Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Jeroen?” Eko benar-benar pangling. Anak SMP yang kecil itu kini sudah menjulang tinggi, hampir menyamai tinggi badannya. Jeroen sudah masuk SMA sekarang. “Kamu—pelihara apaan bisa jadi segede gini?”

Jeroen terkekeh, “Pelihara grup ronggeng.”

Lena mendelik, “Memang nih anak satu. Pacarnya banyak bener. Pusing deh, Tante di rumah merangkap resepsionis. Telepon krang-kring terus nyariin Jeroen. Dan orangnya beda-beda semua.”

“Lho, nggak pa-pa, Tante. Itu untuk mengimbangi abangnya yang nasibnya agak lain,” timpal Eko lagi.

Tiba-tiba terdengar suara roda berputar. Ayah Keenan keluar dari kamarnya. Tangannya sudah bergerak lancar memutar roda. Ia tersenyum ramah menyapa semuanya. Walaupun bicaranya agak pelan, artikulasinya sudah jelas dan mendekati normal. Sesampainya di dekat meja, Adri pun minta dibantu berdiri. Ia berjalan hati-hati menuju kursi.

“Ayahnya Keenan sekarang sudah bisa jalan lagi, hampir semua sudah bisa kembali seperti dulu, tapi masih pelan-pelan,” Lena menerangkan dengan bangga.

Kugy mengamati semua itu dengan saksama. Ini rupanya pengorbanan Keenan. Mudah-mudahan memang tidak untuk selamanya—sekalipun itu berarti Keenan mungkin akan pergi lagi entah ke mana. Mendadak muncul sayatan pedih lagi di hatinya. Namun, Kugy memilih untuk tidak mengindahkan. Malam seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan dengan kepedihan.

“Kalian duluan, deh. Besok pagi kan kalian masih harus ke Bandung. Biar gua yang nganterin Kugy,” ujar Keenan di beranda depan.

“Yakin?” tanya Noni dan Eko hampir berbarengan.

“Nggak ngerepotin?” Kugy menyusul bertanya.

Keenan menggeleng mantap, lalu melepas keduanya pulang. Tinggal ia, Kugy, dan bebunyian serangga malam.

“Gy, saya sebenarnya pingin ngomong sesuatu. Bagi saya, hal ini sangat pribadi, dan hanya menyangkut kita berdua. Makanya saya nggak pingin ngomong di depan Noni dan Eko.”

Meski tetap tampil tenang, Kugy kontan tidak keruan. Jantungnya berdegup kencang.

Keenan menatap Kugy dalam-dalam. “Gy, saya harus berterima kasih sama kamu.”

“Untuk?” Dan Kugy melihat Keenan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Benda yang ia bawa sejak mereka beranjak ke serambi tadi.

“Kamu sudah meminjamkan sesuatu yang sangat berharga buat saya. Tapi barang ini harus saya kembalikan lagi, karena ini memang milik kamu.” Keenan lalu menyerahkan sebuah buku tulis yang kini sudah kumal.

Kugy tercengang, tak percaya ia akan melihat buku itu lagi. “Jenderal Pilik?” tanyanya bergetar.

“Buku ini pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup saya,” Keenan berkata lembut, “dan kamu akan tahu kenapa. Tapi saya nggak mau ngasih tahu dengan cara yang biasa-biasa aja.”

Kugy tambah bingung. Buku kumal itu diterimanya dengan perasaan campur aduk, “Jadi … selama ini, kamu menyimpan buku ini terus? Waktu kamu di Bali juga?”

“Dan saya baca hampir tiap hari,” Keenan menambahkan. Ia tersenyum. “Kamu sadar nggak? Kamu akan jadi penulis dongeng yang luar biasa.”

Kerongkongan Kugy tercekat. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal itu padanya, bahkan menyinggung secuil pun tentang dunia satu itu. Termasuk dirinya sendiri.

“Kali ini, saya ingin meminta satu hal lagi dari kamu,” ucap Keenan separuh berbisik. “Saya ingin minta satu hari saja. Saya ingin mengajak kamu ke satu tempat. Kapan kamu bisa, kasih tahu saya. Nanti kamu akan ngerti kenapa buku itu begitu penting buat hidup saya.”

Kugy tak paham apa yang Keenan maksud, tapi tak urung kepalanya mengangguk.

Hari Sabtu pagi. Pukul tujuh kurang lima, Keenan sudah nongkrong di ruang tamu Kugy. Tak lama kemudian, Kugy keluar. Masih dengan rambut basah dan mata yang melek terpaksa.

“Ternyata kamu memang serius gilanya. Bener-bener harus jam tujuh, ya?” sapa Kugy dengan jalan yang masih sedikit sempoyongan.

“Hari ini cuma ada satu aturan yang berlaku,” ujar Keenan sok tegas, “aturan saya.”

“Aku mau diperbudak seperti Eko dan Fuad memperbudakku bertahun-tahun, ya?” tanya Kugy lunglai.

“Pokoknya hari ini tugas kamu cuma satu, Gy: percaya sama saya. Oke. Aturan pertama, membawa beberapa baju cadangan. Udah?” Keenan mengecek.

“Udah.”

“Bagus. Aturan kedua: HP mati. Dari mulai ruang tamu ini, sampai nanti kamu kembali lagi ke sini.”

“Siap.”

Beberapa menit kemudian, mereka berangkat dari rumah Kugy. Sepanjang jalan, Kugy keasyikan mengobrol sampai-sampai tak sadar mobil itu sudah sampai di mulut tol Cikampek.

“Nan,” gumamnya, setelah mendeteksi keanehan yang terjadi, “ngomong-ngomong, kita mau ke mana, sih?”

Keenan nyengir. “Tujuan pertama pagi ini: Bandung. Kita jenguk Pilik.”

“Ke Bandung? Pilik?” Kugy terperangah. “Horeee!” teriaknya sambil melompat-lompat di tempat duduknya. Satu mobil terguncang-guncang.

Sudah tiga jam mereka menempuh perjalanan, menembusi jantung Kota Bandung, terus ke arah utara.

“Nan, aku nggak ngerti,” kata Kugy, “kok, kamu kepikir buat jenguk Pilik segala, sih? Padahal kamu cuma dua kali ketemu mereka. Harusnya ide menjenguk ini munculnya dari aku, guru mereka, yang hampir ketemu tiap hari selama dua tahun.”

“Udah, deh. Nggak usah tanya-tanya,” Keenan menyahut santai, “itu juga bagian dari kejutan hari ini.”

Mobil Keenan mendekati lokasi kampung Pilik. Jalan setapak menuju Sakola Alit sudah kelihatan. “Saya harus parkir di sini kan, ya?” tanya Keenan ketika melihat plang puskesmas yang dulu menjadi patokannya.

“Iya … tapi, biasanya ada pos jaga Mang Sukri di sini … ke mana, ya?” Kugy celingukan. Mereka berdua keluar dari mobil. Dulu, di sebelah puskesmas itu ada saung dari kayu yang merangkap pos ronda. Saung kayu yang biasanya digawangi oleh Mang Sukri kini sudah tak ada. Puskesmas kecil itu pun tampak sepi, tak terawat. Seperti sudah tak terpakai berbulan-bulan.

“Gy, daerah ini kayaknya berubah,” gumam Keenan sambil melihat sekeliling.

Kugy ikut menebarkan pandangan. Keenan benar. Daerah itu sudah berubah. Jalan setapak menuju Sakola Alit menjadi lebih besar, rumput-rumput pun sudah gundul, seperti sering dilalui kendaraan. Sekumpulan pohon bambu rimbun yang biasanya meneduhi mobil yang parkir di tempat itu sudah tidak ada lagi. Sinar matahari menerpa langsung, membuat semuanya kelihatan lebih gersang.

Mereka mulai menapaki jalan. Pemandangan yang mereka temui kian asing saja. Mereka berpapasan dengan banyak pekerja yang mengangkuti pasir, semen, batu-batu. Dan terkejutlah mereka ketika setengah kampung tempat Pilik bermukim sudah rata dengan tanah. Hamparan tanah merah terbentang luas. Tak ada rumah penduduk. Tak ada ladang. Hanya truk-truk besar, mesin backhoe, mesin pengaduk semen, dan para pekerja yang hilir mudik di lahan besar itu.

Kugy dan Keenan melongo melihat itu semua. Sakola Alit hilang tanpa bekas.

Tanpa buang waktu, mereka mencari penduduk yang masih tersisa, dan bertanya sana-sini.

“Bade didamel janten perumahan34,” jawab salah satu orang yang berhasil Kugy cegat. Seorang pengangkut kayu bakar.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.