Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Rujukan? Memangnya mereka kenapa?” tanya Keenan. Badannya langsung menegak.

“Lu nggak tahu? Sejak pesta ultahnya Noni mereka nggak pernah ngomongan lagi. Nyaris tiga tahun! Bayangin aja. Ajaib nggak, tuh.”

Sentakan yang ketiga kali. Keenan masih belum bisa bereaksi netral dengan memori malam satu itu. “Kenapa Noni dan Kugy bisa sampai gitu, ya?” gumamnya.

Eko tak menjawab, hanya mengangkat bahu. Ia ingin bilang bahwa Noni telah bercerita padanya soal kado ulang tahun yang tak pernah sempat Kugy berikan, tentang perasaan yang Kugy pendam bertahun-tahun, dan bagaimana perasaan tersebut menjadi alasan utamanya untuk menyingkir dari pertemanan mereka waktu itu. Namun, Eko juga ragu, apakah hal itu ada gunanya. Keenan sudah punya kekasih di Ubud. Kugy sudah punya kehidupan sendiri. Jika ada satu hal yang ia dambakan, hanyalah mereka berempat bisa bersahabat lagi. Itu saja sudah cukup. Kalaupun Keenan harus tahu, biarlah ia tahu sendiri, batin Eko.

“Anyway, good luck buat Februari, ya. Gua pasti hadir,” ujar Keenan seraya merangkul bahu Eko.

“Hadir? Setelah ngilang segitu lama, gua bakal membiarkan lu CUMA hadir?” Eko melengos.

“Abis ngapain, dong?”

“Lu bakal jadi best man gua di sana. Alias … tukang cincin.”

Tawa Keenan menyembur. “Satu kehormatan buat gua. Tapi, asal lu tahu, ‘best man’ dan ‘tukang cincin’ itu adalah dua hal yang nggak nyambung.”

Eko berpikir sejenak. “Jadi, harusnya … ‘ring man’?”

Setelah berminggu-minggu kerja lembur, tubuh Kugy menyerah kalah. Pada hari ulang tahunnya, Kugy terpaksa meringkuk di tempat tidur karena sakit flu. Dalam hati, Kugy bersyukur. Ia sudah mendengar desas-desus bahwa satu kantor bermaksud mengerjainya habis-habisan hari ini, dan isu utamanya justru bukan dalam rangka perayaan ulang tahun, melainkan gara-gara ia kini resmi menjadi pacar Bos Besar. Ulang tahunnya hanyalah alat tumpangan strategis di mana semua kawannya punya kesempatan untuk meluapkan emosi dan ekspresi apa pun atas hubungan barunya dengan Remi. Entah itu sekadar mengucapkan selamat, menimpuk pakai telur, membanjur air, dan seterusnya.

Seharian penuh ia hanya teronggok di tempat tidur, bertimbunkan bantal dan guling. Kugy menikmati betul istirahat ini. Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu. Kugy melirik jam. Bahkan belum pukul tujuh malam.

“Masih kenyang! Aku makan malamnya nanti aja!” seru Kugy tanpa beranjak dari kasur.

Namun, pintu itu tetap membuka. Dan muncullah Remi, dengan wajah bersinar diterangi lilin kecil. Kugy mengangkat badannya sedikit. Remi? Kue tar?

Remi masuk hati-hati, membawa kue tar cokelat kecil dengan satu lilin yang menyala, seikat bunga aster segar, bernyanyi pelan, “Happy birthday to you … happy birthday to you ….”

Kugy langsung terduduk tegak. Antara kaget dan ingin tertawa. Namun, ia terpaksa menunggu Remi menyelesaikan dulu lagunya, dan kemudian meniup lilin yang disorongkan ke mukanya. Usai lilin itu padam, tawa Kugy langsung lepas, “Kamu, tuh! Apa-apaan sih, pakai prosesi ginian segala?”

“Kenapa memangnya? Ada masalah?”

Kugy menggeleng cepat, pipinya merah padam. “Aku malu. Kikuk kalo diperlakukan kayak gini,” ujarnya pelan.

“Aneh,” balas Remi geli, “tukang khayal tapi kena jurus cemen gini aja kikuk. Kelamaan jomblo, ya?” ia lantas mengecup kening Kugy, “Selamat ulang tahun ya, Kugy-ku. Badan kamu masih hangat.”

Kugy menempelkan telapak tangannya di keningnya sendiri, “Iya, ternyata masih. Tapi rasanya aku udah baikan, kok. Apalagi setelah kamu muncul bawa kue dan bunga barusan. Lumayan ada bahan ledekan,” Kugy terkekeh.

“Saya punya sesuatu yang bisa bikin kamu sejukan,” lantas Remi mengeluarkan kotak hitam ramping dari kantong celananya, “ini … hadiah ulang tahun untuk kamu.”

Kugy terbengong-bengong melihat kotak yang terbuka di hadapannya. Seuntai gelang yang terdiri dari batu-batu mungil berwarna biru cemerlang.

“Benda ini barangkali nggak akan matching dengan jam Kura-kura Ninja kamu. Tapi, tolong dipakai, ya?” Remi lalu memasangkan gelang itu di pergelangan kiri Kugy. “Ini namanya batu lapis lazuli,” ia menerangkan, “warna birunya paling menyerupai biru laut. Jadi, kalau kamu kangen pantai, kangen laut, kamu bisa lihat warna birunya di gelang ini.”

Kali ini Kugy hanya dimampukan untuk diam dan menelan ludah.

“Kenapa lagi sekarang?” Remi tersenyum seraya mengelus pipi Kugy.

“Aku nggak tahu kamu sedang pakai jurus apa, tapi … aku belum pernah dapat hadiah seindah ini,” bisik Kugy. Ia lalu menggerakkan tubuhnya yang masih lemah untuk mendekap Remi seerat mungkin, “Makasih, ya. Aku akan pakai tiap hari.”

“Saya nggak pakai jurus apa-apa, Gy,” Remi balas berbisik, “I just love you. Sesederhana itu.”

Dalam dekapan Remi, Kugy menyadari sesuatu. Keenan mungkin adalah Pangerannya saat ia masih berumur 18 tahun. Sebuah dongeng indah. Namun, inilah kenyataan sederhana yang membangunkannya dari tidur panjang dalam alam dongeng. Remilah Pangeran Sejatinya. Remi nyata, ada, dan mencintainya.

 

36.

REUNI KELOMPENCAPIR

Jakarta, Februari 2003 …

Jumat sore. Acara pertunangan Noni dan Eko dimulai dua jam dari sekarang. Berhubung tak sempat lagi pulang ke rumah, Kugy sudah membawa semua perlengkapannya ke kantor. Dan ia baru saja keluar dari toilet untuk berganti baju dan berdandan sebisanya. Kugy mematut diri di kaca, mengecek penampilannya sekali lagi. Ia mengenakan gaun beledu selutut warna biru tua. Gaun pertama yang dibelinya lagi setelah bertahun-tahun. Kugy jatuh cinta pada gaun itu karena potongannya yang sederhana hingga ia tak canggung untuk berangkat dari kantor dengan gaun itu, sekaligus cukup mewah hingga ia tidak perlu merasa minder untuk menghadiri resepsi pertunangan sekalipun. Terakhir, ia mengenakan gelang lapis lazuli yang dihadiahkan Remi. Kugy pun tersenyum puas. Cukup satu benda mungil itu saja melingkar di pergelangannya, ia langsung merasa segalanya sempurna.

Kugy lalu menghampiri Remi ke ruangannya. “Remi, yuk, udah jam lima, nih. Macet lho di jalan. Acaranya kan mulai setengah tujuh.”

Remi, yang sedang berbicara di ponsel, langsung menyudahi pembicaraannya cepat-cepat, lalu menatap Kugy sambil tercekat.

“Yuk?” Kugy mengajak sekali lagi sambil tersenyum lebar, “Kok bengong?”

Napas panjangnya menghela, dan Remi menggigit bibirnya gelisah. “Oke, saya bengong karena dua hal. Pertama, kamu … sumpah, cantik banget ….”

Senyum Kugy tambah sumringah, “Dan yang kedua?”

“Saya nggak bisa ikut.”

“Ha?” Kugy berseru kaget. “Tapiā€”tapi kan kamu udah janji mau nemenin aku! Kita kan janjian dari dua minggu yang lalu!”

Remi menghampiri Kugy, meremas kedua bahunya. “Gy, sori, barusan banget agency dari Vector Point telepon, mereka ingin saya presentasi final ke klien kita hari ini. Bos mereka harus ke luar negeri besok pagi. Jadi nggak ada waktu lagi.”

Kugy sudah mau nangis rasanya. “Remi … tapi ini sobat-sobatku dari kecil … aku kepingin banget ngenalin kamu ke mereka … dan acara ini penting buatku ….”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.