Baca Novel Online

Perahu Kertas

Keenan menerimanya dengan pilu. Sikap Luhde yang demikian justru membuat hatinya tambah hancur.

“Semua barang Keenan yang ada di studio sudah dibereskan oleh Beli Agung. Kalau memang tidak terlalu berat, bisa Keenan bawa malam ini juga. Kalau tidak, nanti bisa menyusul, sekalian dengan barang-barang yang lain,” Luhde menebarkan pandangannya, mengecek kamar itu sekali lagi, mencari barang-barang yang masih terlupa. “Semuanya sudah siap,” ia mengangguk mantap, “mari, saya bantu bawa sebagian.”

Keenan tak tahan lagi. Diletakkannya kembali tas yang sudah diangkat Luhde.

“Saya akan kembali ke sini, De. Saya janji. Begitu ayah saya sembuh, dan keluarga saya sudah kembali baik-baik, saya janji akan pulang kemari. Saya akan kembali untuk kamu,” ucap Keenan sungguh-sungguh. “Maaf, saya nggak bisa kasih apa-apa … dibandingkan dengan semua yang sudah kamu kasih selama saya di sini ….”

“Kamu sudah pernah ada juga sudah cukup,” potong Luhde.

“Saya akan kembali,” ulang Keenan lagi.

Luhde menatap Keenan, matanya mulai berkaca-kaca, suaranya mulai gemetar, “Ikuti saja kata hati kamu. Ke mana pun itu. Hati tidak bisa bohong,” ucapnya lirih, “kalau memang kamu tidak kembali, saya mengerti.”

“Luhde, tolong, jangan bicara seperti itu. Titiang me janji32,” ucap Keenan sungguh-sungguh.

Seutas senyum haru muncul di wajah Luhde. “Keenan nggak percaya, ya? Mendengar Keenan punya niat begitu, benar-benar sudah lebih dari cukup untuk saya. Tanpa perlu dibuktikan. Sebentar saja Keenan ada di sini, sudah membuat diri saya lebih berarti.”

Keenan mendekap Luhde. Lembut seolah mendekap kapas putih yang halus, sekaligus erat seolah ia tak ingin melepas. “Tunggu saya, ya,” bisik Keenan tepat di kupingnya.

Perlahan, Luhde melepaskan pelukan Keenan. Ia meraih sesuatu yang sejak tadi dibawanya dalam bungkusan kain. “Ini … kamu bisa bawa lagi,” Luhde menyerahkan benda itu ke genggaman tangan Keenan.

Seketika Keenan mengenali benda yang diberikan Luhde. Ia pun terperanjat. “Kenapa dikembalikan ke saya? Ini kan untuk kamu.”

Luhde menunduk. Perih sekali rasanya harus jujur. “Saya tahu. Biarpun Keenan sudah lama kasih ini untuk saya, selalu saya merasa benda ini bukan milik saya. Entah kenapa.”

“Luhde Laksmi, lihat ini baik-baik,” Keenan mengangkat dagu Luhde, menatapnya lurus-lurus. Dibukanya bungkusan kain yang menutupi ukiran itu, dibukanya telapak tangan Luhde, kemudian ia letakkan ukiran itu di atasnya. “Ini. Saya berikan pada kamu untuk yang kedua kalinya. Tidak akan ada yang ketiga kali,” Keenan pun tersenyum.

Luhde ikut tersenyum. Sebulir air mata mengalir di pipinya.

“Saya pergi, ya,” ucap Keenan seraya mengelus rambut Luhde. Mengecup bibirnya, dan mendekapnya sekali lagi.

Dalam dekapan Keenan, Luhde mendekap ukiran itu di dadanya. Erat, seolah tak mau berpisah, karena ia tahu, hati tidak pernah bisa berbohong.

Ia tahu waktunya tak banyak. Dalam beberapa jam, perempuan itu akan kembali hilang dari hidupnya. Meski seluruh sel tubuhnya tergetarkan oleh perasaan gentar, Wayan sadar ia tak punya kesempatan lain selain saat ini.

Keenan masih membereskan barang-barangnya di kamar, dan Lena tengah menunggu sendirian di serambi rumah utama. Wayan berjalan menghampirinya. Lena, yang mendengar suara langkah kaki, langsung menoleh ke belakang. Dan ia lebih kaget lagi ketika mendapatkan Wayan sedang berjalan mendekatinya, menggeser kursi, dan duduk di hadapannya.

“Kamu tidak perlu bicara apa-apa, Lena,” kata Wayan segera, “kamu hanya perlu mendengar. Dan apa yang ingin kusampaikan tidak banyak.” Wayan memberanikan diri menatap ke dalam mata Lena, terlepas dari darahnya yang seperti berhenti mengalir hanya dengan duduk sedekat ini dengan perempuan yang begitu dicintainya.

“Dua puluh tahun aku habiskan cuma untuk melupakan kamu. Tapi tidak sedetik pun aku menyesal. Keenan, adalah cinta kedua terindah yang pernah kualami setelah kamu. Aku menyayangi dia seperti anakku sendiri. Aku berterima kasih untuk kesempatan yang kamu dan Adri berikan, sehingga dia bisa menjadi bagian hidupku seperti sekarang. Lewat kehadiran Keenan, aku belajar memaafkan diriku, kamu, Adri, dan semua yang dulu kita lalui.” Seiring dengan aliran kalimat yang telah dipendamnya puluhan tahun, Wayan merasa hatinya melega.

“Jangan pernah beri tahu Keenan kalau aku sangat mencintai ibunya. Biar saja dia memandang aku tak lebih dari sekadar sahabat lama orang tuanya,” Wayan pun beranjak berdiri, “semoga Adri cepat sembuh.”

“Wayan …,” sergah Lena, “aku … minta maaf.”

“Kamu nggak perlu minta apa-apa, Lena. Semuanya aku lepaskan untuk kamu.” Wayan tersenyum tipis.

Sesuatu seolah membuncah ingin keluar dari dadanya, Lena nyaris tak bisa berdiri dan berucap, tapi ia pun tahu kesempatan ini mungkin tak akan ada lagi. Ia harus bicara. “Aku harus meninggalkan kamu waktu itu. Aku tidak mungkin mengorbankan Keenan dalam perutku. Dan keputusanku bukan karena Adri … bukan karena hatiku yang memilih dia … tapi karena kandunganku ….”

“Lena … sudah. Aku tahu. Aku mengerti. Dan aku bahagia kamu memilih untuk mempertahankan Keenan.”

“Antara aku dan Adri waktu itu—”

“Apa pun yang terjadi antara kalian berdua, tidak lagi penting buatku sekarang. Kalian sudah membuktikannya dengan bertahan bersama sekian lama. Aku senang dia mampu menyayangi dan mengurusmu dengan baik,” Wayan mengatur napasnya yang menyesak, “hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup.”

Lena merasakan kedua matanya panas, tapi tak ada air mata yang keluar.

“Kami semua mendoakan kalian dari sini,” kata Pak Wayan. Ia mengelus sekilas punggung tangan Lena di atas meja, lalu berbalik pergi.

Lena kembali duduk sendirian di serambi. Tetap tak ada air mata yang keluar, meski hatinya kembali menangiskan tangisan panjang yang telah menghantuinya puluhan tahun. Tangisan yang selamanya harus terkurung dalam kesunyian. Tangisan yang harus kembali dikuburnya dalam-dalam.

Suasana di rumah itu tak lagi sama. Sesuatu telah hilang. Semua orang bisa merasakannya.

Selepas kepergian Keenan dan Lena, tinggallah Luhde dan Pak Wayan, duduk di bale. Berselimutkan kabut tebal perasaan mereka masing-masing.

“Jadi … itu meme-nya Keenan,” ujar Luhde, menyesah kabut yang bergantung sejak mereka pertama kali duduk di sana. “Cantik, ya. Sama cantiknya dengan yang di lukisan Poyan,” lanjut Luhde sambil membayangkan wajah di lukisan pamannya. Lena puluhan tahun yang lalu. Satu-satunya lukisan potret Lena yang masih disimpan oleh pamannya.

“Kenapa Poyan tidak kasih lihat lukisan itu ke meme-nya Keenan? Kapan lagi dia datang kemari? Bagaimana kalau dia tidak pernah ke sini lagi ….”

“Sudahlah, De,” sela Pak Wayan, “tidak ada gunanya lagi.” Laki-laki itu pun berdiri dan berjalan menjauh.

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.