Baca Novel Online

Perahu Kertas

Kugy menyambar kop telepon dan terengah menyapa, “Halo ….”

“Hai, Sayang.”

“Hai, Jos ….”

“Kamu baru jogging ? Tumben rajin.”

“Bukan. Baru dorong mobil.”

“Hah?”

“Hujan-hujanan lagi. Gede banget.”

“HAH? Kok bisa?”

“Biasa. Fuad lagi penyakitan, sementara Eko harus jemput sepupunya ke stasiun, yang dari Belanda itu lho, terus mereka butuh aku untuk dorong mobil kalau-kalau mogok. Eeeh … dasar si Fuad, beneran mogok dia.”

“Gila ya si Eko! Nggak ada orang lain, apa? Masa kamu yang mereka andalkan? Di stasiun kan banyak kuli. Bayar kek buat dorong mobil, ngemodal dikit. Nanti kalau kamu flu gara-gara kehujanan, memangnya si Eko atau si Fuad bisa gantiin kamu kuliah?”

“Jos, nggak pa-pa, kok. Yang dorong beneran kan Eko sama sepupunya. Aku cuma nyumbang spirit sama akting ngedorong doang.”

“Tapi tetap hujan-hujanan, kan?”

“Iya, siiih ….”

“Nah, itu dia!” Dan banjiran kalimat berikutnya terus mengalir tanpa jeda.

Kugy menunggu sambil memanyunkan mulut dan memeras ujung-ujung kausnya yang basah. Ia memang tak akan pernah bisa menang jika beradu mulut dengan Joshua, pacarnya sejak dua tahun terakhir. Kendati begitu, Joshua pun seringkali mati kutu jika berhadapan dengan Kugy. Buktinya, dia harus merelakan namanya yang indah ”dirusak” menjadi “Ojos”, dan hanya Kugy satu-satunya di dunia yang berani melakukan itu.

Bagi Kugy, ungkapan opposite attract adalah yang paling sempurna untuk menggambarkan dinamikanya dengan Ojos. Tak ada satu pun temannya yang percaya bahwa keduanya bisa jadian, begitu juga dengan teman-teman Ojos. Keduanya bertolak belakang hampir dalam segala hal. Ojos yang necis dan jago basket adalah pujaan banyak cewek di sekolah karena kegantengannya, mobilnya yang keren, dan sikapnya yang sesuai primbon Prince Charming. Membukakan pintu, membawakan seikat bunga, dan makan malam di restoran mewah bertemankan sinar lilin, adalah standar prosedur.

Ojos. Di sisi yang berbeda, Kugy pun termasuk sosok populer di sekolah karena aktivitas dan pergaulannya yang luas. Tapi Kugy berasal dari kutub yang berbeda. Kugy dikenal dengan julukan Mother Alien. Ia dianggap duta besar dari semua makhluk aneh di sekolah. Semuanya tak habis pikir, bagaimana mungkin Prince Charming dan Mother Alien bisa bersatu?

Tidak juga Ojos, atau Kugy, tahu jawabannya. Mungkin karena Kugy begitu berbeda dengan semua cewek yang pernah dipacarinya, Ojos begitu terkesima melihat bagaimana Kugy begitu santai dan berani menjadi dirinya sendiri, sementara cewek-cewek lain sibuk mencari muka hanya supaya Ojos mau mengajak mereka makan atau nonton barang sekali saja. Kugy sendiri tak pernah menganggap Ojos serius mendekatinya karena menyadari betul perbedaan mencolok di antara mereka berdua. Kugy tak sadar, sikapnya justru membuat Ojos semakin penasaran.

Kugy tak akan pernah lupa hari mereka jadian. Pada sore itu, hujan pun turun sama lebatnya. Dan Ojos keburu menerima tantangan Kugy untuk bertandang ke rumahnya pakai kendaraan umum. Datanglah Ojos di depan pintu, basah kuyup karena gengsi bawa payung, rambut rapinya layu ditimpa air hujan, dan seikat mawar putihnya berantakan tergencet punggung orang di Metro Mini. Dan kali itu, Kugy melihat Ojos dengan pandangan lain, bukan lagi anak manja yang dipuja-puja satu sekolah, melainkan seseorang yang siap berkorban demi pilihan hatinya. Dan hati Kugy pun akhirnya memilih.

Hampir dua tahun mereka pacaran, dan mereka tetap dua manusia yang bertolak belakang. Di mata Kugy, Ojos yang perhatian dan cerewet kadang-kadang berfungsi sebagai penata hidupnya dan kaki-kaki yang membantunya menjejak bumi saat terlalu lama berada di dunia khayal. Di mata Ojos, Kugy yang cuek dan seenaknya terkadang menjadi pengingat bagi dirinya untuk bersikap santai dan terbuka bagi segala kejutan dalam hidup.

Cukup banyak penyesuaian yang mereka pelajari selama dua tahun ini. Salah satu trik yang dipelajari Kugy kalau Ojos sedang kambuh cerewetnya adalah menjauhkan sedikit gagang telepon lalu mencari kesibukan lain, dan kini ia masih asyik memeras ujung-ujung bajunya.

“Gy? Kugy? Denger nggak?”

Kugy tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang telepon. “Kenapa? Sori tadi kresek-kresek ….”

“Tadi aku bilang, lain kali kamu naik taksi aja ke mana-mana, jangan percaya deh sama si Fuad. Udah sering kamu dikerjain mobil satu itu.”

“Ogah, ah. Naik taksi mahal. Kalau dorong Fuad, udahannya malah suka dijajanin minum sama Eko.”

Ojos menghela napas. Putus asa. “Ya udah. Terserah. Ganti baju gih, nanti masuk angin. Oh, ya, kapan dong kamu beli HP baru? Masa kalau mau telepon harus ke kosan terus. Kan enakan ngobrol di kamar.”

Ponsel Kugy, produk second keluaran empat tahun yang lalu, sudah tak berfungsi lagi layarnya. Selama ini ia terpaksa menggantungkan nasib pada feeling, dari mulai urusan memencet nomor sampai menerima telepon. Alhasil, Kugy kehabisan banyak pulsa karena salah sambung, dan tak berhasil menghindari telepon-telepon yang tak diinginkan karena tidak tahu siapa gerangan yang meneleponnya.

“Aku nabung dulu, ya, Jos. Aku lagi bikin cerpen, nih. Kali ini aku mau coba kirim ke majalah. Jadi ada penghasilan. Malu minta sama Bokap. Lagian kalo buat HP kayaknya nggak akan dikasih.”

“Kamu lagi bikin cerita apa?”

“Aku lagi bikin cerpen cinta gitu. Kalau dimuat, honornya cukupan beli HP baru.”

“Pasti dimuat. Kamu kan hebat. Ceweknya siapa dulu …”

“Oh, ya, aku juga lagi bikin dongeng tentang sayur-sayuran. Jadi gini, tokoh utamanya Pangeran Lobak dari kerajaan Umbi, lalu tokoh antagonisnya penyihir namanya Nyi Kunyit dari negeri Rempah …”

Ojos punya trik jika Kugy sedang berceloteh tentang dunia khayal yang tak ia mengerti, yakni menjauhkan gagang telepon sedikit dan mencari kesibukan lain. Ojos mulai membuka-buka tumpukan majalah otomotif di hadapannya, sementara mulutnya sesekali membuka, “Oh, ya? Hmm. Oooh. Ya, ya. Hmm. Oh, ya? Hmm ….”

“Seru, kan? Hebat nggak ceritaku? Jos? Halo?”

Ojos tersadar dan buru-buru mendekatkan gagang telepon. “Wow! Gila. Seru banget! Ya udah, kamu mandi, gih. Besok aku telepon lagi ya, Sayang. Bye!”

“Dah!” balas Kugy. Baru saja Kugy hendak bangkit berdiri, tahu-tahu selembar handuk telah dilemparkan ke pangkuannya.

“Diomelin sama Ojos, ya?” tanya Noni yang sudah berdiri di depan Kugy.

“Yah, biasalah. Kayak nggak tahu aja. Dia kan jelmaan lu dalam bentuk laki-laki,” ujar Kugy sambil terkekeh.

“Nanti malam diajak makan sama Eko. Gabung, yuk.”

Kugy menelan ludah. “Pakai Fuad lagi?”

“Fuad tewas. Besok masuk bengkel dulu. Rencananya Eko dan Keenan mampir ke sini pakai angkot, nanti kita jalan kaki aja cari yang dekat-dekat, atau pesan makanan lewat telepon.”

“Terima kasih ya, Tuhan! Makan gratis! Nggak pakai dorong!” Kugy melonjak girang dan menghilang di balik pintu kamar mandi.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.