Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Nan? Kita sebenarnya di mana, sih?” Kugy bertanya keras.

“Selamat datang di Ranca Buaya,” Keenan tersenyum lebar, “ini bagian dari peraturan saya hari ini, yaitu kamu harus rela diculik ke mana pun. Saya pernah ke pantai ini nggak sengaja, bareng Bimo dan anak-anak kampus. Saya langsung jatuh cinta. Bertahun-tahun pingin ke sini lagi, tapi nggak pernah sempat. Baru sekarang bisa kembali lagi. Sama kamu. So, enjoy.” Ia lalu menyorongkan minuman dingin yang dibawanya dalam cool box.

Kugy mengambil minuman yang disodorkan Keenan. Muka protesnya perlahan berubah. “Well, Agen Keenan Simalakamania, aku harus mengakui, ini adalah penculikan yang sangat menyenangkan,” Kugy terkekeh, “cheers.”

“Cheers.”

Keduanya lalu duduk di pinggir tebing, beralaskan rumput dan bertemankan dua minuman kaleng dingin, menikmati matahari terbenam hingga pupus ditelan malam. Menghayati keluasan Samudra India yang membentang dari tempat mereka duduk.

Menjelang gelap, SUV itu turun dari tebing, menuju bagian pantai landai tempat beberapa pedagang makanan berjualan. Malam yang masih muda terlihat jernih. Taburan bintang muncul tanpa perlawanan awan. Dan bulan bersinar megah dalam masa purnamanya.

“Ini … adalah mi instan paling enak yang pernah aku coba seumur hidup,” komentar Kugy seraya melahap mi rebus yang dipesannya. Ia sudah memasuki mangkuk yang kedua.

Keenan melirik bungkusan bekas mi instan yang masih tergeletak di meja. “Emang, ada bedanya, ya?”

“Jelas ada,” kata Kugy yakin, “faktor pertama adalah nggak makan dari siang, faktor kedua adalah … ini warung dengan pemandangan terindah yang pernah aku kunjungi. Restoran paling mahal di Jakarta aja kalah sama warung ini. Iya, nggak?”

“Setuju,” Keenan pun bergerak ke mangkoknya yang kedua, “jadi, nggak nyesel kan diculik?”

Kugy berhenti mengunyah. “Kalo boleh tahu, maksud kamu hari ini sebetulnya apa sih, Nan?”

Keenan ikut berhenti, sejenak menatap Kugy. “Beresin dulu makannya. Nanti saya kasih tahu. Tapi nggak sekarang, dan nggak di sini.”

Mata Kugy langsung membeliak. “Jadi … kita masih pindah tempat lagi?”

Keenan mengangguk, “Dua puluh meter ke depan.”

Pantai Ranca Buaya hampir seluruhnya dibingkai oleh hamparan karang, kecuali satu cerukan yang dipakai sebagai pelabuhan kapal nelayan, yang letaknya persis di depan warung-warung makanan. Dekat dari sana, masih tersisa sebagian kecil pantai kosong yang tidak diparkiri perahu.

Di bagian itu, Kugy dan Keenan akhirnya berkesempatan untuk merendam kaki mereka dalam air laut, di atas pasir pecahan kerang berwarna krim kekuningan. Ratusan anak ombak berkilau perak ditimpa sinar bulan. Karang-karang kecil bermunculan, tampak mengilap disepuh buih ombak. Selain mereka berdua, tak ada lagi orang di sana.

Setelah kenyang bermain ombak, Kugy mendamparkan tubuhnya di atas pasir. “Kenyang begini … paling enak tidur,” celetuknya.

“Mau dibikinin tempat tidur nggak?” Keenan bertanya.

“Gimana caranya?”

Keenan melesat ke mobilnya, kembali membawa ember kecil dan sekop.

“Ya, ampun! Kamu mau bertani? Kok, bawa sekop segala?” Kugy tergelak.

“Nggak usah banyak tanya adalah salah satu aturan yang berlaku hari ini,” Keenan menjawab santai, lalu sibuk mengerjakan sesuatu.

“Kamu ngapain, sih?” Masih dalam posisi telentang menghadap langit, Kugy bertanya.

Mendadak, tubuhnya terangkat. Keenan menggendongnya tanpa disangka-sangka.

“Naaan! Kamu ngapaiiin?” teriak Kugy, spontan.

Beberapa detik kemudian, tubuhnya mengempas kembali ke pasir, ke dalam sebuah lubang dangkal.

“Ini tempat tidur yang nggak bisa didapatkan di hotel termahal sekalipun. Tempat tidur pasir. Alamiah dan juga terapeutik karena punya efek refleksiologis,” seperti tukang obat Keenan menerangkan, sambil terus menimbuni Kugy dengan pasir yang disendoknya dengan ember.

Yang dikubur tidak protes, malah terkikik-kikik geli. Butiran pasir yang menghambur menggelitik saraf-saraf kulitnya.

“Gimana tempat tidurnya, Kecil? Asyik, kan?” Keenan tersenyum penuh kemenangan.

“Hotel bintang lima lewaaat …,” desah Kugy seraya memejamkan mata. Setelah tubuhnya tertimbun pasir, Keenan lalu ikut berbaring di sebelahnya.

“Jelas lewatlah. Ini namanya hotel bintang sejuta,” sahut Keenan, “room service-nya Indomie rebus sama teh tawar, luas kamar seluas-luasnya, tempat tidur refleksi, dan live music nonstop … suara ombak. Lagu alam paling merdu.”

Mendengar kalimat Keenan yang terakhir, Kugy sontak menoleh. “Kamu kok—?”

“Kamu boleh menganggap ini hadiah ulang tahun tertunda, kamu boleh menganggap ini perayaan kecil reuni kita berdua, kamu boleh menganggap ini apa pun …,” Keenan beringsut mendekat, menatap lekat Kugy yang telentang tertutup pasir, “yang jelas, ini ungkapan terima kasih untuk semua inspirasi berharga yang sudah kamu kasih untuk saya.”

Kugy merasa sekujur tubuhnya kaku. Dan timbunan pasir yang mengurungnya semakin membuat ia merasa tak berdaya. Tak bisa bergerak, tak juga bicara, hanya menatap balik wajah Keenan yang memayunginya dengan jarak yang begitu dekat.

“Kecil … saya selalu ingat kata-kata kamu. Kamu paling suka sama suara ombak. Moga-moga kamu senang, ya, di sini,” lanjut Keenan lagi.

“Ini—” Kugy hampir tak sanggup melanjutkan, “ini hadiah paling indah yang pernah aku terima seumur-umur. Makasih, ya.”

Keenan menggeleng, “Saya yang berterima kasih, Gy. Dan saya masih punya satu hadiah lagi. Aturannya juga sama, kamu harus nurut apa pun yang saya suruh. Oke? Sekarang, tutup mata.”

Kugy menurut meski gugup bukan main. Dalam kondisi mata terpejam, ia dapat jelas merasakan wajah Keenan mendekat. Napasnya yang terasa hangat meniupi kulit mukanya. Jantungnya berdebar kencang dan rasanya ia ingin mencelat keluar dari tempat tidur pasirnya, tapi Kugy sungguhan tidak sanggup bergerak.

“Buka mulut kamu ….” Dengan lembut, Keenan meminta.

Ragu, Kugy membuka mulutnya perlahan. Sesuatu menyentuh bibirnya, dan memasuki rongga mulutnya. Kugy hafal bau itu. Napasnya yang tadi tertahan seketika melega. Tapi ia tak bisa bicara lagi karena mulutnya sudah penuh terjejal.

“Pisang susu kesukaanmu,” Keenan tertawa kecil. “Saya bawa sesisir, tuh.”

Sambil mengunyah, Kugy berkomentar, “Panitianya canggih, nih. Kamu kok ingat semuanya sih, Nan?”

Keenan menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun menyerupai antena. “Radar Neptunus,” celetuknya ringan.

“Oke, rekan agenku. Main course udah, sekarang dessert, terus apa lagi sesudah ini?” tanya Kugy.

Air muka Keenan berubah serius. “Gy, perjalanan ke sini kan butuh enam jam dari Bandung. Tiga jam lagi ke Jakartanya. Kalau kita paksakan pulang malam ini pasti capek banget. Gimana kalau kita pulang besok subuh menjelang sunrise?”

“Terus, kita tidur di mana? Nggak beneran di ‘tempat tidur’ ini, kan?”

“Tenang. Saya penculik bertanggung jawab, kok,” Keenan pergi lagi ke mobilnya, kembali membawa dua sleeping bag. “Kita bisa gelar ini di saung belakang, atau di pantai juga boleh. Terserah kamu, Nona Kecil.”

“Hmm … hmmm …,” Kugy berpikir-pikir, “kalau aku sih pinginnya di sini, tapi, aman nggak, ya?”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.