Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Nggak semudah itu, Gy. Saya nggak sekadar pergi, ngilang dan liburan,” Keenan menatap Kugy balik, getir. “Saya pergi untuk memulai sesuatu yang baru. Saya pergi ke mana suara hati saya memilih. Dan gimana pun cara saya pergi dulu, itu adalah pilihan yang terbaik waktu itu. Saya nggak menyesal sedikit pun,” lanjutnya tegas.

Kugy rasanya tak sanggup untuk lanjut bertanya. Keenan telah memilih untuk meninggalkan mereka semua, meninggalkan dirinya, tanpa kabar. Itu adalah pilihannya, bukan kesalahannya. Tidak ada yang salah, batin Kugy. Mungkin aku yang memang terlalu berharap.

“Terus … kenapa kamu kembali lagi ke sini? Apa karena pilihan hati kamu juga?” tanya Kugy pelan.

“Bukan,” Keenan menjawab. Apa adanya.

“Kalau gitu, buat apa kembali ke sini?” Suara Kugy kini terdengar perih. “Kenapa malah ninggalin pilihan hati kamu?”

“Saya pulang untuk keluarga saya. Papa saya sakit, Gy. Lumpuh gara-gara stroke. Kalau bukan karena itu, jujur, saya mungkin nggak akan pernah kembali ke sini lagi,” jawab Keenan pahit, “saya sekarang kerja di kantor papa saya. Papa sedang terapi terus. Kondisinya udah jauh lebih baik. Kalaupun saya sekarang harus mengambil alih posisinya, mudah-mudahan nggak untuk selamanya.”

“Aku turut prihatin, ya, Nan. Aku benar-benar nggak tahu kalau papa kamu sakit,” kata Kugy sungguh-sungguh, perlahan ia menatap Keenan, “tapi, kalau papa kamu baikan, sesudah itu kamu akan pergi lagi? Ikut suara hati kamu lagi?”

Keenan terdiam. Tatapan Kugy menyadarkannya bahwa hatinya ingin berada di dua tempat. Dan meski hatinya telah ia jaga rapi untuk seseorang yang menantinya nun jauh di sana, pertemuan singkat dengan Kugy langsung menjungkir-balikkan apa yang selama ini ia bangun dengan hati-hati dan susah payah.

Melihat Keenan yang membisu, Kugy menghela napas. Batinnya berteriak semakin menjadi-jadi. Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti? Sementara sejenak saja kehadiran Keenan mampu mengobrak-abrik seluruh tatanan hatinya. Jemari Kugy bergerak, menggenggam untaian batu kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, berusaha mencari kekuatan di sana.

“Gelang kamu bagus. Lapis lazuli?”

Kugy tersentak mendengar komentar Keenan yang tak terduga. Ia cuma mengangguk, dan tak bisa menolak ketika Keenan meraih pergelangannya, mengamati gelangnya lebih saksama.

“Ini gelang yang paling cocok buat agen rahasia Neptunus,” ucap Keenan sambil tersenyum kecil, ia melirik Kugy, “bukan Neptunus yang kasih, kan?”

Kugy menggeleng. “Pacarku yang kasih,” jawabnya spontan. Lebih cepat dia tahu, lebih baik.

“Oh,” sahut Keenan pendek, berusaha menyamarkan getaran dalam suaranya, “berarti dia memang memahami kamu dengan baik. Teman kerja?”

“Iya.”

“Copy writer juga?”

“Dia atasanku.”

Keenan membunyikan “oh” pendek yang kedua kali. “Lebih tua, dong?”

“Iya.”

“Dia serius sama kamu?”

Kugy mengangkat bahu, “Yang jelas, aku nggak pernah main-main.”

Kali ini Keenan bahkan tak tergerak untuk menyahuti apa pun.

Kugy menghela napas. Gilirannya. Ia menimang-nimang dari celah mana pertanyaan ini bisa dilontarkan. “Perempuan Bali kan ayu-ayu, ada yang nyantol, nggak?” tanyanya dengan nada yang diupayakan terdengar ringan.

Keenan mengangguk. “Pacar saya sekarang memang orang Bali asli. Keponakannya Pak Wayan,” ujarnya langsung. “Dia masih muda, tapi kepribadiannya sangat dewasa.”

“Pelukis juga?” timpal Kugy, berusaha antusias.

Keenan menatap Kugy sejenak. “Bukan. Dia suka menulis. Seperti kamu.”

Kugy merasa mulutnya mendadak pahit. “Oh, ya? Dia suka nulis apa?”

“Dia …,” Keenan menerawang, “dia sastrawati yang sangat alami, secara tulisan dan lisan. Ngobrol dengan dia … rasanya kayak lagi baca buku petuah-petuah bijak. Dia bisa menulis apa saja. Tapi sekarang ini dia kepingin menulis cerita anak-anak.”

Ingin rasanya Kugy berkomentar, sekadar untuk memberikan kesan wajar, tapi ia tidak sanggup. Ada sayatan di hatinya. Pedih. Tanpa sepenuhnya ia sadari, jemarinya kembali bergerak, menggenggam gelang birunya. “Aku senang kamu pulang. Setengah mati cari mitra kerja, nih. Kehidupan agen rahasia tidak lagi seru tanpa kehadiranmu!” Mendadak, Kugy berkata riang.

“Nah, sekarang kamu pikir. Gimana caranya saya bisa eksis terus jadi agen, sementara satu-satunya orang di dunia yang menganggap saya agen rahasia Neptunus, ya, cuma kamu doang? Tanpa kamu, status agen rahasia saya nggak berlaku.” Keenan menjawil ujung hidung Kugy.

Kugy tersenyum lebar. Akhirnya, semua kembali normal. Selama mereka tidak lagi menyentuh urusan hati mereka yang paling dalam, semua baik-baik saja. Dan kini mereka bebas berbicara apa pun, tentang perjalanan dan kehidupan Keenan di Lodtunduh, cerita pekerjaan Kugy di kantor … dan pembicaraan mereka seakan tak ada habisnya. Tak terasa, tamu di rumah Eko sudah menyusut setengah. Suasana menjadi lengang.

“Woi, Perkumpulan Orang Aneh! Udah ngabisin nasi berapa piring?” Eko tiba-tiba menepak punggung keduanya dari belakang. Tampak Noni datang menyusul. Mereka berempat kini duduk bersama di atas ubin.

“Gerah ya pake baju begini? Coba bisa pake kaus oblong sama sarung,” Eko mengeluh sambil membuka jasnya.

“Terus minum kopi tubruk sama singkong goreng, dengerin radio AM, bahas harga sayur-mayur dan jadwal panen ladang …,” Keenan melanjutkan.

“Genius!” seru Kugy. “Gimana kalo reuni ini kita buat dengan tema … Kelompencapir33?”

Eko mengernyit melihat keduanya, “Gua kok lebih setuju memakai tema ‘Alien Ressurection’, ya?”

“Aku setuju dengan ide Kelompencapir! Aku pinjam kostum ke Mama kamu, ya!” Noni berkata pada Eko, dan langsung lari ke dalam rumah. Kembali lagi membawa empat kaus dan empat sarung.

Tak lama, semua pakaian mereka berganti. Empat cangkir minuman panas. Sepiring makanan kecil. Malam berlalu cepat. Terlalu singkat untuk mengiringi obrolan mereka dan kerinduan mereka akan satu sama lain. Tanpa terasa, ayam jantan berkokok dari kejauhan, membuktikan bergulirnya malam yang terlalu cepat untuk mereka berempat.

 

37.

TABIR YANG TAK BISA DITEMBUS

Jakarta, Maret 2003 …

Kegiatan Noni dan Eko di kampus yang mulai melonggar memungkinkan mereka berempat cukup sering berkumpul. Setidaknya dua minggu sekali mereka menyempatkan untuk bertemu. Dan minggu ini, rumah Keenan yang mendapat giliran.

Lena sangat gembira menyambut mereka semua. Sudah lama ia tidak melihat Keenan bergaul dengan teman-teman lamanya. Dan baginya itu pertanda bahwa Keenan mulai kerasan hidup di Jakarta. Saking senangnya, Lena rela membikinkan begitu banyak makanan sampai-sampai meja makannya nyaris tak muat lagi.

Empat-empatnya bengong melihat meja makan yang penuh sesak itu.

“Ma, kita kan cuma berempat?” tanya Keenan, “Ini sih makanan buat skala kendurian!”

“Keenan lupa memperhitungkan peliharaan kita semua, Tante,” sambar Eko, “Kugy pelihara anakonda, saya pelihara ular naga, Noni punya keluarga singa, Keenan ngasuh rombongan tunawisma—”

“Mas Eko!” Jeroen keluar dari kamarnya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.