sabar.

“Bentar, bentar. Susah banget, nih,” gumam Kugy. Mukanya berkerat-kerut tanda berpikir keras.

“Mau dibantu, Gy?” Tahu-tahu Noni memberi usul.

“Please.”

“Kugy suka kirim surat ke Dewa Neptunus,” ungkap Noni sambil menahan geli.

Alis Keenan seketika bertemu. “Gimana caranya?”

“Oh, gampang. Dulu, waktu rumah gua masih di dekat pantai, ya gua hanyutkan di laut. Sesudah itu dihanyutkan saja di segala aliran air, karena semua aliran air bermuara ke laut.” Kugy langsung duduk tegak dan menjelaskan dengan semangat.

“Terus, tujuannya lu kirim surat apa?” Eko bertanya.

“Teman-teman, sudah saatnya kalian tahu bahwa gua ini sebetulnya …,” Kugy menahan napas, suaranya bergetar “… alien.”

Sunyi yang lebih mencekam, atau tepatnya mencekik, seketika memberangus mereka. Eko sudah mau mati menahan semburan tawa.

“Gua sebetulnya anak buah Neptunus yang dikirim ke Bumi untuk jadi mata-mata,” papar Kugy lagi, “dan, SECARA KEBETULAN SEKALI, zodiak gua Aquarius. Ajaib, kan?” tambahnya dengan mata berbinar-binar.

“Sama, dong. Gua juga Aquarius,” sahut Keenan.

“Yo! Brotha’!” Kugy kontan menjabat tangan Keenan.

Eko membelesakkan kepalanya ke dalam bantal. Tertawa terpingkal-pingkal. “Kok gua serasa ada di tengah alien nation gini, ya?” cetusnya dari dalam benaman bantal.

“Betul, kan? Tantangan ini memang nggak relevan buat si Kugy,” kata Noni lagi, “ayo, giliran kamu, Ko.”

“Dengan segala hormat, tapi hal paling aneh yang pernah gua lakukan adalah … naksir Kugy.”

Keenan terbahak keras, diikuti Kugy yang sampai terguling di lantai. Sementara mulut Noni menganga tak percaya, “Kamu pernah naksir Kugy? Ka—kapan?”

“Yah, waktu aku kelasnya sebelahan sama dialah, pas kelas 2 SMP. Untung kamu udah keburu pindah, Sayang. Jadi nggak perlu ikut menyaksikan aib ini,” Eko menepuk bahu Noni, “tenang, Non. Langsung menyesal, kok. Dulu aku sering ke taman bacaannya Kugy. Bisa naksir karena setiap ketemu Kugy selalu pas dia lagi baca buku. Begitu ngobrol … bubar jalan!” Eko pun tergelak-gelak.

“Terus, kok kalian bisa … jadian?” Keenan perlahan menunjuk Eko dan Noni.

Eko langsung pasang tampang serius. “Sebetulnya cinta sejati gua adalah Noni, Nan. Gua udah naksir dia dari kelas 1 SMP ….”

“Alah! Gombal! Kenal aja belum!” semprot Noni. “Kamu kan kenal aku justru setelah aku pindah. Gara-gara pernah ketemu aku di rumah Kugy, kan? Yang mungkin waktu itu kamu masih jadi pelanggan setia taman bacaannya dalam rangka pe-de-ka-te! Baru deh, sok akrab, sok udah naksir aku dari kelas 1, padahal aku yakin kamu tahu aku aja nggak,” cerocos Noni sengit.

“Ya’elah, Non. Dendam banget, sih. Namanya juga usaha. Bokis dikit kan biasa. Yang penting hasilnya …” Eko membujuk-bujuk.

“Jadi kalian dicomblangin Kugy?” tanya Keenan lagi.

“Boro-boro!” Kali ini Eko dan Noni satu suara.

Kugy menggeleng, “Sori. Aku paling anti percomblangan dan segala usaha perjodohan lainnya,” sahutnya kalem.

“Si Semprul satu ini justru orang yang paling menghalang-halangi, tahu nggak?” sambar Eko lagi. “Masa dia pernah bilang ke Noni kalo gua itu spesies berbahaya?”

“Yah, gua kan cuma menganalisa dari statistik pengembalian buku lu, Ko. Dan judul-judul apa yang lu pinjam. No hard feeling, dong.”

“Tuh! Kebangetan nggak dia? Masa prospek gua dihancurkan gara-gara track record kartu anggota taman bacaan?”

“Memangnya Eko pinjam buku apa aja?” tanya Keenan pada Kugy. Betulan penasaran.

“Dua tahun jadi anggota masa cuma pinjam Godam si Putera Petir? Dan lebih dari sepuluh kali dia pinjam yang judulnya Anak Rabaan Setan,” jawab Kugy, “terakhir-terakhir malah udah nggak dibalikin! Gimana aku nggak curiga?”

Menyusul seketika ledakan tawa Keenan dan Noni. Wajah Eko merah padam. Kali ini ia terpaksa bungkam.

Kugy berdehem lagi. “Nah. Berhubung segala sesuatu yang berhubungan dengan gua adalah keren adanya, jadi gua nggak aneh. Dan Eko, yang harusnya lebih aneh karena bisa suka sama orang aneh bahkan jadi anggota perpustakaan orang aneh dengan pilihan buku yang aneh, akhirnya juga jadi nggak aneh. Kalau begitu, pemenang lingkaran suci kali ini adalah ….”

“Keenan!” Mereka bertiga berseru kompak.

Malam itu ditutup dengan Keenan yang memperagakan lipsync lagu Sakit Gigi-nya Meggy Z.

“Hai. Boleh masuk?”

Kugy yang sedang mengetik di komputer terkejut melihat Keenan muncul di pintu kamarnya yang setengah terbuka.

“Lho. Belum pulang?” tanya Kugy sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

“Pinginnya, sih. Tapi nggak enak ganggu yang pacaran. Cuma bingung juga bengong di luar.”

Kugy pun segera membukakan pintu. “Silakan masuk, Meneer.”

Keenan melihat sekitar, tampak terkesan.

“Kenapa? Kamarku rapi, ya? Nggak matching sama yang punya.”

“Iya. Saya nggak sangka,” jawab Keenan jujur. Matanya lalu berlabuh pada sebuah pigura berisikan foto keluarga Kugy.

“Keluarga besarku. The ‘K’ family. Lima bersaudara.

Nama depannya dari ‘K’ semua,” Kugy menjelaskan, “Ini abangku paling besar, Karel. Kakak perempuanku, Karin. Ini abangku yang cuma beda setahun sama aku, Kevin. Dan adik bungsuku, Keshia.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.