Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Rumah-rumah di sini pada ke mana, Pak?” tanya Keenan.

“Atos ngaralih. Sadayana atos digusur35,” Bapak itu menjawab seraya merentangkan tangannya.

“Ke mana?” desak Kugy lagi.

“Duka atuh, Neng. Da paburencay ….36” Ia mengangkat bahu.

“Upami Bapa terang teu Pak Usep ayeuna di mana37?” Dengan agak terbata-bata, Kugy berusaha berkomunikasi dalam bahasa Sunda.

“Oh. Pak Usep anu gaduh kebon sampeu38?”

“Muhun, muhun. Anu putrana namina Pilik39,” Kugy mengangguk-angguk antusias.

“Pak Usep mah kagusur ka caket susukan40, Neng.” Dengan prihatin, bapak itu berkata.

Kugy tahu benar “susukan” yang dimaksud. Sebuah kali kecil yang nyaris kering dan kotor. Tempat itu tidak terlalu jauh dari pembuangan sampah.

“Kamu tahu tempatnya, Gy?” tanya Keenan.

Kugy mengangguk. “Kita susul ke sana, yuk,” gumamnya. Ia sudah bisa membayangkan kondisi seperti apa yang dihadapi Pilik dan keluarganya. Setelah mengucapkan terima kasih, keduanya bergegas pergi.

Dan bayangan Kugy tidak salah. Malah lebih buruk. Ada beberapa gubuk yang berdiri di pinggir kali tersebut. Gubuk-gubuk reyot yang tak layak disebut rumah. Satu-dua orang tampak lalu lalang di sekitar gubuk.

“Itu Pak Usep!” Kugy berseru.

“Neng Ugi!” Pak Usep tak kalah terkejut. Ia langsung melongok ke dalam gubuknya, “Bu … bu … kadieu, enggal! Ieu, aya guru-guruna Pilik41!”

Seorang ibu berdaster lusuh keluar dari situ. Seolah melihat malaikat, ia menghambur ke arah Kugy, memeluknya erat. “Bu Ugi … si Pilik, Bu …,” tangisnya serta-merta. Tubuhnya berguncang. Pak Usep hanya bisa diam dan tertunduk sedih.

Seketika itu juga, Kugy dan Keenan tahu, ada sesuatu yang tidak beres.

Kembali hanya mereka berdua ditemani embusan angin dan gemeresik bambu. Dari tempat mereka berdiri, kebisingan pembangunan real estate itu hanya terdengar sayup-sayup. Sesekali burung berseliweran, berkicau, lalu hinggap di atas nisan kayu yang terpancang di hadapan mereka berdua.

Pilik beristirahat di sana. Sebuah makam seadanya. Yang tersisa hanya kenangan suaranya yang gaduh, larinya yang gesit, rambutnya yang gundul, dan sinar matanya yang cerdas. Semuanya berputar bagaikan film dalam kepala Kugy. Sementara seribu satu penyesalan muncul di benak Keenan.

Di tangannya, Keenan menggenggam sebuah buku tabungan, yang akan dihadiahkan bagi Pilik dan Sakola Alit. Uang yang ia sisihkan dari hasil penjualan lukisannya selama ini. Dengan getir ia memandangi nisan itu, menyadari betapa ironisnya realitas saat harus bersanding dengan dunia dongeng. Keindahan dunia Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang terwujudkan dalam semua karyanya, serta kenyataan hidup seorang anak bernama Pilik bin Usep yang harus tergusur karena keluarganya tak punya bukti kepemilikan tanah, harus tinggal dalam sebuah gubuk di pinggir pembuangan sampah, dan menderita tifus tiga bulan yang lalu tanpa mampu mencari pertolongan medis. Puskesmas sudah lama ditutup. Pak Usep bilang, tak sampai seminggu, kondisi Pilik turun drastis, dan akhirnya tubuh kecilnya menyerah. Pilik pergi membawa mimpinya untuk bisa masuk SMP.

“Coba kalau aku sempat nengokin dia … aku beneran nggak tahu, Nan … aku juga hilang kontak dengan Ami … padahal … Pilik … mestinya dia punya kesempatan … anak itu pintar …,” Kugy berkata tersendat-sendat.

Harusnya kesempatan itu ada. Keenan terduduk pilu, merangkul Kugy yang bersimpuh sambil terisak.

“Aku sering kangen sama Pilik … sama anak-anak … tapi aku udah nggak pernah sempat lagi nengok mereka … aku masih punya satu buku tulis petualangan Pasukan Alit yang bahkan mereka belum sempat baca …,” tangis Kugy lagi, lalu membenamkan kepalanya dalam rengkuhan Keenan. Menangiskan semua penyesalan yang tersisa dalam hatinya.

“Suatu saat mereka pasti baca, Gy,” sahut Keenan lirih, “kamu jangan berhenti menulis.”

Sesaat, Keenan merasa terempas kembali ke masa lalu. Kala ia dan Kugy masih berbagi mimpi yang sama. Saat yang mereka butuhkan hanyalah alam dan satu sama lain. Saat sebuah momen sederhana bersama Kugy dapat mengkristal dan hidup lestari dalam hatinya. Namun, waktu berjalan dan Bumi berputar, membawa mereka begitu jauh. Realitas dan dongeng terpisahkan tabir yang rasanya tak akan pernah bisa ia tembus.

 

38.

PENCULIKAN PALING INDAH

Kugy termenung melihat buku tabungan yang dibawa Keenan. Beraneka ragam perasaan melanda hatinya. Antara haru, terkejut, dan getir. Kugy tak menyangka betapa kisah yang ia tulis telah berperan begitu besar dalam hidup Keenan. Ia terharu dengan kesungguhan Keenan untuk ber-terima kasih padanya, pada Sakola Alit, dan Pasukan Alit. Namun, ia juga getir melihat kenyataan bahwa niat baik mereka semua tak sanggup menolong Jenderal Pilik.

“Kamu akan kasih uang ini ke mereka, Nan?” tanya Kugy.

“Ya. Ke Pak Usep, Pak Somad, dan semua keluarga Pasukan Alit yang kena gusur,” jawab Keenan tegas, “saya nggak mungkin menyimpannya lagi. Uang ini sudah saya anggap menjadi hak mereka.”

“Lalu … kita mau ngapain lagi sekarang?” Kugy mengusap wajahnya. Penat.

“Saya masih mau mengajak kamu ke suatu tempat. Aturan hari ini masih berlaku, Gy,” Keenan tersenyum sambil mengusap pelan tangan Kugy.

Kugy mengangguk pasrah. Ia tak punya cukup tenaga untuk protes. Tak cukup kemauan. Apa pun rencana Keenan, ia hanya ingin diam di mobil dan mengikuti ke mana arah nasib membawanya.

Tak lama, mobil SUV itu pergi meninggalkan daerah Bojong Koneng, lalu keluar dari Kota Bandung.

Kugy tertidur separuh terakhir perjalanan entah ke mana itu. Ia hanya tahu bahwa mobil mereka pergi mengarah Kota Garut, lalu terus ke Selatan menuju Pameungpeuk. Sisanya ia tak sadarkan diri. Tertidur pulas dengan sandaran jok merebah ke belakang.

Matanya terbuka ketika mobil Keenan akhirnya berhenti. Pertama-tama, Kugy melihat angkasa luas yang terbentang dari kaca mobil. Langit berwarna kemerahan. Menyala bagai disulut api. Arakan-arakan awan tampak merona jingga ditelan ufuk Barat. Hal kedua yang disadarinya adalah deburan ombak yang dahsyat dari arah bawah. Hal ketiga, Kugy menyadari bahwa Keenan tidak ada di sampingnya.

Sontak, Kugy terduduk. Tersadarlah ia bahwa mobil itu tengah terparkir di atas tebing berumput hijau. Di hadapannya terhampar laut luas. Dan di bawah sana, tampak ombak berputar dan berpusar, saling memecah dan mengempas, menyapu hamparan karang dengan buih putih. Cepat-cepat, Kugy keluar dari mobil.

Belum tuntas rasa kagetnya, Kugy masih harus terpana melihat ratusan kelelawar yang tiba-tiba mengepak bersamaan dari bawah tebing, membentuk segomplok awan hitam yang sejenak memenuhi langit. Terkesiap dengan semua keindahan yang mendadak hadir di depan matanya, Kugy hanya bisa terduduk di atas rumput.

“Kecil!” Suara Keenan berteriak memanggilnya.

Kugy menoleh ke samping. Tampak Keenan melambaikan tangan dari sebuah saung beratapkan ilalang. Kugy langsung berlari-lari menghampirinya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.