Baca Novel Online

Perahu Kertas

Luhde memandangi punggung pamannya dengan perasaan sesal. Ia tidak bermaksud membuat pamannya bertambah sedih. Kedatangan Lena tadi pastinya sudah memorak-porandakan hati pamannya, menguak luka-luka berumur puluhan tahun. Ia menyesal telah menambahkan duka yang tak perlu, hanya karena tak sanggup menahan diri untuk bertanya.

Semenjak pamannya berpisah dengan Lena, pria itu tidak pernah jatuh cinta lagi. Ia memilih hidup sendiri dan tidak menikah dengan perempuan mana pun. Baginya, Lena adalah yang terakhir dan tak tergantikan. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup dalam kebohongan, begitu kata pamannya selalu.

Poyan terkenal dengan lukisan-lukisan upacara Balinya, tapi orang-orang terdekatnya tahu, objek itu hanyalah pelarian belaka. Lukisan Poyan yang dulu jauh lebih bagus, begitu kata mereka yang tahu. Dulu, Poyan hanya melukis perempuan. Satu perempuan yang sama. Entah ke mana lukisan-lukisan itu sekarang. Tersebar di kolektor atau tersimpan entah di mana. Yang jelas, pamannya tidak pernah lagi melukis seperti dulu. Ia bahkan sempat berhenti bertahun-tahun. Dari semua lukisan yang dulu ia buat, hanya satu yang masih disimpannya. Dan dari satu lukisan yang tersisa itulah Luhde mengenalnya. Lena. Perempuan yang begitu dicintai Poyan dan tak pernah bisa dimilikinya.

Bintang jatuh yang menggelincir pergi dari tangannya dan tak pernah lagi bisa ia tangkap, begitulah definisi Poyan atas kisah cintanya dengan Lena. Dan sepanjang hidupnya, Poyan berdiam dalam kesendirian dan kenangan. Cintanya pada Lena cukup untuk menemaninya sekali dan selamanya, pamannya pernah berkata. Bahkan cukup bagi Poyan untuk mencintai Keenan seperti anaknya sendiri, meski karena kehadiran Keenanlah ia harus berpisah dengan Lena.

Lekat, Luhde memandangi punggung pamannya yang kian menghilang di gelap malam dan bersatu dengan bayangan pepohonan. Dari pria itulah ia belajar tentang kekuatan hati, kekuatan mencinta. Dan hari ini, hatinya ikut diuji.

 

Jakarta, Desember 2002 …

Kugy terpaksa pulang larut lagi dari kantor. Sambil menunggu taksi pesanannya, ia nyaris tidur duduk di sofa lobi saking letihnya. Tiba-tiba pintu terbuka, empat orang masuk dengan suara gaduh. Mereka membawa lukisan besar yang terbungkus karton.

Tampak satpam kantor mengarahkan empat orang itu untuk mencopot lukisan besar di dinding belakang meja resepsionis, lalu memasangkan lukisan yang baru di sana. Kegaduhan pun berlanjut, Pak Satpam dengan semangat memberi komando, “Ya! Ya! Geser kiri sedikit … kebanyakan … ya! Ya! Kasih kanan bawah … stop! Cukup! Mantap!”

“Wuih … cakepan gambar yang baru, nih,” satpam itu lantas berkomentar diiringi decak kagum.

Kugy tergerak untuk berdiri dan ikut melihat. Mulutnya pun menganga. “Ini—ini lukisan dari mana, Pak?” tanyanya tergagap.

“Dari rumah Pak Remi, Bu. Disuruh dipindahin ke sini. Sengaja malam-malam supaya nggak ganggu orang kerja, katanya,” satpam itu menjelaskan. Tak lama, rombongan pengangkut tersebut pergi.

Dalam hati, Kugy bersyukur semua orang itu cepat berlalu dan ia bisa berdiri sendirian di sana. Menatap lukisan yang diterangi lampu spot itu sepuasnya. Seumur hidupnya, belum pernah ia terpana seperti ini. Seolah hatinya direnggut oleh lukisan itu, dan terperangkaplah ia dalam magis sebuah kehidupan lain.

Sesuatu dalam lukisan itu terasa tak asing. Kawanan anak kecil, bermain bersama hewan-hewan. Sederhana, tapi begitu bernyawa dan bersuara. Seakan-akan dirinya ada di sana, bermain bersama, merasakan kebahagiaan dan cerahnya dunia mereka.

“Aduh,” Kugy terkaget sendiri, “kok jadi nangis, sih …,” omelnya pelan seraya menyeka matanya yang tahu-tahu basah. Dan tiba-tiba hatinya dilanda rindu yang luar biasa dalam. Ia teringat Sakola Alit. Murid-muridnya. Pilik.

Mata Kugy lalu mencari-cari nama pelukis di bidang besar indah itu. Tidak ada nama tertulis. Hanya inisial kecil di ujung kanan bawah: KK.

 

34.

MALAM TERAKHIR DI UJUNG TAHUN

Jakarta, Desember 2002 …

Baru sehari Keenan tiba di Jakarta dan langsung menunggui di rumah sakit terus-menerus, semua orang seketika melihat perbaikan yang pesat dari kondisi ayahnya. Meski Adri belum bisa bicara dan bergerak banyak, kehadiran Keenan seolah menyulut api semangat hidupnya. Air mukanya tampak mulai segar, dan hampir selalu ada perkembangan baru dalam hitungan jam.

Lena sedang mengurus izin agar suaminya bisa dibawa pulang ke rumah. Ia yakin, keajaiban yang dulu disebut-sebut oleh dokter, telah hadir. Ia telah menjemputnya pulang. Keluarganya kembali utuh.

Di tepi tempat tidur ayahnya berbaring, Keenan duduk sejak kemarin malam. Tak lepas mengamati dan mengawasi. Tak pernah ia bayangkan, pria yang begitu gagah, energik, dan gesit, bisa terbaring tak berdaya seperti itu. Keenan ingin memastikan dirinya ada setiap kali ayahnya membuka mata dan memanggil dengan suara lemah yang lebih berupa erangan. Namun, Keenan tahu namanyalah yang selalu disebut.

Pintu membuka pelan, Lena masuk dengan hati-hati. “Nan, besok Papa boleh kita bawa pulang,” katanya berseri-seri.

Keenan mengembuskan napas lega.

“Mama sudah dapat rekomendasi suster yang bisa bantu merawat Papa di rumah. Fisioterapinya juga sudah bisa dimulai pelan-pelan.”

“Ma …,” Keenan ingin bertanya sesuatu, ragu, “kantornya Papa siapa yang ngurus?” Itulah satu pertanyaan yang paling enggan ia tanyakan, tapi cepat atau lambat pasti akan terungkap. Keenan tahu persis bagaimana kantor itu bergantung pada ayahnya. Usaha trading yang dijalankan ayahnya itu murni miliknya seorang. Dialah orang nomor satu dan penentu di kantor tersebut. Tak ada yang bisa menggantikan posisinya. Entah berapa lama kantor itu bisa bertahan tanpa kehadiran ayahnya.

Ekspresi Lena kontan berubah drastis. Sama seperti Keenan, ia pun menghindari pembahasan mengenai hal satu itu, meski tahu bahwa cepat atau lambat mereka berdua harus membicarakannya. Lena lalu menggeser kursi, duduk di hadapan Keenan, menggenggam tangan anaknya.

“Nan … Mama tahu kita tidak punya banyak pilihan, tapi untuk sekarang, lebih baik kita fokus saja pada kesehatan Papa. Kamu nggak perlu terlalu memikirkan soal kantor—”

“Papa sudah satu minggu lebih di sini, Ma,” potong Keenan. “Waktu berjalan terus tanpa mau tahu. Harus ada yang mau mengambil alih, kalau nggak … semuanya berantakan. Termasuk kita.”

Lena pun menunduk. Berharap dirinya tak perlu mengucapkan satu permintaan itu. Satu hal yang selama ini mengganjal dan sudah menyesak ingin keluar, tapi ia tak pernah tega memintanya pada Keenan.

“Saya akan menggantikan Papa,” Keenan tiba-tiba berujar lirih.

Lena mendongak. Terperangah.

“Saya nggak tahu harus mulai dari mana, Ma. Tapi saya akan coba sebisa saya,” lanjut Keenan.

Lena mempererat genggaman tangannya, “Dari semua orang di dunia ini yang bisa Papamu percaya untuk menggantikan dirinya, hanya kamu orangnya. Kamu pasti bisa, Nan.” Namun, bersamaan dengan mengucapkan kalimat itu, hati Lena pun tersayat. Ia tahu betapa mahal pengorbanan yang diberikan anaknya. Keenan lagi-lagi terpaksa membunuh semua mimpinya, cita-citanya. Menanggalkan kuas, kanvas, dan cintanya.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.