Baca Novel Online

Perahu Kertas

Noni menggeleng. Siap meledakkan tangis berikut. “Kenapa lu nggak pernah ngomong, Gy? Kalau dulu gua tahu tentang perasaan lu, pasti nggak begini ….”

“Sebetulnya gua selalu pingin kasih tahu, Non … tapi gua ngerasa nggak bisa apa-apa ketika lu dan Eko berencana untuk mengenalkan Wanda ke Keenan … dan gua lihat misi kalian berhasil … sementara gua sendiri masih pacaran sama Ojos … gua bingung mau bilang apa, mau bersikap apa … lebih baik gua jauh sekalian dari kalian semua ….” Mata Kugy mulai berkaca-kaca. “Dan soal Eko ….”

Tangis Noni meledak tak tertahan. “Gy … gua yang harus minta maaf soal itu. Sebegini lama kita sahabatan, gua nggak pernah mau mengakui kalau gua selalu cemburu sama lu, gua selalu merasa ada di bawah bayang-bayang lu … makanya, begitu Eko kelihatannya masih merhatiin dan dekat sama lu, reaksi gua jadi berlebihan … padahal dia nggak ada maksud apa-apa. Gua cemburu ngelihat persahabatan kalian, ngelihat kalian tetap deket. Sementara gua sama lu malah jauh,” Noni menerangkan sambil berurai air mata.

Kugy tak sanggup bicara lagi. Hanya memeluk Noni dan mengusap-usap punggung sahabatnya.

“Lu maafin gua kan, Gy?”

“Asal lu juga maafin gua, Non,” kata Kugy lirih.

Keduanya berpelukan lama. Mencairkan apa yang sudah membeku selama hampir tiga tahun.

“Gua juga mau kasih tahu sesuatu …” bisik Noni.

“Bahwa lu sebenarnya Batman?”

Noni nyaris tersedak karena ledakan tawa yang bentrok dengan isak tangis. “Monyong!” makinya pelan, “Berita serius, nih …”

“Oke, oke. Apa?” Kugy melipat tangannya, siap mendengar.

“Berhubung ortu-ortu udah mendesak, yah, you know lah, jadi …,” Noni berdehem, “bulan Februari depan, tepat pada hari Valentine, gua dan Eko tunangan.”

Kugy melongo. “Gua … kok … kayaknya lebih siap dengar kalo lu sebenarnya Batman.”

Noni terpingkal-pingkal sambil menghapusi air matanya, “Dasar orang gila … gua kangen banget sama lu!”

Kugy tersenyum. Tergerak sekali lagi untuk memeluk Noni. “Selamat ya, Non. So happy for you. Emang udah jatah kalian berdua untuk saling menghancurkan hidup satu sama lain,” selorohnya, “kalian memang pasangan paling serasi. Gua bahagia, dua sahabat gua bisa jalan bareng sejauh ini. You guys truly deserve it.”

“Makasih, Gy,” sahut Noni, “but, you know what? Sebetulnya, dari dulu, gua dan Eko merasa lu dan Keenan adalah pasangan paling serasi. Kalian tuh sama-sama aneh … ancur … nggak jelas—”

“Lu memuji atau menghina sih, Non? Yang jelas, dong! Jangan setengah-setengah gitu!” tukas Kugy sok galak.

Noni nyengir, “Jadi, kalau satu saat kesempatannya ada, lu akan kasih buku itu ke Keenan?”

Wajah Kugy berubah serius. Ia lalu menggeleng. “Buku itu hanya bisa gua kasih ke seseorang yang bakal mengisi hati gua selamanya. Dan, sepertinya orang itu bukan dia.”

Noni terdiam. Ingin rasanya mengatakan pada Kugy, bahwa Keenan telah pulang, bahwa Kugy kini berada satu kota dengannya. Namun, lidahnya kelu. Biarlah Kugy tahu sendiri satu saat nanti, batinnya.

“Sekarang, giliran gua mau kasih tahu sesuatu,” Kugy tersenyum cerah. Ia kelihatan berbunga-bunga.

Noni menyadari perubahan air muka sahabatnya. “Lu—lagi jatuh cinta, ya? Sialan. Sama siapa, hayo? Bilang!”

“Non … gua punya pacar!” Kugy lalu jingkrak-jingkrak sendiri, kegirangan.

Noni menjerit histeris. “Siapaaaa?”

“Bos gua sendiri! Ha-ha!” Kugy tertawa-tawa.

Noni mengernyit. “Kalo gua Batman, lu Inem Pelayan Seksi! Bisa-bisanya jadian sama bos sendiri. Ngehe emang lu!” Tapi tak lama Noni ikut tertawa, “I’m happy for you, too. Kenalin, dong.”

“Pastilah. Nanti pas acara tunangan lu, gua ajak dia, ya?”

“Asyiiik!” Noni bertepuk tangan. Tiba-tiba, dengan gerakan gesit ia mengalungkan sesuatu di leher Kugy.

“Eh, eh, eh … apaan, nih?” Kugy kaget dengan benda asing yang tahu-tahu tergantung di lehernya.

“Selamat. Kamu berhasil jadi juara satu. Tidak ada yang menggeser posisi lu buat gua, Gy,” ucap Noni sambil tersenyum ceria.

Kugy membaca tulisan di medali emas itu. Sahabat Terbaik dan Terawet. Napasnya langsung tertarik ulur panjang-panjang. Setengah mati menahan haru. “Serius, Non … gua tetap lebih siap kalo lu sebenarnya Batman …,” desis Kugy.

Sesampainya di depan pagar rumah itu, Eko langsung bertemu muka dengan tantenya yang sedang menyirami tanaman pot di sekitar gazebo taman.

“Tante Lena!” panggilnya.

Lena segera meletakkan penyemprot di tangannya, dan menghampiri Eko dengan tangan membentang. “Ekooo … ya, ampun. Apa kabar kamu?”

“Baik, Tante,” Eko balas merangkul tantenya. “Mama kasih tahu aku, katanya Keenan—”

“SETAN ALAS KEPARAT!” Tahu-tahu ada suara keras yang berteriak dari arah rumah.

“TOKAI BERANTAKAN!” Spontan, Eko membalas. Refleks berikutnya adalah meminta maaf pada tantenya, “Maap, maap, Tante … itu bukan memaki, tapi ungkapan sayang—” Sebelum kalimatnya selesai, Eko sudah keburu ditubruk dan dirangkul.

Keenan dan Eko, berpelukan, tertawa-tawa, dan tak henti-hentinya saling mengumpat. Lena meringis-ringis sendiri mendengar pertukaran makian antara kedua anak itu. Tak lama kemudian, mereka masuk ke rumah, ke kamar Keenan.

Setelah kenyang bertukar makian, sepanjang siang keduanya bertukar cerita. Saling tercengang dan takjub atas cerita masing-masing.

“Jadi, lu skripsi semester ini? Tengah tahun lulus? Yeah! Welcome to the real world!” Keenan menepuk bahu Eko.

“Biasa aja kali. Tepat waktu, sih, tapi standarlah. Masih ada yang lebih gila daripada gua. Rekan alien lu, tuh. Kugy udah lulus dari tahun lalu. Udah kerja. Sukses pula,” tutur Eko.

Ada sentakan dalam hatinya begitu mendengar nama itu disebut. “Kugy? Kerja di mana dia?” tanya Keenan.

“Di perusahaan advertising, gitu. Jadi copywriter. Sesuailah dengan bidangnya.”

Keenan mengangkat alis, “Gua pikir bidang dia adalah nulis dongeng.”

“Nan? Hello? Please, deh. Hari gini nulis dongeng! Lu kata kita hidup di negeri peri?” Eko terbahak. “Lha elu … siapa yang bakal nyangka seorang Keenan bisa jadi businessman di Ibu Kota?”

Sentakan kedua dalam hatinya. “Well, gua sih berharap ini cuma sementara. Yang jelas, untuk sekarang ini, gua nggak ada pilihan, Ko. Keluarga gua nggak punya pilihan,” Keenan berkata, berat.

Eko gantian menepuk bahu sepupunya. “Gua ngerti, man. Apa pun yang bisa gua bantu, let me know, oke?”

Keenan tersenyum, “Jangan ge-er, ya. Tapi ngelihat lu doang, tanpa lu perlu ngapa-ngapain, rasanya hidup gua kembali normal.”

“Gombal gila,” Eko memonyongkan mulut, “sejak kapan juga hidup lu normal?”

“Good point,” Keenan mengangguk sepakat. “Kapan ya gua bisa ketemuan sama lu dan Noni? Kita jalan ke mana kek ….”

“Siap! Apalagi Noni dan Kugy baru rujukan. Kan pas, tuh.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.