Baca Novel Online

Perahu Kertas

 

Jakarta, malam tahun baru 2003 …

Semilir angin pantai mengembus halus, terasa hangat di kulit, walaupun waktu sudah bergerak lebih sejam dari tengah malam. Dengan kaki telanjang, Kugy duduk di ayunan. Kakinya mengayuh setengah menyeret, memainkan pasir dengan jemarinya.

“Kamu jadi kelihatan kayak anak kecil kalau duduk di ayunan,” cetus Remi yang berdiri di belakangnya.

“Hei, kok nggak di dalam?” Kugy membalikkan badan, menunjuk cottage yang ingar-bingar oleh anak-anak kantor. Berdasarkan inisiatif beberapa orang, yang disambut oleh sebagian besar lainnya yang kebetulan tidak punya acara khusus, mereka bertahun baru bersama di Ancol. Menyewa satu cottage besar dan membuat acara sendiri.

“Sumpek,” jawab Remi pendek, lalu berjalan menghampiri Kugy, mendorong ayunannya pelan.

“Iya, enak di sini, dengar suara laut. Lagu alam paling merdu.”

“Setuju. Tahun lalu saya juga tahun baruan di pantai. Ombaknya jauh lebih merdu dari ini.”

“Oh, ya? Di mana?”

“Di Sanur.”

“Tahun lalu, aku mengkhayal kepingin tahun baruan di pantai—dari teras rumah,” Kugy terkekeh.

“Tahun ini kesampaian, dong. Akhirnya bisa ke pantai juga.”

Kugy mengangguk lucu, “Yup. Ancol dulu. Mudah-mudahan tahun depan bisa upgrade jadi Sanur.”

“Nggak usah nunggu tahun depan kalo cuma mau ke Sanur. Mau kapan? Yuk, saya temenin,” kata Remi sambil tersenyum.

“Minggu depan?”

“Ayo.”

“Mmm … bulan depan?”

“Ayo.”

“Tengah tahun?”

“Ayo.”

“Kok ‘ayo’ terus, sih? Kamu nih, nggak ada perlawanan banget,” Kugy tergelak. Dan tiba-tiba kursi ayunannya berputar. Remi telah memutarnya hingga mereka berdua kini berhadapan.

Remi lalu membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Kugy. “Ke mana pun itu, dari mulai warung nasi goreng sampai Pantai Sanur … kapan pun itu, dari mulai hari ini sampai nggak tahu kapan, selama bisa bareng sama kamu, saya mau.”

Kugy terkesiap. Pikirannya berusaha mengejar apa yang dikatakan Remi, sekalipun hatinya sudah tahu. Sudah lama tahu. “Remi … kamu itu … atasanku …,” ujarnya terbata.

Remi mengangguk. “Iya, saya tahu ini semua menyalahi etika perkantoran mana pun. Saya mempersulit posisi kamu. Juga mempersulit diri saya sendiri. Tapi, kalau cuma karena itu saya jadi nggak jujur pada hati saya sendiri, buat saya itu lebih nggak masuk akal.”

Kugy menelan ludah, “Tapi … kamu … temannya Karel ….”

“Kamu ada masalah kalau pacaran sama cowok yang lebih tua? Pacaran sama teman abang kamu?” Remi tersenyum simpul.

Mendengar kata “pacaran”, jantung Kugy berdegup lebih kencang dan tubuhnya mengunci. Tegang. Kugy berusaha menenangkan hatinya, mengatur napasnya. Berusaha sebisa mungkin menatap Remi dengan tenang dan berkata tanpa gemetar, “Aku ada masalah pacaran dengan siapa pun kalau aku belum benar-benar tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.”

Tampak air muka Remi berubah. Manusia yang biasanya selalu tampil rileks dan luwes itu kini terlihat gelisah. Mulutnya setengah membuka, tapi tak ada kata-kata yang terlontar. Dengan gugup, ia membuang pandangannya sebentar ke arah lain, seolah mengumpulkan kekuatan untuk bicara.

“Kamu …,” suara itu bergetar, “… kamu adalah alasan baru saya ke kantor setiap hari. Kamu bikin saya semangat … bikin saya ketawa … bikin saya kepingin melakukan banyak hal … bikin saya nyaman …,” Remi berhenti sejenak, menenangkan jantungnya yang juga berdebar tak keruan, “kamu … bukan cuma bikin saya kagum, tapi juga jatuh cinta.”

Giliran Kugy yang kehilangan pertahanan, kehilangan kemampuan untuk berpura-pura tenang. Dalam hatinya, terjadi perseteruan hebat. Untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan sebuah dilema yang sebelumnya tak pernah ada. Sebelum ini, ia tahu persis siapa yang ia idamkan, impikan, dan harapkan. Namun, kini semuanya tak jelas lagi. Yang ia tahu, Remi begitu dekat, nyata, dan terjangkau. Remi hadir dalam hari-harinya, bukan mimpinya.

“Kamu sadar nggak, sih? Saya tergila-gila sama kamu,” bisik Remi halus.

Kugy tidak yakin dirinya bisa berkata-kata. Namun, untuk pertama kalinya, Kugy melihat sosok di hadapannya itu dalam makna yang berbeda. Ia hanya berharap Remi bisa melihat itu. Membaca dari matanya. Dilema hatinya telah usai. Hatinya telah memilih.

Seakan mendengar apa yang tak terucap, Remi pun tersenyum lembut. Ia bergerak mendekat, menghampiri wajah Kugy, mendaratkan bibirnya di atas bibir Kugy. Menciumnya dengan segala perasaan yang selama ini ia pendam.

Suara ombak yang menyapu dari belakang menyelimuti mereka berdua dalam alunan merdu yang tak berkesudahan. Namun, suara yang sama seolah mengingatkan Kugy akan sesuatu. Dalam hati, ia mengucapkan selamat tinggal pada satu nama yang begitu lama melekat di hatinya. Melepaskannya pada angin dan ombak. Menghanyutkannya di air laut. Merelakannya lepas bersama malam terakhir di ujung tahun.

Di teras rumahnya, Keenan berdiam sendirian. Menimang-nimang telepon selulernya di genggaman. Melihat sederet nomor yang sedari tadi terpampang di layar ponselnya dan tak kunjung ia hubungi. Nomor satu itu selalu disimpannya, tanpa pernah tahu apakah nomor itu masih berlaku atau tidak. Ia hanya ingin menyimpannya, melihatnya sesekali. Seperti malam ini.

Meski kini jarak mereka mendekat, tidak lagi terpisah lautan, Keenan malah merasa mereka menjauh. Entah kenapa.

Kecil, kamu jauh sekali rasanya. Semoga kamu masih mengingat saya.

 

Bandung, Januari 2003 …

Hari pertama perkuliahan setelah liburan selesai. Hari pertama dari semester terakhir bagi Noni, dan juga Eko.

Noni mulai menyortir dan mengepak buku-buku perkuliahan awal yang sudah tidak dibutuhkannya lagi. Kamarnya sudah seperti gudang yang sesak dengan barang-barang yang bertahun-tahun tak terpakai tapi dibiarkan bertahan hanya karena ia selalu sayang membuang barang. Penyakit yang selalu diprotes Eko dan memberinya predikat tambahan, yakni: “Tukang Pulung”.

Sudah hampir setengah jalan ia menyortir, tiba-tiba matanya terbentur pada satu barang yang ia jebloskan di laci berbulan-bulan yang lalu tanpa pernah dilirik lagi. Sebuah bingkisan berwarna biru yang tertinggal di kamar Kugy lalu dititipkan padanya.

Noni mengambil benda itu dan meletakkannya di pangkuan. Pasti ini kado dari Ojos, yang tertinggal atau sengaja ditinggal oleh Kugy, duganya dalam hati. Tangannya bergerak ingin membuka, tapi Noni mengurungkan niat itu. Biarpun barang ini tercecer bahkan gelagatnya seperti dibuang, tetap ini urusan pribadi Kugy, pikir Noni. Tapi … masa aku mau simpan terus di sini? Akhirnya, tanpa pikir panjang, Noni membukanya.

Sebuah scrapbook. Tanpa judul. Di dalamnya direkatkan potongan-potongan gambar. Setiap gambar bersebelahan dengan cerita yang ditulis tangan. Noni seketika mengenali tulisan itu. Tulisan tangan Kugy. Noni pun mengenali cerita-cerita yang ditulis di sana. Kumpulan cerita yang dibuat Kugy bertahun-tahun tanpa pernah ia publikasikan, hanya dipamerkannya ke beberapa orang, termasuk dirinya.

Di halaman pertama, terlekatlah fotokopi tulisan tangan Kugy sewaktu kecil. Noni pun hafal tulisan itu. Kugy sering menuliskannya di buku-buku dongeng koleksinya, terutama pada buku-buku yang ia anggap spesial. Sebuah kutipan dari W.B Yeats:

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.