Baca Novel Online

Perahu Kertas

Saat seperti inilah baru sepi itu terasa. Jeroen baru akan kembali ke rumah sakit setelah jam sekolahnya usai nanti siang. Di ruangan itu, hanya dirinya dan suaminya yang terbaring tak bersuara.

Lena bangkit berdiri. Membelai-belai rambut suaminya. Dan ia putuskan untuk berbisik di telinga suaminya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum terjawab: ada apa sebenarnya? Apa yang selama ini kamu sembunyikan? Apa yang bisa kubantu?

Lama Lena berdiri seperti itu, terus membelai-belai halus, dan berbisik di telinga suaminya, sampai akhirnya ekor matanya menangkap sesuatu. Kelopak mata Adri kembali membuka.

Lena segera menatapnya, tersenyum, lantas menggenggam tangan yang terasa kaku bagai kawat itu. “Hai …,” sapanya lembut.

Mata itu mengerjap. Bercerita. Memohon.

Lena membelai wajah suaminya, “Aku di sini … kamu akan sehat lagi … kamu akan baik-baik lagi seperti dulu …,”

Mata itu mengerjap lebih cepat. Semakin sarat dengan pesan. Tapi tak ada satu bunyi pun yang keluar.

Lena mulai membaca sorot yang gelisah itu. “Apa yang bisa aku bantu, Dri?”

Dengan segala daya yang entah dari mana, otot-otot muka Adri mulai bergerak. Sedikit demi sedikit. Mulut itu bergetar, mengeluarkan bunyi kerongkongan yang tertahan.

“Kkk … kk … kee ….”

Lena terkesiap. Tangannya langsung memencet tombol untuk memanggil perawat. “Iya, apa, Adri? Kamu mau bilang apa?” Lena mendekatkan kupingnya ke depan mulut Adri agar bisa mendengar lebih jelas.

Dengan suara terimpit dan belenggu fisik yang tak memungkinkannya untuk berbicara, Adri berusaha setengah mati untuk mengucapkan satu kata itu: “Kkk … kee … nan …”

Begitu kata itu terucap, mata Adri kembali memejam. Otot-otot wajahnya kembali menegang.

Lena pun terenyak di tempat duduknya. Keenan? Itukah penyebabnya? Selama ini, Adri tidak menunjukkan kepedulian sama sekali tentang keberadaan Keenan, bahkan mengingatkannya berkali-kali untuk tidak pernah mencari Keenan, sampai anak itu yang menghubungi mereka duluan. Sejak Keenan pergi, tak satu kali pun Adri membahas masalah Keenan, bahkan menyebut namanya pun tidak. Seolah-olah memorinya sudah ia ringkus dan bekukan hingga satu hari nanti, saat Keenan yang kembali ke rumah dan memohon maaf. Sesuai dengan apa yang dimauinya.

Mendadak, Lena diserang perasaan bersalah yang mendalam. Dialah satu-satunya yang tahu ke mana Keenan pergi. Dialah satu-satunya yang tahu pasti bahwa anak itu baik-baik saja. Sementara, suaminya bertahan dalam ketidaktahuan, dalam sikap tak mau tahu dan tak mau peduli. Padahal, selama ini, mungkin saja Adri terus bertanya-tanya, dan akhirnya tergerogoti dari dalam oleh pertanyaan yang tak ada jawaban: di mana Keenan?

Tak ada jalan lain, pikir Lena. Ia harus menjemput Keenan pulang.

 

33.

KEKUATAN MENCINTA

Sejak pernikahannya dengan Adri, Lena belum pernah menginjakkan kakinya lagi di Pulau Bali. Dua puluh satu tahun yang lalu adalah terakhir kalinya. Perasaan yang luar biasa asing meliputinya begitu pesawat yang ditumpanginya bersisian dengan laut, siap mendarat. Tibalah ia di Bandara Ngurah Rai, disambut alunan gending Bali yang sayup-sayup berkumandang dari kotak-kotak pengeras suara. Lena tidak pernah tahu apakah dirinya siap kembali ke sini. Ada perasaan ingin berbalik pulang ke Jakarta, perasaan menyesal, sekaligus rasa rindu yang hebat.

Lena tak sanggup membayangkan apa rasanya di perjalanan nanti, melihat begitu banyak hal yang dapat membangkitkan kenangan-kenangan yang selama ini sudah berhasil ia kubur rapat-rapat. Kenangan saat ia masih tinggal di pulau ini, saat ia masih melukis, saat ia masih bersama Wayan.

Sebelum melangkahkan kaki ke gerbang luar, Lena duduk terlebih dahulu untuk menenangkan diri. Mengingatkan dirinya untuk tidak terbelenggu perasaan-perasaan yang tak menentu, yang hanya akan menjebaknya ke dalam perangkap masa lalu. Mencamkan dalam hatinya bahwa ia datang kemari hanya untuk menjemput anaknya. Cukup itu yang perlu ia ingat. Nanti malam, ia sudah kembali pulang. Lepas dari tempat ini. Lepas dari kenangan ini.

Menit demi menit. Meter demi meter. Perjalanan yang mencabik-cabik hatinya sejak tadi akhirnya tiba di puncak. Sampailah ia di gerbang depan rumah itu. Lena tidak tahu kekuatan mana yang bisa menggiring dirinya kembali ke sana, untuk sekadar mampu berdiri tegak menunggu pintu itu terbuka.

Penjaga rumah yang membukakan pintu meminta Lena untuk menunggu di teras depan. Tak lama, terdengar langkah-langkah yang mendekati. Bahkan dari tempo berjalannya, Lena sudah tahu siapa gerangan yang datang menghampiri.

“Halo, Wayan,” sapanya dengan senyum.

Pak Wayan tertegun. Lama.

“Saya mau ketemu dengan Keenan,” ucap Lena lagi.

“Apa ada masalah?” tanya Pak Wayan dengan suara tertahan.

“Adri masuk rumah sakit. Kena stroke,” jelas Lena pendek.

Pak Wayan tertegun sejenak. “Sebentar, saya panggilkan Keenan,” desisnya. Pijakan kakinya seolah ingin membelesak menembus lantai. Sesaat, ia bahkan merasa sedang bermimpi. Segalanya meluruh di hadapan perempuan itu. Kekuatannya, pertahanannya, bahkan dirinya tak lagi sama jika Lena ada. Ia merasa tersesat di rumahnya sendiri. Meski limbung, Pak Wayan berjalan ke belakang, memanggil Keenan.

Tak pernah terlintas di benak Keenan, ibunya akan duduk bersama dia di bale, bertemankan angin dan suara kentungan bambu. Kangen dan pilu bercampur jadi satu.

“Mama ingat, kamu pernah bilang, kamu tidak mau pulang ke penjara yang sama. Mama juga ngerti, inilah rumahmu sekarang. Tapi, Mama nggak mungkin pulang ke Jakarta tanpa kamu,” Lena berkata.

Keenan mengangguk, berat. “Saya pasti pulang, Ma. Nggak mungkin saya membiarkan Papa, Mama, dan Jeroen,” ujarnya pelan, “saya hanya nggak kebayang apa yang saya kerjakan nanti di Jakarta. Saya udah nggak kuliah. Di sini pun saya nggak bisa melukis lagi. Saya nggak bisa apa-apa untuk bantu Mama.”

“Mama cuma butuh kamu ada. Itu saja,” tegas Lena, “dan itu juga yang dibutuhkan papamu. Cuma nama kamu yang dia sebut, Nan. Seluruh badannya lumpuh, tapi dia bisa mengucapkan nama kamu. Cuma kamu yang dia tunggu.”

Hati Keenan remuk redam mendengarnya. “Apa pun, Ma. Apa pun yang Papa minta, yang Papa butuhkan dari saya, akan saya penuhi sebisa saya.”

“Kita berangkat malam ini pakai pesawat terakhir, ya? Mama nggak bisa tinggal lebih lama lagi,” Lena menggenggam tangan anaknya.

Keenan bangkit dan merangkul ibunya. “Saya beres-beres sekarang juga,” bisiknya.

Perpisahan yang terjadi begitu cepat tak diduga-duga ternyata sanggup membuat seorang Luhde bertransformasi. Dengan tegar dan tenang, ia membantu Keenan bersiap. Tak ada rengekan, atau rajukan, bahkan pertanyaan. Seolah ia sudah bersiap untuk hari itu tiba. Hari itu Luhde menjelma menjadi perempuan dewasa pada usianya yang baru sembilan belas tahun.

Ia menyerahkan setumpuk baju yang sudah dilipat rapi pada Keenan, “Ini yang terakhir dari lemari. Kalau memang masih ada yang ketinggalan, nanti saya kirim ke Jakarta.”

Categories:   Roman

Tags:  

Comments

  • Posted: February 3, 2017 17:04

    iroel siemplle boy

    kyk gk mau keluar dari dunia perahu kertas jadi kangen kugy dan keenan
  • Posted: April 2, 2017 07:20

    risaa

    awalnya nganggap novel ini biasa aja. Tapi setelah di baca, hmm benar2 membuat saya merasa masuk dalam kehidupannya
  • Posted: November 12, 2018 22:45

    Sylvia maryati

    Akhirnya...setelah bertahun2 mendamba bisa membaca langsung novel ini terjawab sudah...ikut merasakn pergulatan dlm batin kugy dan keenan...merasakn pandangan mengabur saat keenan tau kalau kugy mencintainya...rasa bahagia ikut pula hadir saat mereka bisa bersama....saluttt...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.