Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Gy, kalau memang saya bisa, saya pasti pergi. Tapi saya benar-benar nggak bisa. I’ll make it up to you. Saya janji.”

Kugy merasa keputusan itu sudah final dan tak ada gunanya lagi dia merengek dan berkeluh kesah. Remi tidak bisa ikut dan dirinya harus mencoba realistis. Perlahan, Kugy mengangguk.

Remi mengambil tangan Kugy dan menciumnya, “Malam ini saya diwakili oleh si biru ini aja, ya,” ujarnya sambil mengusap gelang yang melingkar di pergelangan Kugy.

Keenan tergopoh-gopoh keluar dari mobil, dan langsung melesat memasuki rumah Eko. Tante Erni—ibunya Eko—sudah menunggunya di pintu belakang. “Nan! Oalah! Kena macet, ya? Untung masih keburu. Ayo, masuk dari sini. Acaranya sudah mulai. Ini, kotak cincinnya, kamu pegang,” seru Tante Erni seraya menyerahkan kotak kecil ke tangan Keenan.

Keenan menyusup dan menyisip di sela-sela punggung orang-orang hingga akhirnya tiba di sebelah Eko dan Noni.

Seluruh otot muka Eko langsung melonggar ketika melihat Keenan akhirnya hadir tepat waktu. Tapi mereka sudah tak sempat lagi mengobrol, hanya saling lempar senyum dan kode-kode jarak jauh.

Dari pintu depan, Kugy, yang juga baru datang, berjuang untuk bisa menembus kerumunan tamu. Apalagi kerumunan sanak saudara yang berbaris di paling depan adalah lapisan yang paling alot untuk ditembus. Namun, Kugy tak mau kehilangan momen. Ia ingin melihat pertukaran cincin itu dari dekat.

Giliran otot muka Noni yang melonggar ketika melihat Kugy tahu-tahu menyeruak muncul dari kerumunan orang, melambai-lambai kecil. Manusia satu itu muncul juga, pikirnya lega. Tak terbayang jika Kugy kembali menghilang dan melewatkan pertunangannya.

Kugy menarik napas haru. Noni terlihat begitu cantik dalam kebaya merah jambu, dan Eko terlihat gagah dengan setelan jasnya. Pertukaran cincin pun akan segera dimulai. Semua orang menanti keluarnya kotak kecil yang akan dibuka oleh Eko. Dan seketika … napasnya tertahan. Kugy mengerjapkan mata, meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi atau kena tipuan optik. Demi apa pun, Kugy sangat mengenali orang yang berdiri di sebelah Eko, yang menyerahkan kotak cincin padanya, dan bagaimana orang itu tertawa … cara ia menatap Eko dan Noni … matanya yang bersinar hangat … Kugy menggelengkan kepala sendirian. Ini nggak mungkin.

Pada saat yang bersamaan, sebuah intuisi menggiring mata Keenan memandang ke arah tempat Kugy berdiri. Ia tertegun. Juga tidak yakin dengan penglihatannya. Seluruh rongga tubuhnya seketika teraliri oleh hawa hangat. Rasanya utuh dan damai. Cuma satu orang yang mampu membuatnya seperti itu. Dan orang itu tak perlu melakukan apa-apa lagi selain hadir dan ada. Namun, Keenan masih terlalu sukar memercayai matanya. Apa yang ia lihat terlalu indah untuk dipercaya.

Ketika kedua mata mereka akhirnya saling menemukan, barulah keduanya yakin bahwa mereka tidak berhalusinasi.

Detik itu juga Kugy rasanya ingin lari, secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya. Namun, pada saat yang bersamaan, kedua kakinya seperti beku. Tertancap kaku di lantai tempat ia berdiri. Dan Kugy tetap mematung seperti itu ketika Keenan akhirnya bergerak mendekat.

Keenan bagai melangkah di lautan kala badai. Namun, seperti terhipnotis, kakinya terus digerakkan untuk mendekat. “Kugy?” panggilnya pelan, “Apa kabar?” Hanya itu yang sanggup ia katakan.

“Baik,” jawab Kugy pendek. Hanya itu yang sanggup ia jawab.

Tiba-tiba, kerumunan orang mendesak mereka. Para tamu mulai bergerak menyalami Eko dan Noni. Pandangan keduanya terhalangi orang-orang yang lalu lalang di antara mereka berdua.

Keenan terperanjat dengan kehilangan tiba-tiba itu. Panik, ia lantas meraih tangan Kugy, membuat anak itu berseru kaget karena tiba-tiba badannya tertarik maju.

“Sori, Gy. Kamu kaget, ya?” Buru-buru, Keenan meminta maaf. Kebingungan sendiri atas reaksinya tadi. Sebuah perasaan kehilangan yang rasanya tak siap dialaminya lagi.

“Nggak pa-pa, Nan,” Kugy mencoba tersenyum.

Keenan ikut tersenyum. Senyuman mereka pertama kali lagi setelah sekian lama. “Kita salamin mereka, yuk,” ajak Keenan sambil terus menggandeng tangan Kugy.

Eko dan Noni sudah melambai-lambai melihat Kugy dan Keenan yang berjalan menghampiri. Muka keduanya cerah bukan main.

“Woi! My Ring Man! Dan lu …,” Eko merangkul Kugy, “my ring worm.”

“Aduh! Senang, ya! Kita ngumpul lagi berempat!” Noni berseru gembira.

Kugy memandangi keduanya dengan tawa lebar sekaligus tatapan penuh tanya, “Iya, ya? Nggak nyangka! Nggak ada pertanda nggak ada berita, tahu-tahu kita berempat lagi.”

“Iya, setuju,” Keenan mendelik penuh arti ke arah Eko dan Noni, “panitia reuninya canggih, nih.”

Eko langsung menggamit tangan Noni. “Oke, kita berdua keliling-keliling dulu, bersosialisasi dululah, biasaaa …,” ujar Eko sambil cengengesan, “kalian makan dulu kek, ngobrol kek, nanti kalo udah agak sepi kita ngumpul berempat, ya?” Dan cepat-cepat, Eko dan Noni berlalu dari hadapan Kugy dan Keenan. Meninggalkan mereka berdua dengan segala kecanggungan yang ada.

“Makan, Gy?” Keenan menawarkan, basa-basi. Rasa laparnya sudah mencelat hilang begitu ia melihat Kugy tadi.

Kugy menggeleng, enggan. Dalam ruang batinnya yang kini berkecamuk, tak ada ruang lagi untuk memikirkan makanan. “Bentar lagi, deh. Kamu lapar, ya?”

“Nggak. Saya juga nggak kepingin makan,” jawab Keenan jujur.

Akhirnya mereka berdua duduk di taman belakang rumah Eko, berbekalkan dua gelas es buah yang juga tak kunjung disentuh.

“Aku nggak nyangka,” Kugy membuka suara, memecah kecanggungan yang sudah mulai terasa melumpuhkan, “akan ketemu kamu dengan format kayak begini,” ia tersenyum lalu mengerling pada Keenan yang mengenakan jas tiga kancing warna hitam dengan dasi berwarna perak tua. Rambut Keenan, yang dulu dibiarkan tumbuh panjang, kini pendek dan rapi.

“Nggak pantes, ya?” sahut Keenan diikuti tawanya yang renyah.

Kugy tak menjawab, karena ia tak mungkin mengatakan jawaban yang jujur: bahwa Keenan kelihatan begitu lain, bahwa Keenan tak pernah berhenti membuatnya terpukau.

“Saya juga nggak nyangka ketemu kamu dalam … gaun,” Keenan berkomentar ragu-ragu. Kamu makin cantik, sambungnya dalam hati. “Kamu membuat saya yakin bahwa Charles Darwin memang benar. Evolusi itu memang bisa terjadi.”

“Monyet!” semprot Kugy sambil tertawa.

“Ya, persis. Itu dia. Dari monyet berantakan sampai jadi manusia cantik bergaun velvet,” seloroh Keenan diikuti gelakan tawa.

Namun, dengan cepat, mereka kembali terdiam. Suara-suara yang menderu dalam batin masing-masing masih terlampau bising, tapi begitu susah untuk diungkap.

“Kamu ke mana aja?” tanya Kugy akhirnya, setelah sekian lama pertanyaan itu menggantung di benaknya.

“Ke Bali,” jawab Keenan lugas. Terlalu banyak kisah yang tertunda. Ia tak tahu lagi harus mengawali dari mana.

Kugy tersenyum pahit mendengar jawaban itu. “Ke Bali. Begitu saja? Semudah itu kamu ngilang, nggak ada kabar, terus kamu tinggal ngomong ‘ke Bali’ kayak orang baru pulang liburan,” Kugy menimpali datar, tapi sesuatu dalam nada suaranya terasa tajam menukik.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.