Baca Novel Online

Perahu Kertas

“Mari terus maju, hai Juru-juru Dongeng!

Tangkaplah setiap sasaran tujuan hati. Dan jangan takut.

Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar,

Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.”

Noni ingat, Kugy kecil amat bangga dengan kutipan itu. Waktu itu Kugy bilang padanya, “Non, aku ingin jadi Juru Dongeng.” Sementara Noni sendiri belum mengerti maksud tulisan itu apa. Tapi Kugy sudah.

Di sampul paling belakang, terdapat selipan yang bisa dipakai untuk menyimpan sesuatu. Noni tidak akan mengeceknya jika saja ujung kertas putih yang diselisipkan di sana tidak menyembul keluar. Diambilnya kertas itu. Sebuah amplop putih, berisi sehelai kartu. “Happy Birthday?” gumam Noni sendirian. Siapa yang ulang tahun?

Noni lantas membuka kartu itu dan membaca tulisan Kugy:

Hari ini aku bermimpi.

Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.

Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.

Belum pernah sedekat ini.

Hari ini aku juga bermimpi.

Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.

Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersamakamu dan ilustrasimu.

Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.

Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini.

Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

Selamat Ulang Tahun.

Keenan! Noni langsung menduganya. Tak mungkin salah lagi. Buku ini pasti diperuntukkan bagi Keenan. Noni melihat tanggal yang tertera di sudut kanan atas: 31 Januari 2000.

Tangannya yang memegang kartu itu mendadak melemas. Noni cukup mengenal Kugy untuk mengetahui kedalaman kata-kata yang ditulisnya, perasaan sedahsyat apa yang mendorongnya. Pelan-pelan, Noni merangkaikan semuanya.

Pelan-pelan, Noni tahu, mengapa dulu Kugy selalu menghindar, mengapa Kugy tidak datang ke pestanya, mengapa Kugy akhirnya memilih pisah dengan Ojos, mengapa Kugy seperti orang tertekan. Pelan-pelan, ia paham. Semuanya.

Diselipkannya lagi kartu itu dengan hati-hati. Noni sampai ingin menangis karena miris. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam dan diam.

Eko berlari tergopoh-gopoh menuju kamar Noni seusai memakirkan Fuad di halaman depan. “Noon … Nooon …,” panggilnya sambil berlari.

Noni segera keluar kamar. “Kenapa, Ko?”

“Barusan Nyokap kasih tahu, Keenan udah di Jakarta!”

Noni terenyak. “Dia—di Jakarta? Pulang ke rumahnya?”

“Iya. Dia pulang karena Oom Adri kan sakit parah. Kata Nyokap, selama ini ternyata dia di Bali,” Eko menjelaskan dengan semangat, “aku pokoknya harus ketemu manusia itu. Asli, pokoknya aku acak-acak tuh anak!” Eko berteriak kegirangan, “Pas banget ya dia pulang? Jadi, dia bisa dateng ke acara kita bulan depan.”

“Ko … aku juga mau ke Jakarta,” Noni berkata lirih.

“Kamu mau ikut ketemu Keenan?”

“Aku mau ketemu Kugy.”

Giliran Eko yang terenyak. “Kamu … yakin? Kamu udah siap?”

Noni mengangguk. “Aku mau minta maaf.”

 

Jakarta, Januari 2003 …

Keenan memandangi bayangannya sendiri dalam cermin yang tergantung di tembok kamarnya. Sudah seminggu ini ia menjalani rutinitas yang sama. Menatap bayangannya yang terbungkus dalam kostum yang terasa asing. Celana kain, kemeja rapi, sepatu loafer, ia bahkan mengantongi sehelai dasi yang kadang-kadang dibutuhkan.

Ia bangun setiap pagi dan bekerja di kantor ayahnya. Berkendara bersama jutaan manusia Jakarta lain yang pergi bekerja dan pulang pada waktu yang sama. Tak jarang ia pulang setelah makan malam. Selain untuk menyiasati macet, begitu banyak yang harus ia pelajari.

Betapa waktu berjalan cepat di sini. Berlari dan membanjir. Jauh berbeda dengan hari-harinya di Ubud di mana waktu terasa hanya berjalan, bahkan menetes. Keputusannya untuk segera mengambil alih tugas ayahnya telah menyita semua energi dan fokusnya. Ia bahkan belum merasa meluangkan waktu yang cukup untuk hidup di rumah, bersama orangtua dan adiknya.

Satu-satunya hiburan yang membuat hatinya sejuk hanyalah pemandangan ayahnya yang kian membaik dari hari ke hari. Setiap pagi, di kursi roda, ia melepas Keenan pergi dengan senyum. Dan jika ia pulang, Jeroen selalu menyempatkan diri untuk menungguinya, demi mengobrol sebentar sebelum tidur. Dan mamanya yang selalu memastikan segalanya baik, segalanya cukup.

Selain keluarganya, tak satu pun teman dan saudaranya yang sempat ia temui. Ia bahkan belum mengontak siapa pun. Terlalu lama ia hilang hingga Keenan tidak tahu harus memulai dari mana. Napasnya mendadak menghela. Eko. Ia teringat sepupunya satu itu. Dan betapa ia merindukannya.

Kugy … Keenan pun terduduk di tempat tidur. Begitu keluar dari Pulau Bali, ia sudah merasa dihadapkan lagi dengan segala kenangan tentang Kugy. Di angkasa … di awan … di jalanan … semua memori dan perasaan seolah berlomba-lomba untuk bangkit. Walaupun kini kemungkinan untuk bertemu Kugy jauh lebih besar, tetap Keenan tidak menginginkannya. Sedapat mungkin tidak menginginkannya.

Keenan meraupkan tangannya ke muka. Berharap andai ada satu cara, satu penghapus besar yang bisa membersihkan otaknya dari kenangan itu, sebersit perasaan yang selalu bercokol dan mengusiknya dari waktu ke waktu, yang membuatnya terkadang merasa bersalah pada Luhde. Mendadak, Keenan gemas sendiri. Mengapa manusia satu itu begitu susah dilupakan?

Ia lalu bangkit berdiri. Mengecek bayangannya sekali lagi. Kemudian berangkat pergi. Masuk ke pusaran waktu Jakarta yang cepat. Berharap dengan demikian, bayangan Kugy terenyahkan jauh-jauh.

 

35.

PANGERAN SEJATI

Hari Minggu. Hari kemerdekaan bagi Kugy. Dalam arti, ia bisa tidur semerdeka-merdekanya. Namun, tiba-tiba, bahunya diguncang-guncang seseorang. Dan mengukur dari matanya yang masih sangat berat, Kugy tahu bahwa hari masih terlalu pagi untuk bangun.

“Gyyy … banguuun! Banguuun! Wooiii!”

Kugy seketika curiga dirinya masih mimpi. Ia hafal betul teriakan-teriakan barbar itu, tapi … mana mungkin! Kugy lantas menarik selimutnya lebih tinggi.

“Gyyy!” Suara itu kian melengking. “Bangun, dooong! Tega banget sih, gua udah jauh-jauh dateng, nih!”

Kugy memaksakan kelopak matanya membuka. “Non?” gumamnya tak percaya. Ia terduduk langsung. Dan serta-merta, Noni mendekapnya. Lengkaplah mimpi aneh ini, pikir Kugy. Masih linglung.

“Gy … maafin gua, ya. Sori banget untuk semuanya,” bisik Noni di kupingnya. Dan tak lama, Noni mulai tersengguk-sengguk.

“Non, elu kenapa?” Kugy bertanya bingung.

“Gua baru ngerti sekarang. Tiga tahun, Gy. Dan gua baru ngerti … sori, ya …” kata Noni di sela isakannya.

“Tiga tahun—apaan?” Kugy tambah bingung.

Perlahan, Noni melepaskan rangkulannya, lalu meraih tasnya, menyerahkan sebuah bungkusan pada Kugy. “Maaf, Gy. Ini gua bungkus ulang. Gua kepaksa buka. Barang ini ketinggalan di kamar kos lu yang lama.”

Kugy tercengang melihat benda itu kembali ke hadapannya. Badai besar seketika menyapu hatinya. Kepala Kugy pelan menggeleng. “Nggak semestinya buku ini kembali ke gua, kok, Non. Lu ambil lagi aja, disimpan, atau diapain kek, terserah,” katanya getir.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.